Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Eleume: ilmu hitam di kalangan nelayanEleume: sorcery among fishers

Tradisi lama yang meluntur pasca-2004An old tradition fading after 2004

Eleume adalah ilmu gaib yang menurut sejumlah nelayan dipakai sebagian pawang untuk memanggil ikan ke dekat boat atau mencelakai jaring pesaing. Beberapa kawasan di Aceh Utara, Jeumpa, Aceh Tamiang, dan Aceh Selatan dikenal sebagai wilayah ilmu hitam nelayan. Meski dilarang dalam Islam, praktik ini tidak dianggap persoalan serius oleh komunitas nelayan dan tidak diatur dalam Adat La’ôt. Teknologi seperti GPS pasca-tsunami dan menguatnya kelompok reformis dinilai mengikis pengaruhnya.

Eleume is occult knowledge that, according to some fishers, certain pawang use to draw fish towards their boats or to harm rivals' nets. Several areas in North Aceh, Jeumpa, Aceh Tamiang and South Aceh are known as zones of fishers' sorcery. Although forbidden in Islam, the practice is not regarded as a serious problem by fishing communities and is not regulated by the Adat Laot. Technologies such as post-tsunami GPS and the growth of reformist groups are thought to be eroding its influence.

Para nelayan menuturkan bahwa penggunaan ilmu hitam atau ilmu putih lazim di kalangan pawang, bahkan di antara Panglima La’ôt sendiri. Alasannya praktis: pawang yang menguasai ilmu ini diyakini tahu cara memanggil ikan ke dekat boat di tengah laut. Ada pula pawang yang menganggapnya tidak adil, lalu ketika boat pesaing merapat di kuala, ia membacakan mantra dengan media tertentu di dekatnya dan segera pergi. Sasaran yang paling umum adalah jaring. Karena itu, nelayan pesisir timur mengenali tempat-tempat yang dikenal sebagai pusat ilmu hitam dan kadang menganggapnya sebagai sumber konflik.

Karena karier Panglima La’ôt umumnya dimulai sebagai pawang, secara tersirat ia mengetahui praktik ini. Ketika pimpinan Panglima La’ôt di Banda Aceh ditanya, ia hanya tersenyum dan menyarankan bertanya kepada para ahlinya, lalu mengalihkan pembicaraan ke Adat La’ôt. Para nelayan menyebut tidak ada aturan adat yang mengatur sengketa semacam ini.

Generasi tua memberi tafsir berbeda. Seorang nelayan berusia lebih dari tujuh puluh tahun di Lhok Kreng menekankan bahwa yang terpenting adalah keberanian; nelayan dahulu pulang dengan membaca bintang tanpa perangkat canggih. Seorang nelayan di Meulaboh menilai ilmu ini tidak diperlukan lagi sejak GPS dipakai setelah tsunami 2004, meski mengakui praktiknya masih ada di beberapa kawasan Aceh Selatan. Warga Aceh Selatan juga menyebut mistik dan nelayan sulit dipisahkan, sampai modernisasi dan kelompok reformis menguat. Lemahnya respons lembaga adat terhadap praktik yang dilarang agama ini dibaca sebagai tanda melemahnya nilai agama dalam kehidupan nelayan.

Praktik ilmu hitam dan putih di Aceh diusulkan sebagai bidang antropologi psikologis yang perlu diteliti: mengapa orang memercayai amalan dari sosok yang dianggap menguasai ilmu gaib meski agama melarangnya, termasuk perbandingan dengan tradisi bomoh di utara Semenanjung Malaysia.

Fishers report that the use of black or white magic is common among pawang, and even among Panglima Laot themselves. The rationale is practical: a pawang who masters it is believed to know how to call fish to his boat on the open sea. Some pawang regard this as unfair and, when a rival's boat docks at the river mouth, recite incantations over it with certain objects before leaving at once. The usual target is the net. East-coast fishers therefore know which places are reputed centres of sorcery and sometimes treat them as a source of conflict.

Since a Panglima Laot's career usually begins as a pawang, he is implicitly aware of the practice. Asked about it, the leadership of the Panglima Laot in Banda Aceh merely smiled and suggested asking the experts, then turned the conversation to the Adat Laot. Fishers say no customary rule covers such disputes.

Older fishers offer a different reading. A fisher over seventy in Lhok Kreng stressed that courage mattered most; earlier generations navigated home by the stars without sophisticated equipment. A fisher in Meulaboh judged sorcery unnecessary since GPS came into use after the 2004 tsunami, while conceding that it persists in parts of South Aceh. Residents of South Aceh likewise said mysticism and fishing were inseparable until modernisation and reformist groups gained ground. The customary institution's weak response to a practice forbidden by religion is read as a sign of religion's diminishing role in fishing life.

Black and white magic in Aceh is proposed as a field for psychological anthropology: why people trust formulas from figures believed to master the unseen despite religious prohibition, including comparison with the bomoh tradition of the northern Malay Peninsula.

Gagasan kunciKey ideas

Ilmu sebagai modal produksiOccult knowledge as productive capital

Bagi sebagian pawang, ilmu gaib dipandang sebagai sarana meningkatkan tangkapan dan bersaing.For some pawang, occult knowledge is seen as a means to increase catches and compete.

Kebisuan lembaga adatInstitutional silence

Adat La’ôt tidak mengatur sengketa terkait ilmu hitam, dan lembaga adat cenderung menghindari isu ini.The Adat Laot does not govern sorcery disputes, and the customary institution tends to avoid the issue.

Teknologi versus mistikTechnology versus mysticism

GPS dan modernisasi menggeser kebutuhan akan ilmu gaib, meski tidak menghapusnya sepenuhnya.GPS and modernisation reduce reliance on the occult without eliminating it entirely.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa praktik yang jelas dilarang agama dapat bertahan dalam komunitas yang sangat religius?Why can a practice clearly forbidden by religion persist in a deeply religious community?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Eleume: ilmu hitam di kalangan nelayan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/eleume/