Aceh lahir dari perangAceh born of war
Identitas keacehan diproduksi oleh perlawanan, sehingga legitimasi selalu dirundingkan ulang antara poros istana dan ulama dengan negara.Acehnese identity is produced by resistance, so legitimacy is constantly renegotiated between the palace and ulama axes and the state.
Tesis kedua belas menyatakan bahwa Aceh sebagaimana dikenal hari ini lahir dari perang. Identitas keacehan tidak terutama diwariskan sebagai warisan etnis yang tetap, melainkan terus diproduksi oleh pengalaman perlawanan: melawan Portugis, melawan Belanda, lalu dalam pergolakan Darul Islam dan Gerakan Aceh Merdeka. Akibat dari kenyataan ini sangat jauh. Karena identitas dibentuk dalam perang, legitimasi di Aceh tidak pernah selesai; ia terus dirundingkan ulang antara poros istana dan poros ulama di satu sisi dan negara di sisi lain. Setiap babak perang melahirkan gelar, panji, maklumat dan silsilah baru, dan setiap babak damai harus memutuskan apa yang dilakukan terhadap warisan simbolik itu.
Rumusan paling eksplisit tentang tesis ini terdapat dalam entri Aceh lahir dari perang, yang bertolak dari esai M. Adli Abdullah "Acehkah Saya?" (Juni 2008). Esai itu dipicu oleh sebuah anekdot Jusuf Kalla pada peluncuran buku Hamid Awaludin, dan menjawabnya dengan menelusuri titik awal Aceh Darussalam pada Ali Mughayat Syah, yang melepaskan diri dari Pasai pada 1519 dan membebaskan Pasai pada 1524. Sejak itu Aceh hidup dalam konflik dengan Portugis selama sekitar 121 tahun (1520–1641), lalu menghadapi Belanda sejak 26 Maret 1873, dan kemudian melahirkan GAM pada 4 Desember 1976. Dua perekat persatuan yang ditekankan esai itu adalah musuh bersama dan Islam. Rumusan ini memberi tesis ini struktur yang dapat diuji: jika identitas direkatkan oleh musuh bersama, apa yang terjadi ketika musuh itu hilang atau berganti rupa?
Perang juga melahirkan lembaga. Tradisi waliyul mulki, penjaga kerajaan yang muncul ketika sultan belum dewasa, ketika legitimasi penguasa dipersoalkan atau ketika negeri dalam keadaan perang, memperlihatkan bagaimana keadaan darurat melahirkan kedudukan baru. Preseden awalnya ditautkan dengan Abdurrauf as-Singkili pada masa para sultanah, tetapi bentuknya yang paling jelas tampak pada Tuanku Hasyim Banta Muda, bangsawan yang dua kali ditawari takhta dan dua kali menolaknya, memilih mengangkat sultan belia lalu memerintah atas namanya sambil memimpin perlawanan, termasuk sesudah ibu kota dipindahkan ke Keumala Dalam pada 1879. Di sisi ulama, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman memimpin perang sabil pada 1880-an, mendesak Belanda ke garis konsentrasi di sekitar Kutaraja dan mengeluarkan maklumat pada 2 Februari dan September 1885 yang menolak segala ambisi takhta. Hikayat Prang Sabi kemudian menjadi bahasa yang menyatukan kedua poros itu dalam satu panggilan perang.
Namun lembaga yang lahir dari perang juga menjadi bahan rekonstruksi politik pada perang berikutnya. Kasus sarakata 1909 sangat menentukan. Surat bertanggal 18 Rajab 1327 H (5 Agustus 1909) dari Tuanku Mahmud, Tuanku Raja Keumala dan Panglima Polem Muhammad Daud itu berisi bujukan kepada para ulama Tiro agar berdamai dengan Belanda, dan ditemukan pada jenazah Teungku Maat di Tiro di Alue Bhot pada 3 Desember 1911. Sapaan al-mudabbir al-malik di dalamnya kemudian dibaca Hasan di Tiro sebagai pengakuan bahwa kekuasaan Aceh telah beralih kepada keluarga Tiro, dan menjadi dasar silsilah wali negara yang ia pimpin sejak 1976. Kritik sumber yang diajukan M. Adli Abdullah menunjukkan bahwa surat itu tidak memuat penyerahan kedaulatan, bahwa maklumat Muhammad Saman sendiri menolak klaim takhta, dan bahwa silsilah yang dibangun di atasnya beredar dalam beberapa versi. Perang, dengan demikian, tidak hanya memproduksi identitas; ia juga memproduksi tafsir atas masa lalu yang dibutuhkan untuk melegitimasi perang yang sedang berlangsung.
