Toet budee trieng: meriam bambuToet budee trieng: the bamboo cannon
Tradisi; festival 2026Tradition; 2026 festival
Budee trieng adalah meriam bambu yang dibunyikan masyarakat Aceh menjelang malam Ramadan dan hari besar Islam. Nilainya terletak pada gotong royong dan pewarisan antargenerasi dalam pembuatannya, dan pada 2026 Pemerintah Kabupaten Bireuen menghidupkannya kembali sebagai festival antarsekolah.
Budee trieng is a bamboo cannon that Acehnese communities fire before Ramadan nights and Islamic holidays. Its value lies in the mutual help and intergenerational transmission of making it, and in 2026 the Bireuen district government revived it as an inter-school festival.
Meriam dibuat dari bambu betung (Dendrocalamus asper) yang tua dan tebal. Ruasnya dilubangi, bagian pangkal disisakan sebagai ruang bahan bakar, lalu dinyalakan dengan minyak tanah atau karbit hingga berdentum. Dahulu dentumannya menjadi penanda waktu dan ungkapan sukacita menyambut Ramadan dan hari raya di gampong yang belum terjangkau sarana komunikasi.
Pembuatannya tidak pernah dikerjakan sendiri: pemuda gampong bergotong royong mencari bambu, melubangi ruas, dan menata arena, sementara orang tua memberi arahan dan petunjuk keselamatan. Karena itu budee trieng menjadi ruang pendidikan nonformal tentang kesabaran, kerja sama, dan ketelitian.
Pada HUT ke-27 Kabupaten Bireuen, 9 Oktober 2026, Festival Toet Budee Trieng digelar di Lapangan Paya Kareueng bersama Dewan Kesenian Aceh, melibatkan kontingen sekolah melalui K3S (SD/MI) dan MKKS (SMP/MTs). Penyelenggaraan modern menuntut aturan keselamatan, seperti pembatasan karbit, jarak aman penonton, serta pendampingan guru dan tokoh adat.
The cannon is made from old, thick giant bamboo (Dendrocalamus asper). Its nodes are hollowed out, the base left as a fuel chamber, and it is fired with kerosene or carbide to produce a boom. In the past the sound marked time and expressed joy at the coming of Ramadan and the festivals in villages without modern communications.
It is never made alone: village youths cooperate to find bamboo, hollow the nodes and prepare the ground, while elders give direction and safety advice. Budee trieng thus becomes a space of informal education in patience, teamwork and precision.
For Bireuen district’s 27th anniversary, on 9 October 2026, a Toet Budee Trieng Festival was held at Paya Kareueng field with the Aceh Arts Council, involving school contingents through the primary and junior-secondary principals’ forums. Its modern form requires safety rules, such as limits on carbide, safe distances for spectators, and supervision by teachers and customary leaders.
Gagasan kunciKey ideas
Gotong royongMutual help
Nilai budee trieng ada pada prosesnya.Its value lies in the process.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana tradisi berisiko seperti budee trieng dapat dilestarikan tanpa kehilangan unsur kebersamaannya?How can a risky tradition like budee trieng be preserved without losing its communal core?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Toet budee trieng: meriam bambu”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/budee-trieng/