BidangField 04
Sosiologi AcehAcehnese Sociology
Sosiologi Aceh adalah cabang studi Aceh yang mengkaji kehidupan sosial masyarakat Aceh: individu dan kelompoknya, struktur dan lembaganya, ruang kota dan gampong, mobilitas dan diaspora, hingga cara masyarakat menghadapi perubahan dan bencana. Disiplin ini dibutuhkan karena penjelasan tentang Aceh selama ini didominasi sejarah dan antropologi; antropologi kolonial bahkan dipakai untuk mematahkan perlawanan dan menempatkan Aceh sebagai ‘kampung’ meskipun memiliki bandar dan kota. Pendekatan sosiologis baru masuk secara sistematis pada 1970-an melalui program pelatihan riset yang berorientasi pada tradisi Weber dan Parsons, sementara jurusan sosiologi di Aceh baru tumbuh setelah tahun 2000-an. Sosiologi Aceh karena itu harus menguasai genealogi teori sosiologi Eropa, dari Comte, Marx, Durkheim, dan Weber hingga fenomenologi dan strukturalisme, sekaligus menyadari bias kelahirannya sebagai ilmu tentang ‘masyarakat baru’ perkotaan Eropa yang memandang Timur sebagai statis. Pertanyaan pokoknya meliputi: apakah Aceh dijelaskan dengan kacamata Barat, dengan formula yang digali dari masyarakatnya sendiri, atau melalui gerak bolak-balik di antara keduanya; konsep apa yang melahirkan kesadaran akal dan diri dalam sejarah pemikiran Aceh; serta bagaimana ruang imajinasi sosial, ruang kesadaran sosial, dan ruang kebatinan membentuk identitas ke-Aceh-an hari ini.
Acehnese Sociology is the branch of Aceh studies that examines the social life of Acehnese society: individuals and groups, structures and institutions, urban space and the gampong, mobility and diaspora, and the ways society faces change and disaster. The discipline is needed because explanations of Aceh have long been dominated by history and anthropology; colonial anthropology was even used to break resistance and cast Aceh as a ‘village’ despite its ports and towns. Sociological approaches arrived systematically only in the 1970s, through a research training programme oriented to the traditions of Weber and Parsons, while sociology departments in Aceh emerged only after the 2000s. Acehnese Sociology must therefore master the genealogy of European sociological theory, from Comte, Marx, Durkheim and Weber to phenomenology and structuralism, while staying alert to its origins as a science of Europe's urban ‘new society’ that regarded the East as static. Its core questions include whether Aceh is to be explained through a Western lens, through formulas drawn from its own society, or through movement back and forth between the two; which concepts gave rise to awareness of reason and self in Aceh's intellectual history; and how the spaces of social imagination, social consciousness and inner life shape Acehnese identity today.
Lihat posisinya dalam peta filosofisSee its place in the philosophical map →
4.1 Teori-teori sosiologi AcehSociological theory and Aceh
Genealogi teori sosiologi dan perdebatan tentang cara menerapkannya pada Aceh, termasuk upaya merumuskan konsep sosiologis yang bersumber dari pengalaman Aceh sendiri.The genealogy of sociological theory and the debate on how to apply it to Aceh, including efforts to formulate sociological concepts rooted in Aceh's own experience.
4.2 Struktur masyarakat Aceh: suku, gender & identitasThe structure of Acehnese society: ethnicity, gender & identity
Susunan masyarakat Aceh menurut suku, gender, kelas, dan identitas, beserta ruang-ruang sosial dan batin yang membentuk rasa ke-Aceh-an.The make-up of Acehnese society by ethnicity, gender, class and identity, together with the social and inner spaces that shape a sense of Acehness.
KonsepConcept Identitas Gayo dalam konstruksi ke-Aceh-anGayo identity within Acehneseness
Identitas Gayo, masyarakat dataran tinggi di bagian tengah Aceh, merupakan identitas yang terus diperebutkan oleh ke-Aceh-an, ke-Indonesia-an, dan ke-Melayu-an. Literatur antropologi lama nyaris tidak menyebut Gayo sebagai entitas tersendiri, dan…Gayo identity, belonging to the highland society of central Aceh, is a contested identity, claimed at once by Acehneseness, Indonesianness and Malayness. Older anthropological literature barely recognised the Gayo as…
KonsepConcept Imajinasi sosial generasi milenial dalam pergaulan sehari-hariThe social imagination of millennials in everyday sociability
Simpul ini menyoroti cara generasi milenial Aceh membayangkan dan menjalani pergaulan: kenakalan remaja di ruang publik, keberanian dan ‘agresivitas’ pemudi dalam pergaulan, serta anggapan populer bahwa pergaulan bebas ‘dipicu oleh…This cluster examines how Acehnese millennials imagine and live their sociability: youth delinquency in public space, the boldness or ‘aggressiveness’ of young women in social life, and the popular claim…
KelompokCommunity Inong bale: janda di kampung AcehInong bale: widows in Acehnese villages
Inong bale adalah sebutan Aceh bagi janda, khususnya yang ditinggal mati suaminya. Di banyak kampung, mereka menjadi ibu sekaligus ayah, berhasil mendidik anak hingga perguruan tinggi, dan jarang menikah lagi.…Inong bale is the Acehnese term for widows, especially women whose husbands have died. In many villages they serve as both mother and father, often educating their children through university,…
TradisiTradition Kerja perempuan di kampung dan tradisi meurupVillage women's labour and the meurup tradition
Di kampung-kampung Aceh, perempuan memikul bagian terbesar kerja sawah, dari menanam hingga panen, di samping pekerjaan rumah dan dapur kenduri. Tradisi meurup, yakni membayar bantuan kerja dengan tenaga, menambah beban…In Acehnese villages women carry the greater share of rice-field work, from planting to harvest, alongside housework and cooking for communal feasts. The meurup tradition, repaying labour assistance with labour…
