Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

BidangField 02

Kosmologi AcehAcehnese Cosmology

Kosmologi Aceh adalah disiplin yang mempelajari pandangan masyarakat Aceh tentang alam semesta, baik alam besar (makrokosmos) maupun alam kecil dalam diri manusia (mikrokosmos): asal-usulnya, susunannya, tatanannya, dan tempat manusia di dalamnya, dari penciptaan hingga kehidupan sesudah mati. Disiplin ini hadir dalam kerangka studi Aceh karena setiap produk pengetahuan suatu komunitas bertumpu pada sistem kosmologinya; filsafat, religi, hukum, dan tata moral tidak dapat dipahami tanpa lebih dulu memahami cara suatu masyarakat memandang alam dan kekuatan yang mengikatnya. Bahan kajiannya terentang dari uraian ulama tentang penciptaan, seperti karya Nuruddin ar-Raniry dan syair Hamzah Fansuri, hingga tata letak kerajaan, dayah, kampung, dan makam di bentang alam, serta kosakata sehari-hari yang menempatkan Allah sebagai pemilik dan pemberi segala sesuatu. Islam dipandang sebagai pengikat sistem ini; bila Islam dicabut dari kerangka pikir orang Aceh, kosmologinya ikut tercerabut. Pertanyaan pokoknya: bagaimana ulama Aceh menarasikan asal-usul dan susunan alam; bagaimana gagasan kosmik diterjemahkan ke dalam adat, reusam, dan hukom; standar moral dan tingkah laku apa yang lahir darinya; bagaimana alam gaib dan kebatinan dipahami; serta mengapa pengetahuan ini makin jarang diajarkan kepada generasi muda karena dianggap mitos atau tidak rasional.

Acehnese Cosmology is the discipline that studies how Acehnese society understands the universe, both the great world (macrocosm) and the small world within the human being (microcosm): its origin, structure and order, and the human place within it from creation to the life after death. It belongs to the framework of Aceh studies because every body of knowledge a community produces rests on its cosmology; philosophy, religion, law and moral order cannot be grasped without first understanding how a society sees nature and the forces that bind it. Its materials range from scholars' accounts of creation, such as the writings of Nuruddin ar-Raniri and the poetry of Hamzah Fansuri, to the placement of kingdoms, religious schools (dayah), villages and tombs in the landscape, and to everyday vocabulary that names God as owner and giver of all things. Islam is seen as the binding force of this system: were Islam removed from the Acehnese frame of thought, its cosmology would be uprooted with it. Core questions include how Acehnese scholars narrated the origin and structure of the cosmos; how cosmic ideas were translated into custom (adat), usage (reusam) and religious law (hukom); which standards of morality and conduct follow from them; how the unseen world and inner knowledge are understood; and why this knowledge is ever less often taught to the young, dismissed as myth or as irrational.

Lihat posisinya dalam peta filosofisSee its place in the philosophical map →

2.1 Manusia dan Tuhan: metafisikaHumankind and God: metaphysics

Metafisika hubungan manusia dan Tuhan: kisah penciptaan, Nur Muhammad, tangga nyawa makhluk, dan doktrin Tuhan yang ahad dalam alam pikir Aceh.The metaphysics of the human–divine relationship: creation narratives, the Light of Muhammad, the ladder of souls and the doctrine of the One God in Acehnese thought.

KonsepConcept ‘Alam al-kabîr dan ‘alam al-saghîr: makrokosmos dan mikrokosmos‘Alam al-kabir and ‘alam al-saghir: macrocosm and microcosm Kosmologi sufi membedakan alam besar (‘alam al-kabîr), yang berporos pada ‘Arsy dan tertata oleh ketetapan Allah, dari alam kecil (‘alam al-saghîr) yang bersemayam dalam hati manusia. Alam besar terbagi menjadi…Sufi cosmology distinguishes the great world (‘alam al-kabir), centred on the divine Throne and ordered by God’s decree, from the small world (‘alam al-saghir) dwelling in the human heart. The… KonsepConcept A‘yān tsābitah: hakikat alam dalam ilmu AllahA‘yān thābita: the immutable essences in God's knowledge A‘yān tsābitah adalah konsep sufi tentang hakikat segala sesuatu sebagaimana berada dalam ilmu Allah sebelum tampak sebagai alam lahir. Karena Allah bersifat ilmu, ada yang diketahui, dan isi dari yang…The a‘yān thābita are the Sufi notion of the realities of all things as they exist within God's knowledge before appearing as the external world. Because God has the attribute… KonsepConcept Ada dan diri dalam pemikiran Hamzah FansuriBeing (ada) and self (diri) in the thought of Hamzah Fansuri Dalam kajian Syed Muhammad Naquib al-Attas, Hamzah Fansuri memakai kata Melayu ada dengan tujuh makna metafisik dan mistik, dari mawjud hingga Zat. Kata diri, dalam konteks ontologis, tidak menunjuk ego…In Syed Muhammad Naquib al-Attas's study, Hamzah Fansuri used the Malay word ada ('to be') with seven metaphysical and mystical senses, from mawjud to the Essence. The word diri ('self'),… NaskahText Asrār al-‘ĀrifīnAsrār al-‘Ārifīn (The Secrets of the Gnostics) Asrār al-‘Ārifīn adalah kitab Hamzah Fansuri yang berisi syarah atas lima belas bait syairnya sendiri tentang makrifat kepada Allah, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya. Kitab ini dibuka dengan seruan kepada anak Adam…Asrār al-‘Ārifīn is Hamzah Fansuri's prose commentary on fifteen of his own stanzas about gnosis of God, His attributes and His names. It opens by calling the Muslim children of… KonsepConcept Bangsa teuleubeh: doktrin bangsa mulia dan Tuhan yang ahadBangsa teuleubeh: the doctrine of a noble people and the One God Konsep kemanusiaan yang menonjol dalam alam pikir Aceh adalah keyakinan sebagai keturunan bangsa teuleubeh di ateuh rueng donya, bangsa yang mulia di atas dunia. Konsep ini jarang dikaji sarjana, dan…A prominent idea of humanity in Acehnese thought is the belief in descent from a bangsa teuleubeh di ateuh rueng donya, 'a people exalted above the world'. Scholars have rarely… KonsepConcept Dari ‘abd ke khalîfah hingga aulia: tangga hubungan manusia dan TuhanFrom servant to vicegerent to friend of God: the ladder of the human–divine relationship Kerangka yang menjelaskan hubungan manusia dan Tuhan sebagai proses transformasi bertahap: dari hamba (‘abd), menjadi wakil Allah (khalîfah), hingga sahabat Allah (walî/aulia). Proses ini berjalan melalui dîn, millah, dan syarî‘at,…A framework that explains the human–divine relationship as a stepwise transformation: from servant (‘abd) to God's vicegerent (khalifa) and finally to friend of God (wali/awliya). The process runs through din,… KonsepConcept Dīn, millah, dan syarī‘atDīn, millah and sharī‘a Kerangka dīn, millah, dan syarī‘at menjelaskan bagaimana manusia memperoleh pegangan dalam perjalanannya dari hamba menjadi khalifah. Dīn dimaknai sebagai ‘janji-janji’, yakni kesadaran bahwa setiap amal akan dibalas; millah sebagai metode,…The framework of dīn, millah and sharī‘a explains how humans gain their bearings on the journey from servant to vicegerent. Dīn is read as 'covenant', the awareness that every deed… KonsepConcept Drama kosmis: Adam, malaikat, dan IblisThe cosmic drama: Adam, the angels and Iblis Drama kosmis adalah istilah Nurcholish Madjid untuk kisah al-Qur’an tentang penciptaan Adam sebagai khalifah, yang dihadiri Allah, malaikat, Iblis, dan Adam. Intinya adalah keunggulan manusia karena menerima ilmu langsung dari…The 'cosmic drama' is Nurcholish Madjid's term for the Qur'anic story of Adam's creation as vicegerent, with God, the angels, Iblis and Adam as its cast. Its core is humanity's… KonsepConcept Insan kamil: manusia sempurna sebagai khalifahInsan kamil: the Perfect Human as vicegerent Insan kamil adalah gagasan tasawuf tentang manusia sempurna yang berhasil mempertemukan alam kecil dalam dirinya dengan alam besar. Jalan menuju derajat ini ditempuh dengan memperteguh iman, islam, dan ilmu, serta…Insan kamil is the Sufi idea of the Perfect Human who succeeds in uniting the small world within with the great world without. The way to this station runs through… KonsepConcept Kosmologi Islam: kisah kosmik al-Qur’an dan tiga wilayah penjelasannyaIslamic cosmology: the Qur'an's cosmic narratives and three fields of explanation Kosmologi adalah ilmu tentang asal-usul, struktur, komponen, tatanan, dan hukum alam semesta, yang berada di persimpangan filsafat, teologi, dan ilmu alam. Menurut Samer Akkach, ganjaran dan hukuman sebagai perangkat hukum…Cosmology is the science of the origin, structure, components, order and laws of the universe, standing at the crossroads of philosophy, theology and natural science. According to Samer Akkach, reward… KonsepConcept Lā ta‘ayyun dan martabat ta‘ayyunNon-determination and the grades of determination (ta‘ayyun) Ta‘ayyun adalah konsep sufi tentang tingkatan penentuan atau penampakan wujud, dari Zat yang mutlak hingga alam lahir. Hamzah Fansuri menyebut Zat al-Ḥaqq sebagai lā ta‘ayyun, tak tertentukan, karena ilmu dan…Ta‘ayyun is the Sufi notion of grades of determination or manifestation of being, from the absolute Essence down to the external world. Hamzah Fansuri called the Essence of the Real… KonsepConcept Perjalanan sang ‘abid: dari ibadah menuju fanâThe path of the ‘abid: from worship to fana Dalam pemahaman sufi yang berkembang di Aceh, siapa pun yang mencari Tuhan harus terlebih dahulu menjadi ‘abid, hamba yang beribadah melalui jalan syariat. Perjalanan ini bergerak dari penguatan iman, penyerahan…In the Sufi understanding current in Aceh, anyone seeking God must first become an ‘abid, a servant who worships along the path of sharia. The journey runs from strengthening faith… KonsepConcept Potala dan Allah bri: kepemilikan ilahi dalam bahasa sehari-hariPotala and Allah bri: divine ownership in everyday speech Kosmologi tauhid orang Aceh hidup dalam kosakata sehari-hari. Rezeki diterima dengan ungkapan Tuhan bri atau Allah bri, dan kepemilikan sejati disebut Potala atau Po rabbana. Kata po untuk kepemilikan substantif…The Acehnese cosmology of divine unity lives in everyday vocabulary. Livelihood is received with the words Tuhan bri or Allah bri, 'God gives', and true ownership is called Potala or… KonsepConcept Ruh idhafi dan Nur Muhammad dalam pemikiran Hamzah FansuriThe relational spirit and the Light of Muhammad in Hamzah Fansuri's thought Dalam tafsiran Syed Muhammad Naquib al-Attas, Hamzah Fansuri menyamakan spirit dengan Cahaya (al-Nûr), Akal (al-‘Aql), dan Pena (al-Qalam), yang semuanya bersumber dari Ilmu Ilahi. Spirit ini juga disebut Haqîqat Muhammad…In Syed Muhammad Naquib al-Attas's reading, Hamzah Fansuri identifies spirit with the Light (al-Nur), the Intellect (al-‘Aql) and the Pen (al-Qalam), all grounded in Divine Knowledge. This spirit is also… KonsepConcept Tangga nyawa makhluk dan asal-usul rasa malu dalam kosmologi ar-RaniryThe ladder of souls and the origin of shame in al-Raniri's cosmology Dalam uraian Nuruddin ar-Raniry tentang awal penciptaan, Allah yang ingin dikenali menjadikan Nur Muhammad dari cahaya keesaan-Nya dengan dua sifat, jalal dan jamal. Ketika ditilik Allah dengan pandangan kasih (mahabbah),…In Nur al-Din al-Raniri's account of the beginning of creation, God, wishing to be known, made the Light of Muhammad from the light of His oneness, bearing two attributes, majesty… KonsepConcept Tujuh sifat, Kamal, Jalal, dan JamalThe seven attributes and Perfection, Majesty and Beauty Hamzah Fansuri mengajarkan tujuh sifat Allah yang kekal, yaitu hayat, ilmu, iradat, qudrat, kalam, sami‘, dan baṣar, sebagai himpunan seluruh sifat lain. Sifat kesempurnaan (Kamal) mencakup dua kutub, Jalal dan…Hamzah Fansuri taught seven everlasting attributes of God, life, knowledge, will, power, speech, hearing and sight, as the sum of all other attributes. The attribute of Perfection (Kamāl) comprises two… NaskahText Uraian Nuruddin ar-Raniry tentang awal penciptaan langit dan bumiNuruddin ar-Raniry's account of the creation of the heavens and the earth Bagian karya Nuruddin ar-Raniry yang dirujuk dengan judul Khalq bad’ al-Samawât wa al-Ardh, berbahasa Melayu-Jawi, yang membuka uraian tentang apa yang pertama kali diciptakan Allah. Teks ini menghimpun hadis dan…A section of Nuruddin ar-Raniry's writing, referred to under the title Khalq bad’ al-Samawat wa al-Ard, in Jawi Malay, that opens with an account of what God created first. It… KonsepConcept Zat, Huwa, dan nama Allah: tingkatan ‘Yang Pertama’Essence, Huwa and the name Allah: the hierarchy of 'the First' Dalam syarah Asrār al-‘Ārifīn, Hamzah Fansuri menjelaskan bahwa ‘Yang Pertama’ adalah Zat semata, tanpa sifat dan tanpa nama. Nama bagi Zat itu adalah Huwa (Dia), yang setingkat lebih tinggi daripada…In his commentary in Asrār al-‘Ārifīn Hamzah Fansuri explains that 'the First' is the Essence alone, without attribute or name. The name of that Essence is Huwa (He), one rank…

2.2 Sistem kebatinan & alam gaibInner knowledge & the unseen

Pemahaman tentang alam gaib, Kerajaan Langit, tempat-tempat keramat, makam di ketinggian, serta jalur ilmu batin dalam masyarakat Aceh.Understandings of the unseen world, the Heavenly Kingdom, sacred places, hilltop tombs and the paths of inner knowledge in Acehnese society.

KonsepConcept Alam gaib dalam kepercayaan orang AcehThe unseen world in Acehnese belief Masyarakat Aceh meyakini keberadaan makhluk dan kekuatan gaib yang dikenal melalui istilah burong (hantu), teumeugu (dimasuki roh jahat di tempat tertentu), teumamong (kesurupan), peukeunong (santet), meusihe (belajar sihir), dan meutapa…Acehnese society believes in unseen beings and forces known by terms such as burong (ghost), teumeugu (possession by an evil spirit at a particular place), teumamong (trance possession), peukeunong (sorcery… KonsepConcept Bukit, makam ulama, dan pusat kosmikHills, scholars' tombs and the cosmic centre Tata letak kerajaan, dayah, kampung, dan makam di Aceh dapat dibaca sebagai ungkapan kosmologi. Kerajaan Islam berdiri di bibir pantai Selat Melaka, dayah banyak didirikan di pedalaman yang menghadap pegunungan…The placement of kingdoms, religious schools (dayah), villages and tombs in Aceh can be read as an expression of cosmology. Islamic kingdoms stood on the shore of the Straits of… KonsepConcept Bumoe wali dan Aulia TujohBumoe wali and the Aulia Tujoh Aceh dijuluki bumoe wali, bumi para wali, sebuah sebutan yang sejajar dengan julukan tanah para wali untuk Jawa. Dalam imajinasi keagamaan setempat dikenal Aulia Tujoh, tujuh wali Allah yang dipercaya…Aceh is called bumoe wali, the land of saints, an epithet parallel to Java's 'land of the saints'. Local religious imagination knows the Aulia Tujoh, seven friends of God believed… KonsepConcept Eleume: ilmu hitam di kalangan nelayanEleume: sorcery among fishers Eleume adalah ilmu gaib yang menurut sejumlah nelayan dipakai sebagian pawang untuk memanggil ikan ke dekat boat atau mencelakai jaring pesaing. Beberapa kawasan di Aceh Utara, Jeumpa, Aceh Tamiang, dan…Eleume is occult knowledge that, according to some fishers, certain pawang use to draw fish towards their boats or to harm rivals' nets. Several areas in North Aceh, Jeumpa, Aceh… TempatPlace Guha Tujoh (Gua Tujuh)Guha Tujoh (Seven Caves) Guha Tujoh adalah gua di perbukitan yang menjorok ke laut di sekitar perbatasan Aceh Besar dan Pidie. Gua ini dikenal sebagai tempat meutapa untuk menyempurnakan ilmu, dan pada bulan Ramadhan…Guha Tujoh is a cave in hills jutting into the sea near the border of Aceh Besar and Pidie. It is known as a place for meutapa (ascetic retreat) to… KonsepConcept Kebatinan sebagai pertahanan: kritik atas tumbalMysticism as defence: a critique of tumbal Kritik normatif ini membedakan kebatinan yang melayani penguasa dari kebatinan yang menasihati penguasa demi rakyat. Kebatinan yang tunduk pada alam disebut cenderung menyembunyikan terawangan buruk dan menerima tumbal, yakni korban…This normative critique contrasts mysticism that serves rulers with mysticism that counsels rulers for the people’s sake. Mysticism that submits to nature is said to conceal ill omens and accept… KonsepConcept Qutub dan autad: hierarki wali dalam kosmologi lokalQutub and autad: the saintly hierarchy in local cosmology Dalam kosmologi sufi yang berakar pada Ibn ‘Arabi dan dikembangkan ‘Abd al-Karim al-Jili, qutub adalah ‘poros’ tunggal pada setiap zaman yang menopang hubungan manusia dengan Tuhan, dibantu empat autad atau…In Sufi cosmology rooted in Ibn ‘Arabi and elaborated by ‘Abd al-Karim al-Jili, the qutub is the single ‘pole’ of each age sustaining humanity’s relation to God, supported by four… KonsepConcept Syajarat al-Yaqīn, ‘Arsy, dan waktu Kerajaan LangitShajarat al-Yaqin, the Throne and the time of the Heavenly Kingdom Tradisi kitab di Aceh menggambarkan kejadian Nur Muhammad melalui citra sebatang pohon berdahan empat bernama Syajarat al-Muttaqin atau Syajarat al-Yaqin. Riwayat lain menyebut Nur Muhammad dijadikan serupa merak dan ditempatkan…The kitab tradition in Aceh depicts the coming-into-being of the Light of Muhammad through the image of a four-branched tree named Shajarat al-Muttaqin or Shajarat al-Yaqin. Another report says the… TradisiTradition Tabib dan jalur ilmu gaib di AcehTabib and the paths of occult knowledge in Aceh Di Aceh, penyembuh dan praktisi ilmu gaib lebih suka disebut tabib daripada dukun. Pengamatan terhadap sejumlah tabib menunjukkan beberapa jalur: menuntut ilmu gaib, putih atau hitam, terutama di pantai selatan…In Aceh, healers and practitioners of occult knowledge prefer to be called tabib rather than dukun. Observation of several tabib suggests a number of paths: studying occult knowledge, white or…

2.3 Standar moralMoral standards

Ukuran baik dan buruk yang diturunkan dari kosmologi, seperti keseimbangan adat, reusam, dan hukom serta nasihat hadih maja.Measures of good and bad derived from cosmology, such as the balance of adat, reusam and hukom and the counsel of hadih maja proverbs.

KonsepConcept ‘Ibād Allāh al-mukhlaṣīn: hamba yang tak tergoyahkan‘Ibād Allāh al-mukhlaṣīn: the servants beyond temptation ‘Ibād Allāh al-mukhlaṣīn adalah golongan hamba yang diakui Iblis sendiri tidak dapat ia sesatkan. Akar kata kh-l-ṣ dalam al-Qur’an selalu dilekatkan dengan dīn dan Allah, menunjuk ketaatan pada dīn yang…The ‘ibād Allāh al-mukhlaṣīn are the servants whom Iblis himself admits he cannot lead astray. The Qur'anic root kh-l-ṣ is consistently linked with dīn and with God, denoting obedience to… KonsepConcept Adat, reusam, dan hukom: tiga hubungan dalam kosmologi AcehAdat, reusam and hukom: three relationships in Acehnese cosmology Pengetahuan tentang alam diterjemahkan orang Aceh ke dalam satu sistem yang memadukan tiga hubungan. Hubungan manusia dengan manusia diwujudkan dalam adat (undang-undang), hubungan manusia dengan alam dalam kebiasaan (reusam), dan…The Acehnese translated their knowledge of nature into a single system combining three relationships. Relations between people are expressed in adat (customary law), relations between people and nature in usage… KonsepConcept Dua puluh sifat positif dan dua puluh sifat negatif: katalog moralTwenty positive and twenty negative traits: a moral catalogue Inti karakterologi reflektif ini adalah dua daftar: sifat yang dinilai positif dan sifat yang dinilai negatif, masing-masing direncanakan berjumlah dua puluh. Logikanya dialektis: memahami kekuatan lebih dahulu agar kelemahan lebih…The core of this reflective characterology is two lists, of traits judged positive and traits judged negative, each planned to number twenty. The logic is dialectical: understand the strengths first… KonsepConcept Hana roh, hana get, han jeut: tiga lapis pertimbangan moralHana roh, hana get, han jeut: three layers of moral reasoning Cara berpikir orang Aceh dirumuskan bertumpu pada tiga fondasi: alam, jiwa, dan agama. Masing-masing diungkapkan dalam penilaian hana roh (melawan alam atau ruh tempat), hana get atau hana jroh (tidak…Acehnese reasoning is described as resting on three foundations: nature, soul and religion. Each is voiced in a judgement: hana roh (against nature or the spirit of a place), hana… KonsepConcept Pertimbangan etis: spiritual, timang, peringatan, dan syukurEthical deliberation: spiritual judgment, balance, counsel and gratitude Dua bagan menempatkan ungkapan hana roh, hana get, han jeut serta peutimang, haba mangat, peuingat, beureukat, dan syukur dalam basis spiritual dan etika Aceh.Two diagrams place hana roh, hana get, han jeut and peutimang, haba mangat, peuingat, beureukat and syukur within Acehnese spiritual and ethical bases. KonsepConcept Rezeki: karunia yang diusahakanRezeki: blessing that must be striven for Di Aceh kata rezeki mencakup penghasilan, rezeki tak terduga, anak, bahkan ilmu, dan selalu mengandung gagasan agensi bersama antara manusia dan Tuhan. Orang Aceh menolak istilah ‘peruntungan’ yang dianggap menjadikan…In Aceh the word rezeki covers income, windfalls, children and even knowledge, and always carries the idea of joint human and divine agency. Acehnese reject the term ‘peruntungan’ (profit, luck),… KonsepConcept Tanoh sebagai amanah: kepemilikan ilahi dan penggunaan bersamaTanoh as a trust: divine ownership and shared use Po Tala dalam presentasi menjadi dasar membaca tanah sebagai amanah. Penggunaan bersama dan wakaf tampil sebagai hubungan manusia dengan tanah yang memerlukan tanggung jawab.Po Tala grounds the presentation’s understanding of land as a trust. Shared use and waqf appear as relationships requiring responsibility.

