Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Pembantaian Teungku Bantaqiah di Beutong Ateuh (1999)The massacre of Teungku Bantaqiah at Beutong Ateuh (1999)

Juli 1999July 1999

Pada Juli 1999 aparat militer Indonesia membunuh Teungku Bantaqiah, pemimpin sebuah dayah di Beutong Ateuh, pedalaman Nagan Raya, bersama lima puluh enam muridnya. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu pembantaian paling brutal selama konflik GAM. Bagi warga Nagan Raya, ia menjadi salah satu penanda awal masuknya konflik ke wilayah mereka.

In July 1999 Indonesian military personnel killed Teungku Bantaqiah, head of a dayah at Beutong Ateuh in the interior of Nagan Raya, together with fifty-six of his students. The event is recorded as one of the most brutal massacres of the GAM conflict. For Nagan Raya residents it marks the conflict’s arrival in their region.

Menurut Edward Aspinall, Teungku Bantaqiah pernah ditangkap pada 1993 dengan tuduhan memberikan dukungan logistik dan ilmu kebal kepada kader GAM yang berkemah di dekat dayahnya di Beutong Ateuh. Enam tahun kemudian, dayahnya menjadi lokasi pembantaian yang menewaskannya bersama lima puluh enam santri.

Dalam ingatan kebanyakan warga yang ditemui Birchok, konflik GAM baru menjangkau Nagan Raya pada 1998. Pembantaian Bantaqiah dan kejatuhan Soeharto pada 1998 mungkin membuat 1998–1999 diingat sebagai awal ketidakpastian. Sejak itu warga di sekitar Jeuram mengingat baku tembak malam hari dan penculikan. Menurut tuturan lisan, konflik di Nagan Raya kurang bercorak ideologis dibanding daerah lain; penculikan dan pungutan uang perlindungan menjadi semacam ‘industri rumahan’ kelompok yang lebih mengejar keuntungan.

Kebanyakan warga menyalahkan gerilyawan yang ‘datang dari Pidie’ atas awal konflik, tetapi militer juga sangat ditakuti. Pengalaman seperti ini, ditambah tsunami 2004 di Meulaboh yang hanya berjarak sekitar lima puluh kilometer, membuat kematian dan akhirat terasa dekat bagi banyak orang muda, mengacak urutan ideal hidup yang menempatkan kesibukan dunia sebelum persiapan akhirat.

Peristiwa Beutong Ateuh juga menyingkap kerentanan dayah dan ulama dalam konflik bersenjata: pengetahuan esoteris dan jaringan santri dapat dibaca aparat sebagai ancaman keamanan, sementara bagi warga dayah tetap menjadi tempat mencari ketenangan.

According to Edward Aspinall, Teungku Bantaqiah had been arrested in 1993, accused of providing logistical support and esoteric invulnerability knowledge to GAM cadres camped near his dayah at Beutong Ateuh. Six years later his dayah became the site of a massacre that killed him and fifty-six students.

In the memory of most residents Birchok met, the GAM conflict reached Nagan Raya only in 1998. The Bantaqiah massacre and Soeharto’s fall the year before may have made 1998–1999 remembered as the onset of uncertainty. From then on residents around Jeuram recalled nightly crossfire and kidnappings. According to oral accounts the conflict in Nagan Raya was less ideological than elsewhere; kidnapping and extortion of protection money became a kind of ‘cottage industry’ for gangs more interested in profit.

Most residents blamed guerrillas ‘coming from Pidie’ for the conflict’s start, but the military was also widely feared. Such experiences, together with the 2004 tsunami at Meulaboh only some fifty kilometres away, made death and the hereafter feel close to many young people, scrambling the ideal order of life that places worldly concerns before preparation for the hereafter.

The Beutong Ateuh events also reveal the vulnerability of dayah and ulama in armed conflict: esoteric knowledge and student networks could be read by security forces as threats, while for residents the dayah remained a place to seek peace.

Gagasan kunciKey ideas

Dayah di garis tembakThe dayah in the line of fire

Ilmu kebal dan jaringan santri dicurigai aparat sebagai dukungan bagi GAM.Invulnerability knowledge and student networks were suspected by security forces as support for GAM.

Konflik tanpa ideologiConflict without ideology

Di Nagan Raya kekerasan sering bercampur dengan kepentingan ekonomi.In Nagan Raya violence often mixed with economic interest.

Kematian yang mendekatDeath drawing near

Pengalaman kekerasan mengubah cara orang muda memandang akhirat.Experiences of violence changed how the young viewed the hereafter.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana sebuah masyarakat mengingat kekerasan yang menimpa lembaga yang dianggap paling suci di tengahnya?How does a community remember violence inflicted on the institution it holds most sacred?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Pembantaian Teungku Bantaqiah di Beutong Ateuh (1999)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/pembantaian-teungku-bantaqiah/