Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

BidangField 05

Antropologi AcehAcehnese Anthropology

Antropologi Aceh adalah disiplin yang mengkaji kebudayaan-kebudayaan di tanah Aceh, dari Sabang hingga Tamiang dan Simeulue, serta kebudayaan yang dibawa orang Aceh ke tempat lain, dari sudut pandang orang Aceh sendiri. Disiplin ini lahir dari dua kegelisahan. Pertama, citra Aceh dalam ilmu pengetahuan lama dibentuk oleh etnografi kolonial, terutama karya Snouck Hurgronje, yang memotret Aceh Besar sebagai ‘Aceh’ dan memisahkan adat dari hukum Islam untuk kepentingan penaklukan. Kedua, antropologi Indonesia cenderung menjadikan budaya Jawa sebagai wakil budaya nasional, sementara Aceh diperlakukan sebagai ‘budaya daerah’. Sebagai jawaban, Antropologi Aceh tidak memposisikan masyarakatnya sebagai ‘yang lain’, melainkan berupaya menerjemahkan kata, gagasan, dan makna budaya sendiri, dengan Islam sebagai basis kesadaran dan adat sebagai basis kehidupan sosial. Dalam kerangka studi Aceh, disiplin ini ditempatkan setelah sejarah, kosmologi, filsafat, dan sosiologi, dan bertujuan memperkuat turi droe, yakni pengenalan diri. Pertanyaan intinya meliputi: mengapa inti budaya Aceh bertahan dari kepungan penjajah, Indonesia, Melayu, dan budaya global; bagaimana batas-batas kebudayaan di dalam Aceh terbentuk; bagaimana orang Aceh membawa budayanya ke perantauan; dan bagaimana gejala baru seperti warung kopi, papan bunga, atau ketergantungan pada negara mengubah cara orang Aceh memandang dirinya. Ranahnya mencakup antropologi kebudayaan, arkeologi, antropologi biologi, antropologi linguistik, serta antropologi religi.

Acehnese anthropology is the discipline that studies the cultures on Acehnese soil, from Sabang to Tamiang and Simeulue, as well as the cultures Acehnese carry elsewhere, from the standpoint of the Acehnese themselves. It arises from two concerns. First, Aceh's image in older scholarship was shaped by colonial ethnography, above all Snouck Hurgronje's, which portrayed Aceh Besar as ‘Aceh’ and separated adat from Islamic law in the service of conquest. Second, Indonesian anthropology has tended to treat Javanese culture as the representative of national culture, relegating Aceh to the status of a ‘regional culture’. In response, Acehnese anthropology does not cast its society as ‘the other’ but seeks to translate the words, ideas and meanings of its own culture, taking Islam as the basis of consciousness and adat as the basis of social life. Within the framework of Aceh studies it follows history, cosmology, philosophy and sociology, and aims to strengthen turi droe, self-knowledge. Its core questions include: why the core of Acehnese culture has survived the pressures of colonisers, the Indonesian state, Malay identity and global culture; how cultural boundaries within Aceh are formed; how Acehnese carry their culture into the diaspora; and how new phenomena such as coffee-shop society, flower boards or dependence on the state are changing how Acehnese see themselves. Its branches span cultural anthropology, archaeology, biological anthropology, linguistic anthropology and the anthropology of religion.

Lihat posisinya dalam peta filosofisSee its place in the philosophical map →

5.1 Teori-teori antropologi AcehAnthropological theory and Aceh

Kritik atas warisan kolonial dan sentrisme Jawa dalam antropologi, serta upaya membangun teori dari kebudayaan Aceh sendiri melalui penerjemahan kata, gagasan, dan makna.Critique of the colonial legacy and Java-centrism in anthropology, and efforts to build theory from Acehnese culture itself by translating its words, ideas and meanings.

