Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Khanduri La’ôtKhanduri Laot (sea feast)

Ritual berkala; dua tahunan di sebagian kampungPeriodic ritual; biennial in some villages

Khanduri La’ôt adalah kenduri adat nelayan sebagai ungkapan syukur atas hasil laut, dipimpin oleh Panglima La’ôt. Di sebagian kampung, nelayan menyumbang untuk membeli kerbau yang disembelih dan dibagikan, lalu sebagian masakan dipersembahkan ke laut. Ritual ini diperdebatkan: kelompok reformis menolaknya sebagai warisan Hindu, sementara pendukungnya menegaskan bahwa ia adalah syukur kepada Allah. Di beberapa tempat ritual ini telah ditinggalkan, di tempat lain tetap meriah dengan doa ulama.

The Khanduri Laot is a customary fishers' feast expressing gratitude for the bounty of the sea, led by the Panglima Laot. In some villages fishers pool contributions to buy a buffalo that is slaughtered and shared out, after which a portion of the cooked food is offered to the sea. The ritual is contested: reformist groups reject it as a Hindu legacy, while its supporters insist it is thanksgiving to God. In some places it has been abandoned; elsewhere it remains a lively occasion with prayers led by ulama.

Di Ujong Bak Seuke, kenduri ini masih dijalankan sekali dalam dua tahun di bawah kendali Panglima La’ôt, yang terlebih dahulu bermusyawarah dengan warga. Setiap nelayan menyumbang untuk membeli kerbau; dagingnya dibagikan ke rumah tangga, dimasak, lalu dibawa ke tepi laut. Panglima La’ôt mengambil satu sendok besar dari masakan setiap keluarga dan membawanya ke laut bagi penghuni laut. Pada hari pelaksanaan semua warga berhenti melaut dan berkumpul di pantai pada sore hari. Warga menyamakannya dengan Khanduri Blang, kenduri sawah.

Di kampung tetangga, Ujong Bak Teungeh, kenduri ini tidak lagi diadakan karena dianggap bertentangan dengan Islam. Seorang nelayan di sana mengaku tidak tahu asal-usulnya dan mendengar bahwa ia berasal dari tradisi Hindu, namun mencatat bahwa tangkapan menurun sejak kenduri dihentikan, seolah laut enggan memberi. Kampung ini didominasi kelompok reformis yang lebih sibuk menertibkan busana pengunjung pantai. Pola serupa ditemukan di sebuah kampung di Aceh Selatan yang banyak dihuni pendatang dari Sumatra Barat.

Di Lhok Kreng, Banda Aceh, Khanduri La’ôt justru disajikan seperti pesta perkawinan dan dihadiri pejabat kabupaten hingga perwira militer dan polisi, dengan tempat khusus bagi ulama untuk berdoa. Perbandingan dengan Khanduri Blang di Cot Anoe, dekat Seulawah, yang tidak memiliki pemimpin adat dan diisi doa ulama di tengah sawah, menunjukkan bahwa keduanya dapat dibaca sebagai syukur kepada Allah. Seorang dosen di Meulaboh berpendapat bahwa kenduri ini bagian dari tradisi Muslim, bukan warisan Hindu. Perdebatan ini mencerminkan ketegangan reformis dan tradisionalis yang juga terjadi di wilayah lain Indonesia.

Sementara nelayan memasak dan melayani tamu, sekelompok kecil warga menyelenggarakan tahlilan. Perempuan sama sekali tidak hadir dalam khanduri laot, yang dipahami sebagai simbol kerja lelaki di laut; pelarungan kepala kerbau sering dibandingkan dengan tradisi larung di Jawa.

Seperti tradisi melarung di Jawa, dalam kenduri laut di Aceh kepala kerbau dilarung ke laut; sementara nelayan memasak dan melayani tamu, sekelompok kecil warga tetap melakukan tahlilan.

In Ujong Bak Seuke the feast is still held once every two years under the direction of the Panglima Laot, who first consults the villagers. Each fisher contributes towards a buffalo; the meat is distributed to households, cooked and brought to the shore. The Panglima Laot takes a large ladleful from each family's dish and carries it out to sea for the sea's inhabitants. On the day itself everyone stops fishing and gathers on the beach in the late afternoon. Villagers liken it to the Khanduri Blang, the rice-field feast.

In the neighbouring village of Ujong Bak Teungeh the feast is no longer held because it is considered contrary to Islam. A fisher there admitted not knowing its origins and had heard it came from Hindu tradition, yet noted that catches had fallen since the feast stopped, as though the sea were withholding its gifts. The village is dominated by reformists more concerned with policing the dress of beach visitors. A similar pattern appears in a South Aceh village largely settled by migrants from West Sumatra.

In Lhok Kreng, Banda Aceh, by contrast, the Khanduri Laot is served like a wedding banquet and attended by district dignitaries as well as military and police officers, with a special place for ulama to offer prayers. Comparison with the Khanduri Blang at Cot Anoe near Mount Seulawah, which has no customary leader and features ulama prayers in the field, suggests both can be read as thanksgiving to God. A lecturer in Meulaboh argued that the feast belongs to Muslim tradition rather than Hindu heritage. The debate mirrors a reformist–traditionalist tension found elsewhere in Indonesia as well.

While fishermen cook and serve guests, a small group holds a tahlilan prayer. Women are wholly absent from the khanduri laot, understood as a symbol of men’s work at sea; casting the buffalo head into the sea is often compared with Javanese offering rites.

As with offerings set adrift in Java, in Aceh's sea feast a buffalo head is released into the sea; while fishers cook and serve guests, a small group still performs tahlilan.

Gagasan kunciKey ideas

Syukur atau sisa pra-IslamThanksgiving or pre-Islamic survival

Status kenduri bergantung pada tafsir: sebagai syukur kepada Allah atau sebagai warisan Hindu yang harus ditinggalkan.The feast's status depends on interpretation: thanksgiving to God, or a Hindu survival to be discarded.

Paralel darat dan lautLand and sea parallels

Khanduri La’ôt dan Khanduri Blang membentuk satu keluarga ritual siklus mata pencaharian.The Khanduri Laot and Khanduri Blang form a single family of livelihood-cycle rituals.

Peta reformismeA map of reformism

Ada atau tidaknya kenduri di suatu kampung menjadi penanda kuat-lemahnya pengaruh Islam reformis.Whether a village holds the feast is a marker of the strength of reformist Islam there.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Siapa yang berwenang menentukan apakah suatu ritual adat sejalan dengan Islam: ulama, adat, atau komunitas pelakunya?Who has the authority to decide whether a customary ritual accords with Islam: ulama, adat leaders or the community that practises it?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Khanduri La’ôt”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/khanduri-laot/