Harlan: figur kekuasaan informal dan keberanian yang kehilangan adabHarlan: the figure of informal power and courage that has lost its adab
1980-an–kini1980s–present
Harlan adalah sebutan dalam percakapan masyarakat Aceh untuk figur yang kekuasaannya bersumber dari pengakuan sosial tak tertulis: reputasi kekerasan, kehadiran fisik, senjata tajam, jaringan kerabat, dan perlindungan dari atas. Ia sekerabat dengan jawara di Banten dan blater di Madura, tetapi tumbuh dalam lanskap Aceh yang ditandai adat dan syariat yang kuat serta sejarah konflik yang panjang. Kajian antropologi kekerasan membaca harlan bukan semata sebagai pelaku kriminal, melainkan sebagai gejala ruang sosial yang tidak sepenuhnya diatur hukum, adat, agama, maupun kepemimpinan moral. Dari terminal dan pasar, figur ini kini merambah politik elektoral, ekonomi proyek, klaim moral keagamaan, dan jaringan narkotika.
Harlan is a term in everyday Acehnese speech for a figure whose power comes from unwritten social recognition: a reputation for violence, physical presence, bladed weapons, kinship networks and protection from above. He is a kinsman of the jawara of Banten and the blater of Madura, but grows in an Acehnese landscape marked by strong adat and sharia and a long history of conflict. The anthropology of violence reads the harlan not merely as a criminal but as the symptom of a social space that is not fully governed by law, custom, religion or moral leadership. From the bus terminal and the market, the figure has now spread into electoral politics, the project economy, religious moral claims and narcotics networks.
Istilah harlan jarang muncul dalam tulisan akademik, tetapi hidup dalam percakapan sehari-hari di warung kopi, terminal, dan pasar di Aceh. Kata ini menunjuk seseorang yang ditakuti dan sekaligus dicari, mengganggu tetapi juga dianggap mampu melindungi. Pedagang bisa membenci kehadirannya, namun pada saat yang sama mengandalkannya untuk menjaga lapak. Ambiguitas inilah yang membedakan harlan dari kata umum preman: ia membawa muatan budaya, meminjam bahasa keberanian, kehormatan, dan marwah yang berakar dalam sejarah perang dan perlawanan Aceh, lalu membelokkan tujuannya. Rumusan kunci untuk membacanya adalah keberanian yang kehilangan adab, ketika kekuatan kehilangan tujuan moral dan kehormatan berubah menjadi alat intimidasi.
Sebuah gambaran khas dari pasar Aceh pada 1980-an hingga awal 1990-an menunjukkan cara kekuasaan ini bekerja: seorang lelaki menempati titik strategis di pasar tanpa satu pun pukulan, dan pedagang lain mundur dengan sendirinya. Tidak ada laporan polisi yang mencatat peristiwa semacam itu. Kekuasaan harlan bekerja sebelum kekerasan fisik terjadi, melalui antisipasi akibat dan ingatan kolektif tentang apa yang pernah menimpa orang yang melawan. Dengan meminjam Foucault, bentuk kekuasaan paling efektif justru adalah yang hampir tidak memerlukan kekerasan langsung, karena orang telah mendisiplinkan dirinya sendiri.
Senjata tajam memegang peran simbolik yang penting. Parang, pedang, pisau, dan rencong memiliki dimensi material sebagai alat yang dapat melukai dan dimensi simbolik sebagai pesan sosial: jangan melawan. Rencong adalah lambang martabat, perlawanan, dan identitas Aceh; ketika harlan meminjam energi simbolik itu untuk kepentingan sempit, terjadi profanisasi simbol, pergeseran dari pertahanan kolektif menuju penguasaan privat. Dalam politik, parang bermetamorfosis menjadi mobilisasi dan ancaman; dalam ekonomi menjadi kontrol akses dan pungutan; dalam agama menjadi tuduhan moral tanpa etika. Harlan baru lebih berbahaya daripada yang lama karena dapat berpakaian resmi, membawa proposal, dan dekat dengan elite, dengan jaringan, informasi, dan uang sebagai senjatanya.
Tubuh harlan sendiri merupakan teks sosial. Cara duduk di warung kopi menandai pangkat dan penguasaan ruang; tatapan berfungsi sebagai pemeriksaan atau peringatan; diamnya lebih berat daripada teriakan orang biasa karena ditopang reputasi. Cara memasuki pasar, turun dari sepeda motor, atau berkacak pinggang membawa makna. Dalam bahasa Bourdieu, ini adalah habitus: gaya yang menubuh berupa penguasaan ruang secara informal, tatapan yang tidak tergesa, dan kelambanan yang disengaja. Masyarakat yang menjunjung adab sebenarnya tidak menjadikan tubuh mengintimidasi sebagai ideal, namun dalam praktik rasa takut sering bekerja lebih cepat daripada nasihat. Bagi sebagian anak muda, harlan menjadi pedagogi: mereka belajar bahwa intimidasi, perlindungan, dan uang menghasilkan status.
Harlan membutuhkan ruang, dan ia muncul di tempat ruang publik kehilangan keadilan. Terminal dengan mobilitas tinggi, arus uang tunai, dan persaingan trayek memunculkan aturan tak tertulis tentang siapa boleh mengambil penumpang dan siapa harus membayar. Pasar, tempat uang kecil berputar cepat dan sengketa lapak, harga, utang, serta parkir terus terjadi, menghadirkan harlan sebagai penengah, penjaga, pemeras, atau penguasa informal. Simpang jalan menjadi pos pengamatan sosial, sedangkan warung kopi berfungsi sebagai kantor informal tempat kontrak, aliansi, dan reputasi dinegosiasikan. Mengikuti Clifford Geertz yang memahami pasar sebagai institusi kepercayaan, harlan menyuntikkan ketidakpastian karena pungutan informal naik turun menurut kekuasaan, bukan logika pasar. Ia menjual rasa aman yang ketidakamanannya ia ciptakan sendiri, dan pungutan harian kecil seperti parkir, bongkar muat, atau uang koordinasi terakumulasi menjadi ekonomi rente yang besar.
Secara komparatif, harlan dapat dibaca berdampingan dengan kajian tentang jawara Banten, blater dan carok di Madura, serta konsep broker dari Eric Wolf. Ketiganya lebih dari sekadar preman karena bertumpu pada kekerabatan, patronase, reputasi, dan jaringan. Kekhasan Aceh terletak pada kuatnya norma adat dan Islam, yang membuat kekerasan harlan lebih diperdebatkan secara sosial, serta pada warisan konflik sejak deklarasi GAM 4 Desember 1976 hingga MoU Helsinki 15 Agustus 2005. Konflik merusak infrastruktur moral, bukan hanya infrastruktur fisik. Dalam kerangka anomi Durkheim dan teori ketegangan Merton, sebagian lelaki muda yang tersisih dari jalur terhormat menuju status memilih modal kekerasan karena memberi pengakuan lebih cepat.
Tipologi kontemporer membedakan harlan politik yang mengendalikan ruang kampanye dan intimidasi elektoral, harlan ekonomi yang menguasai aliran proyek dan rente, harlan agama yang memakai klaim moral untuk menyingkirkan orang lain, dan harlan narkotika yang terintegrasi ke dalam distribusi narkoba. Narasi pembenarannya pun berlapis: di jalanan ia tampil sebagai penjaga ketertiban, di tingkat menengah sebagai pelindung kepentingan lokal, di tingkat elite sebagai penjamin stabilitas. Ketika seorang tokoh ditangkap atau meninggal, penggantinya muncul dari struktur perlindungan yang sama. Karena itu harlan disebut cermin gelap masyarakat Aceh: ia memperlihatkan saat kekuasaan tidak lagi membutuhkan kebenaran, sebab cukup membuat orang lain takut untuk tunduk.
The term harlan rarely appears in academic writing, but it lives in everyday conversation in Acehnese coffee shops, terminals and markets. It refers to someone who is both feared and sought after, disruptive yet regarded as able to protect. Traders may resent his presence while relying on him to guard their stalls. This ambiguity distinguishes the harlan from the generic word preman (thug): the term carries cultural freight, borrowing the language of courage, honour and marwah rooted in Aceh’s history of war and resistance and then bending its purpose. The key formula for reading it is courage that has lost its adab, when strength loses its moral purpose and honour turns into a tool of intimidation.
A typical picture from an Acehnese market in the 1980s and early 1990s shows how this power works: a man occupies a strategic spot in the market without a single blow, and the other traders simply retreat. No police report records such moments. The harlan’s power operates before physical violence occurs, through the anticipation of consequences and the collective memory of what befell those who resisted. Borrowing from Foucault, the most effective form of such power is precisely the one that barely needs direct violence, because people have already disciplined themselves.
Bladed weapons play an important symbolic role. The parang, sword, knife and rencong have a material dimension as tools that can wound and a symbolic one as a social message: do not resist. The rencong is an emblem of dignity, resistance and Acehnese identity; when the harlan borrows that symbolic energy for narrow ends, the symbol is profaned, shifting from collective defence to private control. In politics the parang metamorphoses into mobilisation and threats; in the economy into control of access and levies; in religion into moral accusation without ethics. The new harlan is more dangerous than the old because he can wear formal dress, carry proposals and stand close to the elite, with networks, information and money as his weapons.
