Mungaro: tradisi berburu rusa di Gayo Lues dan dilema konservasiMungaro: deer hunting in Gayo Lues and the conservation dilemma
Tradisi turun-temurun; liputan 2024Inherited tradition; reported 2024
Mungaro adalah tradisi berburu akang atau giongen, sebutan lokal untuk rusa, di dataran tinggi Gayo Lues, terutama di Pining. Perburuan dipimpin pawang, dibuka dengan meminta izin kepada pawang tue penunggu hutan, hanya dilakukan pada hari tertentu, dan hasilnya dibagi menurut kedudukan. Ketika rusa sambar kian langka, senapan menggantikan tombak dan daging rusa masuk pasar, tradisi ini menjadi contoh benturan antara kosmologi adat, ekonomi rumah tangga dan konservasi.
Mungaro is the tradition of hunting akang or giongen, local names for deer, in the Gayo Lues highlands, especially in Pining. The hunt is led by a pawang, opened by asking permission of the pawang tue who guards the forest, held only on certain days, and its yield shared by rank. As sambar deer grow scarce, guns replace spears and venison enters the market, the tradition has become an example of the collision between customary cosmology, household economy and conservation.
Dataran tinggi Gayo Lues, yang sebagian besar wilayahnya berada di dalam Kawasan Ekosistem Leuser, menyimpan banyak tradisi yang menghubungkan manusia dengan hutan. Salah satunya adalah mungaro, tradisi berburu rusa yang dalam bahasa setempat disebut akang atau giongen. Tradisi ini diwariskan turun-temurun selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun, dan masih hidup di beberapa kampung, terutama di Pining. Liputan jurnalisme warga yang ditulis Nayla Putri Thabita untuk Perempuan Peduli Leuser pada Mei 2024, hasil program pelatihan ekofeminisme dan jurnalisme lingkungan, memberi gambaran rinci tentang tata cara, pembagian peran dan dilema yang menyertainya.
Mungaro bukan perburuan perorangan, melainkan kerja kolektif yang diatur adat. Setiap perburuan dipimpin seorang pawang, yaitu orang yang dianggap menguasai pengetahuan tentang hutan, jejak satwa dan hubungan dengan alam gaib. Pawang memiliki spesialisasi menurut jenis satwa: ada pawang rusa, pawang harimau dan pawang gajah. Pengetahuan ini tidak hanya teknis tetapi juga ritual, karena keberhasilan perburuan diyakini bergantung pada izin dari penguasa hutan. Pemburu yang menyertai pawang disebut pong nangkok. Mereka dibagi ke dalam tugas-tugas khusus: melacak jejak, menuntun anjing pemburu dan menjaga sumber air, karena rusa yang terdesak cenderung lari ke arah air.
Sebelum masuk hutan, rombongan meminta izin kepada pawang tue, sosok gaib yang dipercaya menghuni dan menjaga hutan Gayo. Permohonan izin ini menempatkan perburuan dalam kerangka kosmologi yang lebih luas: hutan bukan ruang kosong yang bebas dieksploitasi, melainkan wilayah yang memiliki penghuni dan aturan. Perburuan juga hanya dilakukan pada hari-hari tertentu, yaitu Senin, Selasa dan Kamis. Pembatasan hari ini dapat dibaca sebagai mekanisme pengendalian yang, disadari atau tidak, mengurangi tekanan terhadap populasi satwa.
Pembagian hasil buruan mengikuti susunan kedudukan yang jelas. Pawang mendapat bagian dari dada sampai kepala, kemudian orang yang pertama kali menombak rusa, lalu sisanya dibagi kepada anggota rombongan. Aturan ini memperlihatkan etika berbagi yang mengakui pengetahuan dan keberanian, sekaligus memastikan semua yang terlibat memperoleh bagian. Dalam bentuk lamanya, rusa ditombak, sebuah teknik yang disebut kunyur, sehingga perburuan menuntut keahlian dan kerja sama yang tinggi.
Perubahan zaman menggeser keseimbangan itu. Senapan kini banyak dipakai menggantikan tombak, sehingga daya bunuh pemburu meningkat tajam. Daging rusa dijual di pasar mingguan dan kadang langsung kepada pembeli, dengan harga yang dilaporkan di atas seratus ribu rupiah per kilogram, walaupun penghasilan dari perburuan tidak menentu. Tanduk rusa juga diburu karena dipercaya berkhasiat obat, keyakinan yang bersifat anekdotal dan belum terbukti secara ilmiah. Dengan demikian, motivasi berburu bercampur: sebagian berburu karena tradisi atau hobi, sebagian lain bergantung padanya secara ekonomi.
Dari sisi konservasi, rusa sambar (Rusa unicolor, dalam liputan disebut Cervus multicolor) tercatat dalam Daftar Merah IUCN karena populasinya menurun tajam, dan dilindungi dalam hukum Indonesia. Namun di Gayo Lues tidak ada pengaturan musim berburu dan penegakan hukum lemah, sehingga perburuan berlangsung sepanjang tahun. Ikhsan Hasbiullah, dosen Universitas Syiah Kuala yang diwawancarai dalam liputan tersebut, menjelaskan bahwa populasi rusa berkaitan langsung dengan harimau Sumatera yang menjadikannya mangsa utama. Ketika rusa berkurang, harimau berpotensi memangsa ternak, sehingga konflik manusia dan satwa meningkat. Penurunan satu spesies dengan demikian mengguncang seluruh rantai ekologis di kaki Leuser.
Bagi Acehnologi, mungaro menarik karena memperlihatkan bahwa tradisi lokal tidak selalu berpihak pada kelestarian, tetapi juga tidak selalu bertentangan dengannya. Unsur-unsur lama seperti izin kepada pawang tue, pembatasan hari dan perburuan dengan tombak mengandung logika pembatasan. Unsur-unsur baru seperti senapan, pasar dan permintaan tanduk menghapus pembatasan itu. Masalahnya bukan tradisi itu sendiri, melainkan lepasnya praktik dari kosmologi yang dahulu mengendalikannya. Gejala ini sejalan dengan tesis bahwa ketika spirit tercerabut dari praktik, yang tersisa adalah kebiasaan tanpa pengendali moral.
Kebudayaan Gayo memiliki banyak pengetahuan tentang hutan, satwa dan musim yang terkandung dalam peran pawang, cerita lisan dan pantangan. Pawang adalah figur yang dalam struktur sosial tradisional berfungsi sebagai penengah antara komunitas dan alam, mirip dengan pawang laot di pesisir atau keujruen blang di persawahan. Ketika peran ini melemah atau direduksi menjadi keahlian teknis berburu, komunitas kehilangan lembaga yang selama ini menyeimbangkan kebutuhan manusia dengan daya dukung alam.
Pilihan kebijakan yang dibahas dalam liputan antara lain pengembangan mata pencaharian alternatif dan penangkaran atau suaka rusa, yang menurut para ahli memerlukan waktu panjang. Pendekatan berbasis adat juga dapat dipertimbangkan: menghidupkan kembali aturan hari berburu, menetapkan musim tertutup melalui reusam kampung, membatasi senjata dan mengakui peran pawang sebagai penjaga aturan. Pendekatan ini tidak menghapus tradisi, tetapi mengembalikan tradisi kepada fungsi pengendaliannya. Seorang aktivis konservasi yang tidak bersedia disebut namanya dalam liputan itu mengingatkan bahwa solusi harus menghormati masyarakat yang berburu karena kebutuhan, bukan sekadar melarang.
Mungaro juga memperlihatkan pentingnya liputan dari dalam. Laporan tentang tradisi ini lahir dari pelatihan jurnalisme warga yang mempertemukan anak muda dengan pemburu, akademisi dan aktivis di lapangan. Wawancara dengan seorang pemburu di Pining pada April 2024 memberi suara kepada pelaku tradisi, bukan hanya kepada pengkritiknya. Pengetahuan semacam ini penting bagi kajian kosmologi dan ekologi Gayo, yang sering hanya dilihat melalui kopi arabika dan lanskap pegunungannya.
