Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Wali Nanggroe dan problem payung lembaga adatWali Nanggroe and the problem of a customary umbrella

Piagam Batee Kureng 1953; GAM 1977; MoU Helsinki 2005; Qanun 2008Batee Kureng Charter 1953; GAM 1977; Helsinki MoU 2005; qanun of 2008

Wali Nanggroe adalah lembaga yang diamanatkan MoU Helsinki 2005 dan diatur dalam qanun-qanun Aceh sebagai pemersatu dan pembina lembaga adat. Analisis kritis menelusuri bahwa gelar Wali Negara pertama kali muncul dalam Piagam Batee Kureng 1953 untuk Daud Beureueh, lalu dipakai GAM bagi Hasan di Tiro sejak 1977. Karena itu, lembaga ini dinilai bukan warisan pemerintahan Kesultanan Aceh, yang bertumpu pada po teumeureuhom. Selama lembaga ini belum berfungsi, lembaga adat disebut berada di bawah sebuah institusi hantu, dan peran pembinaannya banyak diisi organisasi internasional.

The Wali Nanggroe is an institution mandated by the 2005 Helsinki MoU and regulated by Acehnese qanun as a unifier and patron of customary institutions. A critical tracing shows that the title Wali Negara first appeared in the 1953 Batee Kureng Charter for Daud Beureueh and was later used by GAM for Hasan di Tiro from 1977. On this reading the institution is not a legacy of the Aceh Sultanate's government, which rested on the ruling sovereign, the po teumeureuhom. So long as it did not function, customary institutions were said to sit beneath a ‘ghost institution’, and their stewardship was largely taken up by international organisations.

MoU Helsinki menyatakan bahwa Qanun Aceh akan dibentuk kembali dengan menghormati tradisi historis dan adat rakyat Aceh (butir 1.1.6) dan bahwa lembaga Wali Nanggroe beserta segala atribut seremonial dan haknya akan dibentuk (butir 1.1.7). Qanun No. 8 Tahun 2008 menugaskan Wali Nanggroe memelihara dan melestarikan kehidupan adat, sedangkan Qanun No. 10 Tahun 2008 menempatkan lembaga-lembaga adat di bawah pembinaan Wali Nanggroe melalui Majelis Adat Aceh, dan menyerahkan pembinaan kepada MAA selama Wali Nanggroe belum terbentuk.

Penelusuran asal-usul menunjukkan bahwa istilah ini dijumpai dalam piagam berdirinya Negara Bagian Aceh dalam lingkungan Negara Islam Indonesia yang ditandatangani Daud Beureueh pada 21 September 1953, yang menetapkan Wali Negara sebagai kepala eksekutif. Pada 22 Mei 1977 di Gunung Halimon, Pidie, gerakan yang kemudian dikenal sebagai GAM memberi gelar Wali Nanggroe kepada Hasan di Tiro, dengan Daud Beureueh disebut Mufti Empat. Hasan di Tiro mengaitkan haknya dengan garis keturunan Tiro dan konsep negara sambungan, tanpa mengakui Daud Beureueh sebagai pendahulu. Kedua tokoh itu mendeklarasikan diri tanpa dipilih, sesuatu yang asing dalam pemerintahan Aceh lama.

Konsekuensinya adalah tumpang tindih. Tiga belas lembaga adat dihidupkan dengan tugas yang sekadar disalin tanpa kajian sejarah tentang wewenang dan batas kuasanya. Sementara itu, IOM, Leuser Foundation, FAO, dan lembaga lain mengambil peran pembina adat, sehingga organisasi internasional seolah bertindak sebagai Wali Nanggroe. Seorang mukim di Aceh Utara melukiskan lokakarya adat berbayar oleh pihak luar dengan ungkapan lét bui ngèn asé, mengusir babi dengan anjing.

Rinciannya: IOM bersama kepolisian berupaya menghidupkan mukim, tuha peut, dan tuha lapan di bawah payung POLMAS; Leuser Foundation dan lembaga konservasi lain mendukung peutua seuneubok, panglima uteun, dan pawang rimueng untuk isu hutan; FAO dengan dukungan Palang Merah Amerika bekerja bersama DKP dan PLA dalam proyek ko-manajemen perikanan. Situasi ini dibaca melalui pengamatan John Beattie bahwa lembaga kepemimpinan dapat berubah secara nyata sementara gagasan masyarakat tentangnya berubah jauh lebih lambat, sehingga menimbulkan ketegangan.

The Helsinki MoU states that a Qanun Aceh will be re-established respecting the historical traditions and customs of the Acehnese people (point 1.1.6) and that the institution of the Wali Nanggroe, with all its ceremonial attributes and entitlements, will be established (point 1.1.7). Qanun No. 8 of 2008 charges the Wali Nanggroe with preserving and sustaining customary life, while Qanun No. 10 of 2008 places customary institutions under the Wali Nanggroe's patronage through the Aceh Adat Council (MAA), and assigns that patronage to the MAA until the Wali Nanggroe is established.

Tracing its origins shows that the term appears in the charter establishing the State of Aceh within the Islamic State of Indonesia, signed by Daud Beureueh on 21 September 1953, which named the Wali Negara as chief executive. On 22 May 1977 at Mount Halimon in Pidie, the movement later known as GAM bestowed the title Wali Nanggroe on Hasan di Tiro, with Daud Beureueh designated Mufti Empat. Hasan di Tiro grounded his claim in the Tiro lineage and the idea of a successor state, without acknowledging Daud Beureueh as a predecessor. Both men declared themselves without being chosen, which was foreign to Aceh's older government.

The consequence is institutional overlap. Thirteen customary institutions were revived with duties simply copied over, without historical review of their authority and limits. Meanwhile IOM, the Leuser Foundation, FAO and others took on the role of patrons of adat, so that international organisations seemed to act as the Wali Nanggroe. A mukim in North Aceh described paid adat workshops run by outsiders with the saying lét bui ngèn asé, ‘chasing pigs with dogs’.

In detail: IOM worked with the police to revive the mukim, tuha peut and tuha lapan under the community-policing (POLMAS) umbrella; the Leuser Foundation and other conservation bodies supported the peutua seuneubok, panglima uteun and pawang rimueng on forest issues; FAO, backed by the American Red Cross, partnered with the fisheries office and PLA in a fisheries co-management project. The situation is read through John Beattie's observation that institutions of leadership may change in fact while people's ideas about them change far more slowly, producing strain.

Gagasan kunciKey ideas

Gelar perlawanan, bukan pusaka kesultananA title of rebellion, not of the sultanate

Wali Nanggroe lahir sebagai simbol tandingan terhadap kekuasaan Indonesia sejak 1950-an, bukan dari tradisi kerajaan.The Wali Nanggroe originated as a counter-symbol to Indonesian authority from the 1950s, not from royal tradition.

Institusi hantuThe ghost institution

Lembaga adat diletakkan di bawah payung yang belum berfungsi, sehingga makna dan simbolnya kabur.Customary institutions were placed under an umbrella that did not yet function, blurring their meaning and symbolism.

Donor sebagai pembina adatDonors as custodians of adat

Kekosongan kelembagaan diisi organisasi internasional, yang memunculkan kritik tentang adat yang diajarkan dari luar.The institutional vacuum was filled by international organisations, prompting criticism of adat being taught by outsiders.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah sebuah lembaga dapat menjadi adat hanya karena dinyatakan demikian dalam perjanjian damai dan qanun?Can an institution become adat simply because a peace agreement and a qanun declare it so?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Wali Nanggroe dan problem payung lembaga adat”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/wali-nanggroe-payung-adat/