Pola yang sama tampak pada abad ke-20. Wali Negara dalam Darul Islam Aceh memakai gelar lama untuk kebutuhan baru: pemberontakan pecah pada 21 September 1953, Kongres Batee Kureng pada 21 September 1955 mengangkat Teungku Muhammad Daud Beureueh, dan Dewan Revolusi pada 15 Maret 1959 menggantinya dengan Teungku Amir Husin al-Mujahid. Kompromi Dewan Revolusi dengan Jakarta melahirkan status Daerah Istimewa melalui Keputusan Misi Hardi tertanggal 26 Mei 1959. Episode ini adalah contoh paling jernih dari pernyataan bahwa legitimasi di Aceh dirundingkan ulang: perang berujung bukan pada kemenangan satu pihak, tetapi pada status hukum baru yang menampung sebagian tuntutan. Entri tentang barter ulama, negara dan perang serta keilmuan masa revolusi sosial memperlihatkan bahwa poros ulama berperan penting dalam setiap perundingan itu, sementara poros uleebalang justru runtuh dalam revolusi sosial.
Simbol menjadi medan tempat perundingan itu berlanjut sesudah senjata diletakkan. Alam peudeung, panji merah berbulan sabit dan bintang dengan pedang di bawahnya, diingat sebagai bendera kerajaan yang berakar pada persekutuan dengan Turki Utsmani, lalu dipakai GAM sejak 4 Desember 1976. MoU Helsinki butir 1.1.5 dan Pasal 246 UU No. 11/2006 memberi Aceh hak atas bendera dan lambang, tetapi PP No. 77/2007 melarang lambang daerah yang menyerupai lambang gerakan separatis. Kontestasi qanun bendera dan lambang yang disahkan DPRA pada Maret 2013 kemudian tidak diselesaikan di pengadilan, melainkan melalui rangkaian "cooling down" politik. Demikian pula lembaga Wali Nanggroe, yang menurut MoU butir 1.1.7, Pasal 96–97 UUPA dan qanun 2012 dijadikan lembaga adat, adalah transformasi damai dari gelar yang lahir dalam perang. Genealogi gelar Wali Nanggroe dengan demikian menjadi tolok ukur bagi perdebatan kelembagaan masa kini.
Tesis ini menghadapi keberatan yang serius. Pertama, ia dapat terbaca sebagai pembenaran bagi kekerasan, seolah-olah Aceh hanya menjadi Aceh ketika berperang. Pembacaan semacam itu keliru, sebab esai yang sama menekankan sifat kosmopolitan masyarakat Aceh dan motif pengkhianatan dalam ingatan perangnya, yang menunjukkan bahwa perang juga memecah, bukan hanya menyatukan. Kedua, esai-esai dalam Aceh Baru Post-Tsunami mengajukan kritik bahwa evolusi GAM menjadi KPA lalu Partai Aceh lebih mencerminkan kepentingan mereka yang di atas daripada kehendak rakyat bawah, dan bahwa orang Aceh, baik yang memanggul senjata maupun yang hanya memberikan sebutir telur, adalah korban dari rekayasa konflik di dalam maupun di luar negeri. Kritik ini tidak membatalkan tesis, tetapi menajamkannya: identitas yang lahir dari perang selalu diperebutkan oleh mereka yang mengelola perang. Ketiga, akibatnya juga dirasakan dari arah negara, karena Aceh, seperti dicatat dalam esai yang sama, akan terus dicurigai nasionalismenya. Identitas perang, dengan kata lain, dibalas oleh negara dengan nalar keamanan.
