Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Manajemen musoh: reproduksi permusuhan dalam politik AcehManaging the musoh: the reproduction of enmity in Acehnese politics

1873 – sekitar 20151873 – c. 2015

Musoh (musuh) adalah konsep kunci untuk membaca politik Aceh. Sasarannya bergeser dari kaphe — Portugis, Belanda, Jepang — ke pemerintah Republik Indonesia yang disimbolkan sebagai ‘Jawa’, lalu, setelah perdamaian 2005, ke sesama orang Aceh. ‘Manajemen musoh’ menggambarkan bagaimana permusuhan diproduksi, diolah di luar negeri, dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak. Rakyat Aceh digambarkan terperangkap dalam ‘jala jebakan’, tetapi tetap mampu mengirim pesan simbolik perlawanan.

Musoh (enemy) is a key concept for reading Acehnese politics. Its target shifted from the kaphe — Portuguese, Dutch, Japanese — to the Indonesian government symbolised as ‘Java’, and after the 2005 peace to fellow Acehnese. ‘Managing the musoh’ describes how enmity is produced, processed abroad and exploited by various parties. The Acehnese people are portrayed as caught in a ‘trap net’, yet still able to send symbolic messages of resistance.

Sejak perang meletus pada Desember 1873, para pemimpin pejuang merumuskan ‘akidah perjuangan’ yang mendefinisikan Belanda sebagai kaphe yang wajib diperangi, dipadukan dengan kekuatan fisik, moral, mistik, dan tasawuf. Tindakan poh kaphe menjadi wujud kebencian itu dan dikenal dengan sebutan Aceh Pungo. Belakangan musoh dialihkan kepada pemerintah Indonesia dengan label PAI; reproduksi kebencian ‘digiling dan dimasak’ di luar negeri melalui berbagai terbitan, sementara rakyat Aceh dan aparat Indonesia menanggung korbannya. MoU Helsinki 2005 meleburkan konsep musoh, dan ‘Jawa’ berubah menjadi ‘kawan baru’.

Setelah damai, GAM dilebur menjadi KPA dan PA, lalu terpecah lagi dengan lahirnya PNA, dan permusuhan muncul di antara sesama orang Aceh. Ketika teumeunak (memaki) dan peuingat (peringatan) tidak lagi didengar, yang muncul adalah teumimbak (saling menembak). Strategi pemerintah dibaca sebagai dua jalur: ‘membina’ mantan elite melalui akses materi dan jabatan, serta ‘membinasakan’ yang masih bersenjata dengan label separatis, kriminal, atau teroris; strategi pecah-belah ini dinilai belum berhasil mendatangkan damai di hati rakyat. Pihak luar negeri pun disebut ikut melindungi mantan elite yang pernah tinggal di sana dan mengarahkan opini.

Rakyat menanggapinya dengan peubiyeu (membiarkan). Tradisi musoh mengenal ungkapan ata hana dipeuna, ‘yang tidak ada diadakan’; perumpamaannya adalah jala (meujeu) yang isinya dibawa pulang bila berguna dan dibuang ke tepi sungai bila tidak. Namun rakyat juga mengirim pesan simbolik, misalnya dengan menolong pengungsi Rohingya, dan pernah melakukan perlawanan diam pada 2003. Analisis ini ditulis menjelang satu dasawarsa damai (2005–2015) dan menegaskan bahwa poh seumeupoh bukan strategi yang jitu.

Genealogi musoh dapat diperinci: kaphe; siapa pun yang membantu kaphe (menjelaskan revolusi sosial); orang Islam yang menghalangi syariat pascakemerdekaan; ‘Si PAI’; hingga sesama orang Aceh atas nama ‘jamaah’ (ureung Aceh poh ureung Aceh).

From the outbreak of war in December 1873, resistance leaders formulated an ‘article of faith of the struggle’ that defined the Dutch as kaphe whom it was obligatory to fight, combining physical, moral, mystical and Sufi strength. The act of poh kaphe, killing infidels, expressed this hatred and became known as Aceh Pungo. Later the musoh was transferred to the Indonesian government under the label PAI; hatred was ‘ground and cooked’ abroad through publications, while Acehnese civilians and Indonesian security forces bore the casualties. The 2005 Helsinki MoU dissolved the concept of the musoh, and ‘Java’ became a ‘new friend’.

After the peace, GAM was folded into the KPA and the Partai Aceh, then split again with the founding of the PNA, and enmity arose among Acehnese themselves. When teumeunak (cursing) and peuingat (warnings) are no longer heeded, what follows is teumimbak (shooting at one another). Government strategy is read as twofold: ‘cultivating’ former elites through access to material resources and positions, and ‘eliminating’ those still armed under the labels of separatist, criminal or terrorist; this divide-and-rule approach is judged not to have brought peace to people’s hearts. Foreign parties are also said to protect former elites who once lived abroad and to steer opinion.

Ordinary people respond with peubiyeu, letting things be. The tradition of the musoh knows the phrase ata hana dipeuna, ‘making something out of nothing’; its metaphor is the casting net (meujeu), whose catch is taken home if useful and thrown on the riverbank if not. Yet people also send symbolic messages, for example by helping Rohingya refugees, and staged a silent resistance in 2003. Written on the eve of a decade of peace (2005–2015), the analysis insists that poh seumeupoh, mutual killing, is no sound strategy.

The genealogy of musoh can be detailed: kaphe; anyone helping the kaphe (explaining the social revolution); Muslims obstructing sharia after independence; ‘Si PAI’; and finally fellow Acehnese in the name of the ‘jamaah’ (ureung Aceh poh ureung Aceh).

Gagasan kunciKey ideas

Pergeseran sasaran musuhThe shifting target of enmity

Dari kaphe ke ‘Jawa’ lalu ke sesama orang Aceh.From infidel colonisers to ‘Java’ and then to fellow Acehnese.

Dari teumeunak ke teumimbakFrom cursing to shooting

Eskalasi verbal yang tak diredam berujung pada kekerasan.Unchecked verbal escalation ends in violence.

Jala jebakanThe trap net

Rakyat menjadi objek strategi pihak dalam dan luar negeri.The people become objects of domestic and foreign strategies.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana sebuah masyarakat pascakonflik dapat berhenti mereproduksi musuh ketika permusuhan itu sendiri menguntungkan sebagian pihak?How can a post-conflict society stop reproducing enemies when enmity itself benefits some parties?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Manajemen musoh: reproduksi permusuhan dalam politik Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/manajemen-musoh/