Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Ziarah, nazar, dan mengaji di makamPilgrimage, vows and Qur’an recitation at graves

Dalam tradisi Aceh, makam ulama besar diperlakukan sebagai ‘pusat kosmis’ tempat ibadah, nazar, dan pencarian berkah. Tradisi peuglah hajat mengharuskan keluarga yang nazarnya terkabul menyembelih hewan di makam ulama dan menyantapnya di sana dengan izin juru kunci. Ada pula tradisi mengaji di kuburan selama tujuh hari tujuh malam setelah pemakaman, serta ziarah menjelang bulan puasa. Sebagian orang juga bersuluk atau bertapa di makam keramat.

In Acehnese tradition the tombs of great ulama are treated as ‘cosmic centres’ for devotion, vows and seeking blessing. The practice of peuglah hajat requires a family whose vow has been granted to slaughter an animal at a scholar’s tomb and eat it there with the caretaker’s permission. There is also the custom of reciting the Qur’an at a new grave for seven days and nights, and grave visits before the fasting month. Some also perform suluk or meditation at sacred tombs.

Perilaku yang berkaitan dengan kuburan di Aceh lebih dipahami sebagai urusan ibadat ketimbang magi. Dalam peuglah hajat atau membayar nazar, sebuah keluarga berjanji menyembelih hewan ternak di makam ulama tertentu bila harapannya terkabul. Mereka datang bersama keluarga, meminta izin juru kunci, lalu menyembelih hewan yang harus disantap di tempat itu; sisanya diberikan kepada penjaga makam. Pelanggaran terhadap aturan keluarga penjaga diyakini dapat mendatangkan bala bagi keluarga atau keturunan yang bernazar.

Tradisi lain menyangkut kematian. Setelah jenazah dikebumikan, keluarga membayar orang untuk membaca Al-Qur’an di atas kuburan tanpa putus selama tujuh hari tujuh malam. Tujuannya ‘membantu’ si mayit dari siksa kubur, dengan anggapan bahwa bacaan itu menjadi ‘teman’ yang meringankan bebannya. Menjelang Ramadhan, kelompok masyarakat berziarah ke makam ulama terkenal untuk berdoa memohon berkah dari Allah. Sebagian lain melakukan khalud atau suluk di makam, dan makam keramat di Aceh disebut juga didatangi penuntut ilmu dari Jawa.

Tradisi memandang kuburan sebagai pusat kosmis dijumpai di banyak belahan dunia, termasuk Jawa. Perbedaannya terletak pada aktivitas yang dilakukan: di Aceh, kuburan terutama menjadi tempat melepaskan kaul. Meski pandangan tentang makam keramat berkembang dalam kerangka ibadah, unsur animisme tidak dapat sepenuhnya diabaikan, sehingga tradisi ini menjadi titik perdebatan antara kalangan tradisionalis dan reformis.

Grave-related practices in Aceh are understood more as devotion than as magic. In peuglah hajat, paying a vow, a family promises to slaughter livestock at a particular scholar’s tomb if its wish is granted. They come together, ask the caretaker’s permission and slaughter the animal, which must be eaten on the spot; the remainder goes to the tomb’s keeper. Breaching the keeper family’s rules is believed to bring misfortune upon the vow-maker’s family or descendants.

Another tradition concerns death. After burial, the family pays people to recite the Qur’an over the grave without pause for seven days and nights. The aim is to ‘help’ the deceased against the torment of the grave, on the belief that the recitation becomes a ‘companion’ lightening the burden. Before Ramadan, groups visit the tombs of famous ulama to pray for God’s blessing. Others perform khalud or suluk at tombs, and sacred tombs in Aceh are said to attract seekers of knowledge from Java.

Treating graves as cosmic centres is found in many parts of the world, Java included. The difference lies in what is done there: in Aceh the grave is chiefly where vows are fulfilled. Although the veneration of sacred tombs developed within a framework of worship, animistic elements cannot be wholly discounted, making the tradition a point of contention between traditionalists and reformists.

Gagasan kunciKey ideas

Kuburan sebagai pusat kosmisThe grave as cosmic centre

Makam ulama menghubungkan yang hidup, yang mati, dan Allah.Scholars’ tombs connect the living, the dead and God.

Ekonomi nazarThe economy of vows

Juru kunci dan keluarganya memegang otoritas atas tata ritual.Caretakers and their families hold authority over ritual procedure.

Ibadah dan animismeWorship and animism

Tradisi berada di antara kerangka ibadah dan sisa kepercayaan lama.The tradition sits between a devotional frame and older beliefs.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana membedakan penghormatan kepada ulama dari praktik yang dikhawatirkan sebagai syirik?How can veneration of ulama be distinguished from practices feared as associating partners with God?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Ziarah, nazar, dan mengaji di makam”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ziarah-dan-nazar-di-makam-ulama/