Pertanyaan yang tetap terbuka adalah bagaimana identitas yang lahir dari perang bertahan, dan berubah, ketika perang telah usai. Jika musuh bersama hilang, apakah Islam saja cukup sebagai perekat, ataukah perekat itu akan bergeser ke simbol, bendera dan gelar yang terus diperebutkan? Entri tentang pusat simbolik kesadaran politik Aceh dan para pemikir politik Aceh membuka kemungkinan bahwa identitas dapat bertumpu pada pengetahuan tentang sejarah sendiri, bukan pada perang berikutnya. Tetapi hal itu menuntut kerja kritik sumber yang sabar, seperti yang diperlihatkan dalam pembacaan ulang atas sarakata 1909, agar ingatan perang tidak dibekukan menjadi mitos yang siap dipakai untuk mobilisasi baru.
Dalam bangunan enam belas tesis, T12 membuka lantai V, lantai tempat Acehnologi berhadapan dengan Aceh kontemporer. Ia mewarisi T8 (dua poros: istana dan ulama), karena perang adalah keadaan ketika kedua poros paling jelas tampak bekerja sama atau bersaing, sebagaimana dalam pasangan Tuanku Hasyim dan Teungku Chik di Tiro; ia mewarisi T9 (peradaban maritim-kosmopolitan), karena perang pertama Aceh adalah perang memperebutkan laut; dan ia membutuhkan T10 (kerak peradaban pada perantara), karena hikayat, sarakata dan bendera adalah perantara yang menyimpan ingatan perang. Ke depan, T12 menyiapkan T13 (damai struktural belum menjadi damai kultural), karena damai harus mengolah identitas yang dibentuk perang; T15 (demoralisasi ketika spirit tercerabut), karena perang panjang ikut mengikis spirit; dan T16 (Aceh sebagai cermin Indonesia), karena cara negara menanggapi identitas perang memperlihatkan cara Indonesia memahami dirinya. Pada tangga lima lantai, T12 memperlihatkan spirit yang menjadi semangat jihad, gagasan yang menjadi maklumat, filsafat yang menjadi teori legitimasi, dan tindakan yang menjadi perlawanan; tugas ilmu adalah memastikan bahwa anak tangga terakhir itu tidak memutuskan hubungan dengan yang pertama.
The twelfth thesis holds that Aceh as it is known today was born of war. Acehnese identity is not mainly inherited as a fixed ethnic legacy; it is continually produced by the experience of resistance: against the Portuguese, against the Dutch, and then in the upheavals of Darul Islam and the Free Aceh Movement. The consequences of this are far-reaching. Because identity was formed in war, legitimacy in Aceh is never settled; it is constantly renegotiated between the palace and ulama axes on the one hand and the state on the other. Every chapter of war produces new titles, banners, proclamations and genealogies, and every chapter of peace must decide what to do with that symbolic inheritance.
The most explicit formulation of the thesis is found in the entry Aceh born of war, which starts from M. Adli Abdullah's essay "Acehkah Saya?" ("Am I Acehnese?", June 2008). The essay was prompted by an anecdote told by Jusuf Kalla at the launch of Hamid Awaludin's book, and it answered by tracing the starting point of Aceh Darussalam to Ali Mughayat Syah, who broke away from Pasai in 1519 and freed Pasai in 1524. From then on Aceh lived in conflict with the Portuguese for about 121 years (1520–1641), then faced the Dutch from 26 March 1873, and later gave birth to GAM on 4 December 1976. The two binding forces of unity the essay stresses are a common enemy and Islam. This formulation gives the thesis a testable structure: if identity is held together by a common enemy, what happens when that enemy disappears or changes shape?
War also produced institutions. The tradition of waliyul mulki, a guardian of the realm who appeared when the sultan was a minor, when a ruler's legitimacy was in question or when the country was at war, shows how emergencies gave rise to new offices. Its early precedent is linked to Abdurrauf as-Singkili under the sultanahs, but its clearest form appears in Tuanku Hasyim Banta Muda, a royal kinsman twice offered the throne who twice declined it, choosing to install a child sultan and govern in his name while leading the resistance, including after the capital was moved to Keumala Dalam in 1879. On the ulama side, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman led the holy war in the 1880s, pushed the Dutch back to their concentrated line around Kutaraja and issued proclamations on 2 February and in September 1885 disclaiming any ambition for the throne. The Hikayat Prang Sabi then became the language that united both axes in a single call to war.
Yet institutions born of war also became material for political reconstruction in the next war. The case of the 1909 sarakata is decisive. The letter dated 18 Rajab 1327 AH (5 August 1909) from Tuanku Mahmud, Tuanku Raja Keumala and Panglima Polem Muhammad Daud urged the ulama of Tiro to make peace with the Dutch, and was found on the body of Teungku Maat di Tiro at Alue Bhot on 3 December 1911. The form of address al-mudabbir al-malik in it was later read by Hasan di Tiro as recognition that power in Aceh had passed to the Tiro family, and it became the basis of the genealogy of wali negara that he headed from 1976. The source criticism advanced by M. Adli Abdullah shows that the letter contains no transfer of sovereignty, that Muhammad Saman's own proclamations disclaimed any claim to the throne, and that the genealogy built upon it circulates in several versions. War, then, not only produces identity; it also produces interpretations of the past needed to legitimise the war under way.
The same pattern appears in the twentieth century. The Wali Negara in Aceh's Darul Islam used an old title for new purposes: the rebellion broke out on 21 September 1953, the Batee Kureng Congress of 21 September 1955 appointed Teungku Muhammad Daud Beureueh, and the Revolutionary Council on 15 March 1959 replaced him with Teungku Amir Husin al-Mujahid. The Council's compromise with Jakarta produced Special Region status through the Hardi Mission Decision of 26 May 1959. This episode is the clearest example of the claim that legitimacy in Aceh is renegotiated: war ended not in one side's victory but in a new legal status accommodating part of the demands. The entries on the bargain between ulama, state and war and scholarship in the era of the social revolution show that the ulama axis played a central role in every such negotiation, while the uleebalang axis collapsed in the social revolution.
Symbols became the field on which that negotiation continued after the weapons were laid down. The alam peudeung, a red banner with crescent and star and a sword beneath, is remembered as a royal flag rooted in the Ottoman alliance, and was used by GAM from 4 December 1976. Point 1.1.5 of the Helsinki MoU and Article 246 of Law No. 11/2006 gave Aceh the right to a flag and emblem, but Government Regulation No. 77/2007 prohibited regional emblems resembling those of separatist movements. The contest over the flag and emblem qanun passed by the Aceh legislature in March 2013 was then resolved not in court but through a series of political "cooling down" talks. Likewise the Wali Nanggroe institution, made a customary institution under MoU point 1.1.7, Articles 96–97 of the Law on the Governing of Aceh and a 2012 qanun, is the peaceful transformation of a title born in war. The genealogy of the Wali Nanggroe title thus becomes a yardstick for present-day institutional debate.
The thesis faces serious objections. First, it can be read as a justification of violence, as though Aceh only becomes Aceh when it fights. Such a reading is mistaken, since the same essay stresses the cosmopolitan character of Acehnese society and the motif of betrayal in its war memory, which shows that war also divides rather than only unites. Second, the essays in Aceh Baru Post-Tsunami advance the criticism that GAM's evolution into the KPA and then the Partai Aceh reflects the interests of those at the top more than the will of ordinary people, and that the Acehnese, whether they carried weapons or merely gave a single egg, were victims of conflict engineered both at home and abroad. This criticism does not cancel the thesis but sharpens it: an identity born of war is always contested by those who manage the war. Third, its consequences are felt from the state's side as well, because Aceh, as the same essays note, will continue to have its nationalism suspected. The identity of war, in other words, is answered by the state with the logic of security.
The question that remains open is how an identity born of war survives, and changes, once the war is over. If the common enemy disappears, is Islam alone enough to bind, or will the binding shift to symbols, flags and titles that remain contested? The entries on the symbolic centre of Acehnese political consciousness and Acehnese political thinkers open the possibility that identity can rest on knowledge of one's own history rather than on the next war. But that demands patient source criticism, of the kind shown in the rereading of the 1909 sarakata, so that the memory of war is not frozen into a myth ready for new mobilisation.
Within the structure of sixteen theses, T12 opens floor V, the floor on which Acehnology faces contemporary Aceh. It inherits T8 (two axes: palace and ulama), since war is the condition in which the two axes are most visibly seen cooperating or competing, as in the pairing of Tuanku Hasyim and Teungku Chik di Tiro; it inherits T9 (a maritime and cosmopolitan civilisation), since Aceh's first war was a war over the sea; and it needs T10 (the crust of civilisation in its intermediaries), since hikayat, sarakata and flags are intermediaries that store the memory of war. Looking forward, T12 prepares T13 (structural peace is not yet cultural peace), because peace must work through an identity shaped by war; T15 (demoralisation when spirit is uprooted), because long war helped erode spirit; and T16 (Aceh as a mirror of Indonesia), because the way the state responds to an identity of war reveals how Indonesia understands itself. On the five-floor ladder, T12 shows spirit becoming the zeal of jihad, ideas becoming proclamations, philosophy becoming a theory of legitimacy and action becoming resistance; the task of knowledge is to ensure that the last rung does not sever its link with the first.
KonsepConcept (32)
- Aceh lahir dari perang: identitas keacehan sebagai produk perlawananAceh born of war: Acehnese identity as a product of resistance
- Agama dan budaya di Aceh: hubungan yang perlu ditelusuriReligion and culture in Aceh: relationships to investigate
- Agama sebagai gejala sosial: penelitian sosial keagamaanReligion as a social phenomenon: socio-religious research
- Alam peudeung: bendera Aceh dan jejak Turki UtsmaniAlam peudeung: the Acehnese flag and the Ottoman connection
- Antropologi agama: agama sebagai sistem simbolAnthropology of religion: religion as a system of symbols
- Bahasa dalam kajian antropologi dan agamaLanguage in anthropology and the study of religion
- Bahasa di masa konflikLanguage in times of conflict
- Dîn, bukan ‘agama’: kritik semantik atas istilah ‘agama Islam’Dîn, not ‘agama’: a semantic critique of the term ‘agama Islam’
- Dominasi kajian perang dan redupnya falsafah ke-Aceh-anThe dominance of war studies and the fading of Acehnese philosophy
- Dunia perbukuan di AcehThe world of books in Aceh
- Etos perang dan makna damai yang berlapisThe war ethos and the many meanings of peace
- Gam Cantoi: tokoh kartun dan cermin diri orang AcehGam Cantoi: cartoon figure and Acehnese self-mirror
- Gelar kehormatan para pemikir AcehHonorific titles of Acehnese thinkers
- Genealogi gelar Wali Nanggroe: Batee Kureng, Halimon, dan cap sikureungGenealogy of the Wali Nanggroe title: Batee Kureng, Halimon and the cap sikureung
- Hikayat perang Aceh: dari Malem Dagang hingga Prang CumbokAcehnese war hikayat: from Malem Dagang to Prang Cumbok
- Historiografi Aceh di hadapan sejarah nasionalAcehnese historiography and national history
- Jasa studi Aceh bagi studi agamaThe service of Aceh studies to religious studies
- Keilmuan di era kedatangan penjajah BelandaKnowledge in the era of Dutch colonial arrival
- Keilmuan pada masa revolusi sosialKnowledge in the period of the social revolution
- Khianat dan durhaka: kesetiaan kepada raja sebagai kewajiban agamaKhianat and durhaka: loyalty to the ruler as a religious duty
- Mengelola agama: paradigma Parsonian di Jawa, Durkheimian di AcehManaging religion: a Parsonian paradigm for Java, a Durkheimian one for Aceh
- Narasi kejayaan dan kemunduran moral: dari Penjoeloeh ke mimbar daiThe narrative of glory and moral decline: from Penjoeloeh to the preacher’s pulpit
- Otoritas keagamaan, sanad, dan seumeubeutReligious authority, sanad and seumeubeut
- Pemikir politik Aceh: dari sultan hingga aktivisAcehnese political thinkers: from sultans to activists
- Perempuan Aceh dari masa ke masa: dari istana ke ruang publikAcehnese women through the ages: from the palace to public life
- Pusat simbolik yang hilang: dari Iskandar Muda ke Wali NanggroeThe lost symbolic centre: from Iskandar Muda to the Wali Nanggroe
- Ragam sastra Aceh: haba, hadih maja, panton, hikayat, nalam, hikayat ruhe, dan hiemGenres of Acehnese literature: haba, hadih maja, panton, hikayat, nalam, hikayat ruhe and hiem
- Ragam tanggapan terhadap gagasan ilmu ke-Aceh-anResponses to the idea of an Acehnese science
- Salin agama dan tamóng islam: dua cara memaknai masuk IslamSalin agama and tamóng islam: two ways of construing conversion
- Sejarah negeri-negeri di Aceh: melampaui Aceh BesarHistories of Aceh's many polities: beyond Aceh Besar
- Shane Joshua Barter: ulama, negara, dan perang di AcehShane Joshua Barter: ulama, the state and war in Aceh
- Waliyul mulki: tradisi perwalian dalam Kesultanan AcehWaliyul mulki: the tradition of regency in the Aceh Sultanate
Data dan buktiData and evidence (55)
- ‘Aku masih seperti yang dulu’: kombatan setia dan wacana neo-GAM‘I am still as I was’: loyalist combatants and the neo-GAM discourse
- ‘Peluru tanpa suara’: transmigran dan pendatang pada masa konflik‘Silent bullets’: transmigrants and settlers during the conflict
- Agama dan kepemimpinan politik Aceh: kerangka Riza NurdinReligion and political leadership in Aceh: Riza Nurdin’s framework
- Alumni Libya: pelatihan militer GAM pada era QadhafiThe Libya alumni: GAM's military training under Qadhafi
- Banda Aceh sebagai kota pelajar dan arena kontestasi keagamaanBanda Aceh as student city and arena of religious contest
- Cuak: informan dalam konflik AcehCuak: informers in the Aceh conflict
- Dari Rimba Aceh ke Stockholm: memoar dr. Husaini M. HasanFrom the Aceh Jungle to Stockholm: the memoir of Dr Husaini M. Hasan
- Fatwa Muda Waly dan koalisi ulama penentang Darul IslamMuda Waly’s fatwa and the ulama coalition against Darul Islam
- Forum Peduli Hak Asasi Manusia (FP-HAM) dan dokumentasi pelanggaran HAM masa DOMThe Forum Peduli Hak Asasi Manusia (FP-HAM) and the documentation of human rights abuses under the DOM
- Gejolak Gayo dan wacana Provinsi ALAGayo unrest and the ALA province movement
- Gerakan Aceh Merdeka (GAM)Free Aceh Movement (GAM)
- Hikayat Prang SabiHikayat Prang Sabi (Epic of the Holy War)
- Jeda Kemanusiaan dan COHA (2000–2003): perundingan RI–GAM sebelum HelsinkiThe Humanitarian Pause and COHA (2000–2003): RI–GAM negotiations before Helsinki
- Kaset, VCD, dan lagu protes Aceh pasca-DOMCassettes, VCDs and Acehnese protest songs after the DOM
- Keeping the Trust for Peace: kesaksian Farid HusainKeeping the Trust for Peace: the testimony of Farid Husain
- Keurija dan bek peumale gampongKeurija and bek peumale gampong: communal work and guarding village honour
- Konteks beragama di Aceh: membaca bagan sosial-antropologisReligious contexts in Aceh: a social-anthropological diagram
- Kontestasi qanun bendera dan lambang Aceh (2013)The contest over the Aceh flag and emblem qanun (2013)
- Konvensi GAM 2006 dan langgam politik GAM menjelang pilkadaGAM’s 2006 convention and its political style before the elections
- Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) DarussalamKopelma Darussalam, the student town of Banda Aceh
- Lintas Batas Budaya Agama dan Kosmopolitanisme di AcehCulture religion and cosmopolitanism across boundaries
- Maklumat Perang Aceh 7 Juni 1873The Aceh War Proclamation of 7 June 1873
- Manifesto Pemberontak Aceh (1953)The Manifesto of the Acehnese Rebels (1953)
- MoU HelsinkiHelsinki Memorandum of Understanding
- Nasihat Snouck Hurgronje tentang Aceh (3 Januari 1904)Snouck Hurgronje's advice on Aceh (3 January 1904)
- Pembantaian Teungku Bantaqiah di Beutong Ateuh (1999)The massacre of Teungku Bantaqiah at Beutong Ateuh (1999)
- Penegakan hukum Islam pada masa Iskandar MudaThe enforcement of Islamic law under Iskandar Muda
- Penyelesaian Darul Islam dan lahirnya Daerah Istimewa Aceh (1957–1962)Ending Darul Islam and the birth of the Special Area of Aceh (1957–1962)
- Perang Cumbok dan berakhirnya kekuasaan uleebalangThe Cumbok war and the end of uleebalang power
- Perang Tanpa Peluru: geopolitik dan kebudayaan AcehPerang Tanpa Peluru: geopolitics and Acehnese culture
- Piagam Bate KurengBate Kureng Charter
- Politik komunitas Aceh di Mekkah pada masa Perang AcehAcehnese politics in Mecca during the Aceh War
- Proklamasi Aceh sebagai bagian Negara Islam Indonesia (1953)Aceh's proclamation as part of the Islamic State of Indonesia (1953)
- Qanun Aceh No. 8 Tahun 2012 tentang Lembaga Wali NanggroeAceh Qanun No. 8 of 2012 on the Wali Nanggroe Institution
- Rawa Singkil dan Lae Tekhep: gambut, orangutan, dan sawitRawa Singkil and Lae Tekhep: peat, orangutans and oil palm
- Said Abu Bakar: guru agama Yan dan agen Fujiwara KikanSaid Abu Bakar: Yan religious teacher and Fujiwara Kikan agent
- Sarakata 1909 dan klaim suksesi keluarga TiroThe 1909 sarakata and the Tiro succession claim
- Sentimen anti-Jawa dalam konflik AcehAnti-Javanese sentiment in the Aceh conflict
- Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU-MPR) Aceh, 8 November 1999The General Assembly of the Referendum Struggle (SU-MPR) of Aceh, 8 November 1999
- Sofyan A. Djalil: teknokrat Aceh di kabinet nasionalSofyan A. Djalil: an Acehnese technocrat in national cabinets
- Temuan koin emas di Gampong Pande (2013) dan Peureulak (1979)Gold coin finds at Gampong Pande (2013) and Peureulak (1979)
- Teungku Chik di Tiro Muhammad SamanTeungku Chik di Tiro Muhammad Saman
- Teungku Chik Pante KuluTeungku Chik Pante Kulu
- Tgk. Hasan di TiroTgk. Hasan di Tiro
- The Long and Winding Road to Helsinki: Aceh dalam perang dan damaiThe Long and Winding Road to Helsinki: Aceh in war and peace
- The Price of Freedom: catatan harian Hasan di TiroThe Price of Freedom: the diary of Hasan di Tiro
- The Veranda of Mecca: Wali Nanggroe, GAM, kekerasan, dan negaraThe Veranda of Mecca: Wali Nanggroe, GAM, violence and the state
- Trilema Pattani: sejarah, agama, dan identitas sebagai agenda penelitianThe Pattani trilemma as a research agenda
- Tuanku Hasyim Banta MudaTuanku Hasyim Banta Muda
- Ulama Aceh dan Orde Baru: netralisasi dan perlawanan diamAcehnese ulama and the New Order: neutralisation and quiet resistance
- Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU No. 11 Tahun 2006)The Law on the Governing of Aceh (Law No. 11 of 2006)
- Wali NanggroeWali Nanggroe
- Wali Nanggroe dan problem payung lembaga adatWali Nanggroe and the problem of a customary umbrella
- Wali Negara dalam Darul Islam Aceh: dari Batee Kureng ke Daerah Istimewa (1955–1959)The Wali Negara in Aceh's Darul Islam: from Batee Kureng to Special Region (1955–1959)
- Zakaria YunusZakaria Yunus
Medan ujiTest case (37)
- ‘Aceh Merdeka’ sebagai gejala: tiga makna merdeka dan kebuntuan tata kelola‘Aceh Merdeka’ as symptom: three meanings of merdeka and the governance deadlock
- ‘Agama Aceh’? Citra Islam seratus persen dan praktik yang ditabukanAn ‘Acehnese religion’? The image of ‘100 per cent Islam’ and tabooed practice
- ‘Kawan + lawan = lawan’: diplomasi dan kepentingan dalam hubungan Aceh–Jakarta‘Friend + foe = foe’: diplomacy and interest in Aceh–Jakarta relations
- ‘Ureung Aceh poh ureung Aceh’: dari kaphe ke kekerasan antarsesama‘Acehnese killing Acehnese’: from kaphe to intra-Acehnese violence
- Aceh daerah modal dan modelAceh as 'capital region' and model
- Aceh dalam percaturan geopolitik dan rekomendasi kebijakan pascadamaiAceh in geopolitics and post-peace policy recommendations
- Aceh sebagai ‘laboratorium’ birokrasi Orde BaruAceh as a ‘laboratory’ of New Order bureaucracy
- Aceh sebagai cermin Indonesia: dari nalar keamanan ke nalar geostrategisAceh as a mirror of Indonesia: from security reasoning to geostrategic reasoning
- Banjir, seruan ‘merdeka’, dan salah baca negaraFloods, the cry of ‘merdeka’ and the state’s misreading
- Batas moral Aceh–Sumatra Utara: geografi moral Serambi MekkahThe Aceh–North Sumatra moral boundary: the moral geography of Mecca’s Verandah
- Daerah Modal: narasi jasa Aceh bagi RevolusiDaerah Modal: the narrative of Aceh’s service to the Revolution
- Dari ideologi ke pragmatisme: elite GAM sebagai ‘kelompok baru’From ideology to pragmatism: the GAM elite as a ‘new group’
- Empat skala potensi konflik dan radikalisme di AcehFour scales of conflict and radicalism risk in Aceh
- Formalisme agama dan membumikan religiReligious formalism and grounding religion
- Gerakan keagamaan: tanah, harapan, dan sakralitasReligious movements: land, hopes and sacrality
- Isu pemurtadan pascatsunami dan pendangkalan agamaApostasy fears after the tsunami and the thinning of religion
- Jati diri dan kesinambungan sejarah sebagai akar konflik AcehIdentity and historical continuity as roots of the Aceh conflict
- Kontur kerawanan baru Aceh 2025–2026: konflik agraria, ekologis, perkotaan, dan kekerasanAceh's new contours of vulnerability, 2025–2026: agrarian, ecological, urban and violent conflict
- Lapisan pengaruh Timur Tengah dalam religi AcehLayers of Middle Eastern influence on religion in Aceh
- Main hakim sendiri atas nama agamaVigilantism in the name of religion
- Manajemen musoh: reproduksi permusuhan dalam politik AcehManaging the musoh: the reproduction of enmity in Acehnese politics
- Otoritas keagamaan virtual: dari reproduksi kultural ke reproduksi populerVirtual religious authority: from cultural to popular reproduction of knowledge
- PAI (Penghancur Agama Islam): label musuh dalam konflik AcehPAI (‘Destroyers of Islam’): an enemy label in the Aceh conflict
- Pajak nanggroePajak nanggroe (the ‘state tax’)
- Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan kosmologi Hindu-JawaPancasila, Bhinneka Tunggal Ika and Hindu-Javanese cosmology
- Penjara kognitif negara: lensa keamanan, enam lapis integrasi, dan ‘theatre of deception’The state's cognitive prison: the security lens, six layers of integration and the ‘theatre of deception’
- Perang kosmik dan warisan permusuhan agama-agama AbrahamikCosmic war and the legacy of enmity in the Abrahamic religions
- Pergaulan bebas sebagai perlawanan terhadap orang tua‘Free association’ as rebellion against parents
- Pertarungan spirit kebangsaan dan metafora kereta JawaThe contest of national spirits and the Javanese carriage metaphor
- Perundungan, gawai, dan kesenjangan pemahaman keagamaanBullying, gadgets and the religious-understanding gap
- Polarisasi masyarakat Aceh pasca-DOM (1998–2004)The polarisation of Acehnese society after DOM (1998–2004)
- Self-determination yang tak tumbuh: politik simbolik dan pragmatismeThe self-determination that did not grow: symbolic politics and pragmatism
- Ta peujuang: Aceh, pusat, dan imajinasi daerahTa peujuang: Aceh, the centre and the regional imagination
- Tanah Rencong: narasi perlawanan antikolonialTanah Rencong: the narrative of anti-colonial resistance
- Ulama dan GAM: dari sikap netral ke dukungan referendumUlama and GAM: from neutrality to backing the referendum
- Unit relawan peringatan gampong dan model BangladeshVillage warning volunteer units and the Bangladesh model
- Zona aman keberagamaan pemudaThe ‘safe zone’ of youth religiosity