BidangField 05
Antropologi AcehAcehnese Anthropology
Antropologi Aceh adalah disiplin yang mengkaji kebudayaan-kebudayaan di tanah Aceh, dari Sabang hingga Tamiang dan Simeulue, serta kebudayaan yang dibawa orang Aceh ke tempat lain, dari sudut pandang orang Aceh sendiri. Disiplin ini lahir dari dua kegelisahan. Pertama, citra Aceh dalam ilmu pengetahuan lama dibentuk oleh etnografi kolonial, terutama karya Snouck Hurgronje, yang memotret Aceh Besar sebagai ‘Aceh’ dan memisahkan adat dari hukum Islam untuk kepentingan penaklukan. Kedua, antropologi Indonesia cenderung menjadikan budaya Jawa sebagai wakil budaya nasional, sementara Aceh diperlakukan sebagai ‘budaya daerah’. Sebagai jawaban, Antropologi Aceh tidak memposisikan masyarakatnya sebagai ‘yang lain’, melainkan berupaya menerjemahkan kata, gagasan, dan makna budaya sendiri, dengan Islam sebagai basis kesadaran dan adat sebagai basis kehidupan sosial. Dalam kerangka studi Aceh, disiplin ini ditempatkan setelah sejarah, kosmologi, filsafat, dan sosiologi, dan bertujuan memperkuat turi droe, yakni pengenalan diri. Pertanyaan intinya meliputi: mengapa inti budaya Aceh bertahan dari kepungan penjajah, Indonesia, Melayu, dan budaya global; bagaimana batas-batas kebudayaan di dalam Aceh terbentuk; bagaimana orang Aceh membawa budayanya ke perantauan; dan bagaimana gejala baru seperti warung kopi, papan bunga, atau ketergantungan pada negara mengubah cara orang Aceh memandang dirinya. Ranahnya mencakup antropologi kebudayaan, arkeologi, antropologi biologi, antropologi linguistik, serta antropologi religi.
Acehnese anthropology is the discipline that studies the cultures on Acehnese soil, from Sabang to Tamiang and Simeulue, as well as the cultures Acehnese carry elsewhere, from the standpoint of the Acehnese themselves. It arises from two concerns. First, Aceh's image in older scholarship was shaped by colonial ethnography, above all Snouck Hurgronje's, which portrayed Aceh Besar as ‘Aceh’ and separated adat from Islamic law in the service of conquest. Second, Indonesian anthropology has tended to treat Javanese culture as the representative of national culture, relegating Aceh to the status of a ‘regional culture’. In response, Acehnese anthropology does not cast its society as ‘the other’ but seeks to translate the words, ideas and meanings of its own culture, taking Islam as the basis of consciousness and adat as the basis of social life. Within the framework of Aceh studies it follows history, cosmology, philosophy and sociology, and aims to strengthen turi droe, self-knowledge. Its core questions include: why the core of Acehnese culture has survived the pressures of colonisers, the Indonesian state, Malay identity and global culture; how cultural boundaries within Aceh are formed; how Acehnese carry their culture into the diaspora; and how new phenomena such as coffee-shop society, flower boards or dependence on the state are changing how Acehnese see themselves. Its branches span cultural anthropology, archaeology, biological anthropology, linguistic anthropology and the anthropology of religion.
Lihat posisinya dalam peta filosofisSee its place in the philosophical map →
5.1 Teori-teori antropologi AcehAnthropological theory and Aceh
Kritik atas warisan kolonial dan sentrisme Jawa dalam antropologi, serta upaya membangun teori dari kebudayaan Aceh sendiri melalui penerjemahan kata, gagasan, dan makna.Critique of the colonial legacy and Java-centrism in anthropology, and efforts to build theory from Acehnese culture itself by translating its words, ideas and meanings.
5.2 Budaya AcehAcehnese culture
Peta wilayah kebudayaan Aceh beserta batas-batasnya, dan perubahan budaya kontemporer seperti masyarakat warung, papan bunga, iklan, serta ketergantungan ekonomi.The map of Aceh's cultural zones and their boundaries, and contemporary cultural change such as coffee-shop society, flower boards, advertisements and economic dependence.
5.3 Agama & budaya: ritual dan tradisiReligion & culture: ritual and tradition
Hubungan Islam dan kebudayaan dalam ritual dan tradisi, dengan religi, budaya, dan mitos sebagai kompas, serta Islam sebagai basis reproduksi kebudayaan.The relationship between Islam and culture in ritual and tradition, with religion, culture and myth as compasses and Islam as the basis of cultural reproduction.
TradisiTradition Khanduri La’ôtKhanduri Laot (sea feast)
Khanduri La’ôt adalah kenduri adat nelayan sebagai ungkapan syukur atas hasil laut, dipimpin oleh Panglima La’ôt. Di sebagian kampung, nelayan menyumbang untuk membeli kerbau yang disembelih dan dibagikan, lalu sebagian…The Khanduri Laot is a customary fishers' feast expressing gratitude for the bounty of the sea, led by the Panglima Laot. In some villages fishers pool contributions to buy a…
TradisiTradition Khanduri: kenduri dalam siklus kerja orang AcehKhanduri: ritual feasts in the Acehnese work cycle
Khanduri (kenduri) menyertai hampir setiap bentuk jak, yaitu perjalanan mencari nafkah atau beribadah. Ada khanduri thon bagi pedagang, khanduri blang sebelum turun ke sawah, khanduri laot di tepi laut, dan…Khanduri (ritual feasts) accompany almost every form of jak, the journeys made to earn a living or to worship. There is khanduri thon for traders, khanduri blang before planting, khanduri…
TradisiTradition Maulid di Aceh: musim tiga bulan dan kenduri antarkampungMaulid in Aceh: a three-month season of inter-village feasts
Di Aceh peringatan kelahiran Nabi Muhammad dirayakan selama sekitar tiga bulan sejak Rabiulawal dalam kenduri besar yang bersifat timbal balik. Desa penyelenggara menyediakan makanan bagi sebanyak mungkin desa tetangga, yang…In Aceh the Prophet Muhammad’s birthday is celebrated for some three months from Rabi‘ al-Awwal through large reciprocal feasts. A host village provides food for as many neighbouring villages as…
KonsepConcept Pengakuan Parmalim: melampaui toleransi simbolikRecognising Parmalim: beyond symbolic tolerance
Pohan membedakan penerimaan sosial dengan kemampuan komunitas mendefinisikan diri dan menjalankan praktiknya.Pohan distinguishes social acceptance from a community’s capacity for self-definition and religious practice.
KonsepConcept Religi, budaya, dan mitos sebagai kompas: fase-fase kebudayaan AcehReligion, culture and myth as compass: the phases of Acehnese culture
Kerangka ini membaca perubahan kebudayaan Aceh dari tiga titik tumpu, yaitu religi, budaya, dan mitos. Ketiganya ditempatkan dalam empat ruang sejarah: tradisional, modern, pascamodern, dan peradaban planet. Pada fase tradisional,…This framework reads cultural change in Aceh from three anchors: religion, culture and myth. All three are placed within four historical spaces: traditional, modern, postmodern and planetary civilisation. In the…
TradisiTradition Samadiyah dan siklus kenduri kematianSamadiyah and the cycle of funeral feasts
Samadiyah adalah rangkaian bacaan zikir dan doa dalam kenduri kematian yang diyakini meringankan penderitaan si mati di alam kubur. Di Nagan Raya, kenduri kematian adalah jenis kenduri paling sering, diadakan…Samadiyah is a sequence of litanies and prayers recited at funeral feasts, believed to lessen the suffering of the deceased in the grave. In Nagan Raya funeral kenduri are the…
NaskahText The Veranda of Mecca: Budaya, tradisi, dan identitasThe Veranda of Mecca: Culture, tradition and identity
KBA membuka pembacaan dengan ingatan konflik sebelum tsunami, kemudian mengaitkan pembangunan Aceh baru dengan relasi sosial, strategi kebudayaan, dan pendefinisian ulang tradisi.KBA moves from memories of conflict before the tsunami to social relationships, cultural strategy and the redefinition of tradition.
TradisiTradition Ziarah, nazar, dan mengaji di makamPilgrimage, vows and Qur’an recitation at graves
Dalam tradisi Aceh, makam ulama besar diperlakukan sebagai ‘pusat kosmis’ tempat ibadah, nazar, dan pencarian berkah. Tradisi peuglah hajat mengharuskan keluarga yang nazarnya terkabul menyembelih hewan di makam ulama dan…In Acehnese tradition the tombs of great ulama are treated as ‘cosmic centres’ for devotion, vows and seeking blessing. The practice of peuglah hajat requires a family whose vow has…
5.4 Adat AcehAcehnese adat
Adat sebagai basis kehidupan sosial: sistem perkauman, gampong dan mukim, konsep harta seperti baynah, serta tradisi seperti meugang dan kenduri.Adat as the basis of social life: kin-community organisation, gampong and mukim, concepts of wealth such as baynah, and traditions such as meugang and kenduri.