Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Aceh lahir dari perang: identitas keacehan sebagai produk perlawananAceh born of war: Acehnese identity as a product of resistance

Tesis bahwa identitas keacehan terbentuk melalui pengalaman perang dan perlawanan terhadap penjajahan, mulai dari pembebasan dari Portugis pada abad ke-16 hingga Perang Belanda dan gerakan GAM. M. Adli Abdullah merumuskannya dalam esai "Acehkah Saya?" (2008), dengan menekankan dua perekat persatuan: musuh bersama dan Islam. Tesis ini juga menyoroti motif pengkhianatan dalam ingatan perang Aceh dan sifat kosmopolitan masyarakatnya.

The thesis that Acehnese identity was forged through the experience of war and resistance to colonial domination, from liberation from the Portuguese in the sixteenth century to the Dutch War and the GAM movement. M. Adli Abdullah formulated it in his essay "Acehkah Saya?" ("Am I Acehnese?", 2008), stressing two binding forces of unity: a common enemy and Islam. The thesis also highlights the motif of betrayal in Acehnese war memory and the cosmopolitan character of Acehnese society.

Gagasan bahwa Aceh "lahir dari perang" merupakan salah satu cara membaca sejarah politik Aceh sebagai rangkaian perlawanan yang membentuk kesadaran kolektif. M. Adli Abdullah mengembangkan gagasan ini pada 2008 sebagai tanggapan atas seloroh Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang menceritakan pertemuannya dengan tokoh muda GAM di Amsterdam dalam proses menuju perundingan Helsinki: GAM sulit mengalahkan Indonesia, Indonesia pun sulit mengalahkan GAM setelah tiga puluh tahun perang. Kisah itu disampaikan pada peluncuran buku Hamid Awaludin tentang perdamaian RI–GAM di Helsinki pada Mei 2008. Alih-alih membacanya sebagai ejekan, Adli Abdullah menjadikannya pintu masuk untuk bertanya apakah Aceh memang identik dengan perang.

Jawaban historisnya dimulai dari kelahiran Kesultanan Aceh Darussalam. Menurut uraian Adli Abdullah, Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah (1514–1530) menyatakan lepas dari Pasai, yang telah berada di bawah pengaruh Portugis, pada 1519, lalu membebaskan Pasai dari Portugis pada 1524 dan menyatukannya ke dalam negeri baru Aceh. Konflik Aceh dengan Portugis kemudian berlangsung kira-kira 121 tahun (1520–1641), yakni sampai jatuhnya Melaka Portugis ke tangan Belanda. Dalam kerangka ini, kesultanan bukan sekadar hasil penyatuan dinasti, tetapi lahir sebagai proyek pertahanan menghadapi kekuatan maritim Eropa.

Generasi berikutnya, dari Alaidin Riayat Syah al-Qahhar, Alaidin Johansyah, Saidil Mukammil hingga Iskandar Muda, membawa Aceh ke puncak kekuasaannya. Adli Abdullah menempatkan Aceh masa itu sejajar dengan kekuatan Islam besar lain seperti Turki Usmani, Maroko, Persia dan Mughal di Agra, dengan pengaruh yang menjangkau Semenanjung Melayu (Perak, Pahang, Kedah dan Johor). Jejak pengaruh itu, menurutnya, masih terlihat di Perak dalam rencong, sistem kerajaan, pakaian, rumah dan adat istiadat. Klaim tentang peringkat kekuatan ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari memori kebanggaan sejarah Aceh daripada sebagai ukuran kuantitatif.

Inti analitis tesis ini adalah bahwa persatuan Aceh bertumpu pada dua hal: adanya musuh bersama yang harus dilawan dan Islam. Dimensi agama terpelihara di dayah, pusat ilmu Islam tradisional, dan diwujudkan dalam ideologi jihad. Kebencian terhadap penjajahan, dalam pembacaan ini, bukan berakar pada sentimen etnis, melainkan pada keyakinan bahwa melawan penindasan merupakan kewajiban agama. Hikayat Prang Sabi karya Teungku Chik Pante Kulu (oleh Adli Abdullah dikaitkan dengan lingkungan Teungku Chik Kuta Karang) menjadi contoh paling terkenal dari mobilisasi religius semacam itu dalam Perang Belanda yang dimulai pada 26 Maret 1873.

Kesinambungan perlawanan itu juga dibaca dalam pendirian GAM pada 4 Desember 1976 oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro, yang secara sadar menjadikan sejarah perlawanan terhadap Belanda sebagai landasan ideologis. Adli Abdullah mencatat bahwa Hasan Tiro, kader Daud Beureueh, berhasil menanamkan semangat keacehan selama lebih dari tiga puluh tahun, tetapi tidak mewariskannya kepada putranya sendiri, Karim Tiro. Paradoks ini dipakai untuk menunjukkan bahwa identitas keacehan bukan warisan biologis, melainkan sesuatu yang dibentuk lewat pengalaman, pengorbanan dan pendidikan agama.

