Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Alam gaib dalam kepercayaan orang AcehThe unseen world in Acehnese belief

Masyarakat Aceh meyakini keberadaan makhluk dan kekuatan gaib yang dikenal melalui istilah burong (hantu), teumeugu (dimasuki roh jahat di tempat tertentu), teumamong (kesurupan), peukeunong (santet), meusihe (belajar sihir), dan meutapa (bertapa). Semua praktik ini, kecuali sihir, dibingkai dengan doa bersama (meu do‘a). Kepercayaan ini sejajar dengan dunia mistik Jawa. Ia menunjukkan lapisan keyakinan yang bertahan di bawah identitas Islam yang kuat.

Acehnese society believes in unseen beings and forces known by terms such as burong (ghost), teumeugu (possession by an evil spirit at a particular place), teumamong (trance possession), peukeunong (sorcery attack), meusihe (learning magic) and meutapa (ascetic retreat). All these, except sorcery, are framed by communal prayer (meu do‘a). The beliefs parallel the mystical world of Java. They reveal a layer of conviction persisting beneath a strong Islamic identity.

Sebagaimana orang Jawa dikenal percaya pada hal mistik, orang Aceh pun memiliki kosakata yang kaya untuk menamai pengalaman gaib. Burong merujuk pada hantu; teumeugu adalah keadaan seseorang yang dimasuki roh jahat ketika berada di tempat tertentu; teumamong berarti kesurupan; peukeunong adalah santet; meusihe berarti mempelajari ilmu sihir; dan meutapa ialah bertapa atau bersemedi. Kosakata ini menunjukkan bahwa alam gaib merupakan bagian dari peta pengalaman sehari-hari.

Ciri khas kepercayaan ini adalah pembingkaian islami. Hampir semua aktivitas tersebut, kecuali yang berbau sihir, disertai ritual doa bersama atau meu do‘a. Dengan demikian, batas yang ditarik bukan antara percaya dan tidak percaya pada yang gaib, melainkan antara praktik yang dapat diislamkan dan sihir yang ditolak. Meutapa, misalnya, menjadi ritual yang cukup sering dilakukan untuk menyempurnakan ilmu, baik di gua seperti Guha Tujoh maupun di makam ulama.

Dalam kerangka analisis budaya, lapisan ini menempati posisi terendah dalam struktur keberagamaan Aceh: di bawah dinding tinggi tasawuf, orang Aceh tetap mengaku Muslim sekaligus memelihara keyakinan mistik. Proses ‘mistikasi’ ini dinilai perlu ditelaah untuk melihat di mana Islam dan budaya Aceh ‘berpisah’ dan di mana keduanya menyatu. Kepercayaan serupa di kalangan nelayan, seperti eleume, menunjukkan bahwa dunia gaib juga berkelindan dengan mata pencaharian.

Praktik meusihe (sihir) disebut telah berlangsung ratusan tahun dan diadaptasi dengan ajaran Islam oleh para pengamalnya; topik ini diusulkan sebagai objek antropologi kesadaran karena belum ada kajian khusus yang menghimpun sihir Aceh.

Just as the Javanese are known for belief in the mystical, the Acehnese have a rich vocabulary for naming unseen experience. Burong refers to ghosts; teumeugu is the state of being entered by an evil spirit at a particular place; teumamong means trance possession; peukeunong is sorcery directed at someone; meusihe means studying magic; and meutapa is ascetic retreat or meditation. This vocabulary shows that the unseen world is part of the map of everyday experience.

A distinctive feature of these beliefs is their Islamic framing. Almost all such activities, except those smacking of sorcery, are accompanied by communal prayer, meu do‘a. The line is therefore drawn not between belief and disbelief in the unseen, but between practices that can be Islamised and sorcery that is rejected. Meutapa, for instance, is a fairly common ritual for perfecting one’s knowledge, whether in caves such as Guha Tujoh or at the tombs of ulama.

In cultural analysis this layer occupies the lowest level of Acehnese religiosity: beneath the high wall of Sufism, Acehnese profess Islam while keeping mystical beliefs. This ‘mystification’ is considered worth examining to see where Islam and Acehnese culture ‘part ways’ and where they merge. Similar beliefs among fishers, such as eleume, show that the unseen world is also entwined with livelihoods.

The practice of meusihe (magic) is said to have persisted for centuries and been adapted to Islamic teaching by practitioners; it is proposed as an object for the anthropology of consciousness, since no dedicated study of Acehnese magic yet exists.

Gagasan kunciKey ideas

Kosakata gaib yang kayaA rich vocabulary of the unseen

Banyaknya istilah menandai pentingnya alam gaib dalam pengalaman sehari-hari.The many terms mark the importance of the unseen in daily life.

Garis pada sihirThe line at sorcery

Praktik gaib diterima bila dibingkai doa; sihir ditolak.Unseen practices are accepted when framed by prayer; sorcery is rejected.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa kepercayaan gaib tetap bertahan dalam masyarakat yang sangat menekankan syariat?Why do beliefs in the unseen endure in a society that strongly emphasises sharia?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Alam gaib dalam kepercayaan orang Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/alam-gaib-dalam-kepercayaan-aceh/