Acehnologi — Lintas Batas Budaya Agama dan Kosmopolitanisme di AcehAcehnologi — Culture religion and cosmopolitanism across boundaries
Naskah tidak bertanggal; memuat konteks hingga setidaknya 2012Undated manuscript; contains contexts extending to at least 2012
Panduan membaca bagian “Lintas Batas Budaya Agama dan Kosmopolitanisme di Aceh” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.
Source-reading guide to Culture religion and cosmopolitanism across boundaries in the Acehnologi manuscript.
Bagian naskah: Lintas Batas Budaya Agama dan Kosmopolitanisme di Aceh.
Entri ini adalah panduan sumber. Petikan terpilih di bawah mempertahankan suara penulis dan bukan ringkasan lengkap seluruh bab. Argumen, penilaian, dan generalisasi di dalam petikan merupakan pandangan penulis pada konteks penyusunan naskah; pembaca perlu membedakannya dari fakta yang telah diuji secara mandiri.
Petikan 1 — Salah satu kelebihan suatu masyarakat adalah ketika mereka mampu mengawinkan beberapa unsur peradaban dalam satu tarikan nafas. Dalam hal ini, beberapa negara maju memang sedang berupaya mengawinkan tiga aspek dalam satu denyut nadi masyarakatnya, yaitu: Pertama, bagaimana mampu mempertahankan budaya sebagai bagian terpenting dan mencari ciri khas kelompok masyarakat tersebut. Kedua, bagaimana mempertahankan kehidupan agama di tengah-tengah kehidupan kontemporer dimana, beberapa sendi masyarakatnya diukur melalui materialisme.
Petikan 2 — Produk atau manusia yang menikmati globalisasi dapat dikatakan sebagai gejala kosmopolitan. Sebab mereka sudah berhasil menikmati buah dari globalisasi. Di Aceh misalnya, sejak maraknya chatting dalam dunia maya, tidak sedikit anak muda-mudi yang menghabiskan waktunya di depan komputer.
Petikan 3 — Akhirnya, studi ini ingin ditutup bahwa angin perubahan selalu berhembus dalam kehidupan kita. Tentu saja angin tersebut ada yang baik dan buruk. Tinggal kita bagaimana menyikapi kesiapan kita dengan angin perubahan.
Cara membaca: catat pertanyaan utama, bukti atau pengalaman yang dipakai, dan batas generalisasi. Bandingkan dengan entri tematik yang ditautkan. Istilah seperti “sekarang”, nama jabatan, keadaan lembaga, aturan hukum, dan angka tidak dimutakhirkan secara otomatis.
Rujukan: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. naskah Acehnologi yang diberikan penulis, naskah tidak bertanggal yang diberikan penulis pada 24 Oktober 2026. Nomor bab dan pembagian bagian belum konsisten; rujukan memakai judul bagian dalam tubuh naskah. Metadata berkas bukan tahun penerbitan. Sejumlah foto dan uraian menyebut 2012 serta masa pascadamai. Bagian “Lintas Batas Budaya Agama dan Kosmopolitanisme di Aceh”.
Beberapa catatan rujukan yang menyertai bagian ini dalam naskah (ejaan dan kelengkapan bibliografi mengikuti sumber):
Bab ini ditulis bersama dengan Fitri Zulfidar.
Han Johnston dan Bert Klandermans, eds. , The Cultural Analysis of Social Movemen ts , Social Movements and Cultu re (Minneapolis: University of Minnesota Press 1995). 5.
Bowen , Religion in Practices: An Approach to the Anthropology of Religi on. , 3.
Tentang ulama ini, baca Azra , The Origins of Islamic Reformism: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulama in the 17th and 18th Centuri es, A.H. Johns, "The Qur'ân in the Malay World: Reflections on 'Abd Al-Ra'ûf of Singkel (1615-1693), " Journal of Islamic Studi es 9, 2 (1998) ,120-145.
Wieringa, "The Dream of the King and the Holy War against the Dutch: The "Koteubah" Of the Acehnese Epic, "Hikayat Prang Gompeuni." 298-308.
Namun sebagai bahan pengantar, baca misalnya Ulrich Beck, "Cosmopolitical Realism: On the Distinction between Cosmopolitanism in Philosophy and the Social Sciences, " Global Networ ks 4, no. 2 (2004). 131-56.
A source-reading guide to “Culture religion and cosmopolitanism across boundaries” in Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad’s Acehnologi manuscript. The Indonesian extracts preserve the author’s voice; the linked thematic entry supplies a separate conceptual overview. Read the manuscript as a situated intellectual argument, distinguishing interpretation, field observation, and normative proposals. Dates and institutional descriptions belong to the period discussed, rather than automatically describing present-day Aceh.
Reference: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. author-supplied Acehnologi manuscript, undated manuscript supplied by its author on 24 October 2026. Chapter numbering and part divisions are inconsistent; references identify body headings. File metadata is not a publication date. Several captions and passages refer to 2012 and the post-peace period. Section “Lintas Batas Budaya Agama dan Kosmopolitanisme di Aceh”.
Gagasan kunciKey ideas
Sumber dan tafsirSource and interpretation
Petikan dibedakan dari penjelasan editorial dan dibaca dalam konteks zamannya.Extracts are distinguished from editorial explanation and read in their historical context.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa bukti yang mendukung argumen pada bagian ini, dan apa yang masih perlu diuji?What supports this section’s argument, and what remains to be tested?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Acehnologi — Lintas Batas Budaya Agama dan Kosmopolitanisme di Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/acehnologi-lintas-batas-budaya-agama-dan-kosmopolitanisme-di-aceh/