2.4 Standar tingkah lakuStandards of conduct

Pola tindakan sehari-hari yang diatur oleh kosmologi, dari kosakata kerja dan nafkah hingga falsafah gerak dan keikhlasan.Everyday patterns of conduct governed by cosmology, from the vocabulary of work and livelihood to a philosophy of movement and sincerity.

KonsepConcept ‘Ilmu, ‘amal, dan ‘alam: ibadah, syukur, dan zikirKnowledge, deed and world: worship, gratitude and remembrance Kata ‘ālam (alam) dipandang berkerabat dekat dengan ‘ilm (ilmu) dan ‘amal (perbuatan), sehingga ketiganya membentuk satu kesatuan makna dalam kosmologi Islam. Dari ilmu, derajat seseorang dijanjikan; dari amal, ketakwaannya diukur;…The word ‘ālam (world) is seen as closely kin to ‘ilm (knowledge) and ‘amal (deed), so the three form a single field of meaning in Islamic cosmology. Through knowledge a… TradisiTradition Balah hidang dan terima kasih melalui perbuatanBalah hidang and gratitude expressed through deeds Anggapan bahwa orang Aceh ‘tidak tahu berterima kasih’ dibantah dengan argumen bahwa terima kasih dalam budaya Aceh diungkapkan melalui perbuatan, bukan ucapan. Contohnya adalah kebiasaan mengembalikan piring tetangga dengan isi…The claim that the Acehnese are ‘ungrateful’ is rebutted by arguing that gratitude in Acehnese culture is expressed through deeds rather than words. Examples include returning a neighbour’s plate filled… KonsepConcept Dunia dan akhirat: waktu etis yang ‘kontingen’This world and the hereafter: a ‘contingent’ ethical time Birchok menunjukkan bahwa Muslim di Nagan Raya tidak hanya menjalani agama dalam ‘waktu berjuang’, yaitu penyempurnaan diri yang progresif seperti dalam gerakan dakwah dan proyek syariat, tetapi juga dalam waktu…Birchok shows that Muslims in Nagan Raya live their religion not only in ‘striving time’, the progressive self-improvement of dakwah movements and the sharia project, but also in a ‘contingent’… KonsepConcept Falsafah gerak: peukateun, but, jak hareukat, dan ikheulaihA philosophy of movement: peukateun, but, jak hareukat and ikheulaih Kosakata tingkah laku dan kerja dalam bahasa Aceh tidak netral, tetapi diatur oleh kosmologi. Tingkah laku disebut peukateun atau amay, pekerjaan disebut but, mencari nafkah disebut hareukat, dan nilai suatu…The Acehnese vocabulary of conduct and work is not neutral but ordered by cosmology. Conduct is called peukateun or amay, work but, earning a living hareukat, and the worth of… KonsepConcept Ingat, seimbang, syukur: falsafah tindakan budaya AcehRemember, balance, give thanks: the Acehnese philosophy of cultural action Bagi mereka yang telah mengenal diri, tindakan budaya Aceh berpijak pada tiga falsafah: ingat, seimbang, dan syukur. ‘Ingat’ diwujudkan dalam haba peuingat, ‘seimbang’ dalam timang dan logika meunyoe, sedangkan ‘syukur’…For those who know themselves, Acehnese cultural action rests on three philosophies: remembrance, balance and gratitude. 'Remembrance' is expressed in haba peuingat (words of reminder), 'balance' in timang and the… KonsepConcept Timang dan peutimang nanggroeTimang and peutimang nanggroe: balance as political philosophy Timang berarti selaras atau seimbang, dan dipandang sebagai titik kosmos dalam alam berpikir budaya Aceh. Segala tindakan, termasuk mengurus negeri (peutimang nanggroe), diukur dari keselarasannya dengan Tuhan, alam, dan sesama…Timang means harmony or balance and is regarded as a cosmic reference point in Acehnese cultural thought. Every action, including governing the land (peutimang nanggroe), is measured by its harmony…