KonsepConcept Antropologi agama: agama sebagai sistem simbolAnthropology of religion: religion as a system of symbols Antropologi agama mengkaji keyakinan dan praktik keagamaan sebagaimana dihayati dan dijalankan oleh umatnya. Fondasinya diletakkan Durkheim dan Weber, sementara Grace Davie membedakan pendekatan substantif (apa itu agama) dan fungsional (apa…The anthropology of religion studies beliefs and religious practices as believers live and perform them. Its foundations were laid by Durkheim and Weber, while Grace Davie distinguishes substantive approaches (what… KonsepConcept Antropologi Indonesia dan sentrisme JawaIndonesian anthropology and Java-centrism Kritik ini menyoroti bahwa antropologi di Indonesia berkembang dengan menjadikan budaya Jawa sebagai representasi budaya Indonesia, sementara budaya lain diposisikan sebagai ‘budaya daerah’. Sebelum Clifford Geertz, model Snouck Hurgronje tentang…This critique points out that anthropology in Indonesia developed by treating Javanese culture as the representative of Indonesian culture, while other cultures were cast as ‘regional cultures’. Before Clifford Geertz,… KonsepConcept Antropologi kosmopolitan: ekspansi orang Aceh sebagai ekspansi kebudayaanCosmopolitan anthropology: Acehnese expansion as cultural expansion Gagasan ini membaca perantauan orang Aceh ke Jawa, Semenanjung Melayu, dan Tanah Suci sebagai ekspansi kebudayaan yang bersifat kosmopolitan. Dengan bertumpu pada Adam Kuper dan Joel S. Kahn, antropologi dipandang…This idea reads Acehnese migration to Java, the Malay Peninsula and the Holy Land as a cosmopolitan expansion of culture. Drawing on Adam Kuper and Joel S. Kahn, anthropology is… KonsepConcept Bahasa dalam kajian antropologi dan agamaLanguage in anthropology and the study of religion Kajian tentang bahasa Aceh berpijak pada tradisi antropologi yang menempatkan bahasa sebagai pintu memahami cara berpikir suatu masyarakat. John Beattie, Kutha Ratna, dan John R. Bowen menekankan bahwa kategori pikiran…The study of Acehnese draws on an anthropological tradition that treats language as the gateway to a society's ways of thinking. John Beattie, Kutha Ratna and John R. Bowen stress… KonsepConcept Empat ranah Antropologi Aceh: kebudayaan, arkeologi, biologi, linguistikFour branches of Acehnese anthropology: cultural, archaeological, biological, linguistic Gagasan ini menerapkan pembagian klasik antropologi ke dalam empat sub-bidang pada konteks Aceh, sehingga lahir Antropologi Kebudayaan Aceh, Arkeologi Aceh, Antropologi Biologi Aceh, dan Antropologi Linguistik Aceh. Pertanyaan ujinya ada…This idea applies the classic four-field division of anthropology to Aceh, yielding Acehnese cultural anthropology, Acehnese archaeology, Acehnese biological anthropology and Acehnese linguistic anthropology. Two test questions follow: does the… KonsepConcept Fungsionalisme dan studi adatFunctionalism and the study of adat Fungsionalisme berkembang dari mazhab Durkheim dan memandang masyarakat sebagai kesatuan yang terintegrasi, dengan status, peran, dan kelompok korporat sebagai unsur pokoknya. Bronislaw Malinowski menekankan pentingnya mengamati bagaimana adat benar-benar dijalankan,…Functionalism grew out of the Durkheimian school and views society as an integrated whole whose basic elements are status, role and corporate groups. Bronislaw Malinowski stressed observing how a custom… KonsepConcept Masa lalu Islam lokal dan bingkai ruang-waktuLocal Islamic pasts and spatial-temporal frames Antropolog dan sejarawan Daniel Birchok berpendapat bahwa Muslim Aceh tidak hanya berorientasi pada masa Nabi, tetapi sama kuatnya pada ‘masa lalu Islam lokal’: kejayaan kesultanan abad ke-17, kedatangan Islam ke…The anthropologist and historian Daniel Birchok argues that Acehnese Muslims orient themselves not only to the Prophet’s time but just as strongly to ‘local Islamic pasts’: the glory of the… KonsepConcept Menerjemahkan budaya sendiri: kata, gagasan, dan maknaTranslating one's own culture: words, ideas and meanings Antropologi klasik bertugas menerjemahkan budaya ‘orang lain’; Antropologi Aceh membalik tugas itu menjadi penerjemahan budaya sendiri oleh orang Aceh. Bahan dasarnya adalah tiga lapis: kata-kata, gagasan, dan makna yang hidup…Classical anthropology set out to translate ‘other’ cultures; Acehnese anthropology turns this into the translation of one's own culture by Acehnese themselves. Its raw material has three layers: the words,… KonsepConcept Paradigma-paradigma antropologi: fungsionalisme, strukturalisme, interaksionisme, antropologi MarxisParadigms of anthropology: functionalism, structuralism, interactionism and Marxist anthropology Antropologi tidak bekerja dengan satu kerangka tunggal. Robert Layton memetakan lima paradigma pokok, yakni fungsionalisme, strukturalisme, interaksionisme, antropologi Marxis, dan sosioekologi, sementara peta lain menyebut sebelas paradigma, dari evolusionisme klasik…Anthropology does not work from a single framework. Robert Layton identifies five main paradigms (functionalism, structuralism, interactionism, Marxist anthropology and socio-ecology), while another survey lists eleven, from classical evolutionism to… KonsepConcept Siegel dan pembelahan masyarakat Aceh: uleebalang, ulama, petani, sultanSiegel and the division of Acehnese society: uleebalang, ulama, peasants, sultan James Siegel berpendapat bahwa Aceh bukan masyarakat yang terbelah antara unsur Islam dan unsur adat, melainkan terbagi ke dalam empat kelompok: uleebalang, ulama, petani, serta sultan beserta lingkarannya. Masing-masing kelompok…James Siegel argued that Aceh was not a society split between Islamic and customary elements but one divided into four groups — uleebalang, ulama, peasants, and the sultan with his… KonsepConcept Sosiologi, antropologi, dan kerja lapanganSociology, anthropology and fieldwork Sosiologi dan antropologi sama-sama mengkaji masyarakat, tetapi dengan tradisi berbeda: sosiologi semula berfokus pada masyarakat Eropa-Amerika dan memakai data kualitatif maupun statistik, sedangkan antropologi mengkaji kebudayaan masyarakat di luar dunia…Sociology and anthropology both study society but from different traditions: sociology initially focused on Euro-American societies and uses both qualitative and statistical data, while anthropology studies the cultures of societies… KonsepConcept Teori pertukaran: Mauss, Frazer, dan MalinowskiExchange theory: Mauss, Frazer and Malinowski Teori pertukaran memandang pemberian dan pertukaran barang sebagai proses yang melahirkan hubungan sosial, bukan sekadar transaksi ekonomi. Gagasan ini berangkat dari postulat Adam Smith tentang penawaran dan permintaan, lalu ditafsir…Exchange theory treats giving and exchanging goods as processes that generate social relationships rather than mere economic transactions. It starts from Adam Smith's postulate of supply and demand and was…