KonsepConcept Kijang Innova dan Double Cabin: metafora damai yang menjadi proyekKijang Innova and Double Cabin: when peace became a project
Mobil Kijang Innova dan Double Cabin menjadi simbol sosial mobilitas cepat di Aceh setelah tsunami dan MoU Helsinki. Di desa, kendaraan ini diasosiasikan dengan pekerja LSM dan mantan anggota GAM…The Kijang Innova and the Double Cabin pickup became social symbols of rapid upward mobility in Aceh after the tsunami and the Helsinki memorandum. In villages these vehicles were associated…
KonsepConcept Kosmopolis religiusThe religious cosmopolis
Kosmopolis religius adalah gagasan tentang masyarakat yang menjadi warga dunia sambil tetap berpegang pada tradisi dan agamanya. Kosmopolitanisme dibaca melalui tiga unsur: penghargaan pada individu, universalitas kemanusiaan, dan generalitas kepedulian…The religious cosmopolis is the idea of a society that becomes a citizen of the world while holding fast to its traditions and faith. Cosmopolitanism is read through three elements:…
NaskahText Masalah sosial mahasiswa di Aceh: membaca esai reflektifStudent social problems in Aceh: reading a reflective essay
Esai mengajukan persoalan ekonomi, relasi kuasa, kekerasan, utang, komunikasi, dan kehidupan digital dalam pengalaman mahasiswa. Ia dibaca sebagai refleksi pengajar, bukan survei prevalensi atau penelitian klinis.The essay raises economic pressures, power relations, violence, debt, communication and digital life in student experience. It is read as an educator’s reflection rather than a prevalence survey or clinical…
KonsepConcept Menjadi Aceh adalah menjadi MuslimBeing Acehnese means being Muslim
Dalam perbandingan Aceh–Jawa, identitas Aceh dipahami melekat pada Islam: menjadi Aceh (being Acehnese) berarti menjadi Muslim, sehingga sebutan “Aceh-Islam” tidak pernah diperlukan. Sebaliknya, tidak setiap orang Jawa beragama Islam dan…In the Aceh–Java comparison, Acehnese identity is understood as inseparable from Islam: being Acehnese means being Muslim, so the label ‘Acehnese-Muslim’ is never needed. By contrast, not every Javanese is…
KonsepConcept Mimpi jadi PNS: ‘uang kopi’ dan asai ka u dalamThe dream of civil service: ‘coffee money’ and asai ka u dalam
Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) adalah impian banyak anak muda Aceh karena menjanjikan gaji tetap, fasilitas, dan akses ke posisi ‘basah’. Kritik sosial menyoroti kesenjangan antara gaji resmi dan gaya…Becoming a civil servant (PNS) is the dream of many young Acehnese because it promises a steady salary, perks and access to ‘wet’ positions. Social criticism highlights the gap between…
KonsepConcept Narkoba dan keluarga AcehDrugs and the Acehnese family
Narkoba menjadi salah satu simpul persoalan keluarga yang paling berat. Simpul ini menyoroti tiga sisi: faktor ekonomi yang mendorong sebagian warga terlibat dalam bisnis narkoba, peran keluarga dalam menangani anggota…Drugs are among the heaviest nodes of family issues. This cluster highlights three aspects: the economic factors that draw some residents into the drug trade, the family's role in dealing…
KonsepConcept Perebutan makna, kebencian, dan literasi mediaStruggles over meaning, hatred and media literacy
Esai kebencian dan kesimpulan buku membuka kajian tentang bagaimana narasi membentuk hubungan sosial.The hatred essay and book conclusion invite inquiry into narratives shaping social relations.
KonsepConcept Perempuan Aceh di ruang publikAcehnese women in the public sphere
Dalam dua dasawarsa terakhir, perempuan Aceh bergerak dari dapur dan belakang rumah ke pinggir jalan, ruang kerja berpendingin udara, hingga ke pinggir kekuasaan. Perempuan kini mendominasi banyak sektor jasa, pendidikan…Over the past two decades, Acehnese women have moved from the kitchen and the back of the house to the roadside, to air-conditioned workplaces and to the margins of power.…
KonsepConcept Pergaulan bebas sebagai perlawanan terhadap orang tua‘Free association’ as rebellion against parents
Simpul ini membaca pergaulan bebas bukan semata pelanggaran moral, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan anak muda terhadap otoritas orang tua. Tiga gejala diangkat: budaya pacaran, tren kabur dari rumah, dan…This node reads ‘free association’ not merely as moral transgression but also as a form of youthful rebellion against parental authority. It highlights three phenomena: dating culture, the trend of…
KonsepConcept Perundungan, gawai, dan kesenjangan pemahaman keagamaanBullying, gadgets and the religious-understanding gap
Perundungan (bullying) di Aceh terjadi di ruang publik, di sekolah dan pergaulan, maupun di dunia maya. Simpul ini menyoroti peran keluarga dan dampak gawai, lalu membingkainya dalam satu persoalan lebih…Bullying in Aceh occurs in public space, at school and among peers, as well as online. This node highlights the role of families and the impact of gadgets, framing them…
KonsepConcept Peta persoalan keluarga di Aceh kontemporerMapping family issues in contemporary Aceh
Peta tema persoalan keluarga di Aceh menghimpun sepuluh simpul isu yang saling terkait: imajinasi sosial generasi milenial, nikah siri, narkoba, guna-guna dalam perceraian, mahar, perceraian sebagai konten, pergaulan bebas sebagai…A thematic map of family issues in Aceh brings together ten interconnected clusters: the social imagination of millennials, unregistered (siri) marriage, drugs, sorcery in divorce, the bride-price (mahar), divorce as…
KonsepConcept Rumoh beut dan otoritas keilmuan perempuanRumoh beut and women’s scholarly authority
Rumah pengajian menjadi ruang pembentukan kepercayaan, keterampilan membaca, praktik ibadah, dan hubungan guru–murid.The learning house becomes a site of trust, reading skills, worship instruction and teacher–student relationships.
KonsepConcept Sakit sosial: demoralisasi dan destabilisasi masyarakat AcehSocial sickness: demoralisation and destabilisation in Acehnese society
Diagnosis ini menyebut masyarakat Aceh sedang mengalami ‘sakit sosial’ yang disebabkan oleh dua proses. Demoralisasi mencabut nilai-nilai adat dari hakikat menjadi simbol, sehingga orang mengamalkan apa yang sesungguhnya tidak disukainya…This diagnosis holds that Acehnese society suffers a ‘social sickness’ caused by two processes. Demoralisation strips adat values from substance to symbol, so people practise what they actually dislike and…
KelompokCommunity Sukĕ imuem peut dan kategori suku AcehSukee imuem peut and Acehnese clan categories
Tradisi lisan Aceh membagi asal-usul masyarakat ke dalam beberapa sukĕ (suku). Sukĕ imuem peut dan sukĕ tok batĕ dipandang sebagai keturunan pendatang dari Arab, Persia, Turki, dan lainnya, yang menurunkan…Acehnese oral tradition divides the origins of society into several sukee (clans). Sukee imuem peut and sukee tok bate are seen as descendants of newcomers from Arabia, Persia, Turkey and…
KonsepConcept Tamu, ruang, durasi, dan kewajiban sosialGuests, space, duration and social obligations
Penerimaan tamu dapat dipelajari sebagai pengaturan kedekatan, privasi, sumber daya, dan tanggung jawab.Guest reception can be studied as an arrangement of closeness, privacy, resources and responsibility.
NaskahText The Veranda of Mecca: Jabatan, kemiskinan, bantuan, dan pemekaranThe Veranda of Mecca: Office, poverty, aid and territorial division
Tujuh bab mempertemukan kesiapan menerima kekalahan pemilu, daya tarik pegawai negeri, kesenjangan, politik bantuan, dan wacana pemekaran.Seven chapters connect accepting electoral defeat, civil-service aspirations, inequality, aid and provincial division.
NaskahText The Veranda of Mecca: Kapitalisme, moralitas, aktivisme, dan refleksi sosialThe Veranda of Mecca: Capitalism, morality, activism and social reflection
Sembilan bab memeriksa perilaku mencari keuntungan, bahasa kritik moral, gender, trilogi teungeutlogi–ngeutlogi–peungeutlogi, aktivisme, perubahan SIRA menjadi partai, serta refleksi akhir 2008.Nine chapters examine profit seeking, moral critique, gender, the three local idioms of manipulation, activism, SIRA’s party transition and reflection on 2008.
KonsepConcept Tiga ruang Sosiologi Aceh: imajinasi sosial, kesadaran sosial, dan kebatinanThree spaces of Acehnese sociology: social imagination, social consciousness and inner life
Untuk membangkitkan kajian Sosiologi Aceh, tiga ruang diusulkan untuk digali kembali. Pertama, ruang imajinasi sosial yang bersifat ke-Aceh-an, yang perlu ditelaah secara multidisiplin. Kedua, ruang yang aktif dan progresif dalam…To revive the study of Acehnese sociology, three spaces are proposed for renewed exploration. The first is a space of social imagination with an Acehnese character, to be studied in…
KonsepConcept Tren perceraian sebagai kontenDivorce as content
Perceraian di Aceh kini tidak lagi selalu menjadi aib yang disembunyikan; sebagian justru diumumkan, diperdebatkan, dan dijadikan konten di media sosial. Simpul ini menyoroti tiga gejala: perpindahan urusan perceraian dari…Divorce in Aceh is no longer always a shame to be hidden; some divorces are announced, debated and turned into social-media content. This node highlights three phenomena: the shift of…
4.3 Institusi & lembagaInstitutions
Lembaga-lembaga sosial, adat, dan keagamaan yang mengatur kehidupan bersama di Aceh, dari meunasah hingga lembaga modern.The social, customary and religious institutions that order communal life in Aceh, from the meunasah to modern bodies.
4.4 Kajian bandar & gampong: ruang, ekonomi & lautTowns & villages: space, economy & the sea
Kajian kota pelabuhan dan gampong sebagai ruang hidup, ekonomi, dan hubungan masyarakat Aceh dengan laut.Studies of port towns and villages as spaces of living, economy and Acehnese society's relationship with the sea.
4.5 Diaspora & mobilitasDiaspora & mobility
Perantauan, migrasi, dan komunitas Aceh di luar tanah asal, serta jaringan yang menghubungkannya kembali dengan Aceh.Migration, sojourning and Acehnese communities beyond the homeland, and the networks that link them back to Aceh.
KonsepConcept Aceh–Penang: identitas melalui niaga, ibadah, dan perantauanAceh–Penang: identity through trade, worship and migration
Penang dibaca sebagai simpul jejaring orang Aceh yang menghubungkan perdagangan, permukiman, masjid, perjalanan haji, dan hubungan dunia luar.Penang is read as a node connecting Acehnese trade, settlement, mosques, pilgrimage and wider-world relations.
KelompokCommunity Diaspora Aceh dalam pusaran konflikThe Acehnese diaspora in the vortex of conflict
Orang Aceh tersebar di hampir semua provinsi Indonesia dan di luar negeri, terutama Malaysia. Sikap mereka terhadap konflik Aceh tidak seragam karena motif merantau yang berbeda: pelarian Perang Cumbok, pengusaha,…Acehnese live in nearly every Indonesian province and abroad, above all in Malaysia. Their attitudes towards the Aceh conflict were far from uniform because their reasons for migrating differed: refugees…
KelompokCommunity Ganja sebagai “perekat” Aceh dan JawaCannabis as the ‘glue’ between Aceh and Java
Pengamatan etnografis tentang perantau muda Aceh di Jawa menunjukkan bahwa jaringan perdagangan ganja ilegal dari Aceh ke Jawa hingga Bali mempertemukan orang Aceh dan Jawa justru ketika kedua kelompok berhadapan…Ethnographic observation of young Acehnese migrants in Java shows that illegal cannabis networks running from Aceh through Java to Bali brought Acehnese and Javanese together even as the two faced…
PeristiwaEvent Haji, perantara, dan kerentanan dokumen: kasus 2016Pilgrimage, intermediaries and documentary vulnerability: the 2016 case
Kasus keberangkatan melalui Filipina memperlihatkan hubungan antrean, janji percepatan, informasi yang timpang, dan perlindungan jemaah.The Philippine-route case relates waiting lists, promises of faster departure, information asymmetry and pilgrim protection.
KelompokCommunity Imigran Aceh di Semenanjung MalaysiaAcehnese migrants in Peninsular Malaysia
Sejak 1980-an, Pulau Pinang dan Kuala Lumpur menjadi tujuan utama migrasi orang Aceh. Tiga alasan dominan mendorongnya: konflik bersenjata, pencarian nafkah, dan pendidikan. Semangat ini dirumuskan sebagai falsafah jak u…Since the 1980s Penang and Kuala Lumpur have been the main destinations of Acehnese migration. Three reasons dominate: armed conflict, the search for a livelihood, and education. The impulse is…
KonsepConcept Jejaring Hadhrami: niaga, haji, dan percetakanHadhrami networks: commerce, pilgrimage and printing
Bisnis perjalanan haji dan pembiayaan penerbitan memperlihatkan pertemuan modal, mobilitas, serta pengetahuan.Pilgrimage businesses and publishing finance connect capital, mobility and knowledge.
KonsepConcept Meudagang dan meukat: merantau mencari ilmu dan berniagaMeudagang and meukat: travelling for knowledge and for trade
Bahasa Aceh membedakan meudagang, yakni keluar dari rumah atau lingkungan kawom untuk mencari ilmu, dari meukat atau hareukat, yaitu kegiatan berdagang. Meudagang senafas dengan konsep ibn sabil dan berujung pada…Acehnese distinguishes meudagang, leaving home or one’s kin group (kawom) in search of knowledge, from meukat or hareukat, the activity of trading. Meudagang shares the spirit of the ibn sabil…
4.6 Bencana & ketahanan: peristiwa, sebab & dampakDisaster & resilience: events, causes & impacts
Rangkaian peristiwa bencana di Aceh, sebab-sebab alam dan buatan manusia di baliknya, serta dampaknya bagi masyarakat.Disaster events in Aceh, the natural and human-made causes behind them, and their impact on society.
PeristiwaEvent Banjir bandang dan longsor Aceh November 2025The November 2025 Aceh flash floods and landslides
Rangkaian banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang dipicu hujan ekstrem di sekitar Siklon Tropis Senyar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Menurut data BNPB…A chain of floods, flash floods and landslides, driven by extreme rainfall around Tropical Cyclone Senyar, struck Aceh, North Sumatra and West Sumatra in late November 2025. BNPB data as…
KonsepConcept Dampak ekonomi bencana Aceh 2025The economic impact of Aceh's 2025 disaster
Menurut dokumen rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Pemerintah Aceh berbasis pengkajian kebutuhan pascabencana, kerusakan dan kerugian Aceh mencapai Rp138,38 triliun dengan kebutuhan pemulihan Rp153,25 triliun. Dibandingkan APBA 2026 sebesar Rp12,23 triliun,…According to the Aceh government's rehabilitation and reconstruction plan, based on the post-disaster needs assessment, damage and losses in Aceh totalled Rp138.38 trillion, with recovery needs of Rp153.25 trillion. Against…
KonsepConcept Dampak sosial, layanan dasar, dan martabat penyintasSocial impact, basic services and survivors' dignity
Di luar angka kerugian ekonomi, bencana 2025 mengubah kehidupan sosial, pendidikan, kesehatan, dan ibadah di Aceh. Sebanyak 532 dayah terdampak dengan rehabilitasi baru sekitar sepuluh persen pada akhir Juli 2026,…Beyond economic losses, the 2025 disaster transformed social life, education, health and worship in Aceh. Some 532 dayah were affected, with only about ten per cent rehabilitated by the end…
TempatPlace Dataran tinggi tengah: longsor dan isolasi Gayo 2025The central highlands: Gayo landslides and isolation in 2025
Dataran tinggi tengah Aceh mengalami bentuk kerusakan yang berbeda dari pesisir: longsor yang mengubur permukiman, desa yang hilang seluruhnya, jembatan yang putus dalam jumlah besar, dan isolasi berminggu-minggu. Tiga belas…Aceh's central highlands suffered a different kind of damage from the coast: landslides burying settlements, whole villages vanishing, bridges severed in large numbers and weeks of isolation. Thirteen of the…
KonsepConcept Deforestasi hulu dan lonjakan kehilangan hutan Aceh 2024–2025Upstream deforestation and Aceh's 2024–2025 forest-loss surge
Menyusutnya tutupan hutan di daerah tangkapan air menjadi tekanan dinamis utama di balik besarnya dampak banjir 2025. Yayasan Auriga Nusantara mencatat deforestasi Aceh naik dari 8.962 hektare pada 2024 menjadi…Shrinking forest cover in water catchments was the main dynamic pressure behind the severity of the 2025 floods. Yayasan Auriga Nusantara recorded Aceh's deforestation rising from 8,962 hectares in 2024…
KonsepConcept Desa yang hilang dalam bencana 2025Villages lost in the 2025 disaster
Kategori kerusakan paling berat dalam bencana 2025 adalah desa yang lenyap sebagai permukiman. Kementerian Dalam Negeri melaporkan 21 desa hilang di Aceh, tersebar di Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Gayo Lues,…The most severe damage category in 2025 was villages that ceased to exist as settlements. The Ministry of Home Affairs reported 21 villages lost in Aceh, spread across Aceh Tamiang,…
KonsepConcept Empat lapis sebab bencana Aceh 2025The four layers of causation in Aceh's 2025 disaster
Analisis sebab bencana 2025 memakai model Pressure and Release (Wisner, Blaikie, Cannon, dan Davis) yang memandang bencana sebagai perpotongan bahaya alam dan kerentanan yang terbentuk secara sosial. Hasilnya adalah empat…Causal analysis of the 2025 disaster uses the Pressure and Release model (Wisner, Blaikie, Cannon and Davis), which sees disaster as the intersection of a natural hazard and socially produced…
PeristiwaEvent Forensik kayu gelondongan banjir 2025Forensic analysis of the 2025 flood logs
Kementerian Kehutanan bersama Bareskrim Polri merilis hasil pemeriksaan forensik atas kayu gelondongan yang terbawa banjir pada 10 Desember 2025. Dari 43 potong sampel teridentifikasi 15 jenis kayu, sebagian besar karet,…On 10 December 2025 the Ministry of Forestry and the National Police criminal investigation agency released forensic results on the logs swept along by the floods. From 43 samples, 15…
TempatPlace Kawasan Ekosistem Leuser sebagai menara air AcehThe Leuser Ecosystem as Aceh's water tower
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) adalah bentang hutan pegunungan yang berfungsi sebagai menara air bagi hampir seluruh daerah aliran sungai besar di Aceh. Menurut Yayasan HAkA, 71 persen kehilangan tutupan hutan…The Leuser Ecosystem (KEL) is a mountain-forest landscape that serves as the water tower for nearly all of Aceh's major river basins. According to Yayasan HAkA, 71 per cent of…
KonsepConcept Kegagalan infrastruktur berantai: listrik, komunikasi, dan jembatanCascading infrastructure failure: power, communications and bridges
Robohnya menara transmisi 150 kV pada jalur Arun–Bireuen pada 26 November 2025 memadamkan seluruh Aceh dan memicu kegagalan beruntun. Telekomunikasi lumpuh karena gardu operator tidak memiliki daya cadangan, sehingga BTS…The collapse of a 150 kV transmission tower on the Arun–Bireuen line on 26 November 2025 blacked out all of Aceh and set off cascading failures. Telecommunications collapsed because operator…
KonsepConcept Kesenjangan data hidrologi dan peringatan yang berhenti pada curah hujanThe hydrological data gap and warnings that stopped at rainfall
BMKG menerbitkan peringatan dini kategori AWAS pada 23 November 2025, tiga hari sebelum puncak, yang menyebut hampir seluruh kabupaten yang kemudian terdampak berat. Namun peringatan itu berhenti pada kategori curah…BMKG issued an AWAS (highest-level) early warning on 23 November 2025, three days before the peak, naming almost every district later hit hard. But the warning stopped at rainfall categories:…
KonsepConcept Perizinan tambang dan tata ruang yang permisifMining licences and permissive spatial planning
Di balik deforestasi hulu terdapat lapis keputusan berupa izin usaha dan rencana tata ruang. Menurut data IDeAS per April 2026, terdapat 79 izin usaha pertambangan aktif di 12 kabupaten/kota Aceh…Beneath upstream deforestation lies a layer of decisions: business licences and spatial plans. According to IDeAS data as of April 2026, there were 79 active mining licences in 12 Acehnese…
PeristiwaEvent Peta kehilangan tutupan hutan Aceh 2025: penyebab, kawasan, dan titik tekananMapping Aceh’s 2025 forest-cover loss: causes, zones and pressure points
Data pemantauan Yayasan HAkA mencatat kehilangan tutupan hutan Aceh sebesar 39.687 hektare pada 2025, naik lebih dari 274 persen dari 10.610 hektare pada 2024. Sekitar 61,5 persen diperkirakan berasal dari…Monitoring data from Yayasan HAkA recorded 39,687 hectares of forest-cover loss in Aceh in 2025, up more than 274 percent from 10,610 hectares in 2024. About 61.5 percent is estimated…
PeristiwaEvent Siklon Tropis SenyarTropical Cyclone Senyar
Senyar adalah siklon tropis yang terbentuk di Selat Malaka pada 26 November 2025 sekitar 90 kilometer tenggara Lhokseumawe, dengan angin maksimum 43 knot dan tekanan pusat 998 hPa. Sistem ini…Senyar was a tropical cyclone that formed in the Strait of Malacca on 26 November 2025 about 90 kilometres south-east of Lhokseumawe, with maximum winds of 43 knots and a…
TempatPlace Tangse: banjir bandang 2011 dan tambang emas di huluTangse: the 2011 flash flood and upstream gold mining
Tangse di Kabupaten Pidie adalah contoh paling terdokumentasi tentang hubungan antara kerusakan hulu dan banjir bandang di Aceh. Banjir bandang 10 Maret 2011 menewaskan 24 orang dan dikaitkan dengan pembalakan…Tangse in Pidie district is the best-documented example of the link between upstream degradation and flash floods in Aceh. The flash flood of 10 March 2011 killed 24 people and…
KonsepConcept Tiga tipologi wilayah terdampak bencana 2025Three typologies of affected areas in 2025
Satu peristiwa cuaca menghasilkan tiga jenis bencana karena melintasi tiga bentang alam Aceh yang dibelah Pegunungan Bukit Barisan. Pesisir utara-timur mengalami banjir berdurasi panjang dan pengungsian massal; dataran tinggi tengah…One weather event produced three kinds of disaster because it crossed three Acehnese landscapes divided by the Bukit Barisan range. The north-east coast suffered prolonged flooding and mass displacement; the…
KonsepConcept Wilayah sungai dan DAS lintas kabupaten di AcehRiver regions and cross-district basins in Aceh
Aceh terbagi ke dalam sembilan wilayah sungai: tiga berstatus strategis nasional, satu lintas provinsi, empat lintas kabupaten/kota, dan satu dalam satu kabupaten. Pembagian kewenangan ini menjadi salah satu akar persoalan…Aceh is divided into nine river regions: three of national strategic status, one cross-provincial, four cross-district and one within a single district. This allocation of authority is a root problem…
4.7 Bencana & ketahanan: tata kelola, pelajaran & kebijakanDisaster & resilience: governance, lessons & policy
Tata kelola penanganan bencana, pelajaran yang ditarik, dan kebijakan untuk membangun ketangguhan di Aceh.The governance of disaster response, the lessons drawn, and policies for building resilience in Aceh.
