Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

BAPAK dan Abu: kebapakan dalam birokrasi dan ulamaBAPAK and Abu: fatherhood in bureaucracy and among ulama

Di kantor pemerintahan Indonesia, pejabat dipanggil BAPAK dan pasangannya IBU, sehingga jabatan dibingkai sebagai kepala rumah tangga. Di Aceh, sapaan ayah yang berakar Arab, seperti Abu, Abuya, Abon, Abi, dan Waled, berpindah dari keluarga ke wilayah: ulama dayah menjadi ‘bapak’ bagi masyarakat setempat. Kebapakan keagamaan ini kemudian ditarik ke politik ketika para Abu menjadi penasihat partai dan tempat calon meminta restu. Berbeda dengan BAPAK birokrasi, gelar Abu dipahami sebagai otoritas kosmis yang tidak diwariskan.

In Indonesian government offices officials are addressed as BAPAK and their spouses as IBU, framing office as household headship. In Aceh, Arabic-derived words for father, such as Abu, Abuya, Abon, Abi and Waled, moved from the family to the territory: dayah scholars became 'fathers' to their communities. This religious fatherhood was later drawn into politics as Abu became party advisers and the people candidates approach for blessing. Unlike the bureaucratic BAPAK, the title Abu is understood as cosmic authority that is not inherited.

Dalam kekerabatan, bapak adalah ayah dan kepala rumah tangga. Birokrasi Indonesia meminjam figur ini: kepala kantor disapa BAPAK, diikuti jabatannya, seperti BAPAK Gubernur atau BAPAK Camat, dan pasangannya disapa IBU. Status ini melekat pada jabatan, bukan pribadi, sehingga hilang ketika seseorang pensiun, dan peralihan itu dapat menimbulkan ‘power syndrome’. Di Jawa, kata romo untuk ayah juga dipakai bagi rohaniwan Kristen, menunjukkan perpindahan kebapakan dari keluarga ke agama.

Di Aceh, perpindahan serupa berlangsung melalui ulama. Sapaan Abu atau Waled dilekatkan pada nama tempat, seperti Abu Seulimuem, Abu Tanoh Abe, Abu Panton, Waled Bakongan, dan Abu Keutapang, sehingga seorang ulama menjadi bapak bagi wilayahnya. Segala keluh kesah, dari urusan agama hingga keluarga, dibawa kepadanya, dan ia diharapkan menguasai pula pengetahuan di luar fikih. Gelar ini dipahami sebagai otoritas kosmis yang tidak dapat diwariskan setelah pemiliknya wafat. Di Jawa, padanan yang sejajar dengan teungku adalah kyai.

Belakangan karisma kebapakan ini memasuki politik. Para Abu dan Waled menjadi penasihat partai, dan calon pejabat yang berkampanye lazim mengunjungi mereka lebih dahulu untuk meminta dukungan atau restu. Dengan demikian, ulama berperan seperti bapak dalam keluarga: penghubung kepentingan luar dan dalam sekaligus ‘pengawal’ masyarakat. Perbandingan dengan BAPAK birokrasi menunjukkan dua sumber kebapakan yang berbeda di Aceh, yakni jabatan negara dan ilmu agama, yang kini saling bersinggungan di arena politik lokal.

In kinship, bapak is the father and head of household. Indonesian bureaucracy borrows this figure: the head of an office is addressed as BAPAK followed by the post, as in BAPAK Governor or BAPAK Camat, and the spouse as IBU. The status belongs to the office, not the person, and so disappears on retirement, a transition that can produce 'power syndrome'. In Java the word romo for father is also used for Christian clergy, showing fatherhood moving from family to religion.

In Aceh a similar shift runs through the ulama. The address Abu or Waled is attached to a place name, as in Abu Seulimuem, Abu Tanoh Abe, Abu Panton, Waled Bakongan and Abu Keutapang, so that a scholar becomes the father of his area. All manner of complaints, from religious questions to family affairs, are brought to him, and he is expected to command knowledge beyond jurisprudence. The title is understood as cosmic authority that cannot be inherited after its bearer dies. In Java the counterpart of the teungku is the kyai.

More recently this paternal charisma has entered politics. Abu and Waled serve as party advisers, and campaigning candidates customarily visit them first to seek support or blessing. The ulama thus act like a father in the family: a broker between outside and inside interests and a 'guardian' of the community. Set beside the bureaucratic BAPAK, this reveals two distinct sources of fatherhood in Aceh, state office and religious learning, which now intersect in the arena of local politics.

Gagasan kunciKey ideas

Dari keluarga ke wilayahFrom family to territory

Sapaan ayah berpindah menjadi gelar ulama yang terikat tempat.Words for father became titles for place-bound scholars.

Jabatan versus ilmuOffice versus learning

BAPAK melekat pada jabatan; Abu melekat pada ilmu dan karisma.BAPAK attaches to office; Abu to learning and charisma.

Restu sebagai modal politikBlessing as political capital

Kampanye di Aceh lazim diawali kunjungan kepada Abu.Campaigns in Aceh often begin with a visit to an Abu.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah keterlibatan Abu dalam politik memperkuat atau justru mengikis kebapakan keagamaan mereka?Does the Abu's involvement in politics strengthen or erode their religious fatherhood?

Kutip entri ini:Cite this entry: “BAPAK dan Abu: kebapakan dalam birokrasi dan ulama”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/bapak-dan-abu/