5.2 Budaya AcehAcehnese culture

Peta wilayah kebudayaan Aceh beserta batas-batasnya, dan perubahan budaya kontemporer seperti masyarakat warung, papan bunga, iklan, serta ketergantungan ekonomi.The map of Aceh's cultural zones and their boundaries, and contemporary cultural change such as coffee-shop society, flower boards, advertisements and economic dependence.

KonsepConcept Arabisasi, Islam sebagai produk kebudayaan, dan membaca budaya AcehArabisation, Islam as cultural product, and reading Acehnese culture Pendekatan ini membedakan Islam sebagai produk teologi yang normatif-deduktif dari Islam sebagai produk kebudayaan hasil penalaran manusia di Timur Tengah yang sampai ke Aceh. Dengan bantuan teori agama dan budaya,…This approach distinguishes Islam as a normative-deductive theological product from Islam as a cultural product, the fruit of human reasoning in the Middle East that reached Aceh. Drawing on theories… KonsepConcept Baynah: konsep harta orang AcehBaynah: the Acehnese concept of wealth Baynah, dari kata Arab yang berarti bukti, adalah ukuran kekayaan dalam masyarakat kampung Aceh: emas, tanah, dan ternak. Harta ini dilepas hanya pada momen penting seperti merantau, menikahkan anak, kenduri,…Baynah, from an Arabic word meaning proof or evidence, is the measure of wealth in Acehnese village society: gold, land and livestock. These assets are released only at key moments… KonsepConcept Budaya simbolik dan budaya sebagai sistem berpikirSymbolic culture and culture as a system of thought Kritik ini membedakan budaya dalam arti simbolik dan fungsional, yang tampak pada festival dan upacara, dari budaya sebagai sistem berpikir, yaitu kemampuan menyelami makna dan mewariskannya. Pembangunan kebudayaan Aceh dinilai…This critique separates culture in its symbolic and functional sense, visible in festivals and ceremonies, from culture as a system of thought: the capacity to grasp meaning and pass it… TradisiTradition Dunia malam Banda Aceh: warkop, kafe, dan anak mudaBanda Aceh after dark: coffee shops, cafés and the young Dunia malam Banda Aceh tidak diisi klub atau bar, melainkan warung kopi (warkop) dan kafe yang buka hingga larut, tempat anak muda berkumpul membicarakan bola, politik, dan apa saja sampai…Banda Aceh’s night life is not about clubs or bars but about coffee shops (warkop) and cafés open late, where young people gather to talk football, politics and everything else… KonsepConcept Empat belas wilayah kebudayaan AcehThe fourteen cultural zones of Aceh Pemetaan ini membagi Aceh ke dalam empat belas wilayah kebudayaan sebagai ruang kerja antropologi, mulai dari kota Banda Aceh hingga Pulau Simeulue. Setiap wilayah dibedakan menurut lanskap, bahasa, pengaruh luar,…This mapping divides Aceh into fourteen cultural zones as a working ground for anthropology, from the city of Banda Aceh to the island of Simeulue. Each zone is distinguished by… KonsepConcept Empat tahap pengaruh Arab dalam identitas AcehFour stages of Arab influence in Acehnese identity Di antara benang-benang budaya yang membentuk Aceh, yakni Arab, India, Persia, Cina, dan Eropa, unsur Arab dipandang paling kuat karena membawa Islam, legitimasi politik, dan jaringan keilmuan. Pengaruh itu dapat…Among the cultural strands that shaped Aceh, Arab, Indian, Persian, Chinese and European, the Arab element is regarded as strongest because it carried Islam, political legitimacy and scholarly networks. Its… TradisiTradition Keurija dan bek peumale gampongKeurija and bek peumale gampong: communal work and guarding village honour Keurija (kerja) adalah istilah untuk hajatan sosial dalam siklus hidup, terbagi menjadi keurija udep (hajatan kehidupan) dan keurija mate (urusan kematian). Dalam keurija, warga membantu tanpa pamrih dan semua konflik…Keurija ('work') is the term for social gatherings in the life cycle, divided into keurija udep (celebrations of life) and keurija mate (matters of death). In keurija, villagers help without… KonsepConcept Masyarakat bunga dan masyarakat iklanFlower-board society and advertisement society Dua gejala pasca-tsunami ini menandai pergeseran cara orang Aceh menyatakan syukur, hormat, dan status. Papan bunga dipasang pada setiap momen penting sebagai simbol kekuasaan, kekuatan ekonomi, pertemanan, dan perhatian, sampai…These two post-tsunami phenomena mark a shift in how Acehnese express gratitude, respect and status. Flower boards are placed at every important occasion as symbols of power, economic strength, friendship… KonsepConcept Masyarakat jerigen dan masyarakat kartuJerrycan society and card society ‘Masyarakat jerigen’ adalah warga yang menggantungkan nafkah pada penjualan eceran BBM yang dibeli dengan jerigen di SPBU, sedangkan ‘masyarakat kartu’ adalah warga yang hidup dari kartu-kartu bantuan pemerintah. Keduanya dibaca…‘Jerrycan society’ refers to people who live from retailing fuel bought by the jerrycan at petrol stations, while ‘card society’ refers to people living on government welfare cards. Both are… TradisiTradition Masyarakat warung: warung kopi, kuliner, dan perpindahan ruang publikStall society: coffee shops, cuisine and the shifting public sphere ‘Masyarakat warung’ (stall society) adalah sebutan untuk gejala ketika warung kopi dan warung nasi mengambil alih fungsi ruang keluarga sebagai tempat menerima tamu, melobi, bersyukur, dan berdiskusi. Kunjungan ke warung…‘Stall society’ names the phenomenon in which coffee shops and eateries take over the functions of the family room as places to receive guests, lobby, celebrate and debate. Visits to… KonsepConcept Membaca tanda sejarah pada tubuh dan lanskapReading signs of history on bodies and landscape Orang Aceh sehari-hari membaca masa lalu pada wajah tetangga dan benda di sekitar mereka: kulit gelap dianggap tanda keturunan India, mata biru warga Lamno dianggap warisan Portugis, wajah oriental dianggap…In daily life Acehnese read the past on neighbours’ faces and on objects around them: dark skin is taken as a sign of Indian descent, the blue eyes of people… KonsepConcept Orang asing di Singkil dan Simeulue: antropologi tentang kehadiran luarForeigners in Singkil and Simeulue: an anthropology of outside presence Pengamatan lapangan di Singkil dan Simeulue memperlihatkan bahwa kehadiran warga asing pasca-tsunami tidak hanya terkonsentrasi di Banda Aceh, tetapi juga di pantai barat-selatan dan pulau-pulau terluar. Sebagian besar terkait wisata…Fieldwork in Singkil and Simeulue shows that the post-tsunami presence of foreigners was not concentrated only in Banda Aceh but extended to the south-west coast and outlying islands. Most of… LembagaInstitution Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) dan peristiwa 2009The Aceh Cultural Week (PKA) and the 2009 episode Pekan Kebudayaan Aceh adalah festival kebudayaan berkala tingkat provinsi tempat setiap kabupaten menampilkan kesenian, alat tradisional, dan kearifan lokalnya. Pada PKA 2009, kontingen Aceh Selatan melakukan walk out karena merasa…The Aceh Cultural Week is a periodic provincial festival where each district presents its arts, traditional tools and local wisdom. At the 2009 PKA the South Aceh contingent walked out,… KonsepConcept Rumoh Aceh: arah kiblat dan tata ruang domestikRumoh Aceh: qibla orientation and domestic space Rumah tradisional Aceh dibangun menghadap ke barat agar memudahkan salat, mencerminkan kosmologi yang menyelaraskan manusia, alam, dan ibadah. Lantai utamanya terbagi menjadi serambi depan untuk tamu laki-laki, ruang tengah yang…Traditional Acehnese houses were built facing west to ease the performance of prayer, reflecting a cosmology aligning humans, nature and worship. The main floor is divided into a front veranda…

5.3 Agama & budaya: ritual dan tradisiReligion & culture: ritual and tradition

Hubungan Islam dan kebudayaan dalam ritual dan tradisi, dengan religi, budaya, dan mitos sebagai kompas, serta Islam sebagai basis reproduksi kebudayaan.The relationship between Islam and culture in ritual and tradition, with religion, culture and myth as compasses and Islam as the basis of cultural reproduction.

KonsepConcept Agama dan budaya di Aceh: hubungan yang perlu ditelusuriReligion and culture in Aceh: relationships to investigate Bagan mengajukan kemungkinan agama membawa budaya, agama menjadi budaya, dan budaya menjadi agama. Arah hubungan ini harus dibaca sebagai pertanyaan penelitian.The diagram considers religion carrying culture, religion becoming culture and culture becoming religion. These directions should be treated as research questions. TradisiTradition Dakwah pada bulan MoludDakwah sermons in the Molud months Di Aceh, peringatan kelahiran Nabi berlangsung sebagai rangkaian kenduri selama sekitar tiga bulan yang disebut bulan Molud. Pada malam hari, warga kampung mengundang penceramah untuk ‘dakwah’, ceramah panjang tentang kehidupan…In Aceh, commemorating the Prophet's birth unfolds as a series of feasts lasting about three months, known as the Molud months. At night villagers invite a preacher for 'dakwah', a… TradisiTradition Guna-guna dalam perceraianSorcery in divorce Dalam sebagian narasi perceraian di Aceh, kegagalan rumah tangga dijelaskan melalui guna-guna atau ilmu hitam: pasangan dianggap ‘terkena’ pengaruh gaib, misalnya karena cinta lokasi (cinlok) dengan orang lain. Simpul ini…In some divorce narratives in Aceh, marital breakdown is explained through guna-guna, or black magic: a spouse is thought to be ‘struck’ by occult influence, for instance through a workplace… NaskahText Ingatan, luka sejarah, dan identitas PattaniMemory, historical wounds and Pattani identity Penulis menempatkan nostalgia Darussalam, kisah Haji Suloong, bahasa rumah, dan pendidikan sebagai cara menjaga identitas.Darussalam nostalgia, Haji Suloong, household language and education become resources for identity. KonsepConcept Islam sebagai basis reproduksi kebudayaan AcehIslam as the basis of cultural reproduction in Aceh Tesis ini menyatakan bahwa kesadaran sosial orang Aceh berbasis Islam, sedangkan kehidupan sosialnya berbasis adat, dan keduanya tidak dapat dipertukarkan. Reproduksi kebudayaan di Aceh dipahami sebagai proses islamisasi menyeluruh atas…This thesis holds that the Acehnese social consciousness rests on Islam while social life rests on adat, and that neither can be swapped out. Cultural reproduction in Aceh is understood… TradisiTradition Jejak Syi‘ah dalam tradisi AcehShi‘i traces in Acehnese tradition Sejumlah tradisi Aceh dibaca sebagai bekas pengaruh Syi‘ah yang bertahan setelah Syi‘ah tidak lagi menjadi kekuatan politik: peringatan 10 Muharram dengan bubur Hasan-Husain, senandung menidurkan anak tentang cucu Nabi, pemuliaan…Several Acehnese traditions are read as residues of Shi‘i influence that persisted after Shi‘ism ceased to be a political force: commemoration of 10 Muharram with Hasan-Husain porridge, lullabies about the… TradisiTradition Kenduri Iduladha dan haul di makam Habib Muda, PeuleukungThe Eid al-Adha kenduri and haul at Habib Muda’s grave, Peuleukung Di makam Habib Muda di Peuleukung, ribuan pengikut Habib Seunagan berkumpul semalam suntuk pada malam Iduladha dan pada haul Habib Muda untuk membaca ratib, menyalami keturunan sang wali, dan bersantap.…At Habib Muda’s grave in Peuleukung, thousands of Habib Seunagan followers gather all night on the eve of Eid al-Adha and on Habib Muda’s death anniversary (haul) to recite ratib,… TradisiTradition Kenduri modern dan bagian anak yatimThe ‘modern kenduri’ and the orphans’ share ‘Kenduri modern’ adalah bentuk kenduri yang dikembangkan kaum pembaru sejak 1950-an: sebagian makanan dibagikan kepada anak yatim dan fakir miskin, dan doa yang diyakini menghasilkan pahala bagi orang yang telah…The ‘modern kenduri’ is a form of ritual feast developed by reformers from the 1950s: part of the food is given to orphans and the poor, and the prayers believed… TradisiTradition Khanduri La’ôtKhanduri Laot (sea feast) Khanduri La’ôt adalah kenduri adat nelayan sebagai ungkapan syukur atas hasil laut, dipimpin oleh Panglima La’ôt. Di sebagian kampung, nelayan menyumbang untuk membeli kerbau yang disembelih dan dibagikan, lalu sebagian…The Khanduri Laot is a customary fishers' feast expressing gratitude for the bounty of the sea, led by the Panglima Laot. In some villages fishers pool contributions to buy a… TradisiTradition Khanduri: kenduri dalam siklus kerja orang AcehKhanduri: ritual feasts in the Acehnese work cycle Khanduri (kenduri) menyertai hampir setiap bentuk jak, yaitu perjalanan mencari nafkah atau beribadah. Ada khanduri thon bagi pedagang, khanduri blang sebelum turun ke sawah, khanduri laot di tepi laut, dan…Khanduri (ritual feasts) accompany almost every form of jak, the journeys made to earn a living or to worship. There is khanduri thon for traders, khanduri blang before planting, khanduri… TradisiTradition Maulid di Aceh: musim tiga bulan dan kenduri antarkampungMaulid in Aceh: a three-month season of inter-village feasts Di Aceh peringatan kelahiran Nabi Muhammad dirayakan selama sekitar tiga bulan sejak Rabiulawal dalam kenduri besar yang bersifat timbal balik. Desa penyelenggara menyediakan makanan bagi sebanyak mungkin desa tetangga, yang…In Aceh the Prophet Muhammad’s birthday is celebrated for some three months from Rabi‘ al-Awwal through large reciprocal feasts. A host village provides food for as many neighbouring villages as… KonsepConcept Pengakuan Parmalim: melampaui toleransi simbolikRecognising Parmalim: beyond symbolic tolerance Pohan membedakan penerimaan sosial dengan kemampuan komunitas mendefinisikan diri dan menjalankan praktiknya.Pohan distinguishes social acceptance from a community’s capacity for self-definition and religious practice. KonsepConcept Religi, budaya, dan mitos sebagai kompas: fase-fase kebudayaan AcehReligion, culture and myth as compass: the phases of Acehnese culture Kerangka ini membaca perubahan kebudayaan Aceh dari tiga titik tumpu, yaitu religi, budaya, dan mitos. Ketiganya ditempatkan dalam empat ruang sejarah: tradisional, modern, pascamodern, dan peradaban planet. Pada fase tradisional,…This framework reads cultural change in Aceh from three anchors: religion, culture and myth. All three are placed within four historical spaces: traditional, modern, postmodern and planetary civilisation. In the… TradisiTradition Samadiyah dan siklus kenduri kematianSamadiyah and the cycle of funeral feasts Samadiyah adalah rangkaian bacaan zikir dan doa dalam kenduri kematian yang diyakini meringankan penderitaan si mati di alam kubur. Di Nagan Raya, kenduri kematian adalah jenis kenduri paling sering, diadakan…Samadiyah is a sequence of litanies and prayers recited at funeral feasts, believed to lessen the suffering of the deceased in the grave. In Nagan Raya funeral kenduri are the… NaskahText The Veranda of Mecca: Budaya, tradisi, dan identitasThe Veranda of Mecca: Culture, tradition and identity KBA membuka pembacaan dengan ingatan konflik sebelum tsunami, kemudian mengaitkan pembangunan Aceh baru dengan relasi sosial, strategi kebudayaan, dan pendefinisian ulang tradisi.KBA moves from memories of conflict before the tsunami to social relationships, cultural strategy and the redefinition of tradition. TradisiTradition Ziarah, nazar, dan mengaji di makamPilgrimage, vows and Qur’an recitation at graves Dalam tradisi Aceh, makam ulama besar diperlakukan sebagai ‘pusat kosmis’ tempat ibadah, nazar, dan pencarian berkah. Tradisi peuglah hajat mengharuskan keluarga yang nazarnya terkabul menyembelih hewan di makam ulama dan…In Acehnese tradition the tombs of great ulama are treated as ‘cosmic centres’ for devotion, vows and seeking blessing. The practice of peuglah hajat requires a family whose vow has…

5.4 Adat AcehAcehnese adat

Adat sebagai basis kehidupan sosial: sistem perkauman, gampong dan mukim, konsep harta seperti baynah, serta tradisi seperti meugang dan kenduri.Adat as the basis of social life: kin-community organisation, gampong and mukim, concepts of wealth such as baynah, and traditions such as meugang and kenduri.

KonsepConcept ‘Bapak keuchik, ibu teungku’: Snouck dan peminggiran otoritas ulama‘Father keuchik, mother teungku’: Snouck and the marginalisation of ulama authority Dalam De Atjehers, Snouck Hurgronje menggambarkan gampong sebagai rumah tangga dengan keuchik sebagai ‘bapak’ yang memelihara adat dan teungku meunasah sebagai ‘ibu’ yang lebih banyak hadir sebagai kehormatan. Ia menafsirkan…In De Atjehers Snouck Hurgronje pictured the village as a household with the keuchik as ‘father’ upholding adat and the teungku meunasah as ‘mother’, present mostly as an honorary figure.… KonsepConcept Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala Ungkapan ‘Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana merangkum kosmologi tata kelola Kesultanan Aceh. Adat merujuk pada hukum pemerintahan kesultanan, hukom pada…The saying ‘Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana’ distils the governing cosmology of the Acehnese sultanate. Adat refers to the sultanate's… KonsepConcept Adat bak Po Teumeureuhom: adat sebagai sistem pemerintahanAdat bak Po Teumeureuhom: adat as a system of government Ungkapan adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala, qanun bak putroe phang, reusam bak bentara adalah kaidah yang paling sering dikutip dalam diskusi tentang adat Aceh. Analisis ini menekankan…The saying adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala, qanun bak putroe phang, reusam bak bentara is the maxim most often cited in discussions of Acehnese adat. This analysis… KonsepConcept Adat La’ôtAdat Laot (customary law of the sea) Adat La’ôt adalah seperangkat aturan adat yang mengatur kehidupan nelayan Aceh, dijaga dan dijalankan oleh Panglima La’ôt. Cakupannya meliputi penyelesaian sengketa antarnelayan, hari pantang melaut, dan pelaksanaan Khanduri La’ôt. Para…The Adat Laot is the body of customary rules governing the lives of Acehnese fishers, upheld and administered by the Panglima Laot. Its scope covers settling disputes between fishers, days… KonsepConcept Endatu dan reusamEndatu and reusam Endatu adalah sebutan orang Aceh bagi leluhur, yaitu generasi awal yang datang dari berbagai kawasan dengan tujuan dakwah sekaligus perdagangan. Warisan mereka dikenal sebagai reusam, yakni adat istiadat yang dijalankan…Endatu is the Acehnese term for the ancestors, the early generations who arrived from many regions with both religious and commercial aims. Their legacy is reusam, the body of custom… KonsepConcept Gelar ampon, cut, teuku, dan teungku: makna sosial yang memudarThe titles ampon, cut, teuku and teungku: fading social meanings Dalam tradisi Aceh, gelar seperti ampon, cut, dan teuku melekat pada lapisan bangsawan yang disegani, sedangkan teungku diberikan kepada mereka yang ‘memanggul kitab’ di dayah. Karena dahulu gelar dilekatkan pada…In Acehnese tradition titles such as ampon, cut and teuku belonged to respected aristocratic strata, while teungku was given to those who ‘carried the kitab’ in the dayah. Because titles… KonsepConcept Genealogi islamisasi Nagan RayaGenealogies of Islamisation in Nagan Raya Di Nagan Raya warga mengelompokkan sesama Muslim tidak hanya menurut sikap terhadap pembaruan, tetapi juga menurut hubungan silsilah dengan tokoh-tokoh masa islamisasi, seperti Habib Abdurrahim dan para autad-nya. Silsilah semacam…In Nagan Raya people group fellow Muslims not only by their stance on reform but also by genealogical ties to figures of the period of Islamisation, such as Habib Abdurrahim… KonsepConcept Jak beut, intat beut, dan seumeubeut dalam kajian MananJak beut, intat beut and seumeubeut in Manan’s study Tiga istilah menghubungkan perjalanan belajar, pengantaran anak, dan penyelenggaraan pengajian dengan hubungan sosial serta ritus.Three terms connect attending lessons, accompanying children and conducting religious learning with social relations and ritual. NaskahText Laporan tahunan Teuku Azman (1962) dan adat yang ‘bersumber pada Islam’Teuku Azman’s annual report (1962) and an adat ‘rooted in Islam’ Pada November 1962, enam bulan setelah Daud Beureueh turun gunung, kepala Kecamatan Seunagan Teuku Azman, seorang uleebalang dan menantu Habib Muda, menyusun laporan tahunan birokratis yang memuat klaim luar biasa.…In November 1962, six months after Daud Beureueh came down from the hills, the head of the Seunagan sub-district, Teuku Azman, an uleebalang and son-in-law of Habib Muda, filed a… TradisiTradition Mahar dan pesta pernikahan di era media sosialBride-price and weddings in the social-media era Mahar, yang dalam adat Aceh lazim ditakar dengan emas dalam satuan mayam, menjadi simpul perdebatan keluarga kontemporer. Besaran mahar kini dibicarakan secara terbuka, dijadikan bahan nyinyiran dan meme di media…The bride-price (mahar), customarily measured in Aceh in gold by the mayam, has become a node of contemporary family debate. Its amount is now discussed openly, mocked and turned into… LembagaInstitution Majelis Adat Aceh dan tiga belas lembaga adatThe Aceh Customary Council and the thirteen customary institutions Qanun No. 10 Tahun 2008 menetapkan tiga belas lembaga adat di Aceh, mulai dari Majelis Adat Aceh (MAA) hingga syahbandar, di bawah pembinaan Wali Nanggroe melalui MAA. Upaya ini merupakan…Qanun No. 10 of 2008 recognises thirteen customary institutions in Aceh, from the Aceh Customary Council (MAA) to the harbour master (syahbandar), all under the oversight of the Wali Nanggroe… LembagaInstitution Mukim dan sistem perkauman: dari keluarga ke federasi gampongMukim and the kin-community system: from family to federation of villages Sistem perkauman Aceh tersusun dari keluarga inti, gampong, hingga mukim yang memimpin beberapa gampong. Mukim berperan sebagai pengembang hukum adat sekaligus pemerintahan resmi, dibantu geuchik, tuha peut, dan tuha lapan.…Acehnese community organisation runs from the nuclear family to the gampong and up to the mukim, which leads several gampong. The mukim served as developer of customary law and as… TradisiTradition Nikah siri, nikah kontrak, dan ‘kadhi liar’Siri marriage, contract marriage and ‘unlicensed kadhi’ Nikah siri, yakni pernikahan yang sah menurut sebagian pandangan fikih tetapi tidak dicatat negara, menjadi salah satu simpul persoalan keluarga di Aceh. Di sekitarnya berkembang wacana tentang ‘simpanan pejabat’, praktik…Siri marriage, a union considered valid by some fiqh views but not registered by the state, is one node of Aceh's family issues. Around it circulate discourses about officials' ‘kept… LembagaInstitution Panglima La’ôtPanglima Laot Panglima La’ôt adalah lembaga adat yang kini dikenal sebagai pemimpin masyarakat nelayan dan penjaga Adat La’ôt. Bukti sejarah menunjukkan bahwa pada masa kesultanan lembaga ini merupakan aparatur resmi kerajaan yang…Panglima Laot is a customary institution now known as the leader of fishing communities and guardian of the Adat Laot, the customary law of the sea. Historical evidence indicates that… LembagaInstitution Panglima La’ôt Aceh (PLA)Panglima Laot Aceh (PLA) Panglima La’ôt Aceh adalah organisasi adat tingkat provinsi yang menghimpun Panglima La’ôt Lhok dan Kabupaten. Kebangkitannya berawal dari kasus penahanan kapal-kapal Thailand, ketika hasil lelangnya diperjuangkan untuk nelayan Aceh dan…Panglima Laot Aceh is the provincial customary organisation that brings together the subdistrict (lhok) and district Panglima Laot. Its revival began with the seizure of Thai fishing boats, when proceeds… NaskahText Panglima Laot: kajian sejarah dan etnografi KBA 2017Panglima Laot: KBA’s 2017 historical and ethnographic study Artikel mempertemukan sejarah jabatan pelabuhan dengan pengalaman komunitas nelayan dan pembentukan kembali kelembagaan adat.The article relates port-office history to fishing communities and the reconstruction of adat institutions. TradisiTradition Pantang melaut pada hari JumatThe Friday ban on going to sea Larangan melaut pada hari Jumat adalah aturan Adat La’ôt yang paling dikenal nelayan Aceh. Pelanggarnya dapat dikenai sanksi oleh Panglima La’ôt berupa kewajiban menyembelih seekor kambing. Penafsirannya beragam, dari larangan…The ban on going to sea on Fridays is the best-known rule of the Adat Laot among Acehnese fishers. Violators can be penalised by the Panglima Laot with the obligation… TradisiTradition Qanun bak Putroe Phang dan pembagian peran dalam kenduriQanun bak Putroe Phang and the gendered division of feast work Upacara kerakyatan yang sarat simbol budaya di Aceh dikaitkan dengan qanun bak Putroe Phang, tokoh perempuan yang melambangkan urusan kaum perempuan. Dalam pesta, perempuan mengurus peusijuek, pet ranup, dan penyambutan…Popular ceremonies rich in cultural symbolism are linked in Aceh to qanun bak Putroe Phang, a female figure who stands for women’s affairs. At feasts women handle peusijuek (blessing rite),… TradisiTradition Sapi, baynah, dan meugangCattle, baynah and meugang Sapi menempati posisi istimewa dalam masyarakat Aceh, sehingga harga dagingnya termasuk yang paling mahal dan pasokannya kerap didatangkan dari luar menjelang Ramadan dan hari raya. Tiga penjelasan diajukan: daging sebagai…Cattle hold a special place in Acehnese society, so that beef prices are among the highest anywhere and supply often has to be brought in from outside before Ramadan and… NaskahText Tanah bagi orang Aceh: konsep, harta, dan keharmonisanLand among the Acehnese: concepts, wealth and harmony Presentasi KBA menautkan tanoh dengan Po Tala, tanggung jawab komunal, wakaf, lapisan lanskap, serta hubungan manusia dengan alam, Tuhan, dan sesama.KBA’s presentation connects tanoh with Po Tala, collective responsibility, waqf, landscape layers and relations among people, nature and God. KonsepConcept Tanah sebagai arena sosial dan harta keluargaLand as a social arena and family wealth Tanah menghubungkan warisan keluarga, norma komunitas, pendidikan, pasar, masjid, dan aliansi sosial. Harta dibaca bersama kewajiban menjaga kehidupan bersama.Land connects inheritance, community norms, education, markets, mosques and social alliances. Wealth is read together with obligations to communal life. NaskahText Teurimong jame: membaca bagan penerimaan tamuTeurimong jame: reading the guest-reception diagram Presentasi membedakan hubungan dengan tamu, ruang penerimaan, dan lama tinggal dalam kehidupan rumah tangga.The presentation differentiates guest relationships, reception spaces and lengths of stay in household life.