Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Acehnologi — Sejarah Persia dan Syiah di AcehAcehnologi — Persian and Shia histories in Aceh

Naskah tidak bertanggal; memuat konteks hingga setidaknya 2012Undated manuscript; contains contexts extending to at least 2012

Panduan membaca bagian “Sejarah Persia dan Syiah di Aceh” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.

Source-reading guide to Persian and Shia histories in Aceh in the Acehnologi manuscript.

Sisi mata uang yang ditampilkan dalam pembahasan Persia dan Aceh; identifikasi mengikuti uraian naskah
Sisi mata uang yang ditampilkan dalam pembahasan Persia dan Aceh; identifikasi mengikuti uraian naskahA coin face reproduced in the section on Persia and Aceh identification follows the manuscript discussion Reproduksi dalam naskah Acehnologi; asal koleksi tidak disebutkan pada keterangan gambar
Sisi lain mata uang berlabel IASP 2-1 dalam naskah; inskripsi dan provenance memerlukan pemeriksaan numismatik
Sisi lain mata uang berlabel IASP 2-1 dalam naskah; inskripsi dan provenance memerlukan pemeriksaan numismatikAnother coin face labelled IASP 2-1 in the manuscript inscription and provenance require numismatic examination Reproduksi dalam naskah Acehnologi; asal koleksi tidak disebutkan pada keterangan gambar

Bagian naskah: Sejarah Persia dan Syiah di Aceh.

Entri ini adalah panduan sumber. Petikan terpilih di bawah mempertahankan suara penulis dan bukan ringkasan lengkap seluruh bab. Argumen, penilaian, dan generalisasi di dalam petikan merupakan pandangan penulis pada konteks penyusunan naskah; pembaca perlu membedakannya dari fakta yang telah diuji secara mandiri.

Petikan 1 — Bab ini berusaha menjelaskan tentang sejarah Syi‘ah di Aceh. Sejauh ini, ada dua pendapat mengenai kedatangan Syi‘ah ke Aceh. Pertama, pandangan yang mengatakan bahwa tidak ada pengaruh Syi‘ah di provinsi ini.

Petikan 2 — Dapat dikatakan bahwa kontak intelektual antara Aceh dan Persian atau Aceh dan Syi‘ah telah terjadi sebelum abad ke-17 Masehi. Disebutkan bahwa puncak Peradaban Aceh telah jatuh ketika isu Wahdatul Wujûd dan adanya fatwa dari Mekkah untuk menghalangi perempuan menjadi Sulthanah. Setelah kejatuhan Kerajaan Aceh Darussalam, sistem kekuasaan dikuasai oleh keluarga Jamal al-Layl dari Arab.

Petikan 3 — Untuk mengetahui mengapa orang Aceh tidak terlalu mempermasalahkan asal usul kebudayaan mereka, maka perlu dijelaskan pola pikir yang menjadi arah kosmologi ke-Aceh-an. Ini tentu saja akan menjadi jembatan awal untuk mengenal bagaimana tata pikir orang Aceh dan mengapa mereka begitu susah ditaklukkan, baik oleh penjajah maupun oleh pemerintah pusat, ketika era konflik. Jika kemudian ada upaya untuk membongkar sistem berpikir masyarakat Aceh, maka usaha tersebut agaknya hanya mampu pada usaha fragilitas yaitu upaya menggoyang.

Cara membaca: catat pertanyaan utama, bukti atau pengalaman yang dipakai, dan batas generalisasi. Bandingkan dengan entri tematik yang ditautkan. Istilah seperti “sekarang”, nama jabatan, keadaan lembaga, aturan hukum, dan angka tidak dimutakhirkan secara otomatis.

Rujukan: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. naskah Acehnologi yang diberikan penulis, naskah tidak bertanggal yang diberikan penulis pada 24 Oktober 2026. Nomor bab dan pembagian bagian belum konsisten; rujukan memakai judul bagian dalam tubuh naskah. Metadata berkas bukan tahun penerbitan. Sejumlah foto dan uraian menyebut 2012 serta masa pascadamai. Bagian “Sejarah Persia dan Syiah di Aceh”.

Beberapa catatan rujukan yang menyertai bagian ini dalam naskah (ejaan dan kelengkapan bibliografi mengikuti sumber):

Tentang Syi’ah di dalam bahasa Indonesia, baca (Dahlan, 1997, pp. 1072-1708) . Mengenai studi perkembangan Syi’ah di Indonesia, lihat (Zulkifli, 2009) . Mengenai studi Syi’ah di Asia Tenggara, baca (Marcinkowski C. , 2010) .

(Azra, 1999, pp. 129-155)

(Bustamam-Ahmad, 2002)

Dalam manuskrip tersebut, gelar Sultan Peureulak adalah Syah . Menurut manuskrip ini nama-nama Sultan Peureulak adalah sebagai berikut: Al-Malik al-Sulthan Ibrahim Makhdûm (232 – 279 H.); Al-Malik al-Sulthân Mansyur Syah (279-282 H); al-Malik Sulthan ‘Umar Syah (282-287 H.); al-Malik Sulthan Muhammad Syah (287-290 H); al-Malik Sulthan Ahmad Zahid Syah (290-299 H); al-Malik Sulthan Mansur Muhammad Sa’îd (299-315 H); al-Malik al-Sulthan Ahmad Sa’d (315-319 H); al-Malik Sulthan Khadiwan Syah (319-325 H); al-Malik al-Sulthan Sa’îd Zayn al-Abidîn Syah (325-329 H); al-Malik Sulthan Ahmad Syah (329-333 H); al-Malik Sulthan Nashir Syah (333-342 H); al-Malik al-Sulthan Muhammad al-Fath Amîn Syah (342-359 H); al-Malik al-Sulthan Ibrahim Syah (359-377 H); al-Malik al-Sulthan Muhammad Syah (377-389 H); al-Malik al-Sulthan Mahmud Syah (389-398 H); al-Malik Sulthan Mansur Syah (398-400 H); al-Malik Sulthan Ahmad Syah ‘Abid (400-406 H); al-Malik Sulthan ‘Abd Allah Hamid Syah (406-410 H); al-Malik Sulthan Muhammad ‘Ali Syah (410-433 H). Lihat (Bustamam-Ahmad, 1999, pp. 157-158)

Lihat (Hasjmy A. , 1993, p. 144)

(Hasjmy A. , 1993) . Baca juga (Marcinkowski M. I., 2012)

Catatan pembacaan: pengaruh sastra Persia, penggunaan gelar al-adil, dan afiliasi mazhab adalah pertanyaan yang berbeda. Foto mata uang atau kemiripan istilah tidak dengan sendirinya membuktikan identitas mazhab; diperlukan pembacaan inskripsi, konteks temuan, dan pembandingan sumber.

A source-reading guide to “Persian and Shia histories in Aceh” in Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad’s Acehnologi manuscript. The Indonesian extracts preserve the author’s voice; the linked thematic entry supplies a separate conceptual overview. Read the manuscript as a situated intellectual argument, distinguishing interpretation, field observation, and normative proposals. Dates and institutional descriptions belong to the period discussed, rather than automatically describing present-day Aceh.

Reference: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. author-supplied Acehnologi manuscript, undated manuscript supplied by its author on 24 October 2026. Chapter numbering and part divisions are inconsistent; references identify body headings. File metadata is not a publication date. Several captions and passages refer to 2012 and the post-peace period. Section “Sejarah Persia dan Syiah di Aceh”.

Gagasan kunciKey ideas

Sumber dan tafsirSource and interpretation

Petikan dibedakan dari penjelasan editorial dan dibaca dalam konteks zamannya.Extracts are distinguished from editorial explanation and read in their historical context.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa bukti yang mendukung argumen pada bagian ini, dan apa yang masih perlu diuji?What supports this section’s argument, and what remains to be tested?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Acehnologi — Sejarah Persia dan Syiah di Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/acehnologi-sejarah-persia-dan-syiah-di-aceh/