The harlan’s body is itself a social text. The way he sits in a coffee shop marks rank and control of space; his gaze works as inspection or warning; his silence weighs more than an ordinary man’s shout because reputation stands behind it. The way he enters a market, dismounts a motorbike or stands with hands on hips all carry meaning. In Bourdieu’s terms this is habitus: an embodied style of informally occupying space, an unhurried gaze and deliberate slowness. A society that prizes adab does not hold up the intimidating body as an ideal, yet in practice fear often works faster than advice. For some young people the harlan becomes a pedagogy: they learn that intimidation, protection and money bring status.
The harlan needs space, and he appears where public space has lost its justice. The terminal, with its high mobility, cash flows and competition over routes, produces unwritten rules about who may pick up passengers and who must pay. The market, where small money moves fast and disputes over stalls, prices, debts and parking are constant, presents the harlan as mediator, guard, extortionist or informal ruler. The crossroads becomes a social observation post, while the coffee shop functions as an informal office where contracts, alliances and reputations are negotiated. Following Clifford Geertz, who saw the bazaar as an institution of trust, the harlan injects uncertainty, because informal levies rise and fall with power rather than market logic. He sells a security whose insecurity he himself creates, and small daily levies for parking, loading or ‘coordination’ accumulate into a sizeable rent economy.
Comparatively, the harlan can be read alongside studies of the jawara of Banten, the blater and carok of Madura, and Eric Wolf’s concept of the broker. All three are more than thugs because they rest on kinship, patronage, reputation and networks. Aceh’s particularity lies in its strong adat and Islamic norms, which make the harlan’s violence more socially contested, and in the legacy of conflict from GAM’s declaration on 4 December 1976 to the Helsinki MoU of 15 August 2005. The conflict damaged moral infrastructure, not only physical infrastructure. Within Durkheim’s framework of anomie and Merton’s strain theory, some young men excluded from honourable routes to status choose the capital of violence because it brings recognition faster.
A contemporary typology distinguishes the political harlan, who controls campaign space and electoral intimidation; the economic harlan, who controls project flows and rents; the religious harlan, who uses moral claims to exclude others; and the narcotics harlan, integrated into drug distribution. The justifying narratives are layered too: on the street he appears as keeper of order, at the middle level as protector of local interests, at the elite level as guarantor of stability. When one figure is arrested or dies, a successor emerges from the same structure of protection. The harlan is therefore called a dark mirror of Acehnese society: he shows the moment when power no longer needs truth, because it is enough to make others afraid enough to submit.
Gagasan kunciKey ideas
Keberanian yang kehilangan adabCourage that has lost its adab
Harlan meminjam kosakata keberanian dan marwah Aceh lalu membelokkannya menjadi intimidasi untuk kepentingan sempit.The harlan borrows Aceh’s vocabulary of courage and marwah and bends it into intimidation for narrow ends.
Kekuasaan sebelum kekerasanPower before violence
Ancaman dan ingatan akan akibat lebih menentukan daripada tindakan fisik; orang mendisiplinkan diri sendiri.Threat and the memory of consequences matter more than physical acts; people discipline themselves.
Profanisasi simbolProfanation of symbols
Rencong sebagai lambang martabat dan perlawanan diubah menjadi alat tekanan; parang bermetamorfosis menjadi mobilisasi, pungutan, dan tuduhan moral.The rencong as emblem of dignity and resistance becomes a tool of pressure; the parang metamorphoses into mobilisation, levies and moral accusation.
Ekologi ruang harlanThe harlan’s spatial ecology
Terminal, pasar, simpang jalan, dan warung kopi adalah arena tempat ruang publik diprivatisasi secara informal dan rasa aman dijual.Terminals, markets, crossroads and coffee shops are arenas where public space is informally privatised and security is sold.
Ketertiban semuApparent order
Pasar dan terminal tampak normal, tetapi berjalan di bawah rasa takut yang diperhitungkan, bukan keadilan.Markets and terminals look normal but run on calculated fear rather than justice.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana masyarakat Aceh dapat memulihkan makna keberanian sebagai pembelaan, bukan sebagai alat menakut-nakuti sesama?How can Acehnese society restore the meaning of courage as defence rather than as a means of frightening one another?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Harlan: figur kekuasaan informal dan keberanian yang kehilangan adab”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/harlan/