Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Saudagar dan aneuk keude: etos dagang AcehSaudagar and aneuk keude: the Acehnese trading ethos

Etos dagang Aceh dirumuskan melalui dua figur: saudagar, pedagang besar yang memadukan bisnis dan nilai agama, dan aneuk keude, magang toko yang ditempa kesabaran, kejujuran dan loyalitas. M. Adli Abdullah (2007) menghadapkan etos ini pada ekonomi pascatsunami dan pascakonflik yang bergantung pada anggaran negara dan proyek konstruksi. Gagasan ini menempatkan perdagangan, bukan belanja anggaran, sebagai mesin historis kemakmuran Aceh.

The Acehnese trading ethos is articulated through two figures: the saudagar, the great merchant who combined business with religious values, and the aneuk keude, the shop apprentice formed by patience, honesty and loyalty. M. Adli Abdullah (2007) set this ethos against a post-tsunami and post-conflict economy dependent on state budgets and construction projects. The idea positions trade, not budget spending, as the historical engine of Acehnese prosperity.

Kejayaan Aceh pada masa kesultanan dalam ingatan kolektif selalu dikaitkan dengan pelabuhan yang sibuk, ekspor-impor yang tak henti dan kalangan ulama yang terpelajar. Dari ingatan itu lahir argumen bahwa daya saing Aceh di masa lalu terutama bersumber dari banyaknya kaum pedagang yang menghidupkan ekonomi rakyat dan menciptakan lapangan kerja. M. Adli Abdullah mengembangkan argumen ini dalam dua esai di Serambi Indonesia pada 2007, "Lada Susoh ke Boston" dan "Membangun Aceh: Belajar dari Aneuk Keude".

Figur pertama adalah saudagar. Menurut Adli Abdullah, istilah ini berasal dari dunia pedagang India yang sekaligus menjadi pendakwah di Asia Tenggara, sehingga perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan ini saling bertaut. Ia juga merujuk qanun kerajaan yang disusun Syaikh Samsulbahri atas permintaan Sultan Alaidin Mansur Syah pada 1272 H (sekitar 1855–1856 M), yang salah satu pasalnya mewajibkan rakyat Aceh belajar dan mengajarkan jual beli, baik di dalam negeri maupun dengan bangsa asing. Contoh historis yang diangkat adalah Labai Tapa dari Susoh, seorang lebai masjid yang menjadi pengekspor lada ke Salem dan Boston, serta jaringan saudagar Aceh di Pulau Pinang pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Figur kedua adalah aneuk keude, secara harfiah "anak kedai", yakni pemuda yang memulai hidup sebagai pekerja atau magang di toko orang lain sebelum mandiri sebagai pedagang. Adli Abdullah menyebut tiga prasyarat yang menempa mereka: kesabaran, kejujuran dan loyalitas. Ia mencatat bahwa banyak aneuk keude pada 1970-an dan 1980-an kemudian menjadi pedagang kaya, meskipun bukan lulusan perguruan tinggi. Pola serupa terlihat pada pedagang asal Pidie di Medan dan di Aceh, yang berangkat tanpa modal dari kampung, serta pada perantau Aceh di Malaysia yang kemudian menjadi pebisnis yang diperhitungkan.

Etos ini dibandingkan dengan tradisi dagang komunitas Cina dan India yang mampu bertahan di mana pun mereka berada karena keuletan dalam perdagangan, bukan karena akses pada anggaran negara. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa yang dipersoalkan bukan etnisitas, tetapi pola pikir: berdagang berarti memadukan kesabaran dengan kreativitas, dan kekayaan diperoleh melalui proses panjang yang menguji karakter.

