Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Peta filosofisThe philosophical map

Dari spirit ke ilmu, dari ilmu ke peradabanFrom spirit to science, from science to civilisation

Studi Aceh disusun sebagai bangunan bertingkat. Setiap konsep di situs ini memiliki alamat: lantai dan bagian tempat ia lahir, serta bidang ilmu tempat ia dikaji.Aceh studies is built as a structure of floors. Every concept on this site has an address: the floor and part where it arises, and the discipline in which it is studied.

Pohon SpiritThe spirit tree

Mengapa konsep-konsep ini muncul: dari spirit ke peradabanWhy these concepts arise: from spirit to civilisation

Setiap konsep di situs ini tumbuh dari spirit. Spirit bercabang menjadi tiga batang, yaitu nilai, kepercayaan, dan intelektual. Masing-masing naik setingkat demi setingkat hingga berbuah budaya, ritual, dan paradigma. Dari falsafah, peradaban melesat seperti peluru: membentuk masyarakat, mengendapkan identitas, lalu melahirkan teknologi.Every concept on this site grows from spirit. Spirit branches into three trunks: values, belief and intellect. Each rises step by step until it bears fruit as culture, ritual and paradigm. From philosophy, civilisation flies like an arrow: it shapes society, settles into identity, and finally produces technology.

BuahFruit

Batang nilaiValues trunk

Batang kepercayaanBelief trunk

Batang intelektualIntellect trunk

Akar: spiritRoot: spirit

AkarRoot

Spirit

Daya batin terdalam suatu masyarakat: kesadaran tentang Tuhan, diri, dan alam yang menggerakkan ide, tindakan, dan akhirnya peradaban. Seluruh konsep di situs ini dapat ditelusuri kembali ke titik ini.The deepest inner force of a society: an awareness of God, self and nature that sets ideas, actions and finally civilisation in motion. Every concept on this site can be traced back to this point.

Basis spiritual AcehThe spiritual basis of Aceh

Hana roh / han rohTidak pantas, tidak patut dilakukan.Improper; not fitting to do.Hana getTidak baik secara moral.Not good, morally.Han jeutTidak boleh, tertutup oleh agama dan adat.Not allowed; closed off by religion and custom.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang nilaiValues trunk · tingkatlevel 1

NilaiValues

Ukuran baik dan buruk yang diwariskan bersama. Dari batang ini tumbuh etika, moral, tingkah laku, aksi sosial, dan budaya.The shared measure of good and bad. From this trunk grow ethics, morality, conduct, social action and culture.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang kepercayaanBelief trunk · tingkatlevel 1

KepercayaanBelief

Keyakinan tentang yang gaib, yang suci, dan tatanan semesta. Dari batang ini tumbuh seni, makna, cara pandang, sosio-kebudayaan, dan ritual.Conviction about the unseen, the sacred and the order of the cosmos. From this trunk grow art, meaning, worldview, socio-culture and ritual.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang intelektualIntellect trunk · tingkatlevel 1

IntelektualIntellect

Daya akal yang mencari, menimbang, dan menyusun pengetahuan. Dari batang ini tumbuh nalar, kontemplasi, sistem ide, falsafah, dan paradigma.The power of mind that seeks, weighs and orders knowledge. From this trunk grow reason, contemplation, systems of ideas, philosophy and paradigm.

Basis intelektual AcehThe intellectual basis of Aceh

Masyarakat ilmuSociety of learningStudi AcehAceh studiesIslamologiIslamology

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang nilaiValues trunk · tingkatlevel 2

EtikaEthics

Etika menata cara hidup bersama melalui nasihat, pengingat, dan rasa syukur yang berputar menjadi keberkahan.Ethics orders life together through counsel, reminder and gratitude that circle back as blessing.

Basis etika AcehThe ethical basis of Aceh

PeutimangMenimbang dan menjaga keseimbangan.Weighing and keeping balance.PeuingatSaling mengingatkan.Reminding one another.SyukurGratitudeBeureukatKeberkahan.Blessing.Haba mangatTutur yang baik dan menyejukkan.Kind, soothing speech.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang kepercayaanBelief trunk · tingkatlevel 2

SeniArt

Seni lahir dari kesadaran tentang hubungan Allah, manusia, dan alam; keindahan dipahami sebagai pantulan dari relasi ini.Art arises from awareness of the bond between God, humankind and nature; beauty is understood as a reflection of that bond.

Basis seni AcehThe artistic basis of Aceh

AllahGodManusiaHumankindAlamNature

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang intelektualIntellect trunk · tingkatlevel 2

NalarReason

Nalar Aceh bergerak dari diri ke kaum, masyarakat, dan negeri; cara berpikir selalu terikat pada lingkar sosial tempat seseorang berdiri.Acehnese reason moves from self to kin, society and land; thinking is always tied to the social circle in which one stands.

Basis nalar AcehThe basis of Acehnese reason

NalarReasonDroeDiri.Self.KawomKaum kerabat.Kin group.MasyarakatSocietyNanggroeNegeri.Land, polity.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang nilaiValues trunk · tingkatlevel 3

MoralMorality

Moral dibentuk dan dijaga oleh empat ruang: keluarga, pendidikan, lingkungan, dan arah kehidupan.Morality is formed and kept by four spaces: family, education, environment and the direction of life.

Basis moral AcehThe moral basis of Aceh

KeluargaFamilyMeutaloe wareh: tali kekerabatan.Meutaloe wareh: the bonds of kinship.PendidikanEducationJak meununtut: pergi menuntut ilmu.Jak meununtut: setting out to seek knowledge.LingkunganEnvironmentTipologi masyarakat.Typologies of society.Arah kehidupanDirection of lifeTuho, tupat, turi, tu'oh, dan seterusnya.Tuho, tupat, turi, tu'oh and so on.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang kepercayaanBelief trunk · tingkatlevel 3

MaknaMeaning

Makna tersimpan dalam kosakata keberadaan: aku, ada, dan langkah. Dari tiga kata ini orang Aceh memahami diri dan tindakannya.Meaning lies in the vocabulary of being: I, there is, and step. Through these three words Acehnese understand self and action.

Basis makna AcehThe basis of meaning in Aceh

LonAku.I.NaAda.There is.LangkahLangkah, tindakan.Step, action.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang intelektualIntellect trunk · tingkatlevel 3

Kontemplasi / MeditasiContemplation / Meditation

Perenungan Aceh berpusat pada kesadaran bahwa segala sesuatu milik Tuhan, lalu bergerak menjadi usaha, perniagaan, dan ilmu.Acehnese contemplation centres on the awareness that all belongs to God, then moves into effort, trade and knowledge.

Basis kontemplasi AcehThe contemplative basis of Aceh

KontemplasiContemplationPo talaPemilik sejati: Allah.The true Owner: God.HareukatIkhtiar mencari nafkah.Striving for a livelihood.MeukatBerniaga.Trading.EuleumeIlmu.Knowledge.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang nilaiValues trunk · tingkatlevel 4

Tingkah lakuConduct

Tingkah laku ideal memadukan tiga unsur: spiritual, amal, dan intelektual.Ideal conduct joins three elements: the spiritual, good works and the intellectual.

Basis tingkah lakuThe basis of conduct

SpiritualAmalGood worksIntelektualIntellectual

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang kepercayaanBelief trunk · tingkatlevel 4

Cara pandang / SimbolWorldview / Symbol

Cara pandang tampil dalam simbol: rumah, nisan, gelar, warna, dan arah mata angin menyimpan pandangan dunia orang Aceh.Worldview appears in symbols: houses, gravestones, titles, colours and compass points hold the Acehnese view of the world.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang intelektualIntellect trunk · tingkatlevel 4

Sistem ideSystem of ideas

Sistem ide adalah susunan gagasan yang saling terhubung, tempat renungan menjadi teori dan konsep.A system of ideas is an ordered set of linked notions, where contemplation becomes theory and concept.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang nilaiValues trunk · tingkatlevel 5

Aksi sosialSocial action

Aksi sosial Aceh berputar di antara tiga poros: pasar, pesantren (dayah), dan masjid.Social action in Aceh turns between three poles: the market, the pesantren (dayah) and the mosque.

Basis aksi sosial AcehThe basis of social action in Aceh

PasarMarketPesantrenMasjidMosque

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang kepercayaanBelief trunk · tingkatlevel 5

Sosio-kebudayaanSocio-culture

Kebudayaan Aceh bertumpu pada lanskap kampung dan dibaca melalui tiga lingkaran: lingkaran laut, lingkaran dayah, dan lingkaran fondasi kebudayaan.Acehnese culture rests on the village landscape and is read through three circles: the sea, the dayah, and the cultural foundation.

Basis sosio-kebudayaan AcehThe socio-cultural basis of Aceh

Sawah–laut–sungaiRice field–sea–riverBukit–sawah–sungaiHill–rice field–riverHutan–pegunungan–sungaiForest–mountain–river

Lingkaran pertamaFirst circle

LautSeaModernisasiModernisationKontestasiContestation

Lingkaran keduaSecond circle

DayahPasarMarketMasjidMosque

Lingkaran ketigaThird circle

Fondasi kebudayaanCultural foundationSpiritTertutupClosed

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang intelektualIntellect trunk · tingkatlevel 5

FalsafahPhilosophy

Falsafah merangkum bentuk pemikiran, kesadaran diri, standar perilaku, sumber pengetahuan, dan tradisi yang membangun realitas masyarakat. Falsafah juga menjadi pangkal peluru peradaban.Philosophy gathers forms of thought, self-awareness, standards of conduct, sources of knowledge and the traditions that construct social reality. It is also the starting point of the civilisational arrow.

Basis falsafah AcehThe philosophical basis of Aceh

Bentuk pemikiranForms of thoughtRasa, kesadaran diriFeeling, self-awarenessStandar perilakuStandards of conductKeyakinan, sumber pengetahuanBelief, sources of knowledgeTradisi, konstruksi realitas masyarakatTradition, the construction of social reality

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang nilaiValues trunk · tingkatlevel 6

BudayaCulture

Budaya adalah buah batang nilai: sistem makna, sistem berpikir, dan sistem simbolik yang hidup dalam keseharian.Culture is the fruit of the values trunk: systems of meaning, thought and symbol alive in daily life.

Basis kebudayaan AcehThe cultural basis of Aceh

Sistem maknaSystem of meaningSistem berpikirSystem of thoughtSistem simbolikSymbolic system

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang kepercayaanBelief trunk · tingkatlevel 6

Ritual

Ritual adalah buah batang kepercayaan: kenduri, ziarah, peusijuek, dan suluk menghadirkan yang suci dalam siklus hidup.Ritual is the fruit of the belief trunk: feasts, pilgrimage, peusijuek and suluk bring the sacred into the cycle of life.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Batang intelektualIntellect trunk · tingkatlevel 6

ParadigmaParadigm

Paradigma adalah buah batang intelektual: kerangka besar yang menentukan cara suatu masyarakat membangun dan menguji ilmu.Paradigm is the fruit of the intellectual trunk: the broad frame that decides how a society builds and tests knowledge.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Peluru peradabanCivilisational arrow · tingkatlevel 7

Bentuk masyarakatForm of society

Falsafah yang hidup melahirkan bentuk masyarakat: gampong, mukim, nanggroe, dan lembaga adatnya.A living philosophy gives rise to a form of society: gampong, mukim, nanggroe and their customary institutions.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Peluru peradabanCivilisational arrow · tingkatlevel 8

IdentitasIdentity

Bentuk masyarakat yang mapan mengendap menjadi identitas: menjadi Aceh adalah menjadi Muslim, dengan wajah Melayu, Gayo, dan kosmopolitan.A settled form of society precipitates into identity: to be Acehnese is to be Muslim, with Malay, Gayo and cosmopolitan faces.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Peluru peradabanCivilisational arrow · tingkatlevel 9

TeknologiTechnology

Ujung peluru peradaban: identitas yang kuat menghasilkan karya material, dari mata uang emas dan perkapalan hingga arsitektur dan ketahanan bencana.The tip of the civilisational arrow: a strong identity yields material works, from gold coinage and shipping to architecture and disaster resilience.

Wujudnya dalam entriWhere it appears in entries

Peluru peradabanThe civilisational arrow

Pilih satu simpul untuk melihat definisinya, basisnya dalam kehidupan Aceh, dan entri yang mewujudkannya. Titik emas menandai simpul yang memiliki diagram basis.Choose a node to see its definition, its basis in Acehnese life, and the entries that embody it. A gold dot marks nodes with a basis diagram.

Arsitektur kajianArchitecture of the study

Lima lantai, sepuluh bagianFive levels, ten parts

Studi Aceh disusun sebagai sebuah tangga, bukan sebagai daftar topik. Titik berangkatnya adalah keyakinan bahwa setiap ilmu bertumpu pada spirit yang melatarinya. Spirit itu mula-mula mengendap sebagai ide abstrak tentang Tuhan, alam, dan manusia, kemudian diolah menjadi gagasan filosofis, dan baru sesudahnya diterjemahkan menjadi tindakan, kebijakan, atau teori yang dapat diuji. Karena dua anak tangga pertama tidak dapat disentuh secara langsung, penyelidikan dimulai dari perantara yang menyimpannya: kosmologi lokal, situs kekuasaan, makam raja dan ulama, dayah, karya tasawuf, hikayat, hadih maja, dan bahasa.

Bagian pertama menjawab mengapa bidang ini perlu ada. Aceh telah lama dikaji oleh hampir semua disiplin, tetapi selalu sebagai objek atau pelengkap dalam studi Asia Tenggara, studi Melayu, dan studi Indonesia. Kolonisasi ilmu sosial, pembagian ilmu menurut arah mata angin dan negara-bangsa, serta dominasi kajian perang membuat falsafah ke-Aceh-an tersisih. Karena itu tujuan pokoknya adalah memindahkan Aceh dari objek menjadi subjek, dengan pengenalan diri dan prinsip dari diri sendiri ke diri sendiri sebagai arah epistemik.

Lapis berikutnya adalah fondasi metafisika. Manusia dan Tuhan, insan kamil, epistemologi ‘irfani, serta pemikiran Hamzah Fansuri tentang spirit, cahaya, akal, dan qalam ditempatkan lebih dahulu, sebab ilmu yang lepas dari metafisikanya kehilangan arah. Di atas fondasi ini dibangun konstruksi ilmu sosial dan humaniora: teori sosial, pendekatan antropologi, paradigma Islamisasi ilmu dan Frikatifisasi ilmu, serta pembacaan kritis atas warisan Snouck Hurgronje.

