Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Perempuan Peduli Leuser (PPL): jejaring perempuan penjaga Kawasan Ekosistem LeuserPerempuan Peduli Leuser (PPL): a women's network guarding the Leuser Ecosystem

2018–sekarang2018–present

Perempuan Peduli Leuser (PPL) adalah komunitas perempuan Aceh yang menjadikan penjagaan lingkungan hidup, khususnya Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), sebagai kerja bersama. Anggotanya berasal dari Banda Aceh, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Tenggara dan Gayo Lues, dan bekerja melalui jurnalisme warga, pelatihan, riset kecil dan pendampingan. Sejak 2024 PPL melatih jurnalis muda dalam program ekofeminisme dan jurnalisme lingkungan, dan pada 2026 melatih perempuan tuha peut dari tiga belas kabupaten di KEL.

Perempuan Peduli Leuser (PPL, 'Women Who Care for Leuser') is an Acehnese women's community that treats the protection of the environment, above all the Leuser Ecosystem (KEL), as shared work. Its members come from Banda Aceh, South Aceh, Southwest Aceh, Southeast Aceh and Gayo Lues, and it works through citizen journalism, training, small-scale research and accompaniment. Since 2024 it has trained young journalists in ecofeminism and environmental journalism, and in 2026 it trained women tuha peut from thirteen districts in the KEL.

Perempuan Peduli Leuser, disingkat PPL, memperkenalkan dirinya sebagai komunitas yang mewadahi perempuan untuk saling bertukar pikiran dan bersinergi dalam kampanye lingkungan. Semboyan di laman resminya, perempuanleuser.com, berbunyi “Suara dari Pinggiran”, dan tagline kerjanya adalah membangun jejaring serta dukungan dalam penjagaan lingkungan hidup. Visi yang dirumuskan cukup luas, yaitu mewujudkan dunia yang sehat dan aman melalui penjagaan alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan, sedangkan misinya lebih membumi: membangun kesadaran bersama tentang pentingnya penjagaan lingkungan secara kolektif dan berkelanjutan. Laman profil komunitas ini terbit pertama kali pada Februari 2018, sehingga tahun itu dapat dibaca sebagai penanda awal kehadiran publiknya, meskipun laman tersebut tidak menyebut tanggal pendirian secara formal.

Ciri pertama PPL terletak pada geografi keanggotaannya. Anggotanya berasal dari lima kabupaten dan kota: Banda Aceh, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan. Kecuali Banda Aceh, keempat daerah lain berada di dalam Kawasan Ekosistem Leuser. Dengan susunan ini PPL menghubungkan kota tempat wacana, media dan lembaga donor berpusat dengan kampung-kampung di kaki Leuser tempat hutan, sungai dan mata air menjadi soal sehari-hari. Laman profilnya menyebut antara lain Ayu ‘Ulya (pendidik dan koordinator komunitas), Marini Siregar (ranger dan fasilitator kemitraan desa Taman Nasional Gunung Leuser, koordinator lapangan), Kasumah (pekerja sosial dan peneliti satwa liar serta budaya), Yelli Sustarina (penulis dan bloger budaya dari Samadua), Rachmi (bloger keanekaragaman hayati dan fotografer satwa liar), Ihan Nurdin (jurnalis dan editor), Seila Zhafira (aktivis lingkungan dan kreator audio-visual), Susi Susanti (aktivis lingkungan dan budaya Gayo), Fitriani (aktivis lingkungan) dan Dian Hendrika Suksmadewi (penulis, penerjemah dan pembina komunitas). Komposisi ini memperlihatkan perpaduan antara kerja lapangan konservasi, jurnalisme dan pendidikan.

Ciri kedua adalah pilihan medium. PPL bekerja terutama melalui tulisan. Rubrik di lamannya mencakup jurnalisme warga, perempuan berdaya, kisah perempuan, edukasi, hak asasi manusia, literasi kesehatan, literasi damai, literasi pemilu, aksi, feature, opini perempuan, galeri foto cerita dan “Aceh Sisi Lain”. Daftar ini menunjukkan bahwa lingkungan tidak dipahami sempit sebagai urusan pohon dan satwa, melainkan bertaut dengan kesehatan, perdamaian, bencana, hak warga dan partisipasi politik. Dalam bahasa ilmu sosial, PPL menjalankan semacam produksi pengetahuan dari pinggiran: perempuan kampung tidak hanya menjadi objek liputan, tetapi juga penulis, narasumber dan penafsir pengalaman mereka sendiri.