KonsepConcept Arsitektur ketangguhan Aceh 2026–2030Aceh's resilience architecture 2026–2030
Strategi penguatan ketangguhan Aceh 2026–2030 disusun dari apa yang gagal pada 2025, bukan dari kerangka ideal. Ia bertumpu pada tiga prinsip, yakni menangani sebab, membangun kembali dengan lebih baik, dan…Aceh's 2026–2030 resilience strategy is built from what failed in 2025, not from an ideal framework. It rests on three principles, addressing causes, building back better and using what already…
KonsepConcept Bencana ekologis, bencana alam, dan pertanggungjawaban hukumEcological disaster, 'natural disaster' and legal accountability
Cara sebuah bencana dinamai menentukan pintu pertanggungjawaban yang terbuka. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 membagi bencana menjadi bencana alam, nonalam, dan sosial; label "bencana alam" menggiring pemahaman bahwa peristiwa datang…How a disaster is named determines which doors to accountability open. Law No. 24 of 2007 divides disasters into natural, non-natural and social; the label 'natural disaster' implies the event…
KonsepConcept Dekonstruksi rekonstruksi: pembangunan mental pascatsunamiDeconstructing reconstruction: mental rebuilding after the tsunami
Kritik ini menolak anggapan bahwa keberhasilan rekonstruksi Aceh diukur dari jumlah bangunan dan uang yang dibelanjakan. Dengan meminjam gagasan dekonstruksi, ia menuntut pendefinisian ulang rekonstruksi sebagai pembangunan mental masyarakat. Tiga…This critique rejects the assumption that Aceh’s reconstruction succeeds by the number of buildings and the money spent. Borrowing the idea of deconstruction, it calls for redefining reconstruction as the…
KonsepConcept Dua puluh delapan rekomendasi kebijakan dan lima prioritasTwenty-eight policy recommendations and five priorities
Evaluasi bencana Aceh 2025 menghasilkan 28 rekomendasi kebijakan dalam enam kluster, diturunkan dari empat belas kesenjangan, sembilan pelajaran, dan strategi ketangguhan. Setiap butir menyebut apa yang direkomendasikan, kepada siapa, dan…The evaluation of Aceh's 2025 disaster produced 28 policy recommendations in six clusters, derived from fourteen gaps, nine lessons and the resilience strategy. Each specifies what is recommended, to whom,…
KonsepConcept Ekologi berketuhananTheocentric ecology (ekologi berketuhanan)
Ekologi berketuhanan adalah kerangka normatif yang menempatkan bumi sebagai amanah, manusia sebagai khalifah penjaga amanah, dan keseimbangan (mizan) sebagai ukuran yang tidak boleh dilanggar. Kerangka ini muncul dalam wacana hukum…Theocentric ecology is a normative framework that treats the earth as a trust (amanah), humans as stewards (khalifah) of that trust, and balance (mizan) as a measure not to be…
KonsepConcept Etika bantuan dan martabat penyintasAid ethics and the dignity of survivors
Evaluasi bencana 2025 menegaskan bahwa cara bantuan diberikan sama penting dengan jumlahnya. Kerangka normatifnya sudah tersedia dalam UU No. 24 Tahun 2007, Piagam Kemanusiaan dan Proyek Sphere, serta Qanun Aceh…The 2025 evaluation insists that how aid is given matters as much as how much. The normative framework already exists in Law No. 24/2007, the Humanitarian Charter and Sphere Project,…
KonsepConcept Hukum bencana dan bencana hukumDisaster law and legal disaster
Evaluasi bencana Aceh 2025 membedakan kegagalan operasional dari kegagalan normatif, antara hukum bencana dan bencana hukum. Pada tingkat normatif menonjol empat persoalan: revisi UU No. 24 Tahun 2007 yang terhenti,…The evaluation of Aceh's 2025 disaster distinguishes operational from normative failure, disaster law from legal disaster. Four normative problems stand out: the stalled revision of Law No. 24/2007, the regulatory…
KonsepConcept Kegagalan komunikasi krisis dan data yang tidak sinkronCrisis communication failure and inconsistent data
Komunikasi krisis dinilai sebagai salah satu temuan paling serius dari bencana 2025. Kegagalannya berlapis: lumpuhnya infrastruktur komunikasi, ketiadaan penjelasan resmi tentang sebab bencana, kontradiksi antara klaim pejabat dan kondisi lapangan,…Crisis communication is judged one of the most serious failures of the 2025 disaster. It failed in layers: collapsed communications infrastructure, no official explanation of the disaster's causes, contradictions between…
LembagaInstitution Kelembagaan pemulihan: dari BRR NAD-Nias ke Satgas NasionalRecovery institutions: from BRR NAD-Nias to the National Task Force
Delapan bulan setelah bencana 2025, progres hunian tetap di Aceh baru 4,9 persen, rehabilitasi dayah sekitar sepuluh persen, dan tambak yang kembali beroperasi 2,3 persen. Evaluasi membandingkannya dengan pemulihan pascatsunami…Eight months after the 2025 disaster, permanent housing in Aceh stood at 4.9 per cent progress, dayah rehabilitation at about ten per cent and restored fishponds at 2.3 per cent.…
KonsepConcept Kesenjangan antara peringatan dan tindakanThe gap between warning and action
BMKG menerbitkan peringatan dini kategori AWAS pada 23 November 2025, tiga hari sebelum puncak bencana, dengan cakupan wilayah yang sebagian besar tepat. Meski demikian, korban di Aceh mencapai 562 jiwa.…BMKG issued an AWAS (highest-level) warning on 23 November 2025, three days before the peak, with largely accurate geographic coverage. Even so, 562 people died in Aceh. The evaluation identifies…
KonsepConcept Kesenjangan pengetahuan dan kebijakan serta sistem yang tidak dirawatThe knowledge–policy gap and unmaintained systems
Temuan paling mendasar evaluasi bencana Aceh 2025 adalah bahwa pengetahuan tentang risiko sudah tersedia jauh sebelum bencana, tetapi tidak pernah diterjemahkan ke dalam tata ruang dan perizinan. Infrastruktur kesiapsiagaan yang…The most fundamental finding of the evaluation of Aceh's 2025 disaster is that knowledge of the risk existed long before the event but was never translated into spatial planning and…
KonsepConcept Ketangguhan komunitas: gampong, mukim, meunasah, dan dayahCommunity resilience: gampong, mukim, meunasah and dayah