Tesis ini juga memuat motif pengkhianatan. Menurut Adli Abdullah, simbol perang di Aceh lebih sering ditandai oleh pengkhianatan daripada kekalahan strategi, dari masa Iskandar Muda hingga Teungku Chik di Tiro, Cut Nyak Dhien dan Teuku Nyak Arief. Ia mengaitkan kekhawatiran akan kudeta dengan kenyataan bahwa para sultan Aceh tidak meninggalkan wilayah kekuasaannya untuk menunaikan haji. Klaim ini menarik sebagai hipotesis sejarah politik, meskipun memerlukan verifikasi lebih lanjut dari sumber kesultanan.

Di samping perang, tesis ini menekankan sifat kosmopolitan Aceh. Pembagian penduduk ke dalam empat sukee pada masa al-Qahhar memperlihatkan bahwa keacehan bersifat inklusif terhadap pendatang dari India, Arab, Cina, Jawa, Bugis dan Semenanjung. Tradisi bu leukat (nasi ketan) yang dipakai untuk mendamaikan pertikaian berdarah menjadi metafora bahwa perang dan perdamaian sama-sama tertanam dalam budaya. Dalam konteks pascadamai, Adli Abdullah menarik kesimpulan normatif: perjuangan kini harus diarahkan untuk menyingkirkan musuh bersama berupa keterbelakangan, dan keutuhan Aceh yang multietnis perlu dijaga, termasuk dengan menolak pemekaran yang dinilai bertentangan dengan semangat MoU Helsinki.

Refleksi tentang masa depan Aceh menjelang Pilkada 2012 merumuskan krisis identitas ini dalam empat sebab. Pertama, tidak ada lagi ideologi yang memaksa orang Aceh bersatu di bawah kepentingan bersama; Hasan di Tiro menjadikan sejarah sebagai sumber ideologi, tetapi pada 2005 kawan-kawan seperjuangannya memilih berhenti pada kata "damai". Kedua, tidak ada kesamaan persepsi tentang identitas keacehan, yang dilemahkan melalui adu domba antarmantan pejuang dan diporak-porandakannya struktur masyarakat, sementara identitas itu kini juga ditantang globalisme dan kosmopolitanisme. Ketiga, kelompok sosial keagamaan baru memisahkan adat, yang ditarik ke ranah simbolik, dari agama, yang ditarik ke ranah formalisme, padahal dalam sejarah Aceh keduanya menyatu dalam satu tarikan napas. Keempat, Aceh menjadi bagian dari negara yang terus dilanda krisis, sementara penyelesaian damai yang diwakilkan pada GAM menempatkan Aceh dalam posisi buah simalakama.

Di balik keempat sebab itu terdapat hilangnya konsep kuasa dan doktrin kosmik keacehan: tanpa sultan, Aceh kehilangan otoritas duniawi tertinggi, sementara otoritas keagamaan ulama terkikis oleh aparatur negara. Serpihan peradaban endatu, terutama karya intelektual ulama dan sistem ketatanegaraan kesultanan, tetap dikenang tetapi tidak lagi mampu menggerakkan energi rakyat, sehingga setiap tuntutan, dari syariat hingga kemerdekaan, berakhir syo' ujong, tidak pernah sampai pada kebahagiaan yang hakiki. Refleksi ini menyimpulkan bahwa Aceh memerlukan perubahan paradigma: memikirkan kembali jati diri keacehan dan menyadari bahwa sejarah masa depan Aceh hanya dapat ditulis oleh rakyat Aceh sendiri.

The idea that Aceh was "born of war" is one way of reading Acehnese political history as a sequence of resistances that shaped collective consciousness. M. Adli Abdullah developed the idea in 2008 in response to a quip by Vice-President Jusuf Kalla, who recounted meeting a young GAM figure in Amsterdam during the process leading to the Helsinki negotiations: GAM could hardly defeat Indonesia, and Indonesia could hardly defeat GAM after thirty years of war. Kalla told the story at the launch of Hamid Awaludin's book on the RI–GAM peace in Helsinki in May 2008. Rather than reading it as mockery, Adli Abdullah used it as an entry point to ask whether Aceh is indeed synonymous with war.

The historical answer begins with the birth of the Sultanate of Aceh Darussalam. According to Adli Abdullah, Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah (1514–1530) declared separation from Pasai, which had fallen under Portuguese influence, in 1519, then freed Pasai from the Portuguese in 1524 and incorporated it into the new state of Aceh. Aceh's conflict with the Portuguese then lasted some 121 years (1520–1641), that is, until Portuguese Melaka fell to the Dutch. In this framework the sultanate was not merely the product of dynastic unification but was born as a project of defence against European maritime power.

Succeeding generations, from Alaidin Riayat Syah al-Qahhar, Alaidin Johansyah and Saidil Mukammil to Iskandar Muda, brought Aceh to the height of its power. Adli Abdullah places Aceh in that period alongside other great Islamic powers such as Ottoman Turkey, Morocco, Persia and the Mughals at Agra, with an influence reaching across the Malay Peninsula (Perak, Pahang, Kedah and Johor). Traces of that influence, he argues, remain visible in Perak in the rencong, the system of kingship, dress, houses and customs. The claim about rank among world powers is better understood as part of Aceh's memory of historical pride than as a quantitative measure.

The analytical core of the thesis is that Acehnese unity rested on two things: a common enemy to be resisted, and Islam. The religious dimension was preserved in the dayah, the centres of traditional Islamic learning, and expressed in the ideology of jihad. Hatred of colonial rule, on this reading, was rooted not in ethnic sentiment but in the conviction that resisting oppression was a religious duty. The Hikayat Prang Sabi of Teungku Chik Pante Kulu (which Adli Abdullah associates with the circle of Teungku Chik Kuta Karang) is the best-known example of such religious mobilisation in the Dutch War, which began on 26 March 1873.

The continuity of resistance is also read into the founding of GAM on 4 December 1976 by Teungku Hasan Muhammad di Tiro, who consciously took the history of resistance against the Dutch as his ideological foundation. Adli Abdullah notes that Hasan Tiro, a protégé of Daud Beureueh, succeeded in instilling an Acehnese spirit for more than thirty years, yet did not pass it on to his own son, Karim Tiro. The paradox is used to show that Acehnese identity is not a biological inheritance but something formed through experience, sacrifice and religious education.

The thesis also contains the motif of betrayal. According to Adli Abdullah, the symbolism of war in Aceh is marked more often by betrayal than by strategic defeat, from the time of Iskandar Muda to Teungku Chik di Tiro, Cut Nyak Dhien and Teuku Nyak Arief. He links the fear of a coup to the fact that the sultans of Aceh did not leave their realm to perform the hajj. The claim is interesting as a hypothesis in political history, though it requires further verification from sultanate sources.

Alongside war, the thesis stresses Aceh's cosmopolitan character. The division of the population into four sukee under al-Qahhar shows that Acehneseness was inclusive of newcomers from India, Arabia, China, Java, Bugis lands and the Peninsula. The tradition of bu leukat (glutinous rice), used to reconcile blood feuds, serves as a metaphor that war and peace are equally embedded in the culture. In the post-peace context, Adli Abdullah draws a normative conclusion: struggle must now be directed against a common enemy in the form of backwardness, and the integrity of a multi-ethnic Aceh must be preserved, including by rejecting the creation of new provinces, which he regarded as contrary to the spirit of the Helsinki MoU.

A reflection on Aceh's future written ahead of the 2012 regional elections framed this identity crisis in terms of four causes. First, there is no longer any ideology compelling the Acehnese to unite around a common interest; Hasan di Tiro made history the source of his ideology, but in 2005 his comrades chose to stop at the word "peace". Second, there is no shared perception of Acehnese identity, which has been weakened by divide-and-rule among former fighters and by the disruption of social structures, and which is now also challenged by globalism and cosmopolitanism. Third, new socio-religious groups separate adat, pulled into the realm of the symbolic, from religion, pulled into the realm of formalism, whereas in Acehnese history the two were joined in a single breath. Fourth, Aceh belongs to a state constantly beset by crises, while a peace settlement delegated to GAM has placed Aceh in a no-win position.

Behind these four causes lies the loss of an Acehnese concept of power and cosmic doctrine: without a sultan, Aceh has lost its highest worldly authority, while the religious authority of the ulama has been eroded by the state apparatus. Fragments of the ancestors' civilisation, above all the intellectual works of the ulama and the sultanate's system of government, are still remembered but no longer move the people's energies, so that every demand, from sharia to independence, ends syo' ujong, never reaching true fulfilment. The reflection concludes that Aceh needs a change of paradigm: to rethink Acehnese identity and to recognise that the future history of Aceh can be written only by the Acehnese themselves.

Gagasan kunciKey ideas

Musuh bersama dan IslamCommon enemy and Islam

Persatuan Aceh secara historis bertumpu pada perlawanan terhadap musuh bersama dan pada Islam sebagai ideologi pemersatu.Acehnese unity historically rested on resistance to a common enemy and on Islam as a unifying ideology.

Perlawanan sebagai jihadResistance as jihad

Penolakan terhadap penjajahan dibingkai sebagai kewajiban agama, bukan kebencian etnis.Rejection of colonial rule was framed as a religious duty rather than ethnic hatred.

Motif pengkhianatanThe motif of betrayal

Ingatan perang Aceh menonjolkan pengkhianatan sebagai sebab kekalahan para tokohnya.Acehnese war memory foregrounds betrayal as the cause of its heroes' downfall.

Identitas kosmopolitanCosmopolitan identity

Keacehan dibentuk oleh pengalaman bersama, bukan keturunan, sehingga terbuka bagi pendatang.Acehneseness is shaped by shared experience rather than descent, and so is open to newcomers.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Sejauh mana narasi "Aceh lahir dari perang" mencerminkan pengalaman historis, dan sejauh mana ia merupakan konstruksi ingatan yang dipakai untuk mobilisasi politik modern?To what extent does the narrative of "Aceh born of war" reflect historical experience, and to what extent is it a construction of memory used for modern political mobilisation?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Aceh lahir dari perang: identitas keacehan sebagai produk perlawanan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aceh-lahir-dari-perang-identitas-keacehan/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →