Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway
T5 · Lantai II · Fondasi metafisikaMetaphysical foundation

Pola pikir orang Aceh sebagai sistemThe Acehnese way of thinking as a system

Pola pikir orang Aceh dapat dirumuskan sebagai sistem: hana roh, hana get, han jeut, serta trilogi ngeutlogi, teungeutlogi dan peungeutlogi.The Acehnese way of thinking can be formulated as a system: hana roh, hana get, han jeut, and the trilogy of ngeutlogi, teungeutlogi and peungeutlogi.

Tesis kelima menyatakan bahwa pola pikir orang Aceh dapat dirumuskan sebagai sistem. Klaim ini lebih berani daripada sekadar menyatakan bahwa orang Aceh memiliki kebudayaan. Kebudayaan dapat dicatat sebagai himpunan adat, upacara dan kesenian; sistem berpikir menuntut lebih dari itu, yaitu seperangkat prinsip yang saling berhubungan, yang menjelaskan mengapa orang menilai, menolak atau membenarkan sesuatu. Dua rumusan menjadi tumpuan tesis ini: triad larangan hana roh, hana get, han jeut, yang menautkan alam, jiwa dan agama; serta trilogi ngeutlogi, teungeutlogi dan peungeutlogi, yang membaca cara masyarakat dibodohi, dilenakan dan ditipu. Di sekelilingnya terdapat kosakata wacana dan ekonomi yang memperlihatkan bahwa sistem itu hidup dalam bahasa sehari-hari.

Dalam bahasa Aceh, cara berpikir disebut seumike. Rumusan triad larangan, yang diajukan Kamaruzzaman Bustamam Ahmad dalam makalah "Memahami Cara Seumike Ureung Aceh" di International Islamic University Malaysia pada 2012, menyatakan bahwa pola pikir untuk menjaga keseimbangan hidup, dari tingkat kawom hingga nanggroe, dibangun di atas tiga fondasi. Sebagaimana diuraikan dalam entri hana roh, hana get, han jeut, hana roh menandai tindakan yang melawan alam, hana get menandai tindakan yang melukai keluhuran jiwa dan tatanan sosial, dan han jeut menandai larangan agama yang dirumuskan ulama. Han jeut berfungsi sebagai negosiasi terakhir ketika dua lapisan lain tidak lagi bekerja. Ketiganya saling bergantung: ketika hana roh tidak lagi dimaknai, hana get ikut melemah, dan han jeut kehilangan sandaran. Inilah yang membuat rumusan itu layak disebut sistem, bukan daftar.

Rumusan kedua bertolak dari peristiwa politik. Entri trilogi pemikiran keacehan menjelaskan bahwa ketiga ilmu itu dirumuskan pada awal 2008 untuk membaca mobilisasi ribuan santri ke Banda Aceh pada 27 Januari 2008, yang menuntut penghapusan wacana gender, keseriusan pelaksanaan syariat dan pembentukan Qanun Aswaja. Ngeutlogi adalah ilmu tentang keadaan dibodohi, dengan dua bentuk: ngeut uram, dibodohi sejak awal, dan ngeut ujong, dibodohi pada ujung kegiatan ketika hasil jerih payah dinikmati pihak lain. Teungeutlogi menjelaskan keterlenaan yang sengaja diciptakan, dan peungeutlogi adalah ilmu menipu atas nama kebenaran, yang diringkas sebagai "tersesat di jalan yang benar". Bila triad larangan menjelaskan bagaimana tingkah laku dikendalikan dari dalam, trilogi ini menjelaskan bagaimana kendali itu dimanipulasi dari luar. Keduanya membentuk dua sisi dari satu sistem: kendali dan kerentanannya.

Kosakata wacana memperlengkap sistem itu. Entri haba carong dan haba bangai memperlihatkan bahwa mutu pembicaraan diukur dari ada atau tidaknya akai: haba carong adalah pembicaraan berisi, haba bangai pembicaraan kosong, dan haba cet langet gagasan yang mengecat langit. Pasangan ini berakar pada pembedaan ureung carong, gelar yang praktis hanya diberikan kepada ulama dan cendekiawan, dan ureung bangai, sapaan merendah orang kampung di hadapan teungku. Kosakata ekonomi dalam entri meudagang, hareukat, baynah dan beureukat menambahkan prinsip bahwa transmisi ilmu ditempatkan di atas akumulasi harta. Puncak sistem itu, menurut kritik kebudayaan pascatsunami, adalah hadih maja, nasihat padat yang pendek, jarang diulang, tidak selalu masuk akal, tetapi meresap ke dalam dada. Entri tentang budi dan budiman, minda dan fikir, bangai dan awak serta galak, meu-chen dan hikmah menunjuk perbendaharaan yang sama dari sudut lain.

Data yang menopang tesis ini terutama berupa pemakaian bahasa dalam situasi sosial yang nyata. Hukuman sosial terhadap orang yang tidak menghadiri kenduri kampung atau keurija udep dan keurija mate memperlihatkan hana get bekerja; menariknya, pelanggaran itu juga dinilai dari sudut hana roh, karena ketidakhadiran dianggap melawan keselarasan yang lebih luas. Dahulu pola pikir ini ditanamkan melalui pendidikan dayah, dimasukkan dalam kompilasi adat, dan menjadi alasan raja atau ratu Aceh didampingi penasihat ulama. Pergeseran makna ureung carong, dari ulama kepada dukun dan paranormal yang dirujuk ketika nalar dianggap tidak lagi berfungsi, serta munculnya warung kopi sebagai panggung haba bangai sejak televisi dan antena parabola menjangkau kota kecamatan pada akhir 1980-an, memperlihatkan bahwa sistem itu tidak beku. Ia berubah, dan perubahannya dapat dibaca dengan kategorinya sendiri.

Kekuatan tesis ini terletak pada kemampuannya menjelaskan krisis. Diagnosis yang menyertai trilogi menyebut dua proses "sakit sosial". Demoralisasi adalah pencabutan nilai secara tidak sadar: adat bergeser dari hakikat ke simbol, pengetahuan moral tidak lagi diturunkan keluarga dan para 'urafa, dan orang baik serta orang jahat tidak lagi berbeda air mukanya. Destabilisasi bekerja melalui adu domba, ketika musuh bersama tidak ada lagi dan pertarungan beralih ke sesama orang Aceh. Diagnosis ini diringkas dalam rumusan bahwa agama diformalkan tetapi budaya beragama dihilangkan, lembaga adat ditumbuhkan tetapi pengetahuan tentang manfaat beradat diabaikan. Penerapan syariat secara formal pun dapat dibaca sebagai upaya memformalkan lapisan han jeut tanpa topangan hana roh dan hana get, sehingga terasa asing bagi sebagian masyarakat.

Tesis ini tetap harus diuji dengan jujur. Triad larangan dirumuskan dari pengamatan dan refleksi, bukan dari survei etnografis yang luas; trilogi lebih merupakan esai reflektif daripada model yang diuji secara empiris, dan aktor "di belakang layar" yang dirujuknya jarang diidentifikasi. Ada pula persoalan cakupan. Aceh terdiri atas banyak kelompok bahasa, dari pesisir hingga dataran tinggi, sebagaimana diingatkan oleh entri peta wilayah kebudayaan Aceh, sehingga sistem yang dirumuskan dari kosakata bahasa Aceh belum tentu berlaku sama bagi Gayo, Alas, Singkil atau Aneuk Jamee. Pertanyaan tentang perempuan juga terbuka: bagaimana perempuan ditempatkan dalam kategori ureung carong, dan apakah sistem ini memadai untuk menjelaskan pengalaman mereka?

Ujian terbesar datang dari generasi digital. Diagnosis tentang masyarakat yang "dikendalikan oleh haba" ditulis sebelum media sosial merajai ruang publik, dan kini terasa semakin relevan ketika arus kabar jauh lebih deras dan sulit diverifikasi. Entri transformasi digital masyarakat Aceh dan masyarakat bunga dan masyarakat iklan menanyakan apakah pola pikir itu bertahan, berubah bentuk, atau tergerus. Ada kemungkinan bahwa kategori lama justru menemukan medan baru: haba bangai menemukan panggungnya dalam percakapan daring, dan peungeutlogi menjadi alat yang tajam untuk membaca disinformasi yang dibalut kebenaran. Ada pula kemungkinan bahwa generasi muda perkotaan tidak lagi memakai ketiga ungkapan larangan itu sama sekali. Hanya penelitian lapangan yang dapat memutuskannya.

Hal yang masih terbuka adalah penyusunan korpus hadih maja dan ungkapan larangan dari berbagai wilayah Aceh, perbandingannya dengan idiom serupa di masyarakat Melayu lain, serta pengujian apakah trilogi dapat dibandingkan secara produktif dengan konsep kesadaran palsu atau hegemoni tanpa kehilangan keunggulannya, yakni bahwa istilahnya hidup dalam percakapan sehari-hari orang Aceh. Kritik kebudayaan pascatsunami mencatat bahwa belum ada karya budayawan yang merumuskan cara berpikir orang Aceh secara utuh; tesis ini adalah upaya mengisi kekosongan itu, tetapi upaya tersebut baru sah bila dapat dipertahankan di hadapan data.

Dalam bangunan Acehnologi, T5 adalah wujud yang paling dapat diamati dari lantai kedua. T3 (Spirit sebagai hulu ilmu) menyediakan hulunya, karena alam, jiwa dan agama dalam triad larangan adalah terjemahan sehari-hari dari kenal alam, kenal diri dan kenal Tuhan, sedangkan T4 (Epistemologi 'irfani dan segitiga ulama) menjelaskan mengapa hana get bersandar pada penghayatan, bukan semata penalaran. T6 (Frikatifisasi) memakai kosakata ini sebagai bahan pertama yang digesekkan dengan teori, dan T1 (Aceh sebagai subjek pengetahuan) menemukan buktinya di sini. Diagnosis demoralisasi dan destabilisasi berlanjut dalam T13 (Damai struktural belum menjadi damai kultural), T14 (Syariat sebagai tradisi hidup) dan T15 (Demoralisasi ketika spirit tercerabut). Dari spirit ke ide, dari ide ke filsafat, dan dari filsafat ke tindakan dan teori, T5 adalah tempat spirit menjadi ide yang dapat diucapkan.

The fifth thesis holds that the Acehnese way of thinking can be formulated as a system. The claim is bolder than merely stating that the Acehnese have a culture. Culture can be recorded as a collection of customs, ceremonies and arts; a system of thought demands more, namely a set of interrelated principles that explain why people judge, reject or justify something. Two formulations anchor the thesis: the triad of prohibitions hana roh, hana get, han jeut, which links nature, soul and religion; and the trilogy of ngeutlogi, teungeutlogi and peungeutlogi, which reads how a society is fooled, lulled and deceived. Around them lies a vocabulary of discourse and economy showing that the system lives in everyday language.

In Acehnese, the way of thinking is called seumike. The triad of prohibitions, put forward by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad in the paper "Understanding the Seumike of the Acehnese" at the International Islamic University Malaysia in 2012, states that the way of thinking that keeps life in balance, from the level of the kawom to the nanggroe, rests on three foundations. As set out in the entry on hana roh, hana get, han jeut, hana roh marks actions that go against nature, hana get marks actions that wound the nobility of soul and the social order, and han jeut marks religious prohibitions formulated by the ulama. Han jeut serves as the last negotiation when the other two layers no longer work. The three depend on one another: when hana roh is no longer given meaning, hana get weakens too, and han jeut loses its support. This is what makes the formulation worthy of being called a system rather than a list.

The second formulation starts from a political event. The entry on the trilogy of Acehnese thought explains that the three "sciences" were formulated in early 2008 to read the mobilisation of thousands of santri to Banda Aceh on 27 January 2008, who demanded an end to gender discourse, seriousness in implementing sharia and the creation of a Qanun Aswaja. Ngeutlogi is the science of being fooled, in two forms: ngeut uram, fooled from the start, and ngeut ujong, fooled at the end of an undertaking when the fruits of one's labour are enjoyed by others. Teungeutlogi explains deliberately induced complacency, and peungeutlogi is the science of deceiving in the name of truth, summed up as "lost on the right path". If the triad of prohibitions explains how conduct is controlled from within, the trilogy explains how that control is manipulated from without. Together they form two sides of one system: control and its vulnerability.

The vocabulary of discourse completes the system. The entry on haba carong and haba bangai shows that the quality of talk is measured by the presence or absence of akai: haba carong is substantive talk, haba bangai empty talk, and haba cet langet ideas that paint the sky. The pair is rooted in the distinction between the ureung carong, a title given in practice only to ulama and scholars, and the ureung bangai, the humble self-designation of villagers before a teungku. The economic vocabulary in the entry on meudagang, hareukat, baynah and beureukat adds the principle that the transmission of knowledge is placed above the accumulation of wealth. The summit of the system, according to post-tsunami cultural criticism, is the hadih maja, dense counsel that is short, seldom repeated, not always rational, yet sinks into the heart. The entries on budi and the budiman, mind and thought, bangai and awak and galak, meu-chen and wisdom point to the same stock from other angles.