Program pelatihan Ecofeminism and Environmental Journalism (EEJ) 2024 menjadi contoh paling jelas dari cara kerja tersebut. Program ini berbentuk lokakarya dan kunjungan lapangan ke kawasan Leuser, dan termasuk dalam rangkaian “A Decade of YSEALI Small Grant”. Peserta muda kemudian menerbitkan laporan jurnalisme warga pada Mei 2024. Hasilnya beragam: tradisi berburu rusa mungaro di Pining, Gayo Lues; kisah juru masak Stasiun Penelitian Soraya di Subulussalam; pengeringan kolam Mata Ie di Aceh Besar akibat kerusakan karst dan perubahan iklim; serta peran perempuan dalam perhutanan sosial di Desa Mendale, Aceh Tengah, melalui Lembaga Pengelola Hutan Kampung (LPHK) Peteri Pukes yang didampingi Yayasan HAkA. Laporan-laporan itu memperlihatkan bahwa jurnalisme lingkungan berbasis perempuan cenderung memotret relasi antara ekologi, ekonomi rumah tangga dan adat, bukan sekadar angka deforestasi.

Ciri ketiga adalah perhatian pada tata kelola gampong. Pada 11–13 Juni 2026 PPL, dengan dukungan Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), menyelenggarakan pelatihan intensif bagi dua puluh perempuan tuha peut dari tiga belas kabupaten dan kota di Kawasan Ekosistem Leuser, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Singkil, Subulussalam, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Barat dan Aceh Utara. Pelatihan di Darussalam, Banda Aceh, itu menghadirkan Sulaiman Tripa yang menjelaskan kedudukan tuha peut sebagai lembaga adat dan hakim perdamaian menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat. Ruwaida dari Yayasan Perempuan dan Anak Negeri berbicara tentang kepemimpinan adat perempuan dalam mitigasi bencana, sementara Rasyidah dan Ismiatul Ramadhian Nur dari UIN Ar-Raniry melatih komunikasi dialogis. Hasil yang dicatat adalah terbentuknya jaringan komunikasi tuha peut inong di KEL.

Pengalaman merekrut peserta pelatihan itu juga terdokumentasi dan bernilai sebagai data sosiologis. Yelli Sustarina menuliskan bagaimana calon peserta dari Air Sialang Hilir tidak diizinkan suami bepergian, calon lain mundur karena jadwal pengobatan ibunya di Medan, sebagian beralasan mengurus anak atau tidak memiliki telepon genggam pribadi, dan undangan justru beredar melalui kawan dan aparatur gampong alih-alih langsung kepada perempuan yang dituju. Catatan ini memperlihatkan hambatan struktural bagi perempuan di lembaga adat: kursi formal sudah tersedia, tetapi mobilitas, waktu dan akses informasi masih ditentukan oleh rumah tangga dan jejaring laki-laki.

Ciri keempat adalah keterlibatan dalam isu bencana dan perdamaian. Setelah banjir bandang dan longsor akibat Siklon Senyar pada akhir November 2025, PPL menerbitkan liputan tentang perempuan, internet dan pengetahuan bertahan menghadapi banjir berulang di Air Sialang, Aceh Selatan, hasil kerja sama dengan Combine Resource Innovation. Pada Juni 2026 Ihan Nurdin dan Dian Guci mendampingi riset lapangan tentang ketangguhan perempuan Aceh menghadapi konflik dan bencana di Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Pidie Jaya dan Pidie. Rubrik literasi damai dan liputan tentang perempuan Rohingya di Aceh memperluas cakupan itu ke isu kemanusiaan lintas batas.

Ciri kelima adalah keberanian bersuara dalam konflik sumber daya. Pada Agustus 2026 Yelli Sustarina menulis surat terbuka kepada Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, menanggapi dua izin usaha pertambangan eksplorasi seluas sekitar 1.491 hektare yang mencakup Air Sialang, Gampong Subarang dan kawasan Gunung Ketek. Warga yang menghimpun diri dalam Air Sialang Bersatu berkumpul di Masjid At-Taqwa pada 31 Juli 2026 karena khawatir terhadap hutan, mata air dan talago kampung. Surat itu menempatkan pengetahuan masa kecil tentang telaga sebagai argumen ekologis dan politis sekaligus.

Bagi studi Aceh, PPL penting karena tiga alasan. Pertama, komunitas ini memperlihatkan bentuk baru keterlibatan perempuan di ruang publik Aceh pascadamai: bukan melalui partai atau birokrasi, melainkan melalui jaringan pengetahuan dan advokasi berbasis tulisan. Kedua, PPL menghubungkan lembaga adat seperti tuha peut, reusam dan qanun gampong dengan agenda ekologis, sehingga adat diperlakukan sebagai perangkat tata kelola lingkungan yang hidup. Ketiga, arsip tulisannya menjadi sumber primer tentang pengalaman perempuan di kaki Leuser, termasuk tradisi lokal, bencana 2025 dan konflik tambang, yang jarang terekam dalam statistik resmi maupun kajian akademik.

Keterbatasan juga perlu dicatat. Informasi kelembagaan PPL relatif tipis: struktur organisasi, sumber pendanaan dan tanggal pendirian tidak dijelaskan secara rinci di laman resminya, dan sebagian besar kegiatannya bergantung pada kemitraan proyek. Karena itu, PPL lebih tepat dipahami sebagai jejaring berbasis komunitas ketimbang organisasi formal yang besar. Justru dalam bentuk jejaring inilah ia memperlihatkan cara perempuan Aceh memadukan kerja domestik, profesi dan aktivisme lingkungan dalam satu lintasan.

Perempuan Peduli Leuser (PPL) presents itself as a community that gives women a space to exchange ideas and work together on environmental campaigns. The motto on its website, perempuanleuser.com, is “Voices from the Margins”, and its working tagline is to build networks and support for the protection of the environment. Its vision is broad, a healthy and safe world through the sustainable protection of nature and the environment, while its mission is more grounded: building shared awareness of the need to protect the environment collectively and sustainably. The community profile page was first published in February 2018, which can be read as the start of its public presence, even though the page gives no formal founding date.

The first feature of PPL is the geography of its membership. Members come from five districts and cities: Banda Aceh, Southeast Aceh, Gayo Lues, Southwest Aceh and South Aceh. Apart from Banda Aceh, all of these lie within the Leuser Ecosystem. The network thus links the city where discourse, media and donors are concentrated with villages at the foot of Leuser where forests, rivers and springs are everyday concerns. Its profile page names, among others, Ayu ‘Ulya (educator and community coordinator), Marini Siregar (ranger, facilitator of Gunung Leuser National Park village partnerships and field coordinator), Kasumah (social worker and researcher of wildlife and culture), Yelli Sustarina (writer and culture blogger from Samadua), Rachmi (biodiversity blogger and wildlife photographer), Ihan Nurdin (journalist and editor), Seila Zhafira (environmental activist and audio-visual creator), Susi Susanti (activist for the environment and Gayo culture), Fitriani (environmental activist) and Dian Hendrika Suksmadewi (writer, translator and community supervisor). The mix brings together conservation fieldwork, journalism and education.

The second feature is its choice of medium. PPL works mainly through writing. Its sections cover citizen journalism, empowered women, women's stories, education, human rights, health literacy, peace literacy, election literacy, action, features, women's opinion, photo stories and “Aceh's Other Side”. The list shows that the environment is not understood narrowly as trees and wildlife but as bound up with health, peace, disaster, citizens' rights and political participation. In social-science terms, PPL practises a form of knowledge production from the margins: village women are not only the subjects of reporting but also writers, sources and interpreters of their own experience.

The Ecofeminism and Environmental Journalism (EEJ) training of 2024 shows this method most clearly. It took the form of a workshop and field trip to the Leuser area and formed part of “A Decade of YSEALI Small Grant”. The young participants then published citizen-journalism reports in May 2024 on subjects such as the mungaro deer-hunting tradition in Pining, Gayo Lues; the cook of the Soraya Research Station in Subulussalam; the drying of the Mata Ie pools in Aceh Besar as karst is quarried and the climate warms; and women's roles in social forestry in Mendale village, Central Aceh, through the village forest management body LPHK Peteri Pukes, accompanied by the HAkA Foundation. These reports show that women-centred environmental journalism tends to capture the ties between ecology, household economy and adat rather than deforestation figures alone.

The third feature is attention to village governance. On 11–13 June 2026 PPL, supported by the Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) Foundation, held an intensive training for twenty women tuha peut from thirteen districts and cities in the Leuser Ecosystem: Aceh Tamiang, East Aceh, Southeast Aceh, Gayo Lues, Central Aceh, Bener Meriah, Aceh Singkil, Subulussalam, South Aceh, Southwest Aceh, Nagan Raya, West Aceh and North Aceh. Held in Darussalam, Banda Aceh, it featured Sulaiman Tripa, who explained the standing of the tuha peut as a customary body and peace judge under Law No. 6 of 2014 on Villages and Aceh Qanun No. 9 of 2008 on the Fostering of Adat Life and Customs. Ruwaida of the Yayasan Perempuan dan Anak Negeri spoke on women's customary leadership in disaster mitigation, while Rasyidah and Ismiatul Ramadhian Nur of UIN Ar-Raniry trained participants in dialogic communication. The recorded outcome was a communication network of tuha peut inong (women tuha peut) across the KEL.

The difficulty of recruiting participants was itself documented and has sociological value. Yelli Sustarina described how a candidate from Air Sialang Hilir was not allowed by her husband to travel, another withdrew because of her mother's medical appointment in Medan, others cited childcare or the lack of a personal phone, and invitations circulated through friends and village officials rather than reaching the women directly. The account shows the structural barriers women face in customary institutions: the formal seat exists, but mobility, time and access to information are still governed by the household and by male networks.

The fourth feature is engagement with disaster and peace. After the flash floods and landslides caused by Cyclone Senyar in late November 2025, PPL published reporting on women, the internet and the knowledge used to survive recurrent floods in Air Sialang, South Aceh, in collaboration with Combine Resource Innovation. In June 2026 Ihan Nurdin and Dian Guci accompanied field research on the resilience of Acehnese women facing conflict and disaster in South Aceh, Southwest Aceh, Pidie Jaya and Pidie. Its peace-literacy section and reporting on Rohingya women in Aceh widen the scope to cross-border humanitarian issues.

The fifth feature is a willingness to speak in resource conflicts. In August 2026 Yelli Sustarina wrote an open letter to the Regent of South Aceh, Mirwan MS, about two mineral exploration permits covering some 1,491 hectares around Air Sialang, Gampong Subarang and the Gunung Ketek area. Residents organised as Air Sialang Bersatu met at the At-Taqwa Mosque on 31 July 2026, worried about the village's forest, springs and talago pools. The letter turns childhood knowledge of the pools into an ecological and political argument at once.

For Aceh studies PPL matters for three reasons. First, it shows a new form of women's engagement in Aceh's post-conflict public sphere: not through parties or bureaucracy but through knowledge and advocacy networks built on writing. Second, it links customary institutions such as the tuha peut, reusam and village qanun to an ecological agenda, treating adat as a living instrument of environmental governance. Third, its archive of writing is a primary source on the experience of women at the foot of Leuser, including local traditions, the 2025 disaster and mining disputes, which official statistics and academic studies rarely record.

Its limits should also be noted. Institutional information is thin: the website gives little detail on structure, funding or founding date, and much of its activity depends on project partnerships. PPL is therefore better understood as a community-based network than as a large formal organisation. Yet it is precisely in this network form that it shows how Acehnese women combine domestic work, professions and environmental activism in a single trajectory.

Gagasan kunciKey ideas

Suara dari pinggiranVoices from the margins

Perempuan kampung di kaki Leuser menjadi penulis dan penafsir pengalaman mereka sendiri.Village women at the foot of Leuser become writers and interpreters of their own experience.

Adat sebagai tata kelola ekologisAdat as ecological governance

Tuha peut, reusam dan qanun gampong diarahkan untuk melindungi hutan, sungai dan mata air.Tuha peut, reusam and village qanun are directed towards protecting forests, rivers and springs.

Jurnalisme sebagai advokasiJournalism as advocacy

Liputan warga menghubungkan deforestasi, bencana, tambang dan ekonomi rumah tangga.Citizen reporting connects deforestation, disaster, mining and household economy.

Hambatan strukturalStructural barriers

Izin suami, beban pengasuhan dan akses informasi membatasi partisipasi perempuan di lembaga adat.Husbands' permission, care burdens and access to information limit women's participation in customary bodies.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Sejauh mana jejaring perempuan berbasis tulisan seperti PPL mampu mengubah keputusan gampong dan kabupaten tentang hutan dan tambang, bukan hanya membangun kesadaran?How far can writing-based women's networks such as PPL change village and district decisions on forests and mining, beyond raising awareness?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Perempuan Peduli Leuser (PPL): jejaring perempuan penjaga Kawasan Ekosistem Leuser”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/perempuan-peduli-leuser/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →