Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Tgk. Hasan di Tiro

Proklamator GAM 1976; pulang ke Aceh Oktober 2009Proclaimed GAM in 1976; returned to Aceh in October 2009

Tgk. Hasan di Tiro adalah pendiri GAM dan cucu Tgk. Chik di Tiro, pahlawan perang Aceh melawan Belanda. Ia memandang Aceh sebagai negara sambungan dan memproklamasikan dirinya sebagai Wali Nanggroe pada 1976. Klaim legitimasinya ditarik melalui garis keluarga di Tiro, bukan melalui Daud Beureueh. Setelah lebih dari 30 tahun di pengasingan, ia kembali ke Aceh pada Oktober 2009 dan disambut ratusan ribu orang.

Tgk. Hasan di Tiro was the founder of GAM and a grandson of Tgk. Chik di Tiro, a hero of Aceh's war against the Dutch. He regarded Aceh as a successor state and proclaimed himself Wali Nanggroe in 1976. He traced his legitimacy through the di Tiro family line rather than through Daud Beureueh. After more than thirty years in exile he returned to Aceh in October 2009 to a crowd of hundreds of thousands.

Figur Hasan di Tiro memadukan genealogi perlawanan dan proyek kenegaraan. Dalam pernyataannya sendiri, ia menandatangani deklarasi kemerdekaan Aceh/Sumatra sebagai negara sambungan dan mengklaim haknya sebagai Wali Negara Aceh, menggantikan Tgk. Chik Mahjeddin dan Tgk. Chik Ma‘at di Tiro, yang gugur pada 3 Desember 1911 dalam perang melawan Belanda. Daftar pemimpin yang ia susun dimulai dari Muhammad Saman di Tiro (1874–1891), berlanjut pada sejumlah anggota keluarga di Tiro, dan berakhir pada dirinya sendiri sejak 1976.

Konstruksi silsilah ini selektif. Tgk. Daud Beureueh telah lebih dahulu memakai gelar Wali Negara dalam Piagam Bate Kureng 1953, bahkan menyebut Muhammad ‘Ali Zainal Abidin dari keluarga di Tiro di dalamnya. Namun Hasan di Tiro tidak memasukkan Daud Beureueh dalam daftarnya. Dengan menarik garis otoritas ke keluarganya sendiri, ia menghapus peran pendahulunya dan sekaligus menjauhkan klaimnya dari para raja Aceh. Analisis ini menilai bahwa sebutan “Wali” di kalangan GAM belum pernah diakui secara formal sebagai lembaga bagi seluruh rakyat Aceh.

Kepulangannya pada Oktober 2009, setelah transit di Kuala Lumpur dari Swedia, dibaca sebagai puncak proses reintegrasi: Aceh tetap berada dalam Indonesia, tetapi tokoh inti GAM diizinkan hidup normal. Lebih dari 200 ribu orang menantinya di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Butir 1.1.7 MoU Helsinki tentang Lembaga Wali Nanggroe dipandang dirancang dengan sosoknya sebagai rujukan utama.

Daftar lengkap pemimpin dalam silsilah versi Hasan di Tiro: Muhammad Saman di Tiro (1874–1891), Muhammad Amin di Tiro (mulai 1891), Ubaidullah di Tiro dan Sulaiman di Tiro (keduanya tercatat 1899–1904), Muhammad Ali Zainal Abidin di Tiro (1904–1910), Mahjeddin di Tiro (1910–1911), Ma‘at di Tiro (1911), dan Hasan di Tiro (sejak 1976). Tahun akhir masa Muhammad Amin dalam sumber tampak keliru cetak.

Ia pernah menjadi pegawai RI dan mengenyam nasionalisme Indonesia di Jawa sebelum menentangnya; kepulangannya dari Amerika dibaca menyerupai kedatangan seorang Ratu Adil. Tidak ada anggota keluarganya yang dinilai mampu mewarisi ideologinya.

Hasan di Tiro's persona fused a genealogy of resistance with a state-building project. In his own words, he signed a declaration of independence for Aceh/Sumatra as a successor state and claimed the right to act as Wali Negara of Aceh, succeeding Tgk. Chik Mahjeddin and Tgk. Chik Ma‘at di Tiro, who fell on 3 December 1911 fighting the Dutch. The list of leaders he compiled begins with Muhammad Saman di Tiro (1874–1891), runs through several members of the di Tiro family, and ends with himself from 1976.

This genealogy is selective. Tgk. Daud Beureueh had already used the title Wali Negara in the 1953 Bate Kureng Charter, and even named Muhammad ‘Ali Zainal Abidin of the di Tiro family there. Yet Hasan di Tiro omitted Daud Beureueh from his list. By drawing authority through his own family, he erased his predecessor's role and also distanced his claim from Aceh's royal line. The analysis holds that the title ‘Wali’ used within GAM was never formally recognised as an institution for all Acehnese.

His return in October 2009, travelling from Sweden via Kuala Lumpur, was read as the culmination of reintegration: Aceh remained within Indonesia, but GAM's core figures were allowed to live normal lives. More than 200,000 people awaited him in the courtyard of the Baiturrahman Grand Mosque in Banda Aceh. Point 1.1.7 of the Helsinki memorandum on the Institution of Wali Nanggroe is seen as having been drafted with him principally in mind.

The full list of leaders in Hasan di Tiro's genealogy: Muhammad Saman di Tiro (1874–1891), Muhammad Amin di Tiro (from 1891), Ubaidullah di Tiro and Sulaiman di Tiro (both recorded as 1899–1904), Muhammad Ali Zainal Abidin di Tiro (1904–1910), Mahjeddin di Tiro (1910–1911), Ma‘at di Tiro (1911) and Hasan di Tiro (from 1976). The end date of Muhammad Amin's tenure in the source appears to be a misprint.

He had once been an Indonesian government employee who absorbed Indonesian nationalism in Java before opposing it; his return from America is read as resembling a Ratu Adil’s arrival. None of his family is judged to have inherited his ideology.

Gagasan kunciKey ideas

Silsilah sebagai legitimasiGenealogy as legitimacy

Otoritas politik dibangun melalui garis keluarga ulama-pejuang di Tiro.Political authority was constructed through the di Tiro line of scholar-warriors.

Penghapusan Daud BeureuehErasing Daud Beureueh

Daftar Wali versi Hasan di Tiro melompati pendahulunya yang memakai gelar serupa.Hasan di Tiro's list of Walis skips the predecessor who had used a similar title.

Kepulangan sebagai simbol integrasiHomecoming as a symbol of integration

Penyambutan massal 2009 menandai penerimaan politik baru tanpa kemerdekaan.The mass welcome of 2009 marked a new political settlement without independence.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana silsilah keluarga dapat diubah menjadi klaim kenegaraan, dan apa yang terhapus dalam prosesnya?How can a family genealogy be turned into a claim to statehood, and what is erased in the process?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Tgk. Hasan di Tiro”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hasan-di-tiro/