Pilar keempat strategi ketangguhan Aceh bertumpu pada lembaga yang sudah dimiliki masyarakat: gampong, mukim, meunasah, masjid, sekolah, dan dayah. Kegagalan program berbasis komunitas di masa lalu bersumber pada pembiayaan yang…The fourth pillar of Aceh's resilience strategy rests on institutions communities already possess: the gampong, mukim, meunasah, mosque, school and dayah. Past community-based programmes failed because funding stopped when projects…
KonsepConcept Modal sosial sebagai sumber daya yang belum terkelolaSocial capital as an unmanaged resource
Ketika negara belum hadir sepenuhnya, masyarakat Aceh bergerak sendiri dalam gelombang swadaya yang disebut droe keu droe. Komunitas pemotor trail, pemilik kendaraan gardan ganda, warga antar-gampong, perguruan tinggi, dan filantropi…When the state was not yet fully present, Acehnese society mobilised itself in a self-help wave known as droe keu droe. Trail-bike clubs, four-wheel-drive owners, residents of neighbouring villages, universities…
PeristiwaEvent Muzakarah Ulama Aceh dan Dewan Profesor USK: rekomendasi dari dalam wilayah terdampakThe Aceh Ulama Muzakarah and the USK Professors' Council: recommendations from within the affected region
Kurang dari tiga pekan setelah bencana, dua otoritas lokal menghasilkan 22 butir rekomendasi: Muzakarah Ulama Aceh pada 14 Desember 2025 di halaman Masjid Raya Baiturrahman, dan Dewan Profesor Universitas Syiah…Less than three weeks after the disaster, two local authorities produced 22 recommendations: the Aceh Ulama Muzakarah on 14 December 2025 in the courtyard of the Baiturrahman Grand Mosque, and…
KonsepConcept Padat karya penyintas: dari cash for work 2004 ke desain insentif 2025Survivor-based cash for work: from 2004 to the 2025 incentive design
Pada pemulihan tsunami 2004, penyintas dibayar untuk membersihkan lingkungan mereka sendiri melalui skema cash for work. Pada 2025, dana makan dan dana lelah justru mengalir kepada personel bergaji yang didatangkan…During the 2004 tsunami recovery, survivors were paid to clean up their own surroundings through cash-for-work schemes. In 2025, meal and fatigue allowances instead went to salaried personnel brought in…
KonsepConcept Paradoks pembiayaan pengurangan risikoThe disaster risk financing paradox
Temuan paling tajam evaluasi bencana Aceh 2025 bersifat fiskal. Pagu BNPB dalam RAPBN 2026 ditetapkan Rp491 miliar, turun 75,62 persen dari outlook 2025, sementara alokasi rehabilitasi dan rekonstruksi tiga provinsi…The sharpest finding of the evaluation of Aceh's 2025 disaster is fiscal. BNPB's ceiling in the draft 2026 state budget was set at Rp491 billion, down 75.62 per cent from…
KonsepConcept Pembukaan akses, logistik, dan modifikasi cuacaAccess, logistics and weather modification
Fase darurat memperlihatkan pengerahan sumber daya berskala besar: tim SAR, helikopter, kapal TNI AL, jembatan bailey, personel PLN, dan operasi modifikasi cuaca. Distribusi logistik dari gudang mencapai 99,86 persen pada…The emergency phase saw a large-scale mobilisation: search-and-rescue teams, helicopters, navy ships, Bailey bridges, power-utility crews and weather modification. According to BNPB data, 99.86 per cent of warehoused logistics had…
KonsepConcept Peringatan dini berbasis dampak dan jaringan hidrologi terbukaImpact-based early warning and an open hydrological network
Pilar kedua strategi ketangguhan Aceh 2026–2030 mengubah peringatan dini dari pernyataan kategori hujan menjadi pernyataan dampak dan tindakan. Fondasinya adalah jaringan telemetri tinggi muka air yang datanya terbuka dan waktu…The second pillar of Aceh's 2026–2030 resilience strategy turns early warning from statements about rainfall categories into statements about impacts and actions. Its foundation is a river-level telemetry network with…
PeristiwaEvent Polemik bantuan internasional dalam bencana 2025The 2025 international aid controversy
Pada Desember 2025 pemerintah pusat menyatakan bantuan internasional belum diperlukan, sementara Gubernur Aceh tetap menerima bantuan yang datang, antara lain dari Malaysia, atas dasar kemanusiaan. Pernyataan seorang menteri tentang nilai…In December 2025 the central government declared that international aid was not yet needed, while the Governor of Aceh accepted incoming assistance, including from Malaysia, on humanitarian grounds. A minister's…
KonsepConcept Politik bantuan dan NGO internasional pascatsunamiThe politics of aid and international NGOs after the tsunami
Kehadiran ratusan NGO internasional setelah tsunami membangun infrastruktur, mengawasi perdamaian, dan sementara waktu mengisi fungsi pemerintah. Namun kearifan lokal Aceh mengingatkan bahwa ‘tidak ada orang berbuat baik tanpa maksud’. Kajian…Hundreds of international NGOs arriving after the tsunami built infrastructure, monitored the peace and temporarily filled government functions. Yet Acehnese wisdom warns that ‘no one does good without a purpose’.…
NaskahText Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2010 tentang Penanggulangan BencanaAceh Qanun No. 5 of 2010 on Disaster Management
Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2010 adalah peraturan kebencanaan Aceh yang lahir dari kewenangan khusus provinsi ini membentuk qanun. Qanun ini memuat ketentuan bercorak kultural-religius yang tidak memiliki padanan di…Aceh Qanun No. 5 of 2010 is Aceh's disaster regulation, enacted under the province's special authority to make qanun. It contains culturally and religiously inflected provisions without parallel in other…
KonsepConcept Rekonstruksi pascatsunami: pembangunan fisik dan visi moralPost-tsunami reconstruction: infrastructure and moral visions
Rekonstruksi Aceh sesudah tsunami mencakup perebutan makna tentang masyarakat yang lebih baik. Feener mempertemukan agenda bantuan internasional dengan visi transformasi keagamaan.Aceh’s post-tsunami reconstruction involved competing meanings of a better society. Feener connects international aid agendas with religious visions of transformation.
KonsepConcept Sembilan pelajaran pokok dan Aceh sebagai modelNine core lessons and Aceh as a model
Pembelajaran dari bencana Aceh 2025 dirumuskan menjadi sembilan pelajaran pokok, masing-masing disertai bukti dan bentuk pelembagaannya agar tidak bergantung pada ingatan. Sebuah pelajaran dianggap sah bila berdasar bukti, menunjuk titik…The lessons of Aceh's 2025 disaster are distilled into nine core lessons, each paired with evidence and an institutional form so that they do not depend on memory. A lesson…
KonsepConcept Status kedaruratan, bencana nasional, dan kalender pemulihanEmergency status, national disaster declaration and the recovery calendar
Sepanjang bencana 2025–2026 tidak ada keputusan presiden yang menetapkan status bencana nasional, meskipun ulama, koalisi masyarakat sipil, dan Amnesty International Indonesia menuntutnya. Perdebatan ini bukan simbolik, karena status membuka kemudahan…Throughout the 2025–2026 disaster no presidential decree declared a national disaster, although ulama, a civil-society coalition and Amnesty International Indonesia demanded one. The debate was not merely symbolic, since status…
KonsepConcept Struktur komando tanggap darurat 2025–2026The 2025–2026 emergency command structure
Penanganan darurat banjir bandang Aceh 2025 tidak dipimpin satu badan tunggal, melainkan berlangsung dalam tiga lapis kelembagaan yang berurutan: pemerintah daerah, pendampingan nasional oleh BNPB, dan satuan tugas percepatan pemulihan.…The emergency response to Aceh's 2025 flash floods was not led by a single body but unfolded across three successive institutional layers: regional government, national accompaniment by BNPB, and a…
KonsepConcept Tata kelola daerah aliran sungai: otoritas, moratorium, dan restorasiRiver-basin governance: authority, moratorium and restoration
Pilar pertama strategi ketangguhan Aceh adalah tata kelola daerah aliran sungai, bukan pembangunan tanggul, karena setiap infrastruktur pengendali banjir akan menghadapi beban yang terus naik selama kondisi hulu tidak berubah.…The first pillar of Aceh's resilience strategy is river-basin governance rather than levee building, since flood-control infrastructure faces ever-rising loads while upstream conditions remain unchanged. The proposals cover a cross-district…
KonsepConcept Transparansi anggaran dan pembiayaan daruratBudget transparency and emergency financing
Pembiayaan darurat bencana 2025 bersumber dari Dana Siap Pakai, transfer ke daerah, santunan Kementerian Sosial, dan APBA, tetapi informasi publiknya dinilai tidak memadai. Indonesia Corruption Watch memetakan risiko penyalahgunaan dan…Emergency financing for the 2025 disaster drew on on-call funds, transfers to regions, Social Affairs Ministry compensation and the provincial budget, yet public information about it was judged inadequate. Indonesia…
KonsepConcept Unit relawan peringatan gampong dan model BangladeshVillage warning volunteer units and the Bangladesh model
Sistem peringatan yang bergantung pada kanal digital gagal ketika listrik dan telekomunikasi padam pada 26 November 2025. Sebagai jawabannya diusulkan unit relawan peringatan di setiap gampong rawan, sekitar dua puluh…Warning systems relying on digital channels failed when power and telecommunications collapsed on 26 November 2025. The proposed answer is a warning volunteer unit in every at-risk village, about twenty…
4.8 Tsunami 2004 & kearifan lokal kebencanaanThe 2004 tsunami & local disaster knowledge
Tsunami 2004 dan pengetahuan lokal tentang bencana, seperti tradisi lisan yang menyelamatkan warga, sebagai bagian dari ingatan sosial Aceh.The 2004 tsunami and local disaster knowledge, such as oral traditions that saved lives, as part of Aceh's social memory.
KonsepConcept Paradoks kesiapsiagaan pascatsunamiThe post-tsunami preparedness paradox
Aceh adalah tempat kelembagaan penanggulangan bencana Indonesia lahir, tetapi pada 2025 provinsi ini kehilangan 562 jiwa akibat ancaman yang berbeda dari yang disiapkannya. Setelah 2004 yang dibangun adalah kapasitas menghadapi…Aceh is where Indonesia's disaster-management institutions were born, yet in 2025 it lost 562 lives to a threat different from the one it had prepared for. After 2004 the province…
KonsepConcept Sanksi sosial ekologis dan ekologi berketuhananEcological social sanction and a God-conscious ecology
Selain sebagai modal gotong royong, kearifan lokal Aceh juga berfungsi sebagai mekanisme pencegahan melalui sanksi sosial: pihak yang memantik bencana ekologis diingat dan dikecam lintas generasi. Mekanisme ini terlihat hidup…Beyond serving as a resource for mutual aid, Acehnese local wisdom also acts as a preventive mechanism through social sanction: those who trigger ecological disasters are remembered and condemned across…
TradisiTradition Smong dan nandong: pengetahuan tsunami SimeulueSmong and nandong: Simeulue's tsunami knowledge
Smong adalah istilah Simeulue untuk tsunami, dan pengetahuan bahwa gempa kuat harus disusul lari ke bukit diwariskan melalui nandong, nyanyian tradisional termasuk pengantar tidur, sejak tsunami 1907. Pada tsunami 2004,…Smong is the Simeulue word for tsunami, and the knowledge that a strong earthquake must be followed by flight to the hills has been passed down through nandong, traditional songs…
TradisiTradition Smong: pengetahuan tsunami SimeulueSmong: Simeulue's tsunami knowledge
Smong adalah pengetahuan masyarakat Simeulue bahwa gempa kuat harus segera disusul dengan lari ke bukit, karena laut dapat naik. Pengetahuan ini diwariskan melalui nandong, nyanyian pengantar tidur, sejak tsunami 4…Smong is the Simeulue people's knowledge that a strong earthquake must be followed at once by running to the hills, because the sea may rise. Transmitted through nandong, lullabies, since…
PeristiwaEvent Tsunami Aceh 26 Desember 2004 dan warisan kelembagaannyaThe Aceh tsunami of 26 December 2004 and its institutional legacy
Tsunami Samudra Hindia 26 Desember 2004 menewaskan lebih dari 131.000 jiwa di Aceh, dengan sekurangnya 37.000 orang hilang, menurut BRR dan Bank Dunia. Pemulihannya menjadi salah satu program rekonstruksi terbesar…The Indian Ocean tsunami of 26 December 2004 killed more than 131,000 people in Aceh, with at least 37,000 missing, according to the BRR and the World Bank. Its recovery…