Sebagai lawan dari etos itu, Adli Abdullah menggambarkan ekonomi politik Aceh awal pascadamai yang ditentukan oleh "tiga kutub": kelompok yang mengajukan anggaran, kelompok yang mengesahkannya dan kelompok yang menghabiskannya. Dalam pola ini orang "menanti uang" alih-alih "mencari uang", kontraktor menggantikan pedagang sebagai model keberhasilan, dan bank daerah lebih banyak menyalurkan kredit untuk jasa konstruksi dan pegawai negeri daripada untuk perdagangan. Ia juga mengkritik pengusaha yang menyebut diri saudagar tetapi hanya bermain di tingkat lokal, berkolusi dalam pembagian proyek APBN dan APBD, sehingga melahirkan "lebai modern" yang justru merugikan masyarakat.

Kritik itu disampaikan menjelang Kongres Saudagar Aceh Serantau di Banda Aceh pada 28 Juli 2007. Adli Abdullah berpendapat bahwa gelar saudagar tidak lahir dari deklarasi kongres, melainkan dari pengakuan masyarakat atas "ruh bisnis" yang jujur dan membawa pesan agama, sebagaimana sebutan toke dalam masyarakat Cina atau tuan dalam masyarakat Jawa diberikan, bukan diklaim. Bagi studi Aceh, pasangan konsep saudagar dan aneuk keude menawarkan lensa untuk membaca kewirausahaan, migrasi dagang ke Medan dan Malaysia, serta ketegangan antara ekonomi pasar rakyat dan ekonomi rente berbasis proyek.

Kritik terhadap etos ekonomi pascakonflik juga diarahkan pada apa yang dapat disebut kapitalisme sehari-hari di Aceh. Contoh yang paling sering dikemukakan adalah dunia kontraktor: proyek senilai Rp700 juta, misalnya, hanya dikerjakan dengan Rp300–400 juta, sehingga banyak jalan dan bangunan publik yang dibangun sejak 1990-an hingga 2000-an mengecewakan mutunya, sementara sebagian selisihnya mengalir kepada elite yang memberi proyek. Pola mencari untung berlebihan yang sama dikenali dalam keseharian pasar: pedagang di Pasar Aceh, Banda Aceh, membuka harga tiga atau empat kali lipat, petugas SPBU "memainkan" angka meteran beberapa rupiah, dan kasir mengganti uang kembalian dengan permen.

Gejala ini dibaca sebagai paradoks bagi masyarakat yang menjadikan Islam agama resmi dan bercita-cita membangun Aceh Baru: tujuan bermasyarakat untuk saling menyejahterakan tergantikan oleh kebiasaan mengutamakan keuntungan diri, yang kemudian ditiru rakyat kecil ketika mendapat kesempatan. Seruan untuk mengakhirinya bertumpu pada argumen keagamaan, yaitu bahwa keuntungan dengan cara tidak sehat tidak membawa berkah karena memakan harta orang lain, dan pada tuntutan agar elite menghentikan "kerja sama" dengan kontraktor yang menyengsarakan rakyat.

In collective memory, the glory of Aceh in the sultanate period is always associated with busy ports, unceasing export and import, and a learned class of ulama. From that memory comes the argument that Aceh's past competitiveness derived above all from its many traders, who enlivened the popular economy and created employment. M. Adli Abdullah developed this argument in two essays in Serambi Indonesia in 2007, "Lada Susoh ke Boston" (Susoh Pepper to Boston) and "Membangun Aceh: Belajar dari Aneuk Keude" (Building Aceh: Learning from the Aneuk Keude).

The first figure is the saudagar. According to Adli Abdullah, the term comes from the world of Indian merchants who were also preachers in Southeast Asia, so that trade and the spread of Islam in the region were intertwined. He also refers to a royal qanun drawn up by Syaikh Samsulbahri at the request of Sultan Alaidin Mansur Syah in 1272 AH (around 1855–1856 CE), one article of which obliged the people of Aceh to learn and teach buying and selling, both at home and with foreign nations. The historical examples he raises are Labai Tapa of Susoh, a mosque official who became an exporter of pepper to Salem and Boston, and the network of Acehnese merchants in Penang from the nineteenth to the early twentieth century.

The second figure is the aneuk keude, literally 'child of the shop', a young man who begins life as a worker or apprentice in someone else's shop before becoming an independent trader. Adli Abdullah names three qualities that form them: patience, honesty and loyalty. He notes that many aneuk keude of the 1970s and 1980s later became wealthy traders, although they were not university graduates. A similar pattern is seen among traders from Pidie in Medan and in Aceh, who set out from their villages without capital, and among Acehnese migrants in Malaysia who later became respected businesspeople.

This ethos is compared with the trading traditions of Chinese and Indian communities, which survive wherever they settle through tenacity in commerce rather than through access to state budgets. The comparison shows that the issue is not ethnicity but mindset: trading means combining patience with creativity, and wealth is acquired through a long process that tests character.

As the antithesis of this ethos, Adli Abdullah describes the political economy of early post-peace Aceh as governed by 'three poles': those who propose budgets, those who approve them and those who spend them. In this pattern people 'wait for money' rather than 'look for money', contractors replace traders as the model of success, and the regional bank channels credit mainly to construction services and civil servants rather than to commerce. He also criticised businessmen who call themselves saudagar but operate only locally, colluding in the distribution of national and regional budget projects, thereby producing 'modern lebai' who in fact harm society.

The critique was made in the run-up to the Congress of Acehnese Merchants Across the Region (Kongres Saudagar Aceh Serantau) in Banda Aceh on 28 July 2007. Adli Abdullah argued that the title of saudagar is not born of a congress declaration but of public recognition of an honest 'spirit of business' that carries a religious message, just as the title toke among the Chinese or tuan among the Javanese is conferred rather than claimed. For Aceh studies, the paired concepts of saudagar and aneuk keude offer a lens for reading entrepreneurship, trading migration to Medan and Malaysia, and the tension between a popular market economy and a project-based rent economy.

Criticism of the post-conflict economic ethos has also targeted what might be called everyday capitalism in Aceh. The example most often cited is the contracting business: a project worth Rp700 million, for instance, is carried out with only Rp300–400 million, so that many roads and public buildings constructed from the 1990s to the 2000s are of disappointing quality, while part of the difference flows to the elites who award the projects. The same pattern of excessive profit-seeking is recognised in everyday market life: traders in Pasar Aceh, Banda Aceh, open with prices three or four times the real value, petrol station attendants "play" with the meter by a few rupiah, and cashiers give sweets instead of change.

The phenomenon is read as a paradox for a society that has made Islam its official religion and aspires to build a New Aceh: the social goal of mutual welfare gives way to a habit of putting one's own profit first, which ordinary people imitate in turn when the opportunity arises. Calls to end it rest on a religious argument, that profit gained by unsound means brings no blessing because it consumes other people's property, and on a demand that elites end their "cooperation" with contractors that impoverishes the people.

Gagasan kunciKey ideas

Dagang sebagai mesin sejarahTrade as historical engine

Kemakmuran Aceh masa lalu dibaca sebagai hasil jaringan pedagang, bukan belanja negara.Aceh's past prosperity is read as the product of trading networks, not state spending.

Sabar, jujur, loyalPatient, honest, loyal

Tiga nilai aneuk keude menjadi prasyarat keberhasilan pedagang Aceh.The three values of the aneuk keude are the preconditions of Acehnese trading success.

Saudagar dan dakwahMerchant and mission

Gelar saudagar memadukan keberhasilan bisnis dengan pembawaan nilai agama.The title saudagar combines business success with the bearing of religious values.

Kritik ekonomi proyekCritique of the project economy

Ketergantungan pada APBN/APBD dan kontrak konstruksi dipandang melemahkan etos dagang.Dependence on state budgets and construction contracts is seen as eroding the trading ethos.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah etos aneuk keude masih bertahan dalam generasi pedagang Aceh pascatsunami, dan bagaimana ia berinteraksi dengan ekonomi proyek berbasis dana otonomi khusus?Does the aneuk keude ethos survive among post-tsunami generations of Acehnese traders, and how does it interact with a project economy based on special autonomy funds?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Saudagar dan aneuk keude: etos dagang Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/saudagar-dan-aneuk-keude-etos-dagang-aceh/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →