Hana roh, hana get, han jeut: tiga lapis pertimbangan moralHana roh, hana get, han jeut: three layers of moral reasoning
Cara berpikir orang Aceh dirumuskan bertumpu pada tiga fondasi: alam, jiwa, dan agama. Masing-masing diungkapkan dalam penilaian hana roh (melawan alam atau ruh tempat), hana get atau hana jroh (tidak patut menurut jiwa luhur dan relasi sosial), dan han jeut (terlarang menurut agama). Ketiganya melahirkan aturan adat dan reusam, dengan agama sebagai lapis tertinggi. Inilah alasan agama dan adat di Aceh dipandang tidak bertolak belakang.
Acehnese reasoning is described as resting on three foundations: nature, soul and religion. Each is voiced in a judgement: hana roh (against nature or the spirit of a place), hana get or hana jroh (improper by the standards of the noble soul and social relations), and han jeut (forbidden by religion). Together they generate adat and reusam, with religion as the highest layer. This is why religion and adat in Aceh are held not to contradict each other.
Hana roh mengatur relasi manusia dengan alam. Roh di sini dipahami sebagai kekuatan tak kasatmata; setiap tempat dipandang ada yang menempati, sehingga kesatuan manusia dan alam ditandai dengan persembahan berupa khanduri. Tanda-tanda alam diwariskan turun-temurun dan dijalankan tanpa harus dipersoalkan masuk akal atau tidak. Dahulu, waktu khanduri ditentukan tetua berdasarkan bulan dan tanda alam; kini sering mengikuti hari libur.
Hana get atau hana jroh mengatur relasi manusia dengan manusia. Ukurannya adalah jiwa luhur yang diajarkan para bijak dan diendapkan dalam hadih maja; nasihatnya pendek, jarang diulang, dan ditujukan kepada batin, bukan akal. Moralitas diukur dari keluhuran sikap, bukan status, dan orang yang menampilkannya biasanya menjadi pemimpin. Pelanggaran, seperti absen dari kenduri kampung, berbuah sanksi sosial, meski kini melemah seiring berkurangnya wibawa ureung tuha.
Han jeut berasal dari hukum agama yang dirumuskan ulama dan disemai di dayah; ia menjadi negosiasi terakhir bila dua lapis sebelumnya gagal. Pada masa kerajaan, ketiga lapis ini membentuk adat sebagai hukum manusia yang dimahkotai aturan agama, dan raja atau ratu selalu didampingi penasihat ulama. Penerapan syariat Islam masa kini dibaca sebagai upaya memformalkan lapis ketiga, sementara runtuhnya hana roh dan hana get dipandang membuat struktur sosial rapuh.
Hana roh governs the relation between humans and nature. Roh here is an unseen force; every place is believed to have its occupant, so the unity of humans and nature is marked by offerings in the form of khanduri. Natural signs are passed down and followed without asking whether they are rational. In the past elders set the timing of a khanduri by the moon and natural signs; today it often follows public holidays.
Hana get or hana jroh governs relations between people. Its measure is the noble soul taught by the wise and distilled in hadih maja; its counsel is brief, rarely repeated and addressed to the heart rather than reason. Morality is measured by nobility of conduct, not by status, and those who display it usually become leaders. Breaches, such as skipping a village feast, bring social sanction, though this has weakened as elders' authority has declined.
Han jeut derives from religious law formulated by the ulama and cultivated in the dayah; it is the last line of negotiation when the first two layers fail. Under the sultanate the three layers shaped adat as human law crowned by religious rules, and rulers were always attended by scholarly advisers. Today's implementation of Islamic law is read as an attempt to formalise the third layer, while the erosion of hana roh and hana get is seen as leaving the social structure fragile.
Gagasan kunciKey ideas
Alam – jiwa – agamaNature – soul – religion
Tiga relasi yang masing-masing memiliki bahasa larangannya sendiri.Three relations, each with its own language of prohibition.
Bertingkat dan berurutanLayered and sequential
Han jeut menjadi negosiasi terakhir setelah hana roh dan hana get.Han jeut is the final resort after hana roh and hana get.
Adat dan agama selarasAdat and religion aligned
Adat lahir dari ketiga hana dan dimahkotai aturan agama.Adat arises from the three hana and is crowned by religious rules.
Keruntuhan berantaiCascading erosion
Melemahnya satu lapis berdampak pada lapis berikutnya.Weakening of one layer affects the next.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bila hana roh dan hana get melemah, apakah penegakan han jeut melalui hukum formal cukup untuk menjaga tatanan sosial?If hana roh and hana get weaken, is enforcing han jeut through formal law enough to sustain social order?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Hana roh, hana get, han jeut: tiga lapis pertimbangan moral”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hana-roh-hana-get-han-jeut/