Baru kemudian bidang dipecah menjadi delapan disiplin: sejarah, kosmologi, filsafat, sosiologi, antropologi, sastra, studi religi, dan politik Aceh. Masing-masing diuji dengan pertanyaan ontologi, epistemologi, dan aksiologi, sehingga menambahkan kata 'Aceh' pada nama disiplin tidak menjadi sekadar label wilayah.

Disiplin-disiplin itu lalu ditambatkan pada akar yang lebih dalam, yaitu fondasi peradaban dan tradisi intelektual: kerak peradaban, jejak spirit dan budaya, sistem kebudayaan, makna bahasa, cara berpikir, tradisi berguru dan menulis, dayah, serta pergeseran dari teungku ke ustaz. Lapis ini menunjukkan bahwa ilmu Aceh memiliki akar sejarah, bukan hanya bahan mentah.

Lapis terakhir adalah medan penerapan. Pergumulan identitas dengan Persia, Haramayn, dunia Melayu, dan Gayo; isu kontemporer seperti perempuan, Panglima La’ôt, keamanan, dan syariat sebagai tradisi hidup; perbandingan dengan Jawa; serta kebudayaan dalam pertahanan, keamanan, demokrasi, dan toleransi. Di sini ilmu kembali menjadi aksi. Susunan ini mencerminkan satu logika: dari spirit ke gagasan, dari gagasan ke disiplin, dari disiplin ke peradaban, dan dari peradaban ke kehidupan.

Aceh studies is built as a ladder rather than a list of topics. Its starting point is the conviction that every science rests on the spirit behind it. That spirit first settles into abstract ideas about God, nature and humankind, is then worked into philosophical concepts, and only afterwards is translated into action, policy or testable theory. Because the first two rungs cannot be touched directly, inquiry begins with the intermediaries that hold them: the local cosmos, seats of power, the tombs of rulers and ulama, the dayah, Sufi writings, hikayat, hadih maja and the language itself.

The first part answers why the field should exist at all. Aceh has long been studied by almost every discipline, but always as an object or a supplement within Southeast Asian, Malay or Indonesian studies. The colonisation of the social sciences, the division of knowledge by compass point and nation-state, and the dominance of war-centred scholarship pushed Acehnese philosophy aside. The central aim is therefore to move Aceh from object to subject, with self-knowledge and the principle of 'from the self to the self' as its epistemic direction.

The next layer is the metaphysical foundation. Humankind and God, the perfect human, ‘irfani epistemology, and Hamzah Fansuri's account of spirit, light, intellect and pen come first, because knowledge cut off from its metaphysics loses its bearings. On this foundation the social sciences and humanities are constructed: social theory, anthropological approaches, the paradigms of the Islamisation and the Fricativisation of knowledge, and a critical reading of Snouck Hurgronje's legacy.

Only then is the field divided into eight disciplines: Acehnese history, cosmology, philosophy, sociology, anthropology, literature, religious studies and politics. Each is tested against questions of ontology, epistemology and axiology, so that adding 'Aceh' to a discipline's name is more than a regional label.

These disciplines are then anchored in deeper roots, the foundations of civilisation and intellectual tradition: the crust of civilisation, traces of spirit and culture, the cultural system, the meaning of language, ways of thinking, the traditions of discipleship and writing, the dayah, and the shift from teungku to ustaz. This layer shows that Acehnese knowledge has historical roots, not merely raw material.

The final layer is the field of application: struggles over identity involving Persia, the Haramayn, the Malay world and Gayo; contemporary questions of women, the Panglima Laot, security and sharia as a living tradition; comparison with Java; and culture in defence, security, democracy and tolerance. Here knowledge becomes action again. The structure reflects a single logic: from spirit to concept, from concept to discipline, from discipline to civilisation, and from civilisation back to life.

II Fondasi metafisikaMetaphysical foundation Pertemuan manusia dengan Tuhan, sumber spirit keilmuan: kenal diri, kenal alam, kenal Tuhan.The meeting of humankind and God, the source of the spirit of knowledge: knowing self, nature and God.
I Ilmu tentang AcehA science of Aceh Titik berangkat: Aceh diangkat dari objek menjadi subjek ilmu.The point of departure: Aceh raised from object to subject of knowledge.

Isi setiap bagianWhat each part holds

Sepuluh bagian dan kajian pelengkapTen parts and supplementary studies

BagianPart 1 · LantaiLevel I

Studi Aceh sebagai ilmuAceh studies as a discipline

Ihwal, reorientasi, alasan, serta arah dan tujuan studi Aceh.What Aceh studies is, its reorientation, rationale, aims and direction.

Aceh dalam studi kawasan, suku-bangsa, dan negara-bangsaAceh in area, ethnic and nation-state studiesAceh dan studi Islam Asia Tenggara: arus timbal balikAceh and Islamic studies in Southeast Asia: two-way currentsAceh di tengah kepungan peradabanAceh amid encircling civilisationsAktor keilmuan di AcehActors of knowledge in AcehAnthony ReidApa, bagaimana, dan untuk apa: tiga pertanyaan filosofis studi AcehWhat, how and what for: the three philosophical questions of Aceh studiesArah akademik pengembangan studi AcehThe academic direction of developing Aceh studiesArah nonakademik pengembangan studi AcehThe non-academic direction of developing Aceh studiesCermin retak: filsafat dan sejarah sebagai cermin kesadaranThe broken mirror: philosophy and history as mirrors of consciousnessDari Islam Politik ke Acehnologi: pembacaan Ramli CibroFrom political Islam to Acehnologi: Ramli Cibro’s interpretationDari objek ke subjek: Aceh sebagai disiplin ilmu tersendiriFrom object to subject: Aceh as a discipline in its own rightDari spirit ke aksi: tangga pembentukan ilmuFrom spirit to action: the ladder of knowledge formationDari wacana ke arus utama: studi Aceh sebagai strategi kebudayaanFrom discourse to mainstream: Aceh studies as a cultural strategyDenys LombardDestrukturisasi masyarakat Aceh: kuasa dikontrol, spirit ilmu dibiarkanThe destructuring of Acehnese society: power controlled, the spirit of learning left aliveDominasi kajian perang dan redupnya falsafah ke-Aceh-anThe dominance of war studies and the fading of Acehnese philosophyDroe keu droe: dari diri sendiri ke diri sendiriDroe keu droe: from the self to the selfEmpat pintu masuk studi AcehFour entry points into Aceh studiesEmpat tahap penalaran: dari 'apa yang terjadi' ke basis keilmuanFour steps of inquiry: from 'what happened' to a foundation for knowledgeFalsafah sua (suloh): obor ilmu yang tak dibawa pulangThe philosophy of sua (suloh): a torch of learning never brought homeHistorisitas keilmuan di Aceh: enam lapis zamanThe historicity of knowledge in Aceh: six layers of timeIshak HasanJaringan keilmuan AcehNetworks of knowledge in AcehJasa studi Aceh bagi ilmu sosial dan humanioraThe service of Aceh studies to the social sciences and humanitiesJasa studi Aceh bagi studi agamaThe service of Aceh studies to religious studiesJasman J. Ma’rufJohn R. BowenKeilmuan Aceh pascarevolusi sosialAcehnese knowledge after the social revolutionKeilmuan Aceh sebelum kedatangan IslamKnowledge in Aceh before the arrival of IslamKeilmuan di era bergabung dengan IndonesiaKnowledge in the era of joining IndonesiaKeilmuan di era kedatangan penjajah BelandaKnowledge in the era of Dutch colonial arrivalKeilmuan di era kerajaan IslamKnowledge in the era of the Islamic kingdomsKeilmuan pada masa revolusi sosialKnowledge in the period of the social revolutionKesarjanaan internasional tentang AcehInternational scholarship on AcehKeserbapertamaan Aceh dan serpihan pemikiran yang membangun disiplin di negeri lainAceh's 'firsts' and the fragments of its thought that built disciplines elsewhereKonsep Keilmuan Acehnologi: membaca bagan sumberThe Concept of Acehnologi: reading the source diagramsKonsep keilmuan studi kawasan sebagai alasan studi AcehThe area-studies concept of knowledge as a rationale for Aceh studiesKosmologi lokal dan pusat-pusat kosmik AcehLocal cosmos and Aceh's cosmic centresKritik atas 'kotak ketimuran' dalam pembidangan ilmuA critique of the 'Eastern box' in the classification of knowledgeLanskap produksi keilmuan AcehThe landscape of knowledge production in AcehMasa depan studi Aceh: modern, pascamodern, pascakolonial, pascasekularThe future of Aceh studies: modern, postmodern, postcolonial, post-secularMemahami Aceh: alasan, pintu masuk, dan arah AcehnologiUnderstanding Aceh: rationale, entry points and directions for AcehnologiMembangun disiplin ilmu: pelajaran kelembagaan dan hambatanBuilding a discipline: institutional lessons and obstaclesModel pembelajaran nūr: cahaya, akal, dan qalamThe nūr model of learning: light, intellect and penParadigma studi Asia Tenggara: dari proyek kolonial ke kajian pascakolonialParadigms of Southeast Asian studies: from colonial project to postcolonial scholarshipPendekatan konflik dalam studi AcehThe conflict approach in Aceh studiesPendekatan orientalis dalam studi AcehThe orientalist approach in Aceh studiesPendekatan pascakonflik dalam studi AcehThe post-conflict approach in Aceh studiesPendekatan pembangunan dalam studi AcehThe development approach in Aceh studiesPenelitian komparatif lintas negara: pelajaran dari riset Aceh dan Asia TenggaraCross-country comparative research: lessons from Aceh and Southeast AsiaPengetahuan lokal: terikat bahasa, tradisi, dan nilaiLocal knowledge: bound by language, tradition and valuesPeta studi Aceh: mengapa, dari mana, dan ke manaA map of Aceh studies: why, where from, and where toPeunutoh: kata putus guru kepada muridPeunutoh: the teacher's final word to the studentPeuturi droe: kajian diri dalam tradisi intelektual AcehPeuturi droe: the study of the self in Acehnese intellectual traditionRagam tanggapan terhadap gagasan ilmu ke-Aceh-anResponses to the idea of an Acehnese scienceReproduksi sistem berpikir: mewariskan produk, bukan prosesReproducing a way of thinking: handing down products, not processesRomantisme sejarah dan problem ‘pusat–pinggiran’Historical romanticism and the centre–periphery problemSarjana lokal dan peneliti tamu: relasi kuasa dalam riset tentang AcehLocal scholars and visiting researchers: power relations in research on AcehSejarah Aceh sebagai bidang ilmuAcehnese history as a field of studySejarah Total dan sejarah lokal dalam studi AcehTotal history and local history in Aceh studiesShariʿa and Social Engineering: peta pembacaan FeenerShariʿa and Social Engineering: a reading map of FeenerStudi Aceh dalam kurikulum pendidikanAceh studies in the education curriculumStudi Aceh sebagai bidang keilmuanAceh studies as a disciplineStudi kawasan dan perbandingan hukum Islam di Asia TenggaraArea studies and comparative Islamic law in Southeast AsiaStudi subaltern dan akar pascakolonial kajian AcehSubaltern studies and the postcolonial roots of Aceh studiesSub-bidang studi Aceh: filsafat, sejarah, sosiologi, antropologi, dan lainnyaSub-fields of Aceh studies: philosophy, history, sociology, anthropology and moreTradisi menulis utuh dan tuntasThe tradition of complete, exhaustive writingTradisi tinggi Aceh: alam pikiran, kearifan lokal, dan wilayah tabuAceh's high tradition: worldview, local wisdom and the zone of taboo

BagianPart 2 · LantaiLevel II

Fondasi metafisikaMetaphysical foundation

Manusia dan Tuhan, insan kamil, epistemologi ‘irfani, dari Hamzah Fansuri ke Hegel.Humankind and God, the perfect human, ‘irfani epistemology, from Hamzah Fansuri to Hegel.

‘Abd al-Karim al-Jili‘Agama Aceh’? Citra Islam seratus persen dan praktik yang ditabukanAn ‘Acehnese religion’? The image of ‘100 per cent Islam’ and tabooed practice‘Alam al-kabîr dan ‘alam al-saghîr: makrokosmos dan mikrokosmos‘Alam al-kabir and ‘alam al-saghir: macrocosm and microcosm‘Ibād Allāh al-mukhlaṣīn: hamba yang tak tergoyahkan‘Ibād Allāh al-mukhlaṣīn: the servants beyond temptation‘Ilmu, ‘amal, dan ‘alam: ibadah, syukur, dan zikirKnowledge, deed and world: worship, gratitude and remembranceA‘yān tsābitah: hakikat alam dalam ilmu AllahA‘yān thābita: the immutable essences in God's knowledgeAda dan diri dalam pemikiran Hamzah FansuriBeing (ada) and self (diri) in the thought of Hamzah FansuriAsrār al-‘ĀrifīnAsrār al-‘Ārifīn (The Secrets of the Gnostics)Berahi (‘isyq) dan budi: tajrīd, tafrīd, dan ‘kata mabuk’Love (‘ishq) versus intellect: tajrīd, tafrīd and 'drunken speech'Bumoe wali dan Aulia TujohBumoe wali and the Aulia TujohDari ‘abd ke khalîfah hingga aulia: tangga hubungan manusia dan TuhanFrom servant to vicegerent to friend of God: the ladder of the human–divine relationshipDīn, millah, dan syarī‘atDīn, millah and sharī‘aDrama kosmis: Adam, malaikat, dan IblisThe cosmic drama: Adam, the angels and IblisEpistemologi ‘irfânî dalam kajian sosial‘Irfani epistemology in social inquiryFenomenologi dan hermeneutika tasawufPhenomenology and Sufi hermeneuticsHamzah Fansuri dan Hegel: membaca ‘spirit’ lintas tradisiHamzah Fansuri and Hegel: reading ‘spirit’ across traditionsInsan kamil: manusia sempurna sebagai khalifahInsan kamil: the Perfect Human as vicegerentInterkoneksi, reintegrasi, dan islamisasi: akar metafisika tiga paradigmaInterconnection, reintegration and Islamisation: the metaphysical roots of three paradigmsJejak persebaran karya Hamzah Fansuri di NusantaraThe spread of Hamzah Fansuri’s works across the archipelagoKearifan lokal dan orang bijakLocal wisdom and the wiseKenal dan tahu: dua tingkat pengetahuan tentang AllahKenal and tahu: two grades of knowing GodKenal diri, kenal alam, kenal TuhanKnowing self, knowing nature, knowing GodKeterputusan metafisika dan lahirnya pengetahuan di luar istanaMetaphysical rupture and the rise of knowledge outside the palaceKhalud: khalwat empat puluh hariKhalud: the forty-day retreatKosmologi Asia Tenggara: peta buku KBA 2025Southeast Asian Cosmologies: a source map of KBA’s 2025 bookLā ta‘ayyun dan martabat ta‘ayyunNon-determination and the grades of determination (ta‘ayyun)Metafisika Islam Nusantara: peta bacaan KBA 2016The metaphysics of Islam Nusantara: KBA’s 2016 reading mapNilai, Keyakinan, dan Intelektual (NKI): spirit sebagai standar masyarakatValues, Belief and Intellect (NKI): spirit as a society's standardPerjalanan sang ‘abid: dari ibadah menuju fanâThe path of the ‘abid: from worship to fanaRuh idhafi dan Nur Muhammad dalam pemikiran Hamzah FansuriThe relational spirit and the Light of Muhammad in Hamzah Fansuri's thoughtSpirit sebagai fondasi studi Islam di Indonesia: dari Hamzah Fansuri dan HegelSpirit as a foundation for Islamic studies in Indonesia: from Hamzah Fansuri and HegelSyair unggas (burung nuri) Hamzah FansuriHamzah Fansuri's poem of the bird (the parrot)Syarab al-‘Āsyiqīn (Minuman Segala Orang Berahi)Sharāb al-‘Āshiqīn (The Drink of Lovers)Syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat dalam pemikiran Hamzah FansuriSharia, path, reality and gnosis in Hamzah FansuriSyeikh Hamzah FansuriShaykh Hamzah FansuriSyeikh Nuruddin ar-RaniryShaykh Nuruddin al-RaniriTarekat, suluk, dan khalwat di AcehTarekat, suluk and khalwat in AcehTasawuf dan politik: dari kesalehan sosial ke kesalehan individualSufism and politics: from social to individual pietyTasawuf falsafi, Neoplatonisme, dan pengetahuan simbolikPhilosophical Sufism, Neoplatonism and symbolic knowledgeTiga epistemologi: bayânî, burhânî, ‘irfânîThree epistemologies: bayani, burhani, ‘irfaniTiga jalur spirit: Hegel–Taylor, Fansuri–al-Attas, Ibn Arabi–CorbinThree paths of spirit: Hegel–Taylor, Fansuri–al-Attas, Ibn Arabi–CorbinToponimi sufistik di lingkungan istana AcehSufi place names around the Acehnese palaceTujuh sifat, Kamal, Jalal, dan JamalThe seven attributes and Perfection, Majesty and BeautyUraian Nuruddin ar-Raniry tentang awal penciptaan langit dan bumiNuruddin ar-Raniry's account of the creation of the heavens and the earthWahdat al-wujûd dan tabu tasawuf falsafi di AcehWahdat al-wujud and the taboo on philosophical Sufism in AcehZat, Huwa, dan nama Allah: tingkatan ‘Yang Pertama’Essence, Huwa and the name Allah: the hierarchy of 'the First'

BagianPart 3 · LantaiLevel III

Konstruksi ilmu sosial & humanioraConstructing the social sciences & humanities

Teori sosial, pendekatan antropologi, Islamisasi ilmu, Frikatifisasi ilmu, dan warisan Snouck Hurgronje.Social theory, anthropology, the Islamisation of knowledge, Knowledge Fricativization, and Snouck Hurgronje’s legacy.

‘Bapak keuchik, ibu teungku’: Snouck dan peminggiran otoritas ulama‘Father keuchik, mother teungku’: Snouck and the marginalisation of ulama authority‘Distingsi’ dan ‘menyinari’: peralihan IAIN menjadi UIN Ar-Raniry (2013)‘Distinction’ and ‘illumination’: the conversion of IAIN into UIN Ar-Raniry (2013)Aceh sebagai laboratorium sosialAceh as a social laboratoryAgama sebagai gejala sosial: penelitian sosial keagamaanReligion as a social phenomenon: socio-religious researchAgenda riset ilmu sosial tentang masyarakat Muslim AcehA social-science research agenda for Muslim AcehAntropologi agama: agama sebagai sistem simbolAnthropology of religion: religion as a system of symbolsAntropologi Islam dan posisi penelitiThe anthropology of Islam and the researcher's positionBayang-bayang Snouck dalam antropologi AcehSnouck's shadow over the anthropology of AcehChristiaan Snouck Hurgronje dan genealogi orientalisme LeidenChristiaan Snouck Hurgronje and the genealogy of Leiden orientalismDari anekdot ke penelitian sosial: bukti, privasi, dan bahasaFrom anecdote to social research: evidence, privacy and languageDe Atjehers (Snouck Hurgronje)De Atjehers (The Achehnese), by Snouck HurgronjeDîn, bukan ‘agama’: kritik semantik atas istilah ‘agama Islam’Dîn, not ‘agama’: a semantic critique of the term ‘agama Islam’Empat dimensi meta-teori dalam kajian Islam NusantaraFour metatheoretical dimensions in studying Islam NusantaraEnam langkah frikatifisasi ilmu dan tiga serangkai ulama AcehSix steps of knowledge fricativization and Aceh's three great ulamaEnam tingkat berpikir dan level frikatif yang ‘diam’Six levels of thinking and the ‘silent’ fricative levelEpistemologi subaltern tanpa romantisasiSubaltern epistemology without romanticisationFungsionalisme dan studi adatFunctionalism and the study of adatGelar kehormatan para pemikir AcehHonorific titles of Acehnese thinkersHierarki sumber Barat dan sumber lokalThe hierarchy of Western and local sourcesHoesein DjajadiningratIslam Historis: metodologi, isu kontemporer, dan perubahan AcehIslam Historis: methodology, contemporary questions and change in AcehIslam rasional dan reintegrasi ilmu di IAINRational Islam and the integration of knowledge at IAINIslamisasi ilmu di Aceh: peluang dan hambatanIslamising knowledge in Aceh: prospects and obstaclesIslamisasi Ilmu PengetahuanIslamisation of KnowledgeIsmā‘īl al-Fārūqī dan kerangka Islamisasi Ilmu IIITIsmail al-Faruqi and the IIIT Islamization of Knowledge frameworkKamus Aceh–Belanda (Atjèhsch-Nederlandsch Woordenboek)The Acehnese–Dutch dictionary (Atjèhsch-Nederlandsch Woordenboek)Kolonisasi ilmu sosial dan ‘Americanised intelligence’The colonisation of social science and ‘Americanised intelligence’Matriks spirit: nilai, kepercayaan, dan intelektualThe spirit matrix: values, beliefs and intellectMembedakan pertanyaan normatif dan historis dalam studi IslamDistinguishing normative and historical questions in Islamic studiesMeta-teori ilmu sosial: empat kekeliruan analitisSocial-science meta-theory: four analytical fallaciesMetode etnografi: dari pra-studi hingga thick descriptionEthnographic method: from pre-study to thick descriptionNasihat Snouck Hurgronje tentang Aceh (3 Januari 1904)Snouck Hurgronje's advice on Aceh (3 January 1904)Paradigma Frikatifisasi IlmuThe Knowledge Fricativization ParadigmParadigma integrasi-interkoneksi (M. Amin Abdullah)The integration-interconnection paradigm (M. Amin Abdullah)Paradigma reintegrasi ilmu (Azyumardi Azra) dan basis wahdat al-wujudThe reintegration of sciences (Azyumardi Azra) and its wahdat al-wujud basisParadigma-paradigma antropologi: fungsionalisme, strukturalisme, interaksionisme, antropologi MarxisParadigms of anthropology: functionalism, structuralism, interactionism and Marxist anthropologyPolitik pengetahuan kolonial dalam relasi guru dan muridColonial knowledge politics in teacher–student relationsRDEDII: Re-search, Describe, Explain, Discourse, Interpretation, ImplicationSiklus ilmu dalam frikatifisasi: Allah, alam, fenomena, pengalaman, teksThe cycle of knowledge in fricativization: God, nature, phenomena, experience, textSosiologi, antropologi, dan kerja lapanganSociology, anthropology and fieldworkSurvei epigrafi kolonial di Aceh (1908–1917)The colonial epigraphic survey of Aceh (1908–1917)Syed Muhammad Naquib al-AttasTamsil rimbunan bambu: wujud frikatifisasi ilmuThe bamboo grove: an image of knowledge fricativizationTeori pertukaran: Mauss, Frazer, dan MalinowskiExchange theory: Mauss, Frazer and MalinowskiTeori sosial klasik: Marx, Durkheim, WeberClassical social theory: Marx, Durkheim, WeberWarisan Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-RaniryThe legacy of Hamzah Fansuri and Nuruddin ar-RaniriWeber dan studi IslamWeber and Islamic studies

BagianPart 4 · LantaiLevel III

Pembidangan ilmuThe disciplines

Delapan bidang: Sejarah, Kosmologi, Filsafat, Sosiologi, Antropologi, Sastra, Studi Religi, dan Politik Aceh.Eight disciplines: History, Cosmology, Philosophy, Sociology, Anthropology, Literature, Religious Studies and Politics of Aceh.

‘Masyarakat baru’ dan lima kekuatan yang melahirkan sosiologiThe ‘new society’ and the five forces that gave birth to sociology‘Sastra Aceh’ dan ‘Sastra di Aceh’‘Acehnese literature’ and ‘literature in Aceh’Abad ke-17 dalam historiografi Aceh: ulama, istana, dan sultanahThe seventeenth century in Acehnese historiography: scholars, court and sultanasAceh dalam historiografi Melayu dan MalaysiaAceh in Malay and Malaysian historiographyAceh tanpa istana: peralihan kepemimpinan dari sultan ke ulamaAceh without a palace: leadership passing from sultan to ulamaAdat, reusam, dan hukom: tiga hubungan dalam kosmologi AcehAdat, reusam and hukom: three relationships in Acehnese cosmologyAktor dan lembaga politik Aceh pascadamai 2005Political actors and institutions in post-2005 AcehAndaian Aceh tanpa Islam: takdir sejarah dan takdir geografiAceh without Islam: a counterfactual of history and geographyAntropologi AcehAcehnese AnthropologyAntropologi Indonesia dan sentrisme JawaIndonesian anthropology and Java-centrismBahasa-bahasa di Aceh: peta penuturThe languages of Aceh: a map of speakersBangsa teuleubeh dan absennya Aceh dalam falsafah keindonesiaanBangsa teuleubeh and Aceh's absence from the philosophy of Indonesian nationhoodBangsa teuleubeh: doktrin bangsa mulia dan Tuhan yang ahadBangsa teuleubeh: the doctrine of a noble people and the One GodBukit, makam ulama, dan pusat kosmikHills, scholars' tombs and the cosmic centreBustān al-Salāṭīn dan ‘belokan Islam’ dalam historiografi MelayuThe Bustān al-Salāṭīn and the ‘Islamic turn’ in Malay historiographyCakupan dan pembelajaran Filsafat AcehThe scope and teaching of Acehnese philosophyCharles Taylor, Henry Corbin, dan al-Attas: tiga pintu filsafat bagi studi AcehCharles Taylor, Henry Corbin and al-Attas: three gateways to philosophy for Aceh studiesDaerah Modal: narasi jasa Aceh bagi RevolusiDaerah Modal: the narrative of Aceh’s service to the RevolutionDari orientasi kerja ke orientasi karya: khittah intelektual AcehFrom career to creative work: the intellectual mission of AcehDefinisi kerja Filsafat Aceh: lima unsurA working definition of Acehnese philosophy: five elementsDinasti Shalihiyyah: kerangka baru historiografi Samudra PasaiThe Shalihiyyah dynasty: a new framework for the historiography of Samudra PasaiDiplomasi, perdagangan, dan perang: sejarah Aceh abad ke-18 dan ke-19Diplomacy, trade and war: Acehnese history in the eighteenth and nineteenth centuriesDokarim dan Hikayat Prang GoumpeniDokarim and Hikayat Prang GoumpeniDurkheim: fakta sosial, solidaritas mekanik, dan solidaritas organikDurkheim: social facts, mechanical solidarity and organic solidarityEmpat belas wilayah kebudayaan AcehThe fourteen cultural zones of AcehEmpat hambatan membangun Filsafat AcehFour obstacles to building an Acehnese philosophyEmpat jalan menemukan Filsafat AcehFour paths to discovering Acehnese philosophyEmpat ranah Antropologi Aceh: kebudayaan, arkeologi, biologi, linguistikFour branches of Acehnese anthropology: cultural, archaeological, biological, linguisticEmpat toponim Aceh: Serambi Mekkah, Tanah Rencong, Daerah Modal, Daerah IstimewaAceh’s four toponyms: Serambi Mekkah, Tanah Rencong, Daerah Modal, Daerah IstimewaEra orangkaya: elite dagang dan sultan-sultan lemah (1579–1589)The orangkaya era: merchant elites and weak sultans (1579–1589)Etika Aceh dan nilai spiritualAcehnese ethics and spiritual valuesEuleume endatu, zameun, haba, dan nanggroe: kosakata dasar falsafah AcehEuleume endatu, zameun, haba and nanggroe: the basic vocabulary of Acehnese philosophyFalsafah gerak: peukateun, but, jak hareukat, dan ikheulaihA philosophy of movement: peukateun, but, jak hareukat and ikheulaihFenomenologi sosial dan etnometodologiSocial phenomenology and ethnomethodologyFilsafat AcehAcehnese PhilosophyFilsafat perbandingan sebagai jalan menuju Filsafat AcehComparative philosophy as a path to Acehnese philosophyFilsafat, tasawuf, dan ulama-filosof: posisi Aceh dalam tradisi filsafat IslamPhilosophy, Sufism and scholar-philosophers: Aceh's place in the Islamic philosophical traditionFragmentasi ke-Aceh-an dan ke-Islam-anThe fragmentation of Acehneseness and IslamnessFungsionalisme, strukturalisme, dan morfologi sosialFunctionalism, structuralism and social morphologyGalak, meu chen, dan hikmah: ‘cinta kebijaksanaan’ dalam tutur AcehGalak, meu chen and hikmah: ‘love of wisdom’ in Acehnese speechGenerasi baru penafsir Islam berbasis ilmu sosialA new generation reading Islam through the social sciencesGenerasi sejarawan Aceh: dari Zainuddin dan Hasjmy hingga Muin Umar dan Nourouzzaman ShiddiqiGenerations of Acehnese historians: from Zainuddin and Hasjmy to Muin Umar and Nourouzzaman ShiddiqiHaba jameun, ca’e, dan sastra spontanHaba jameun, ca’e and spontaneous verseHAMKA dan sejarah Islam AcehHAMKA and the Islamic history of AcehHikayat AcehThe Hikayat AcehHikayat dan legenda sebagai sumber sejarahHikayat and legend as historical sourcesHikayat perang Aceh: dari Malem Dagang hingga Prang CumbokAcehnese war hikayat: from Malem Dagang to Prang CumbokHikayat Raja Pasai dan kesusastraan PasaiHikayat Raja Pasai and the literature of PasaiIbrahim AlfianImajinasi sosial dan imajinasi kebatinan dalam sastra AcehSocial imagination and inner imagination in Acehnese literatureIslam berorientasi kerajaan dan raja sufiKingdom-oriented Islam and the Sufi kingIslam sebagai basis reproduksi kebudayaan AcehIslam as the basis of cultural reproduction in AcehIslamologi Aceh: meurunoe dan tameng kosmologi negeriIslamology in Aceh: meurunoe and the cosmological shieldKhianat dan durhaka: kesetiaan kepada raja sebagai kewajiban agamaKhianat and durhaka: loyalty to the ruler as a religious dutyKitab kuning, kitab putih, dan tiga kelompok penuntut ilmuYellow books, white books and three communities of learnersKosmologi AcehAcehnese CosmologyKosmologi Islam: kisah kosmik al-Qur’an dan tiga wilayah penjelasannyaIslamic cosmology: the Qur'an's cosmic narratives and three fields of explanationKronotop islamisasi dan ‘the Aceh history’The chronotope of Islamisation and ‘the Aceh history’Lapisan pengaruh Timur Tengah dalam religi AcehLayers of Middle Eastern influence on religion in AcehLima aspek inti sistem politik dalam kitab-kitab kerajaan AcehFive core dimensions of the political system in Aceh’s royal textsLogika terbalik ‘what if not?’ dan cakrawala sejarah AcehThe 'what if not?' inversion and the horizons of Acehnese historyMābaina al-Salāṭīn (Adat Aceh) dan makna ‘raja’Mābaina al-Salāṭīn (Adat Aceh) and the meaning of ‘raja’Madrasah Sa‘adah Abadiyah dan gelombang madrasah 1930-anMadrasah Sa‘adah Abadiyah and the madrasah wave of the 1930sManajemen musoh: reproduksi permusuhan dalam politik AcehManaging the musoh: the reproduction of enmity in Acehnese politicsManifesto Pemberontak Aceh (1953)The Manifesto of the Acehnese Rebels (1953)Marx: dialektika, cara produksi, dan teori konflikMarx: dialectics, the mode of production and conflict theoryMasyarakat bunga dan masyarakat iklanFlower-board society and advertisement societyMasyarakat ilmu: dari fondasi kerajaan hingga fragmentasiThe ‘knowledge society’: from royal foundation to fragmentationMasyarakat jerigen dan masyarakat kartuJerrycan society and card societyMasyarakat warung: warung kopi, kuliner, dan perpindahan ruang publikStall society: coffee shops, cuisine and the shifting public sphereMembangun ilmu Politik Aceh: ranah, teori, dan bayang-bayang Politik MelayuBuilding an Acehnese political science: domains, theories and the shadow of Malay politicsMenerjemahkan budaya sendiri: kata, gagasan, dan maknaTranslating one's own culture: words, ideas and meaningsMenuju sosiologi pribumi: cermin Sosiologi Arab dan Asia TenggaraTowards an indigenous sociology: the mirror of Arab and Southeast Asian sociologyMohammad Said dan Aceh Sepanjang AbadMohammad Said and Aceh Sepanjang AbadMukim dan sistem perkauman: dari keluarga ke federasi gampongMukim and the kin-community system: from family to federation of villagesNarasi kejayaan dan kemunduran moral: dari Penjoeloeh ke mimbar daiThe narrative of glory and moral decline: from Penjoeloeh to the preacher’s pulpitOrang asing di Singkil dan Simeulue: antropologi tentang kehadiran luarForeigners in Singkil and Simeulue: an anthropology of outside presencePemikir politik Aceh: dari sultan hingga aktivisAcehnese political thinkers: from sultans to activistsPenyelesaian Darul Islam dan lahirnya Daerah Istimewa Aceh (1957–1962)Ending Darul Islam and the birth of the Special Area of Aceh (1957–1962)Peradaban yang tak bernegosiasi: Aceh di antara peradaban Jawa dan MelayuA civilisation that would not negotiate: Aceh between the Javanese and Malay civilisationsPerang Cumbok dan berakhirnya kekuasaan uleebalangThe Cumbok war and the end of uleebalang powerPergeseran reproduksi kesadaran religi di Aceh kontemporerShifts in the reproduction of religious consciousness in contemporary AcehPeriodisasi sastra Aceh: dari animisme hingga masa mutakhirPeriodising Acehnese literature: from animism to the presentPikiran, perkataan, pekerjaan, perasaan, pengalaman: lima ranah rekonstruksi sejarah AcehThought, word, work, feeling, experience: five domains for reconstructing Acehnese historyPolemik historiografi lokal: Peureulak dan Syi‘ahThe local-historiography polemic: Peureulak and Shi‘ismPolitik AcehAcehnese PoliticsPositivisme dan anti-positivisme: erklären dan verstehenPositivism and anti-positivism: erklären and verstehenPotala dan Allah bri: kepemilikan ilahi dalam bahasa sehari-hariPotala and Allah bri: divine ownership in everyday speechProgram Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial di Banda Aceh (1974)The Social Science Research Training Programme in Banda Aceh (1974)Ragam sastra Aceh: haba, hadih maja, panton, hikayat, nalam, hikayat ruhe, dan hiemGenres of Acehnese literature: haba, hadih maja, panton, hikayat, nalam, hikayat ruhe and hiemRaja adil dan iḥsān: etika kekuasaan Kesultanan AcehThe just king and iḥsān: the ethics of power in the Aceh SultanateReligi, budaya, dan mitos sebagai kompas: fase-fase kebudayaan AcehReligion, culture and myth as compass: the phases of Acehnese cultureSapi, baynah, dan meugangCattle, baynah and meugangSastra AcehAcehnese LiteratureSejarah Aceh: dari sejarah lokal ke Sejarah Peradaban AcehAcehnese History: from local history to a History of Acehnese CivilisationSejarah manusia Aceh: asal-usul, laut, dan dominasi religiA history of the Acehnese people: origins, sea and religionSejarah negeri-negeri di Aceh: melampaui Aceh BesarHistories of Aceh's many polities: beyond Aceh BesarSejarah sebagai kesadaran diri dan sejarah tandinganHistory as self-awareness and counter-historySeminar masuknya Islam ke Indonesia (1963, 1978, 1980) dan ‘Dari Sini Ia Bersemi’The seminars on the coming of Islam to Indonesia (1963, 1978, 1980) and ‘Dari Sini Ia Bersemi’Sepuluh fase sejarah politik AcehTen phases of Acehnese political historySiegel dan pembelahan masyarakat Aceh: uleebalang, ulama, petani, sultanSiegel and the division of Acehnese society: uleebalang, ulama, peasants, sultanSosiologi AcehAcehnese SociologySosiologi mengkaji ‘kami’, antropologi mengkaji ‘mereka’Sociology studies ‘us’, anthropology studies ‘them’Studi Religi AcehAcehnese Religious StudiesSultan Alauddin Riayat Syah al-QahharSultan Iskandar ThaniSyajarat al-Yaqīn, ‘Arsy, dan waktu Kerajaan LangitShajarat al-Yaqin, the Throne and the time of the Heavenly KingdomT.A. Sakti (Teuku Abdullah)Taman Ghairah dan GunonganThe Taman Ghairah and the GunonganTanah Rencong: narasi perlawanan antikolonialTanah Rencong: the narrative of anti-colonial resistanceTangga nyawa makhluk dan asal-usul rasa malu dalam kosmologi ar-RaniryThe ladder of souls and the origin of shame in al-Raniri's cosmologyTaufik AbdullahTeori-teori kedatangan Islam ke Nusantara: asal, waktu, dan caraTheories of Islam’s arrival in the archipelago: origin, timing and mannerTeungku Chik Pante KuluTiga cermin sejarah Aceh: Islam, Melayu, dan IndonesiaThree mirrors of Acehnese history: Islam, the Malay world and IndonesiaTiga model dan enam tahap membangun Sosiologi AcehThree models and six stages for building an Acehnese sociologyTiga ruang Sosiologi Aceh: imajinasi sosial, kesadaran sosial, dan kebatinanThree spaces of Acehnese sociology: social imagination, social consciousness and inner lifeTrilogi keislaman Aceh: Syafi‘i, Asy‘ari, dan al-GhazaliAceh’s Islamic trilogy: Shafi‘i, Ash‘ari and al-Ghazali

BagianPart 5 · LantaiLevel IV

Fondasi peradabanCivilisational foundation

Kerak peradaban, jejak spirit, jejak budaya, sistem kebudayaan, dan bahasa Aceh.The civilisational crust, traces of spirit and culture, the cultural system, and the Acehnese language.

Aceh, Hegel, dan Pencerahan: perbandingan spiritAceh, Hegel and the Enlightenment: a comparison of spiritACEH: Arab, Cina, Eropa, HindiaACEH: Arab, China, Europe, IndiaAlam gaib dalam kepercayaan orang AcehThe unseen world in Acehnese beliefAmilan dan keude kampungAmilan and the village shopArabisasi, Islam sebagai produk kebudayaan, dan membaca budaya AcehArabisation, Islam as cultural product, and reading Acehnese cultureBahasa Aceh dan pergeseran bahasaAcehnese and language shiftBahasa dalam kajian antropologi dan agamaLanguage in anthropology and the study of religionBahasa di masa konflikLanguage in times of conflictBaynah: konsep harta orang AcehBaynah: the Acehnese concept of wealthChinsow dan laut Aceh: dari reusam ke kesadaran geopolitikChinsow and Aceh's sea: from reusam to geopolitical awarenessDari nanggroe ke daerah: disfungsi pengalaman historisFrom nanggroe to daerah: the dislocation of historical experienceEndatu dan reusamEndatu and reusamGelar keistimewaan Aceh: dari Daerah Istimewa ke Pemerintah AcehAceh's special titles: from Special Region to the Government of AcehGuha Tujoh (Gua Tujuh)Guha Tujoh (Seven Caves)Hadih majaHadih maja (Acehnese proverbial wisdom)Hoka Raja Loen: lagu Rafly tentang leluhur bertuahHoka Raja Loen: Rafly’s song of illustrious ancestorsIngat, seimbang, syukur: falsafah tindakan budaya AcehRemember, balance, give thanks: the Acehnese philosophy of cultural actionIslamisasi Pulau Ruja: dari hasrat religius ke spirit peradabanThe Islamisation of Pulau Ruja: from religious desire to civilisational spiritJurong dan permukiman kawomJurong lanes and kawom settlementsKerak peradaban Aceh: tiga spirit Islam, budaya, dan ilmuThe bedrock of Acehnese civilisation: the three spirits of Islam, culture and knowledgeKhanduri: kenduri dalam siklus kerja orang AcehKhanduri: ritual feasts in the Acehnese work cycleKosmologi Aceh dan kosmologi JawaAcehnese and Javanese cosmologiesKutaraja (Banda Aceh)Lon, na, dan hana: kosakata keberadaan dalam bahasa AcehLon, na and hana: the vocabulary of being in AcehneseMeudagang dan meukat: merantau mencari ilmu dan berniagaMeudagang and meukat: travelling for knowledge and for tradeNarasi asal-usul Achemenia–Persia–AcehThe Achaemenid–Persian–Acehnese origin narrativePanglima Laot: kajian sejarah dan etnografi KBA 2017Panglima Laot: KBA’s 2017 historical and ethnographic studyPeluru peradaban: falsafah, masyarakat, identitas, teknologiCivilisational forces: philosophy, society, identity and technologyPenegakan hukum Islam pada masa Iskandar MudaThe enforcement of Islamic law under Iskandar MudaPeta sosial bahasa di Aceh: tunong, baroh, dan anak komplekThe social map of language in Aceh: uplands, lowlands and 'compound kids'Planetary civilization sebagai cermin bagi AcehPlanetary civilisation as a mirror for AcehQanun bak Putroe Phang dan pembagian peran dalam kenduriQanun bak Putroe Phang and the gendered division of feast workRevitalisasi bahasa AcehRevitalising the Acehnese languageRumoh Aceh: arah kiblat dan tata ruang domestikRumoh Aceh: qibla orientation and domestic spaceSegitiga masjid–dayah–pasarThe mosque–dayah–market triangleSpirit ke-Aceh-an: poros istana dan poros ulamaThe Acehnese spirit: the palace axis and the ulama axisSukĕ imuem peut dan kategori suku AcehSukee imuem peut and Acehnese clan categoriesTamu, ruang, durasi, dan kewajiban sosialGuests, space, duration and social obligationsTanah bagi orang Aceh: konsep, harta, dan keharmonisanLand among the Acehnese: concepts, wealth and harmonyTanah sebagai arena sosial dan harta keluargaLand as a social arena and family wealthTanoh aulia: Aceh sebagai tanah para waliTanoh aulia: Aceh as the land of the saintsTanoh sebagai amanah: kepemilikan ilahi dan penggunaan bersamaTanoh as a trust: divine ownership and shared useTeurimong jame: membaca bagan penerimaan tamuTeurimong jame: reading the guest-reception diagramTiga lanskap budaya: bukit–sawah–laut, bukit–sawah–kampong, hutan–sawah–kampongThree cultural landscapes: hill–paddy–sea, hill–paddy–village, forest–paddy–villageTiga lapisan lanskap tanah dalam presentasi KBAThree land-and-livelihood layers in KBA’s presentationTimang dan peutimang nanggroeTimang and peutimang nanggroe: balance as political philosophyToponimi kampung Aceh: cot, blang, gle, krueng, kutaAcehnese village toponymy: cot, blang, gle, krueng, kutaTuri droe: mengenal diri sebagai syarat kebudayaanTuri droe: self-knowledge as the precondition of cultureUlama dan teritori spiritual kampungUlama and the spiritual territory of the villageZiarah, nazar, dan mengaji di makamPilgrimage, vows and Qur’an recitation at graves

BagianPart 6 · LantaiLevel IV

Tradisi intelektualIntellectual tradition

Cara berpikir, tradisi berguru dan menulis, alumni luar negeri, masa depan dayah, dari teungku ke ustaz.Ways of thinking, learning and writing traditions, overseas alumni, the future of the dayah, from teungku to ustaz.

Abuya Syeikh Haji Muhammad Waly al-Khalidy (Abuya Muda Waly)Abuya Shaykh Haji Muhammad Waly al-Khalidy (Abuya Muda Waly)Afrizal TjoetraAgen kebaikan: vernakulasi hadis dalam dakwahAgents of goodness: vernacularising hadith in preachingAhlul ikhtiyar dan pemilihan langsungAhl al-ikhtiyar and direct electionsAhmad Humam HamidAli HasjmyAlumni luar negeri di AcehForeign-educated graduates in AcehApridarAqidah al-Najin, Kitab Perukunan Melayu Besar, dan kitab majlis taklimAqidah al-Najin, Kitab Perukunan Melayu Besar and the texts of the majlis taklimBangai dan awak: bahasa status dan batas kaumBangai and awak: the language of status and group boundariesBarisan Muda Ummat (BMU) dan rumah layak huniBarisan Muda Ummat (BMU) and its habitable housesBeasiswa luar negeri sebagai rekayasa sosialForeign scholarships as social engineeringDari dayah dan IAIN ke birokrasi syariatFrom dayah and IAIN to sharia bureaucracyDari teungku ke ustaz: pergeseran otoritas keagamaanFrom teungku to ustaz: a shift in religious authorityDayahDayah 2050: peta makalah KBA tahun 2012Dayah 2050: a map of KBA’s 2012 paperDayah dan reproduksi spirit: ilme endatuThe dayah and the reproduction of spirit: ilme endatuDayah sebagai pusat kosmik: ‘Bapak Wilayah’ dan kendali pengetahuan spiritualThe dayah as cosmic centre: the ‘Father of the Territory’ and control of spiritual knowledgeDelapan isu sentral dalam tulisan tentang AcehEight core themes in writing about AcehDian RubiantyDunia perbukuan di AcehThe world of books in AcehEka SrimulyaniEmpat pilar tegaknya dunia (qiyamud dunya bi arba‘atin)The four pillars that uphold the world (qiyam al-dunya bi arba‘a)Fakultas Dakwah IAIN Ar-RaniryThe Faculty of Da‘wa at IAIN Ar-RaniryFikar W. EdaGelar teungku di luar dayahThe teungku title beyond the dayahGenerasi sarjana 1970-an dan ‘sarjana via-TOEFL’The 1970s generation and the ‘TOEFL-route scholars’Gerakan keagamaan: tanah, harapan, dan sakralitasReligious movements: land, hopes and sacralityHaba carong, haba bangai, dan haba cet langetHaba carong, haba bangai and haba cet langetHana roh, hana get, han jeut: tiga lapis pertimbangan moralHana roh, hana get, han jeut: three layers of moral reasoningHidāyat al-‘AwāmHidayat al-‘AwamHistoriografi Aceh di hadapan sejarah nasionalAcehnese historiography and national historyJak beut dan jak sikula: dari mengaji ke sekolahJak beut and jak sikula: from religious study to schoolJak beut, intat beut, dan seumeubeut dalam kajian MananJak beut, intat beut and seumeubeut in Manan’s studyJaringan Sunnah di Aceh UtaraThe ‘Sunnah Network’ in North AcehKeberkahan ilmu dan ziarah spiritual ke dayahThe blessing of knowledge and spiritual pilgrimage to the dayahKeurija dan bek peumale gampongKeurija and bek peumale gampong: communal work and guarding village honourKhairil MiswarKomisi Beasiswa Aceh (KBA)Aceh Scholarship Commission (KBA)Kompetensi dan otoritas syariatCompetence and authority in shariaKonsep, kekuasaan, internasionalisasi, hegemoni: ilmu sebagai kuasaConcept, power, internationalisation, hegemony: knowledge as powerKrisis pewarisan karya ulama AcehThe crisis in transmitting Acehnese scholarly worksKrisis spirit intelektual Aceh dan sarjana otodidak abad ke-20The crisis of Aceh's intellectual spirit and its self-made 20th-century scholarsLima motif menulis dalam tradisi AcehFive motives for writing in the Acehnese traditionMajlis taklim di Nagan Raya dan Majlis Taklim AnsharullahMajlis taklim in Nagan Raya and the Majlis Taklim AnsharullahMasa depan dayah: empat pilihan menuju 2050The future of the dayah: four options towards 2050Meugure: tradisi berguru di AcehMeugure: the Acehnese tradition of discipleshipMir’āt al-ṬullābMir'at al-TullabMuhammad Adli AbdullahMukhlisuddin IlyasMurizal HamzahNur Janah AlsharafiOrganisasi ulama dayah: dari Perti ke HUDAOrganisations of dayah ulama: from Perti to HUDAOtoritas karismatik ulama dayahThe charismatic authority of dayah ulamaOtoritas keagamaan virtual: dari reproduksi kultural ke reproduksi populerVirtual religious authority: from cultural to popular reproduction of knowledgeOtoritas keagamaan, sanad, dan seumeubeutReligious authority, sanad and seumeubeutPembacaan Ihya’ ‘Ulumiddin dan tasawuf akhlaqi di dayahReading the Ihya’ ‘Ulum al-Din and ethical Sufism in the dayahPeradaban sosial IslamIslamic social civilisationPeradilan kolonial dan tersingkirnya ulama dari hukum IslamColonial courts and the removal of ulama from Islamic lawPerebutan fungsi intelektual: alumni Timur Tengah, IAIN, dan dayahContesting intellectual roles: Middle East, IAIN and dayah graduatesPeriodisasi Cibro dan genealogi AcehnologiCibro’s periodisation and Acehnologi’s genealogyPersatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) di AcehPersatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) in AcehPertimbangan etis: spiritual, timang, peringatan, dan syukurEthical deliberation: spiritual judgment, balance, counsel and gratitudePondok pesantren modern di AcehModern pondok pesantren in AcehRadio dayah dan modernisasi santriDayah radio and the modernisation of santriReuboh: tradisi olok-olok anak muda kampungReuboh: the village youth practice of verbal roastingRumoh beut dan otoritas keilmuan perempuanRumoh beut and women’s scholarly authoritySaifuddin BantasyamSaiful MahdiSehat Ihsan ShadiqinSekolah Islam Terpadu dan program Diniyah di Banda AcehIntegrated Islamic schools and Diniyah programmes in Banda AcehSekuler kanan dan sekuler kiriRight-wing and left-wing secularismSeumike: cara berpikir orang AcehSeumike: the Acehnese way of thinkingṢirāṭ al-MustaqīmSirat al-MustaqimSulaiman TripaSuluk, khalwat, dan Salek Buta di dayahSuluk, khalwat and Salek Buta in the dayahTa‘lim fardhu ‘ain dan urutan penegakan syariatTeaching fardhu ‘ain and the proper sequence of sharia enforcementTabrani YunisTeungku Bale dan Teungku RangkangTeungku Bale and Teungku RangkangTeungku Chik (Abu): pemimpin dayah dan pemimpin spiritualTeungku Chik (Abu): dayah heads and spiritual leadersTeungku Inong dan tradisi pengajian: kajian Abdul MananTeungku Inong and religious learning: Abdul Manan’s studyTeungku MeunasahTgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop Jeunieb)Tibyān fī Ma‘rifat al-AdyānTibyan fi Ma'rifat al-AdyanTipologi dayah di Aceh: lima corakA typology of dayahs in Aceh: five typesTradisi kepenulisan tentang AcehThe tradition of writing about AcehTraining Kader Dakwah (TKD)Training Kader Dakwah (TKD): preacher-cadre trainingTransformasi pesantren: madrasah, zawiyah, pesantren murni, dan pesantren plus sekolahThe transformation of the pesantren: madrasah, zawiyah, pure pesantren and pesantren-plus-schoolUlama Aceh dan Orde Baru: netralisasi dan perlawanan diamAcehnese ulama and the New Order: neutralisation and quiet resistanceUlama sebagai mediator kulturalThe ulama as cultural brokerUstaz dari Jawa di pesantren Jama‘ah TablighJavanese ustaz in Tablighi Jama‘at schoolsWaliyul amri al-dharuri bi al-syaukahWaliyy al-amr al-daruri bi al-shawka (emergency ruler by de facto power)

BagianPart 7 · LantaiLevel V

Pergumulan identitasContested identities

Persia dan Syi‘ah, haji, Pulau Pinang, perantau di Tanah Melayu, dan identitas Gayo.Persia and Shi‘ism, the hajj, Penang, migrants in the Malay Peninsula, and Gayo identity.

‘Berangkat haji dari kebun kopi’: tabungan haji petani Gayo'To Mecca from the coffee garden': hajj savings among Gayo farmers‘Kenapa Aceh bukan Melayu?’: polemik identitas 2009‘Why Aceh is not Malay’: the 2009 identity polemicAceh dan pembentukan identitas MelayuAceh and the making of Malay identityAceh–Penang: identitas melalui niaga, ibadah, dan perantauanAceh–Penang: identity through trade, worship and migrationBayt al-Asyi dan wakaf Aceh di Tanah SuciBayt al-Asyi and Acehnese endowments in the Holy LandBudi dan budiman dalam alam pikir Melayu dan AcehBudi and the budiman in Malay and Acehnese thoughtDayah Krueng Kale dan Dayah Hasbiyah IndrapuriDayah Krueng Kale and Dayah Hasbiyah IndrapuriDayah Yan di Kedah: tempat hijrah ulama AcehDayah Yan in Kedah: refuge of Acehnese ulamaDiaspora Aceh dalam pusaran konflikThe Acehnese diaspora in the vortex of conflictDinamika haji Indonesia: pembacaan kajian Moh. RosyidIndonesian pilgrimage dynamics: reading Moh. RosyidEmpat gelombang hubungan Arab–AcehFour waves of Arab–Acehnese connectionEmpat tahap pengaruh Arab dalam identitas AcehFour stages of Arab influence in Acehnese identityFalsafah Melayu dan AcehMalay and Acehnese philosophies of lifeGejolak Gayo dan wacana Provinsi ALAGayo unrest and the ALA province movementGelar ‘Haji’ dan status sosial di AcehThe title 'Haji' and social status in AcehHabib Bugak AsyiHaji sebagai rite of passage dalam masyarakat AcehThe hajj as a rite of passage in Acehnese societyHaji ulama yang dibiayai umat dan pergeseran makna hajiCommunity-funded scholarly hajj and the shifting meaning of pilgrimageHikayat Prang SabiHikayat Prang Sabi (Epic of the Holy War)Identifikasi pewakaf Habib Bugak: nama, tempat, dan buktiIdentifying the Habib Bugak donor: names, places and evidenceIdentitas Gayo dalam konstruksi ke-Aceh-anGayo identity within AcehnesenessImigran Aceh di Semenanjung MalaysiaAcehnese migrants in Peninsular MalaysiaJak u Arab: tradisi haji orang AcehJak u Arab: the Acehnese hajj traditionJaringan ulama Aceh–HaramaynThe Aceh–Haramayn scholarly networkJejak Syi‘ah dalam tradisi AcehShi‘i traces in Acehnese traditionJejaring Hadhrami: niaga, haji, dan percetakanHadhrami networks: commerce, pilgrimage and printingKajian Almascaty tentang Habib Abdurrahman dan Habib BugakAlmascaty’s study of Habib Abdurrahman and Habib BugakKajian haji Aceh 2018: pengalaman dan perbedaan lintas budayaThe 2018 Acehnese hajj study: experience and cultural differenceKarantina Haji Pulau RubiahThe Pulau Rubiah hajj quarantine stationKenduri haji, peusijuek, dan meusapat: ritus pelepasan calon hajiHajj feast, peusijuek and meusapat: rites of sending off the pilgrimKerajaan LingeThe Linge kingdomKerajaan PeureulakThe Peureulak (Perlak) SultanateKonstruksi identitas Melayu dalam sejarah Aceh dan Penang: peta sumberConstructing Malay identity in Aceh–Penang history: a source mapKontestasi dayah, pesantren Wahabi, dan isu Syi‘ahDayah, Salafi pesantren and the Shi‘a questionLagu ‘Aceh Pinang’ dan imajinasi perantauanThe song ‘Aceh Pinang’ and the imagination of migrationLiterasi lintas budaya dalam persiapan hajiIntercultural literacy in hajj preparationMigrasi Arab di Malaya: peta sumber OthmanArab migration in Malaya: Othman’s source mapMinda dan fikir: bahasa sebagai cermin cara pandangMinda and fikir: language as a mirror of worldviewMisi Haji RI II (1949)The Second RI Hajj Mission (1949)P. Ramlee (Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh)P. Ramlee dan kosmopolitanisme Melayu: pembacaan makalah 2012P. Ramlee and Malay cosmopolitanism: the 2012 paper’s interpretationPengalaman lintas budaya jemaah haji AcehCross-cultural encounters of Acehnese pilgrimsPersatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA)All-Aceh Ulama Association (PUSA)Politik komunitas Aceh di Mekkah pada masa Perang AcehAcehnese politics in Mecca during the Aceh WarPulang haji: oleh-oleh, cerita, dan kisah ‘dosa yang ditampakkan’Homecoming: gifts, stories and tales of 'sins revealed'Pulau Pinang sebagai ‘Jeddah Kedua’Penang as the ‘Second Jeddah’Raja gunung, pesisir, dan tuahMountain kings, coastal ports and tuahSamudera PasaiSerambi MekkahSerambi Mekkah (the Verandah of Mecca)Seyyed Hussain al-Aidid dan Lebuh AcehSeyyed Hussain al-Aidid and Acheen StreetSnouck Hurgronje, haji, dan Pan-IslamSnouck Hurgronje, the hajj and Pan-IslamismSulthān al-‘Ādil dan dirham emas PasaiSultan al-‘Adil and the Pasai gold dirhamSyi‘ah dalam sejarah AcehShi‘a Islam in Acehnese historyTāj al-Salāṭīn, Bustān al-Salāṭīn dan tradisi PersiaTaj al-Salatin, Bustan al-Salatin and the Persian traditionTazkirah Thabaqāt Jumu‘ Sulṭān al-SalāṭīnTeungku Syeikh Abdul Hamid Samalanga (Ayah Hamid)Teungku Shaykh Abdul Hamid Samalanga (Ayah Hamid)Tgk. H. Mahjiddin Jusuf dan terjemahan al-Qur’an bersajak berbahasa AcehTgk. H. Mahjiddin Jusuf and the rhymed Acehnese Qur’an translationTgk. Haji Abdullah Ujong RimbaTiga posisi pengetahuan haji: orang kampung, jemaah, dan mukiminThree positions of hajj knowledge: villagers, pilgrims and residentsTipologi jemaah haji AcehA typology of Acehnese pilgrimsWakaf, haji, dan ingatan lintas generasi Aceh–MekkahWaqf, pilgrimage and intergenerational Aceh–Mecca memory

BagianPart 8 · LantaiLevel V

Isu kontemporerContemporary issues

Kosmopolitanisme, perempuan, Panglima La’ôt, keamanan pascadamai, syariat, dan fikih Asia Tenggara.Cosmopolitanism, women, the Panglima La’ôt, post-peace security, sharia, and Southeast Asian fiqh.

‘Berkah tsunami’ dan banjir uang rekonstruksiThe ‘tsunami blessing’ and the flood of reconstruction money‘Bule’, syariat, dan budaya pascatsunamiForeigners (‘bule’), sharia and culture after the tsunamiAceh Baru: kunci dan tujuh asas membangun AcehAceh Baru (New Aceh): keys and seven principles for rebuilding AcehAceh sebagai ‘laboratorium’ birokrasi Orde BaruAceh as a ‘laboratory’ of New Order bureaucracyAdat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah KualaAdat bak Po Teumeureuhom: adat sebagai sistem pemerintahanAdat bak Po Teumeureuhom: adat as a system of governmentAdat La’ôtAdat Laot (customary law of the sea)Adnan GantoAgama dan budaya di Aceh: hubungan yang perlu ditelusuriReligion and culture in Aceh: relationships to investigateAgama dan kepemimpinan politik Aceh: kerangka Riza NurdinReligion and political leadership in Aceh: Riza Nurdin’s frameworkAksi santri 27 Januari 2008 dan kebangkitan politik dayahThe santri march of 27 January 2008 and the rise of dayah politicsAlfian (MaTA)Amrina HabibiAnak komplek dan alienasi identitas‘Complex children’ and identity alienationAntropologi kosmopolitan: ekspansi orang Aceh sebagai ekspansi kebudayaanCosmopolitan anthropology: Acehnese expansion as cultural expansionBanda Aceh sebagai kota pelajar dan arena kontestasi keagamaanBanda Aceh as student city and arena of religious contestBudaya Aceh di tengah perubahanAcehnese culture amid changeChild free dan perubahan paradigma masyarakatThe child-free choice and changing social paradigmsCSO sebagai kepemimpinan tingkat menengah: kajian TaqwadinCSOs as mid-level leadership: Taqwadin’s studyCut Asmaul HusnaDanil Akbar TaqwadinDari ideologi ke pragmatisme: elite GAM sebagai ‘kelompok baru’From ideology to pragmatism: the GAM elite as a ‘new group’Dari pernikahan dini ke penundaan nikahFrom early marriage to delayed marriageDarussalam dan era Global-AI: epilog pemikiran KBADarussalam and the Global-AI era: KBA’s epilogueDarussalam sebagai visi kosmologis lintas kawasanDarussalam as a cross-regional cosmological visionDekonstruksi rekonstruksi: pembangunan mental pascatsunamiDeconstructing reconstruction: mental rebuilding after the tsunamiDinas Syariat Islam: birokrasi, dakwah, dan sosialisasiThe sharia agency: bureaucracy, preaching and public outreachDunia malam Banda Aceh: warkop, kafe, dan anak mudaBanda Aceh after dark: coffee shops, cafés and the youngEdward Aspinall dan tesis ‘dari kombatan ke kontraktor’Edward Aspinall and the ‘combatants to contractors’ thesisEleume: ilmu hitam di kalangan nelayanEleume: sorcery among fishersFiqh IndonesiaFiqh Indonesia (Indonesian fiqh)Fiqh MalaysiaFiqh Malaysia (Malaysian fiqh)Formalisasi Panglima Laot dan legitimasi dari komunitasFormalising Panglima Laot and community legitimacyFormalisme agama dan membumikan religiReligious formalism and grounding religionGam Cantoi: tokoh kartun dan cermin diri orang AcehGam Cantoi: cartoon figure and Acehnese self-mirrorGelar ampon, cut, teuku, dan teungku: makna sosial yang memudarThe titles ampon, cut, teuku and teungku: fading social meaningsGenealogi gelar Wali Nanggroe: Batee Kureng, Halimon, dan cap sikureungGenealogy of the Wali Nanggroe title: Batee Kureng, Halimon and the cap sikureungGenerasi muda, literasi digital, dan kemaslahatan: kajian MellyanYouth, digital literacy and public benefit: Mellyan’s studyGerakan Aceh Merdeka (GAM)Free Aceh Movement (GAM)Guna-guna dalam perceraianSorcery in divorceHaji, perantara, dan kerentanan dokumen: kasus 2016Pilgrimage, intermediaries and documentary vulnerability: the 2016 caseHarga damai: dari ‘menanti’ ke ‘mengisi’The price of peace: from ‘waiting’ to ‘filling’Imajinasi sosial generasi milenial dalam pergaulan sehari-hariThe social imagination of millennials in everyday sociabilityIngatan, luka sejarah, dan identitas PattaniMemory, historical wounds and Pattani identityInong bale: janda di kampung AcehInong bale: widows in Acehnese villagesIslam dan transformasi kepemimpinan: bab Muhammad Riza NurdinIslam and leadership transformation: Muhammad Riza NurdinIsu pemurtadan pascatsunami dan pendangkalan agamaApostasy fears after the tsunami and the thinning of religionJejak mazhab Hanafi dalam adat AcehḤanafī traces in Acehnese adatKaset, VCD, dan lagu protes Aceh pasca-DOMCassettes, VCDs and Acehnese protest songs after the DOMKerja perempuan di kampung dan tradisi meurupVillage women's labour and the meurup traditionKhanduri La’ôtKhanduri Laot (sea feast)Kijang Innova dan Double Cabin: metafora damai yang menjadi proyekKijang Innova and Double Cabin: when peace became a projectKonteks beragama di Aceh: membaca bagan sosial-antropologisReligious contexts in Aceh: a social-anthropological diagramKonvensi GAM 2006 dan langgam politik GAM menjelang pilkadaGAM’s 2006 convention and its political style before the electionsKosmopolis religiusThe religious cosmopolisLangkasuka sebagai imajinasi sejarah dalam pembacaan KBALangkasuka as historical imagination in KBA’s readingLaporan IPAC 32: kampanye anti-Salafi di Aceh (2016)IPAC Report 32: the anti-Salafi campaign in Aceh (2016)Living law: dari deskripsi masyarakat ke preskripsi negaraLiving law: from social description to state prescriptionM. AlkafMahar dan pesta pernikahan di era media sosialBride-price and weddings in the social-media eraMahkamah Syar’iyah: yurisdiksi dan kerja sehari-hariSharia courts: jurisdiction and everyday workMajelis Adat Aceh dan tiga belas lembaga adatThe Aceh Customary Council and the thirteen customary institutionsMajelis Ulama Aceh: dari MUA ke MUI Aceh dan MPUThe Aceh Ulama Council: from MUA to MUI Aceh and MPUMasalah sosial mahasiswa di Aceh: membaca esai reflektifStudent social problems in Aceh: reading a reflective essayMasjid sebagai arena otoritas: imam, ritual, dan representasiMosques as arenas of authority: imams, rituals and representationMazhab nasional (Hazairin)The national madhhab (Hazairin)Mazhab-mazhab awal hukum Islam di AcehThe early schools of Islamic law in AcehMellyanMenjadi Melayu, Muslim, dan warga ThailandBeing Malay, Muslim and a Thai citizenMoU HelsinkiHelsinki Memorandum of UnderstandingMPU: pelembagaan ulama dan otoritas keagamaanThe MPU: institutionalising ulama and religious authorityMuge, meukat ubat, dan ‘tipu Aceh’: etos usaha dan penyimpangannyaMuge, meukat ubat and ‘Aceh trickery’: the work ethic and its distortionsMuhammad Mirza ArdiMuhammad Riza NurdinMuslim tanpa masjidMuslims without mosquesNarkoba dan keluarga AcehDrugs and the Acehnese familyNikah siri, nikah kontrak, dan ‘kadhi liar’Siri marriage, contract marriage and ‘unlicensed kadhi’Panglima La’ôtPanglima LaotPanglima La’ôt Aceh (PLA)Panglima Laot Aceh (PLA)Panglima La’ôt di tengah politik lokal pascadamaiPanglima Laot in post-peace local politicsPantang melaut pada hari JumatThe Friday ban on going to seaParmalim di Aceh Singkil: kajian Pohan 2023Parmalim in Aceh Singkil: Pohan’s 2023 studyPartai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (KPA)Partai Aceh and the Aceh Transitional Committee (KPA)Pasai–Aceh–Pattani: jaringan ilmu dan tradisi pondokPasai–Aceh–Pattani: knowledge networks and pondokPattani: nasionalisme dan kosmopolitanismePattani: nationalism and cosmopolitanismPekan Kebudayaan Aceh (PKA) dan peristiwa 2009The Aceh Cultural Week (PKA) and the 2009 episodePenerapan hukum Islam di Aceh: pembacaan KBA tahun 2007Islamic law in Aceh: KBA’s 2007 analysisPengajian kitab Sabila dan SirusNight study circles on the Sabila and Sirus textsPengakuan Parmalim: melampaui toleransi simbolikRecognising Parmalim: beyond symbolic tolerancePerempuan Aceh di ruang publikAcehnese women in the public spherePergaulan bebas sebagai perlawanan terhadap orang tua‘Free association’ as rebellion against parentsPerpecahan elite GAM: Partai Aceh versus Partai Nasional AcehThe GAM elite split: Partai Aceh versus Partai Nasional AcehPerundungan, gawai, dan kesenjangan pemahaman keagamaanBullying, gadgets and the religious-understanding gapPeta persoalan keluarga di Aceh kontemporerMapping family issues in contemporary AcehPiagam Bate KurengBate Kureng CharterPilkada, kemiskinan struktural, dan krisis agensi: kajian Mirza ArdiElections, structural poverty and agency: Mirza Ardi’s studyPolemik ‘Islam Protestan’ dan gender di forum Aceh InstituteThe ‘Protestant Islam’ and gender debates on the Aceh Institute forumPolitik bantuan dan NGO internasional pascatsunamiThe politics of aid and international NGOs after the tsunamiPondok, otoritas digital, dan peran perempuan di PattaniPondok, digital authority and women in PattaniQadhi Malikul AdilQadhi Malik al-AdilQanun Aceh No. 8 Tahun 2012 tentang Lembaga Wali NanggroeAceh Qanun No. 8 of 2012 on the Wali Nanggroe InstitutionReintegrasi mantan kombatanReintegration of former combatantsRekonstruksi pascatsunami: pembangunan fisik dan visi moralPost-tsunami reconstruction: infrastructure and moral visionsSabīl al-Muhtadīn dan Sīr al-SālikīnSabīl al-Muhtadīn and Sīr al-SālikīnSanksi sebagai pedagogi publik dalam kajian FeenerSanctions as public pedagogy in Feener’s analysisSentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) dan Partai SIRAThe Aceh Referendum Information Centre (SIRA) and Partai SIRASiapa “Syiah Kuala” hari ini? Kontestasi otoritas syariatWho is ‘Syiah Kuala’ today? Contested authority over shariaSiapa mendefinisikan ortodoksi? Perdebatan Aceh dalam laporan 2016Who defines orthodoxy? Aceh’s debate in the 2016 reportSimbol, fikih, dan keadilan sosial dalam penerapan syariatSymbols, fiqh and social justice in sharia implementationStruktur pemerintahan Kesultanan AcehThe governing structure of the Aceh SultanateSumber daya alam dan keamanan: kajian Dharma BentaraNatural resources and security: Dharma Bentara’s studySyariat dan tubuh perempuan: kritik terhadap ‘talibanisasi’Sharia and women’s bodies: the critique of ‘Talibanisation’Syariat Islam sebagai tradisi hidup (living tradition)Sharia as a living traditionSyariat sebagai rekayasa sosial: masyarakat yang hendak dibentukSharia as social engineering: imagining a future societyTeori pemisahan adat dan hukum IslamThe colonial separation of adat and Islamic lawTeori resepsi dan pemisahan adat dari hukum IslamReception theory and the separation of adat from Islamic lawTeuku Raja Muda Dharma BentaraTgk. Hasan di TiroTgk. Muhammad Hasbi Ash-ShiddieqyThe Veranda of Mecca: Budaya, tradisi, dan identitasThe Veranda of Mecca: Culture, tradition and identityThe Veranda of Mecca: Jabatan, kemiskinan, bantuan, dan pemekaranThe Veranda of Mecca: Office, poverty, aid and territorial divisionThe Veranda of Mecca: Kapitalisme, moralitas, aktivisme, dan refleksi sosialThe Veranda of Mecca: Capitalism, morality, activism and social reflectionThe Veranda of Mecca: Kepemimpinan, rekonstruksi, dan agenda ilmuThe Veranda of Mecca: Leadership, reconstruction and knowledgeThe Veranda of Mecca: Media, pertunjukan politik, dan cermin dunia MelayuThe Veranda of Mecca: Media, political performance and the Malay mirrorThe Veranda of Mecca: peta 42 babThe Veranda of Mecca: a map of 42 chaptersThe Veranda of Mecca: Syariat, kesalehan, dan harga perdamaianThe Veranda of Mecca: Sharia, piety and the price of peaceThe Veranda of Mecca: Wali Nanggroe, GAM, kekerasan, dan negaraThe Veranda of Mecca: Wali Nanggroe, GAM, violence and the stateToke bangku dan ekonomi nelayanToke bangku and the fishers' economyTransformasi Kepemimpinan Aceh: peta lima kajian 2024Aceh Leadership Transformation: five studies from 2024Tren perceraian sebagai kontenDivorce as contentTrilema Melayu Pattani: peta delapan bab dan epilogTrilema Melayu Pattani: eight chapters and an epilogueTrilema Pattani: sejarah, agama, dan identitas sebagai agenda penelitianThe Pattani trilemma as a research agendaUlama sebagai perantara budaya, perantara politik, dan aktor politikUlama as cultural brokers, political brokers and political actorsWacana pemekaran: ‘talak tiga’ dengan Aceh dan satire Aceh Pasê RayaPartition discourse: ‘triple divorce’ from Aceh and the Aceh Pasê Raya satireWali NanggroeWali Nanggroe dan problem payung lembaga adatWali Nanggroe and the problem of a customary umbrellaWilayatul HisbahWilayatul Hisbah (sharia police)Wilayatul Hisbah: pengawasan moral dan batas kelembagaanWilayatul Hisbah: moral regulation and institutional limitsZona aman keberagamaan pemudaThe ‘safe zone’ of youth religiosity

BagianPart 9 · LantaiLevel V

Studi Jawa dan AcehJava and Aceh

Dua peradaban dalam satu bangsa: struktur budaya, budaya politik, Islam, ramalan, dan keindonesiaan.Two civilisations in one nation: cultural structures, political culture, Islam, prophecy, and Indonesian-ness.

‘Orang pusat’ dan ‘orang daerah’: Aceh dalam budaya politik Indonesia'Centre people' and 'regional people': Aceh in Indonesian political cultureAceh ‘daerah modal dan model’Aceh as ‘capital and model region’Aceh dan Jawa sebagai cermin timbal balikAceh and Java as mutual mirrorsAceh dan Yogyakarta: dua Daerah IstimewaAceh and Yogyakarta: two Special RegionsAceh Pungo dan Wong EdhanAceh Pungo and Wong EdhanAcehnisasi dan Jawanisasi: menjadi Aceh, menjadi JawaAcehnisation and Javanisation: becoming Acehnese, becoming JavaneseBangai: kebodohan dan etos menuntut ilmuBangai: ignorance and the ethos of learningBAPAK dan Abu: kebapakan dalam birokrasi dan ulamaBAPAK and Abu: fatherhood in bureaucracy and among ulamaDakwah pada bulan MoludDakwah sermons in the Molud monthsDharma, iman, dan ihsan: batas persamaan Hindu–IslamDharma, iman and ihsan: the limits of Hindu–Islamic equivalenceDunia Aceh dan Dunia Jawa: kosmologi keselarasanThe Acehnese and Javanese worlds: cosmologies of harmonyEmpat golongan aliran kebatinanThe four currents of kebatinanGanja sebagai “perekat” Aceh dan JawaCannabis as the ‘glue’ between Aceh and JavaGejala ‘kejawen’ di Aceh'Kejawen'-like religiosity in AcehHarlan dan tradisi teumeutakHarlan and the teumeutak traditionJawanisasi tata pemerintahan dan transmigrasiJavanisation of local government and transmigrationKebatinan sebagai pertahanan: kritik atas tumbalMysticism as defence: a critique of tumbalKebatinan-tasawuf dan kebatinan-KejawenSufi mysticism and Kejawen mysticismKetika Jawa dan Aceh berdamai: Pemilukada 2012When Java and Aceh made peace: the 2012 regional electionKisah Siyung Wanara dalam Babad Tanah JawiThe tale of Siyung Wanara in the Babad Tanah JawiKrueng Mane: kampung reformis dan perantauKrueng Mane: a reformist and migrant villageMenjadi Aceh adalah menjadi MuslimBeing Acehnese means being MuslimMerumuskan keindonesiaan dari perbandingan Jawa dan AcehDefining Indonesianness through the Java–Aceh comparisonMeunasah: poros agama, kuasa, dan adat gampongMeunasah: hub of religion, power and adat in the gampongPAI (Penghancur Agama Islam): label musuh dalam konflik AcehPAI (‘Destroyers of Islam’): an enemy label in the Aceh conflictPancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan kosmologi Hindu-JawaPancasila, Bhinneka Tunggal Ika and Hindu-Javanese cosmologyPasar tikungan, simpang empat, dan Pasar InpresBend markets, crossroads markets and the Inpres marketPeh bantai dan sandiwara kelilingPeh bantai and travelling sandiwara theatrePertarungan spirit kebangsaan dan metafora kereta JawaThe contest of national spirits and the Javanese carriage metaphorPoros dayah: ziarah ulama dan asal-usul keluarga dayahDayah axes: scholars' pilgrimages and the origins of dayah familiesProklamasi Aceh sebagai bagian Negara Islam Indonesia (1953)Aceh's proclamation as part of the Islamic State of Indonesia (1953)Ramalan, orang pintar, dan ‘kendali gaib’Prophecy, seers and 'supernatural control'Salin agama dan tamóng islam: dua cara memaknai masuk IslamSalin agama and tamóng islam: two ways of construing conversionSaman dan Campur Sari: batas penerimaan budayaSaman and Campur Sari: the limits of cultural borrowingSatrio Piningit, Ratu Adil, dan hidup dengan ramalanSatrio Piningit, Ratu Adil and living by prophecySentimen anti-Jawa dalam konflik AcehAnti-Javanese sentiment in the Aceh conflictStereotip timbal balik: ‘Jawa’ di mata AcehMutual stereotypes: 'Java' in Acehnese eyesSufisme Aceh dan pembentukan Islam KejawenAcehnese Sufism and the making of Javanese IslamTa peujuang: Aceh, pusat, dan imajinasi daerahTa peujuang: Aceh, the centre and the regional imaginationTabib dan jalur ilmu gaib di AcehTabib and the paths of occult knowledge in AcehTeori wayang dalam konflik AcehThe wayang theory of the Aceh conflictToponimi kampung dan identitas arah mata anginVillage toponymy and compass-point identityTujuh tipologi orang IndonesiaSeven typologies of the IndonesianWali Songo dan Habib Seunagan: membalik arah islamisasiThe Nine Saints and the Habib Seunagan: reversing the direction of Islamisation

BagianPart 10 · LantaiLevel V

Kebudayaan, pertahanan & keamananCulture, defence & security

Kebudayaan asam-garam, perbatasan, kerukunan, radikalisme, kekerasan, demokrasi, korupsi, toleransi.“Sour and salt” culture, borders, harmony, radicalism, violence, democracy, corruption, tolerance.

‘Aku masih seperti yang dulu’: kombatan setia dan wacana neo-GAM‘I am still as I was’: loyalist combatants and the neo-GAM discourse‘Bapak masyarakat’ dan ‘ibu masyarakat’: ulama, geuchik, dan etika diam‘Father of society’ and ‘mother of society’: ulama, geuchik and the ethic of silence‘Kawan + lawan = lawan’: diplomasi dan kepentingan dalam hubungan Aceh–Jakarta‘Friend + foe = foe’: diplomacy and interest in Aceh–Jakarta relations‘Mesin pembunuh’ dan OTK dalam masa damai‘Killing machines’ and unidentified gunmen (OTK) in peacetime‘Peluru tanpa suara’: transmigran dan pendatang pada masa konflik‘Silent bullets’: transmigrants and settlers during the conflict‘Ureung Aceh poh ureung Aceh’: dari kaphe ke kekerasan antarsesama‘Acehnese killing Acehnese’: from kaphe to intra-Acehnese violenceAceh dalam percaturan geopolitik dan rekomendasi kebijakan pascadamaiAceh in geopolitics and post-peace policy recommendationsAceh sebagai subjek pengetahuan strategisAceh as a producer of strategic knowledgeAktivis Aceh: dari reformasi ke rekonstruksiAcehnese activists: from reform to reconstructionAlumni Libya: pelatihan militer GAM pada era QadhafiThe Libya alumni: GAM's military training under QadhafiBatas moral Aceh–Sumatra Utara: geografi moral Serambi MekkahThe Aceh–North Sumatra moral boundary: the moral geography of Mecca’s VerandahBudaya simbolik dan budaya sebagai sistem berpikirSymbolic culture and culture as a system of thoughtBukti penyitaan dan batas pengetahuan keamanan maritimSeizure evidence and the limits of maritime security knowledgeCuak: informan dalam konflik AcehCuak: informers in the Aceh conflictDari separatisme ke radikalisme: peta isu keamanan Aceh pascadamaiFrom separatism to radicalism: mapping Aceh's post-peace security issuesDe-harmonisasi ulama: dari politik pecah belah ke ketergantunganDe-harmonising the ulama: from divide-and-rule to dependenceEkonomi dayah dan ketergantungan pada negaraThe dayah economy and dependence on the stateEmpat isu keumatan dan respons ulamaFour communal issues and ulama responsesEmpat skala potensi konflik dan radikalisme di AcehFour scales of conflict and radicalism risk in AcehEtnis Tionghoa di AcehThe ethnic Chinese in AcehFormalisasi syariat dan tiga lapis respons akar rumputFormalising sharia and three grassroots layers of responseFragmentasi pasif ulama dan dikotomi otoritas keagamaanPassive fragmentation of the ulama and the dichotomies of religious authorityGenerasi Afghan, generasi Mindanao, dan teroris ‘produksi lokal’The Afghan generation, the Mindanao generation and ‘home-grown’ terroristsHUDA dan politik referendum (1999)HUDA and the politics of the referendum (1999)Intel juga Manusia: Aceh sebagai sekolah kehidupanIntel juga Manusia: Aceh as a school of lifeIslam dan kekerasan: membedah sebuah pertautanIslam and violence: dissecting an associationJati diri dan kesinambungan sejarah sebagai akar konflik AcehIdentity and historical continuity as roots of the Aceh conflictKapitalisme sehari-hari di AcehEveryday capitalism in AcehKekuasaan dan otoritas ulama di AcehPower and ulama authority in AcehKepemimpinan kata hati: mencari pemimpin Aceh pascadamaiLeadership of the heart: seeking Aceh’s leaders after the peaceKontroversi ‘gereja liar’ Simpang Kanan (1968–1979)The ‘wild churches’ controversy in Simpang Kanan (1968–1979)Kontroversi gereja Meulaboh (1967)The Meulaboh church controversy (1967)Main hakim sendiri atas nama agamaVigilantism in the name of religionMajelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA)Mazhab-mazhab studi terorisme di IndonesiaSchools of terrorism studies in IndonesiaMembaca memoar intelijen sebagai sumber sejarah AcehReading intelligence memoirs as sources of Acehnese historyMengelola agama: paradigma Parsonian di Jawa, Durkheimian di AcehManaging religion: a Parsonian paradigm for Java, a Durkheimian one for AcehMimpi jadi PNS: ‘uang kopi’ dan asai ka u dalamThe dream of civil service: ‘coffee money’ and asai ka u dalamMitos kekerasan religius dan paradigma sekularisasiThe myth of religious violence and the secularisation paradigmMPU Aceh dan imajinasi ‘lembaga mufti’Aceh's MPU and the imagined ‘mufti institution’Mualaf Karo dan jaringan dakwah Aceh di DairiKaro converts and Acehnese dakwah networks in DairiPajak nanggroePajak nanggroe (the ‘state tax’)Pembunuhan Safwan Idris dan Dayan DawoodThe assassinations of Safwan Idris and Dayan DawoodPemerintahan IRNA (Irwandi–Nazar) dan tiga corak unjuk rasaThe IRNA government (Irwandi–Nazar) and three types of protestPemuda Muslim Banda Aceh dan isu radikalismeMuslim youth of Banda Aceh and the question of radicalismPenggerebekan kamp latihan militer Jalin, JanthoThe Jalin, Jantho militant training camp raidPerang kosmik dan warisan permusuhan agama-agama AbrahamikCosmic war and the legacy of enmity in the Abrahamic religionsPerang Tanpa Peluru: geopolitik dan kebudayaan AcehPerang Tanpa Peluru: geopolitics and Acehnese culturePerebutan makna, kebencian, dan literasi mediaStruggles over meaning, hatred and media literacyPerkawinan, fai’, dan dar al-harb: pola kerja jaringan radikalMarriage, fay’ and dar al-harb: how radical networks operatePolarisasi masyarakat Aceh pasca-DOM (1998–2004)The polarisation of Acehnese society after the DOM (1998–2004)Pusat simbolik yang hilang: dari Iskandar Muda ke Wali NanggroeThe lost symbolic centre: from Iskandar Muda to the Wali NanggroeQaidah aminah dan ‘ladang jihad’ Asia TenggaraQaidah aminah and Southeast Asia as a ‘jihad field’Riset asing dan dunia ulama AcehForeign research and the world of the Acehnese ulamaSakit sosial: demoralisasi dan destabilisasi masyarakat AcehSocial sickness: demoralisation and destabilisation in Acehnese societySantri Aceh di Yaman dan dikotomi ‘Santri Garuda’Acehnese students in Yemen and the ‘Santri Garuda’ dichotomySelf-determination yang tak tumbuh: politik simbolik dan pragmatismeThe self-determination that did not grow: symbolic politics and pragmatismShane Joshua Barter: ulama, negara, dan perang di AcehShane Joshua Barter: ulama, the state and war in AcehTansiq dan jaringan teror di Aceh pascatsunamiTansiq and terror networks in post-tsunami AcehThe Tea-Packet Road: peta sumber laporan Selat MalakaThe Tea-Packet Road: a source map of the Strait reportTiga perekat orang Aceh dan jalan keluar dari memori kekerasanThree bonds of the Acehnese and a way out of the memory of violenceTiga sikap ulama terhadap kekuasaan pascadamai dan ‘ken mandum’Three ulama stances toward post-peace power and ‘ken mandum’Tsunami dan kesadaran kemanusiaan dalam ingatan Sri RadjasaThe tsunami and humanitarian awareness in Sri Radjasa’s recollectionsUlama dan GAM: dari sikap netral ke dukungan referendumUlama and GAM: from neutrality to backing the referendumUlama perbatasan: Subulussalam dan Aceh TamiangBorderland ulama: Subulussalam and Aceh TamiangWacana ‘Kristenisasi’ dan AcehThe discourse of ‘Christianisation’ and Aceh

PelengkapSupplement

Kajian pelengkapSupplementary studies

Kajian dari sumber lain yang memperkaya peta: kebencanaan, epigrafi, numismatik, dan lain-lain.Studies from other sources that enrich the map: disaster, epigraphy, numismatics and more.

‘Bermazhab’ dan ‘tidak bermazhab’: garis polemik pembaruan‘Following a school’ and ‘not following a school’: the lines of reformist polemic‘Muhammadiyah’ di Nagan Raya: pembaruan Islam di pantai barat-selatan‘Muhammadiyah’ in Nagan Raya: Islamic reform on the south-west coastAceh Tamiang: episentrum banjir bandangAceh Tamiang: epicentre of the flash floodsAceh Utara dan jebolnya tanggul Krueng Pase–Krueng PeutoNorth Aceh and the Krueng Pase–Krueng Peuto levee breachesAmanah empat ulama Aceh (1866)The testament of four Acehnese scholars (1866)Aneuk Jamee: penutur bahasa Padang di pantai barat-selatan AcehAneuk Jamee: Padang-speakers of Aceh’s south-west coastArsitektur ketangguhan Aceh 2026–2030Aceh's resilience architecture 2026–2030Balah hidang dan terima kasih melalui perbuatanBalah hidang and gratitude expressed through deedsBanjir bandang dan longsor Aceh November 2025The November 2025 Aceh flash floods and landslidesBatu Aceh: nisan Islam dari Pasai dan AcehBatu Aceh: Islamic gravestones from Pasai and AcehBencana ekologis, bencana alam, dan pertanggungjawaban hukumEcological disaster, 'natural disaster' and legal accountabilityBencana sebagai teguran: tafsir religius atas musibah beruntun di AcehDisaster as admonition: a religious reading of Aceh’s recurring calamitiesBumi Aceh: tanah subur, endatu pendatang, dan ‘peradaban suntikan’The land of Aceh: fertile soil, migrant ancestors and an ‘injected civilisation’Cet langet: ‘mengecat langit’Cet langet: ‘painting the sky’Dampak ekonomi bencana Aceh 2025The economic impact of Aceh's 2025 disasterDampak sosial, layanan dasar, dan martabat penyintasSocial impact, basic services and survivors' dignityDari berkenalan ke menguasai: genealogi penaklukanFrom encounter to domination: a genealogy of conquestDari kapal haji ke pesawat terbangFrom pilgrim ship to aeroplaneDataran tinggi tengah: longsor dan isolasi Gayo 2025The central highlands: Gayo landslides and isolation in 2025Deforestasi hulu dan lonjakan kehilangan hutan Aceh 2024–2025Upstream deforestation and Aceh's 2024–2025 forest-loss surgeDesa yang hilang dalam bencana 2025Villages lost in the 2025 disasterDirham emas Aceh DarussalamThe gold dirhams of Aceh DarussalamDua puluh delapan rekomendasi kebijakan dan lima prioritasTwenty-eight policy recommendations and five prioritiesDua puluh sifat positif dan dua puluh sifat negatif: katalog moralTwenty positive and twenty negative traits: a moral catalogueDuek sidroe: menyendiri, mengenal diri, dan menjaga negeriDuek sidroe: solitude, self-knowledge and guarding the landDunia dan akhirat: waktu etis yang ‘kontingen’This world and the hereafter: a ‘contingent’ ethical timeEkologi berketuhananTheocentric ecology (ekologi berketuhanan)Ekonomi dan politik Kesultanan Aceh: kajian Fitri Zulfidar (2018)Embarkasi Haji Aceh: dari Sabang ke Bandara Sultan Iskandar MudaThe Aceh hajj embarkation: from Sabang to Sultan Iskandar Muda AirportEmpat lapis sebab bencana Aceh 2025The four layers of causation in Aceh's 2025 disasterEpigrafi Islam terawal di Nusantara dan perdebatan kronologiThe earliest Islamic epigraphy in the archipelago and the chronology debateEtika bantuan dan martabat penyintasAid ethics and the dignity of survivorsEtos kerja, ‘tidak mau miskin’, dan ingatan kemakmuranWork ethic, ‘refusing poverty’ and the memory of prosperityEtos perang dan makna damai yang berlapisThe war ethos and the many meanings of peaceFatwa Muda Waly dan koalisi ulama penentang Darul IslamMuda Waly’s fatwa and the ulama coalition against Darul IslamForensik kayu gelondongan banjir 2025Forensic analysis of the 2025 flood logsGelar Malik al-Ẓāhir pada dirham Pasai dan AcehThe title Malik al-Zahir on Pasai and Aceh dirhamsGelar raja adil pada mata uang Semenanjung MelayuThe just-ruler title on the coinage of the Malay PeninsulaGenealogi islamisasi Nagan RayaGenealogies of Islamisation in Nagan RayaHabib Abdurrahim: pengislam SeunaganHabib Abdurrahim: the Islamiser of SeunaganHabib Muda SeunaganHabib SeunaganThe Habib SeunaganHaus harta-kehormatan, fitnah, dan adu domba: tiga ‘penyakit’ sosialHunger for wealth and honour, slander and divide-and-rule: three social ‘ailments’Hikayat Aceh: dari kronik istana Melayu ke hikayat berbahasa Aceh dan prosa cetakAcehnese hikayat: from Malay court chronicle to Acehnese-language verse and printed proseHukum bencana dan bencana hukumDisaster law and legal disasterIndustri dan komodifikasi hajiThe hajj industry and the commodification of pilgrimageInskripsi Samt al-‘Ālam dan Surah al-Shaff ayat 13The Samt al-‘Alam inscription and Qur'an 61:13JeuramKawasan Ekosistem Leuser sebagai menara air AcehThe Leuser Ecosystem as Aceh's water towerKegagalan infrastruktur berantai: listrik, komunikasi, dan jembatanCascading infrastructure failure: power, communications and bridgesKegagalan komunikasi krisis dan data yang tidak sinkronCrisis communication failure and inconsistent dataKelembagaan pemulihan: dari BRR NAD-Nias ke Satgas NasionalRecovery institutions: from BRR NAD-Nias to the National Task ForceKenduri Iduladha dan haul di makam Habib Muda, PeuleukungThe Eid al-Adha kenduri and haul at Habib Muda’s grave, PeuleukungKenduri modern dan bagian anak yatimThe ‘modern kenduri’ and the orphans’ shareKeramaian, warung kopi, dan rumah sebagai panggung statusCrowds, the coffee shop and the house as a stage of statusKesenjangan antara peringatan dan tindakanThe gap between warning and actionKesenjangan data hidrologi dan peringatan yang berhenti pada curah hujanThe hydrological data gap and warnings that stopped at rainfallKesenjangan pengetahuan dan kebijakan serta sistem yang tidak dirawatThe knowledge–policy gap and unmaintained systemsKetangguhan komunitas: gampong, mukim, meunasah, dan dayahCommunity resilience: gampong, mukim, meunasah and dayahKhilafiyah dan meredanya polemik pembaruan setelah 1962Khilafiyah and the waning of reformist polemics after 1962Kompleks makam Kampung Pande dan tradisi Sultan Johan SyahThe Kampung Pande tomb complex and the tradition of Sultan Johan SyahKonsep adil dalam numismatik Dunia MelayuThe concept of justice in Malay-world numismaticsKota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) DarussalamKopelma Darussalam, the student town of Banda AcehKuota, nomor porsi, dan budaya ‘ka leuh daftar haji’Quotas, waiting numbers and the culture of 'ka leuh daftar haji'Lanskap makam Habib Seunagan: Kuta Aceh, Pulo Ie, PeuleukungThe grave landscape of the Habib Seunagan: Kuta Aceh, Pulo Ie, PeuleukungLaporan tahunan Teuku Azman (1962) dan adat yang ‘bersumber pada Islam’Teuku Azman’s annual report (1962) and an adat ‘rooted in Islam’Lokalitas Islam: haruskah kajian Islam Indonesia meninggalkan Nusantara?Islamic locality: should the study of Indonesian Islam leave the archipelago?Makam Bukit Hagu, Pante RajaThe Bukit Hagu tombs, Pante RajaMakam bukit sebagai benteng alam dan pos pantau maritimHilltop tombs as natural fortresses and maritime lookoutsMakam Meurhom Muda, PeudadaThe Meurhom Muda tombs, PeudadaMasa depan manusia Aceh: dari diagnosis ke arah perbaikanThe future of the Acehnese: from diagnosis to repairMasa keemasan lada pantai barat dan saudagar SalemThe west-coast pepper boom and the Salem merchantsMasa lalu Islam lokal dan bingkai ruang-waktuLocal Islamic pasts and spatial-temporal framesMata uang Brunei bergelar al-‘Ādil dan Malik al-ẒāhirBrunei coins bearing al-‘Adil and Malik al-ZahirMaulid di Aceh: musim tiga bulan dan kenduri antarkampungMaulid in Aceh: a three-month season of inter-village feastsMemahami manusia Aceh: karakterologi reflektif dari dalamUnderstanding the Acehnese: a reflective characterology from withinMembaca tanda sejarah pada tubuh dan lanskapReading signs of history on bodies and landscapeMenanti turunnya keramat: suksesi karamah Habib SeunaganWaiting for the keramat to descend: succession of grace among the Habib SeunaganModal sosial sebagai sumber daya yang belum terkelolaSocial capital as an unmanaged resourceMuzakarah Ulama Aceh dan Dewan Profesor USK: rekomendasi dari dalam wilayah terdampakThe Aceh Ulama Muzakarah and the USK Professors' Council: recommendations from within the affected regionNagan Raya (Seunagan)Nisan syahbandar Kuala Batee (1824)The headstone of the syahbandar of Kuala Batee (1824)Nisan tipologi Sumatra-Pasai dan nisan peralihanSumatra-Pasai-type headstones and transitional headstonesPadat karya penyintas: dari cash for work 2004 ke desain insentif 2025Survivor-based cash for work: from 2004 to the 2025 incentive designParadoks kesiapsiagaan pascatsunamiThe post-tsunami preparedness paradoxParadoks pembiayaan pengurangan risikoThe disaster risk financing paradoxPembantaian Teungku Bantaqiah di Beutong Ateuh (1999)The massacre of Teungku Bantaqiah at Beutong Ateuh (1999)Pembukaan akses, logistik, dan modifikasi cuacaAccess, logistics and weather modificationPeringatan dini berbasis dampak dan jaringan hidrologi terbukaImpact-based early warning and an open hydrological networkPerizinan tambang dan tata ruang yang permisifMining licences and permissive spatial planningPeta kehilangan tutupan hutan Aceh 2025: penyebab, kawasan, dan titik tekananMapping Aceh’s 2025 forest-cover loss: causes, zones and pressure pointsPolemik bantuan internasional dalam bencana 2025The 2025 international aid controversyQanun Aceh Nomor 5 Tahun 2010 tentang Penanggulangan BencanaAceh Qanun No. 5 of 2010 on Disaster ManagementQutub dan autad: hierarki wali dalam kosmologi lokalQutub and autad: the saintly hierarchy in local cosmologyRezeki: karunia yang diusahakanRezeki: blessing that must be striven forSamadiyah dan siklus kenduri kematianSamadiyah and the cycle of funeral feastsSanksi sosial ekologis dan ekologi berketuhananEcological social sanction and a God-conscious ecologySatuan mata uang Pasai dan Aceh: mas, kupang, pardu, tahilMonetary units of Pasai and Aceh: mas, kupang, pardu, tahilSembilan pelajaran pokok dan Aceh sebagai modelNine core lessons and Aceh as a modelSetia kawan, keterbukaan, dan pemuliaan tamuLoyal friendship, openness and honouring guestsSiklon Tropis SenyarTropical Cyclone SenyarSmong dan nandong: pengetahuan tsunami SimeulueSmong and nandong: Simeulue's tsunami knowledgeSmong: pengetahuan tsunami SimeulueSmong: Simeulue's tsunami knowledgeStatus kedaruratan, bencana nasional, dan kalender pemulihanEmergency status, national disaster declaration and the recovery calendarStruktur komando tanggap darurat 2025–2026The 2025–2026 emergency command structureSultan ‘Ali Mughayat SyahSultan Muhammad bin Sultan Mahmud SyahSultan Muhammad ibn Sultan Mahmud SyahSultan Munawwar Syah bin Muhammad Syah LamuriSultan Munawwar Syah ibn Muhammad Syah LamuriTahap-tahap kehancuran: kepungan luar dan perang ideStages of decline: external encirclement and the war of ideasTangse: banjir bandang 2011 dan tambang emas di huluTangse: the 2011 flash flood and upstream gold miningTarekat Syattariyah di Nagan RayaThe Syattariyah order in Nagan RayaTata kelola daerah aliran sungai: otoritas, moratorium, dan restorasiRiver-basin governance: authority, moratorium and restorationTeungeutlogi, ngeutlogi, peungeutlogi: trilogi melenakan, membodohi, dan menipuTeungeutlogi, ngeutlogi, peungeutlogi: the trilogy of lulling, fooling and deceivingTeungku Tjik di Kila dan silsilahnyaTeungku Tjik di Kila and his lineageTiga tipologi wilayah terdampak bencana 2025Three typologies of affected areas in 2025Transisi dari Samudera Pasai ke Aceh DarussalamThe transition from Samudera Pasai to Aceh DarussalamTransparansi anggaran dan pembiayaan daruratBudget transparency and emergency financingTsunami Aceh 26 Desember 2004 dan warisan kelembagaannyaThe Aceh tsunami of 26 December 2004 and its institutional legacyUnit relawan peringatan gampong dan model BangladeshVillage warning volunteer units and the Bangladesh modelUnsur sufi pada tulisan batu AcehSufi elements in batu Aceh inscriptionsWilayah sungai dan DAS lintas kabupaten di AcehRiver regions and cross-district basins in AcehZakaria Yunus