Dimensi gender juga patut dicatat. Mungaro adalah dunia laki-laki: pawang, pong nangkok dan pemilik anjing pemburu hampir selalu laki-laki. Namun dampaknya dirasakan rumah tangga secara keseluruhan, karena hasil buruan masuk ke dapur dan pasar, sementara konflik dengan harimau mengancam ternak yang sering dirawat perempuan. Fakta bahwa tradisi ini direkam oleh jurnalis muda perempuan dalam program ekofeminisme memperlihatkan cara pandang baru yang menghubungkan tradisi berburu dengan ekonomi keluarga dan keselamatan kampung.
Perbandingan dengan tradisi lain di Aceh memperkuat pembacaan ini. Di pesisir, panglima laot mengatur hari pantang melaut dan cara menangkap ikan; di Ketambe, pantangan adat membatasi pemanfaatan hutan. Mungaro dengan aturan hari berburu dan izin kepada penunggu hutan termasuk dalam keluarga lembaga adat yang sama, yaitu pengaturan pemanfaatan alam melalui otoritas yang dihormati. Menghidupkan kembali logika itu dapat menjadi jembatan antara konservasi modern dan kosmologi lokal.
Dokumentasi yang lebih sistematis tentang istilah, doa, pantangan dan cerita yang menyertai mungaro akan sangat berguna sebelum generasi pawang tua tiada.
Pada akhirnya mungaro mengajukan pertanyaan yang lebih luas tentang masa depan tradisi berburu di kawasan konservasi. Apakah tradisi semacam ini dapat bertahan dalam bentuk yang lestari, atau harus berubah menjadi ingatan budaya yang dirayakan tanpa dipraktikkan? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan tidak hanya nasib rusa dan harimau di Leuser, tetapi juga cara masyarakat Gayo memaknai hubungan mereka dengan hutan.
The Gayo Lues highlands, most of which lie within the Leuser Ecosystem, hold many traditions that bind people to the forest. One is mungaro, the tradition of hunting deer, known locally as akang or giongen. It has been handed down for decades, perhaps centuries, and is still alive in several villages, especially in Pining. A citizen-journalism report by Nayla Putri Thabita for Perempuan Peduli Leuser in May 2024, produced through a training programme in ecofeminism and environmental journalism, gives a detailed picture of its procedures, division of roles and dilemmas.
Mungaro is not an individual hunt but a collective undertaking regulated by custom. Each hunt is led by a pawang, a person held to master knowledge of the forest, animal tracks and relations with the unseen. Pawang specialise by species: there are pawang for deer, for tigers and for elephants. Their knowledge is ritual as well as technical, because success is believed to depend on permission from the lord of the forest. The hunters who accompany the pawang are called pong nangkok. They are assigned particular tasks: tracking, handling the hunting dogs and guarding the water sources, since cornered deer tend to flee towards water.
Before entering the forest the party asks permission of the pawang tue, a spirit believed to inhabit and guard the Gayo forests. The request places the hunt within a wider cosmology: the forest is not an empty space open to exploitation but a domain with inhabitants and rules. Hunting is also allowed only on certain days, Monday, Tuesday and Thursday. Such limits can be read as a control mechanism that, consciously or not, eases pressure on animal populations.
The yield is shared according to a clear order of rank. The pawang receives the portion from the chest to the head, then the person who first speared the deer, and the rest is divided among the party. The rule expresses an ethic of sharing that recognises knowledge and courage while ensuring that everyone involved receives a share. In its older form the deer was speared, a technique called kunyur, so the hunt demanded high skill and cooperation.
Changing times have upset this balance. Guns now widely replace spears, sharply increasing the hunters' killing power. Venison is sold at weekly markets and sometimes directly to buyers, at reported prices above one hundred thousand rupiah per kilogram, though income from hunting is irregular. Antlers are sought because they are believed to have medicinal value, a belief that is anecdotal and scientifically unproven. Motives are therefore mixed: some hunt for tradition or as a pastime, others depend on it economically.
From a conservation standpoint the sambar deer (Rusa unicolor, given in the report as Cervus multicolor) is on the IUCN Red List because its population has fallen sharply, and it is protected under Indonesian law. Yet Gayo Lues has no hunting season and enforcement is weak, so hunting continues all year. Ikhsan Hasbiullah, a lecturer at Syiah Kuala University interviewed for the report, explained that deer numbers are directly linked to the Sumatran tiger, for which they are principal prey. As deer decline, tigers may turn to livestock, increasing human-wildlife conflict. The decline of one species thus shakes the whole ecological chain at the foot of Leuser.
For Acehnologi, mungaro is instructive because it shows that local tradition is not always on the side of conservation, but not always against it either. Older elements such as permission from the pawang tue, the restriction of days and hunting with spears contain a logic of limitation. Newer elements such as guns, markets and demand for antlers erase those limits. The problem is not the tradition itself but the detachment of practice from the cosmology that once restrained it. This fits the thesis that when spirit is uprooted from practice, what remains is habit without moral restraint.
Gayo culture holds a great deal of knowledge about forests, animals and seasons, embedded in the role of the pawang, in oral stories and in taboos. In the traditional social order the pawang mediates between community and nature, much like the pawang laot on the coast or the keujruen blang in the rice fields. When this role weakens or is reduced to technical hunting skill, the community loses an institution that balanced human needs against nature's carrying capacity.
Policy options discussed in the report include alternative livelihoods and deer sanctuaries or breeding programmes, which experts say take a long time. A custom-based approach could also be considered: reviving the rule of hunting days, setting closed seasons through village reusam, restricting firearms and recognising the pawang as guardian of the rules. Such an approach does not abolish the tradition but returns it to its regulating function. A conservation activist who asked not to be named reminded readers that solutions must respect those who hunt out of need rather than simply prohibit.
Mungaro also shows the value of reporting from within. The account of the tradition came from a citizen-journalism training that brought young people together with hunters, academics and activists in the field. An interview with a hunter in Pining in April 2024 gave voice to practitioners of the tradition, not only to its critics. Such knowledge matters for the study of Gayo cosmology and ecology, which is often seen only through arabica coffee and mountain scenery.
The gender dimension deserves note. Mungaro is a male world: pawang, pong nangkok and owners of hunting dogs are almost always men. Yet its effects are felt by the whole household, as game enters the kitchen and the market while conflict with tigers threatens livestock often tended by women. That the tradition was recorded by a young woman journalist in an ecofeminist programme shows a new perspective linking hunting to family economy and village safety.
Comparison with other Acehnese traditions supports this reading. On the coast the panglima laot sets days on which fishing is forbidden and regulates methods of catch; in Ketambe, customary taboos limit use of the forest. Mungaro, with its hunting days and permission from the forest's guardian, belongs to the same family of customary institutions that regulate use of nature through respected authority. Reviving that logic could bridge modern conservation and local cosmology.
More systematic documentation of the terms, prayers, taboos and stories surrounding mungaro would be invaluable before the generation of elder pawang passes away.
In the end mungaro raises a wider question about the future of hunting traditions in conservation areas. Can such a tradition survive in a sustainable form, or must it become a cultural memory celebrated but no longer practised? The answer will shape not only the fate of deer and tigers in Leuser but also how Gayo society understands its relationship with the forest.
Gagasan kunciKey ideas
Izin kepada pawang tuePermission from the pawang tue
Perburuan dibuka dengan meminta izin kepada penunggu hutan, menempatkan hutan sebagai wilayah berpenghuni.The hunt opens by asking leave of the forest's guardian, making the forest an inhabited domain.
Logika pembatasanA logic of limitation
Hari berburu tertentu dan tombak membatasi tekanan pada populasi rusa.Set hunting days and spears limited pressure on deer populations.
Senapan dan pasarGuns and markets
Teknologi dan perdagangan daging serta tanduk menghapus pengendali lama.Technology and the trade in meat and antlers erase the old restraints.
Rantai rusa–harimauThe deer–tiger chain
Berkurangnya rusa mendorong harimau memangsa ternak dan memicu konflik.Fewer deer push tigers towards livestock and spark conflict.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Dapatkah reusam kampung di Gayo Lues menghidupkan kembali pembatasan dalam mungaro sehingga tradisi berburu sejalan dengan perlindungan rusa sambar dan harimau?Could village reusam in Gayo Lues revive the limits within mungaro so that the hunting tradition aligns with protecting sambar deer and tigers?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Mungaro: tradisi berburu rusa di Gayo Lues dan dilema konservasi”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/mungaro-berburu-rusa-gayo-lues/