Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Sentimen anti-Jawa dalam konflik AcehAnti-Javanese sentiment in the Aceh conflict

± 1976–2005c. 1976–2005

Selama hampir tiga dekade konflik di bawah kepemimpinan Tgk. Hasan di Tiro, sentimen anti-Jawa merebak di Aceh dan menjadi bagian sentral propaganda GAM. Indonesia disamakan dengan negara Jawa, sehingga perjuangan dibingkai sebagai upaya keluar dari kekuasaan Jawa, bukan melawan Indonesia. Kekerasan menimpa warga Jawa, sementara TNI yang dipandang sebagai simbol Jawa juga melakukan kekerasan. Kisah ini cenderung ditutupi oleh kedua pihak setelah MoU Helsinki dan belum diteliti secara menyeluruh.

During nearly three decades of conflict led by Hasan di Tiro, anti-Javanese sentiment spread across Aceh and became central to GAM propaganda. Indonesia was equated with a Javanese state, so the struggle was framed as an effort to leave Javanese rule rather than to fight Indonesia. Violence struck Javanese residents, while the military, seen as a symbol of Java, also committed violence. After the Helsinki MoU both sides have tended to cover up this history, which has yet to be researched comprehensively.

Bagi pemerintah, pemberontak secara hukum adalah mereka yang hendak memisahkan diri dari RI, menolak Pancasila, dan tidak mengakui UUD 1945. Sebagian orang Aceh membaca hal yang sama dengan logika berbeda: apa pun yang datang dari Jakarta dianggap datang dari Jawa, sehingga Pancasila dan UUD 1945 ditolak sebagai produk Jawa. Emosi ini dikelola oleh pimpinan GAM dan melekat pada spirit perjuangan; orang Jawa digambarkan tersenyum manis tetapi tidak dapat dipercaya.

Kekerasan berlangsung dari kedua arah. GAM disebut membunuh orang Aceh yang dipandang berada di luar garis perjuangan, sekaligus membunuh orang Jawa dan membakar tempat tinggal mereka. TNI, yang dipersepsikan sebagai simbol Jawa, juga melakukan kekerasan serupa. Banyak warga Jawa meninggalkan pekerjaan dan harta benda di Aceh untuk kembali ke Pulau Jawa. Upaya mengusir etnis Jawa dari Aceh belum pernah diteliti secara komprehensif, dan setelah perdamaian 2005 masing-masing pihak cenderung menutupinya.

Intensitas sentimen ini tidak seragam. Di Aceh Tengah dan sekitarnya, hubungan kedua etnis dikelola relatif baik, sedangkan di sebagian Aceh Timur seperti Peureulak, kekuatan anti-Jawa sangat kuat. Diaspora Jawa sendiri digambarkan menyebar hingga Merauke, mempertahankan watak budayanya, fasih berbahasa setempat, dan tidak menonjolkan diri.

Pembacaan ini juga menggarisbawahi asimetri historis: Jawa telah melekat pada sendi-sendi kenegaraan, sedangkan Aceh menyumbang penyebaran agama dan modal perjuangan. Menghapus salah satunya sama dengan merusak garis sejarah kebangsaan, sehingga permusuhan keduanya dikelola dalam waktu yang sangat panjang.

For the government, rebels in law are those who seek to secede from the Republic, reject Pancasila and refuse to recognise the 1945 Constitution. Some Acehnese read the same facts through a different logic: whatever came from Jakarta was taken to come from Java, so Pancasila and the Constitution were rejected as Javanese products. GAM’s leadership channelled this emotion into the spirit of the struggle; the Javanese were portrayed as smiling sweetly yet untrustworthy.

Violence ran in both directions. GAM is said to have killed Acehnese regarded as outside the struggle, as well as killing Javanese and burning their homes. The military, perceived as a symbol of Java, committed similar violence. Many Javanese abandoned jobs and property in Aceh to return to Java. Efforts to drive the Javanese out of Aceh have never been comprehensively studied, and since the 2005 peace each side has tended to keep them hidden.

The intensity of the sentiment varied. In Central Aceh and its surroundings relations between the two groups were managed relatively well, whereas in parts of East Aceh such as Peureulak anti-Javanese forces were very strong. The Javanese diaspora itself is described as reaching as far as Merauke, keeping its cultural character, speaking local languages fluently and avoiding prominence.

The reading also underlines a historical asymmetry: Java has become embedded in the foundations of the state, while Aceh contributed the spread of Islam and the capital of struggle. Erasing either would damage the lines of national history, which is why their enmity has been managed over a very long time.

Gagasan kunciKey ideas

Indonesia sebagai negara JawaIndonesia as a Javanese state

Perlawanan dibingkai sebagai keluar dari Jawa, bukan melawan Indonesia.Resistance was framed as leaving Java rather than fighting Indonesia.

Sejarah yang ditutupiA concealed history

Kekerasan terhadap warga Jawa dan oleh aparat belum diteliti tuntas.Violence against Javanese residents and by the security forces remains under-studied.

Variasi lokalLocal variation

Aceh Tengah relatif terkelola; Peureulak menjadi basis anti-Jawa yang kuat.Central Aceh was relatively calm; Peureulak was a strong anti-Javanese base.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa kekerasan terhadap warga sipil Jawa di Aceh jarang dibicarakan setelah perdamaian?Why is violence against Javanese civilians in Aceh rarely discussed after the peace?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Sentimen anti-Jawa dalam konflik Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/sentimen-anti-jawa-dalam-konflik-aceh/