The data supporting the thesis consist mainly of language use in real social situations. Social sanctions against those who fail to attend village feasts or the keurija udep and keurija mate show hana get at work; interestingly, such violations are also judged from the standpoint of hana roh, since absence is seen as going against a wider harmony. In the past this way of thinking was instilled through dayah education, included in compilations of adat, and was the reason Acehnese kings and queens were accompanied by ulama advisers. The shift in the meaning of ureung carong, from ulama to shamans and psychics consulted when reason is thought to have stopped working, and the rise of the coffee shop as the stage of haba bangai since colour television and satellite dishes reached subdistrict towns in the late 1980s, show that the system is not frozen. It changes, and its changes can be read with its own categories.

The strength of the thesis lies in its ability to explain crisis. The diagnosis accompanying the trilogy names two processes of "social sickness". Demoralisation is the unconscious uprooting of values: adat shifts from essence to symbol, moral knowledge is no longer handed down by families and the 'urafa, and good and bad people no longer differ in countenance. Destabilisation works through playing people off against one another, when the common enemy is gone and the struggle turns among the Acehnese themselves. The diagnosis is summed up in the formula that religion was formalised but the culture of religiosity was lost, customary institutions were grown but knowledge of the benefits of living by adat was neglected. The formal implementation of sharia can likewise be read as an effort to formalise the layer of han jeut without the support of hana roh and hana get, so that it feels alien to part of society.

The thesis must nonetheless be tested honestly. The triad of prohibitions was formulated from observation and reflection, not from a broad ethnographic survey; the trilogy is more a reflective essay than an empirically tested model, and the actors "behind the scenes" it refers to are seldom identified. There is also a question of scope. Aceh comprises many language groups, from the coast to the highlands, as the entry on the map of Aceh's cultural regions reminds us, so a system formulated from Acehnese-language vocabulary may not apply equally to the Gayo, Alas, Singkil or Aneuk Jamee. The question of women is also open: how are women placed in the category of ureung carong, and is this system adequate to explain their experience?

The greatest test comes from the digital generation. The diagnosis of a society "controlled by haba" was written before social media came to dominate public space, and it now feels more relevant as the flow of news has become far heavier and harder to verify. The entries on the digital transformation of Acehnese society and the society of flowers and the society of advertisements ask whether this way of thinking survives, changes form or erodes. It is possible that the old categories find a new field: haba bangai finds its stage in online conversation, and peungeutlogi becomes a sharp tool for reading disinformation dressed as truth. It is also possible that young urban Acehnese no longer use the three prohibitions at all. Only fieldwork can decide.

What remains open is the compilation of a corpus of hadih maja and prohibitive expressions from across Aceh, their comparison with similar idioms in other Malay societies, and testing whether the trilogy can be productively compared with the concepts of false consciousness or hegemony without losing its advantage, namely that its terms live in the everyday conversation of the Acehnese. Post-tsunami cultural criticism noted that no cultural thinker had yet formulated the Acehnese way of thinking as a whole; this thesis is an attempt to fill that gap, but the attempt is valid only if it can be defended before the data.

In the architecture of Acehnologi, T5 is the most observable form of the second floor. T3 (Spirit as the source of knowledge) supplies its source, since nature, soul and religion in the triad of prohibitions are the everyday translation of knowing nature, knowing the self and knowing God, while T4 ('Irfani epistemology and the triangle of scholars) explains why hana get rests on inner experience rather than reasoning alone. T6 (Fricativisation) uses this vocabulary as the first material to be rubbed against theory, and T1 (Aceh as a subject of knowledge) finds its evidence here. The diagnosis of demoralisation and destabilisation continues in T13 (Structural peace is not yet cultural peace), T14 (Sharia as a living tradition) and T15 (Demoralisation when spirit is uprooted). From spirit to ideas, from ideas to philosophy, and from philosophy to action and theory, T5 is where spirit becomes an idea that can be spoken.

KonsepConcept (26)

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →