Aceh Tamiang: episentrum banjir bandangAceh Tamiang: epicentre of the flash floods
Banjir besar 2006, 2022, dan 2025; status darurat hingga 23 Agustus 2026Major floods in 2006, 2022 and 2025; emergency status until 23 August 2026
Aceh Tamiang di pesisir timur menjadi wilayah dengan pengungsi terbanyak dan kerusakan permukiman terberat pada bencana 2025. Kota Kualasimpang lumpuh dengan genangan hingga tiga meter. Daerah aliran sungainya berbentuk menyempit di hilir, sehingga air dari tangkapan yang luas tertahan tepat di kawasan padat penduduk. Kabupaten ini telah mengalami banjir katastrofik berulang dari daerah aliran sungai yang sama.
Aceh Tamiang on the east coast had the most displaced people and the worst housing damage in the 2025 disaster. The town of Kualasimpang was paralysed under up to three metres of water. Its river basin narrows downstream, so water from a wide catchment is choked precisely where population is densest. The district has suffered repeated catastrophic floods from the same basin.
Menurut data BNPB yang dikutip media, pengungsi di Aceh Tamiang mencapai 252.623 jiwa pada 9 Desember 2025 dan 208.163 jiwa pada 17 Desember, sementara korban meninggal naik dari 60 menjadi 101 jiwa antara pertengahan Desember dan awal Januari 2026 seiring verifikasi. Curah hujan dilaporkan sekitar 400 milimeter per hari, dengan tinggi muka air tujuh sampai sepuluh meter di sejumlah titik. Kementerian Dalam Negeri mencatat enam desa di kabupaten ini hilang, dan sekitar 3.435,5 hektare tambak milik 1.974 keluarga petambak rusak.
Penyebab strukturalnya paling terdokumentasi di Aceh. Kajian yang dikutip Tirto.id menunjukkan hutan kering primer di DAS Tamiang menyusut dari 1.100 km² pada 1995 menjadi 966 km² pada 2018, sementara perkebunan sawit bertambah 71 persen dan permukiman 73 persen. Bentuk DAS seperti leher botol, lebar di hulu dan sempit di hilir, memaksa air melewati penampang sempit di sekitar Kualasimpang. Wilayah Sungai Tamiang–Langsa yang menaungi 17 DAS berstatus lintas kabupaten, sehingga tidak ada satu otoritas yang memegang mandat atas seluruh sistem. Sebelas desa dinyatakan rawan banjir bandang dan menjadi prioritas relokasi.
Sejarahnya berulang: banjir Desember 2006 menewaskan 46 orang dengan 162 hilang dan mengungsikan 203.722 jiwa; banjir November 2022 disebut terparah sejak 2006 karena genangan bertahan 12 hari. Kendati demikian, Indeks Risiko Bencana Indonesia 2023 hanya menempatkan Aceh Tamiang pada kelas risiko sedang dengan skor 129,56.
Aceh Tamiang menjalankan rantai keputusan kedaruratan terpanjang di Aceh hingga 23 Agustus 2026, mencatat kerusakan dayah terberat, dan menjadi salah satu dari tiga kabupaten yang pembangunan hunian tetapnya terhambat pengadaan lahan. Pemantau hutan memperingatkan bahwa tanpa perubahan arah tata ruang, banjir akan terus berulang di sini.
According to BNPB figures cited in the press, displacement in Aceh Tamiang reached 252,623 people on 9 December 2025 and 208,163 on 17 December, while confirmed deaths rose from 60 to 101 between mid-December and early January 2026 as verification proceeded. Rainfall was reported at around 400 millimetres a day, with water levels of seven to ten metres at some points. The Ministry of Home Affairs recorded six villages in the district as lost, and some 3,435.5 hectares of fishponds belonging to 1,974 fish-farming households were damaged.
Its structural causes are the best documented in Aceh. A study cited by Tirto.id shows primary dryland forest in the Tamiang basin shrinking from 1,100 km² in 1995 to 966 km² in 2018, while oil-palm plantations grew by 71 per cent and settlements by 73 per cent. The basin is bottle-shaped, wide upstream and narrow downstream, forcing water through a tight channel around Kualasimpang. The Tamiang–Langsa river region, covering 17 basins, is classed as cross-district, so no single authority holds a mandate over the whole system. Eleven villages were declared flash-flood-prone and prioritised for resettlement.
The history repeats: the December 2006 flood killed 46 people, left 162 missing and displaced 203,722; the November 2022 flood was called the worst since 2006 as water stood for 12 days. Yet the 2023 Indonesian Disaster Risk Index placed Aceh Tamiang only in the medium-risk class, with a score of 129.56.
Aceh Tamiang ran the longest chain of emergency decrees in Aceh, to 23 August 2026, recorded the heaviest damage to dayah, and was one of three districts where permanent housing stalled over land acquisition. Forest monitors warn that unless spatial planning changes course, flooding here will keep recurring.
Gagasan kunciKey ideas
DAS leher botolA bottleneck basin
Bentuk DAS yang menyempit di hilir mengubah curah hujan besar menjadi genangan dalam di pusat kota.A basin narrowing downstream turns heavy rain into deep inundation in the town centre.
Tiga bencana, satu sungaiThree disasters, one river
Pengulangan 2006, 2022, dan 2025 menunjukkan bahwa persoalannya terletak pada tindakan, bukan pada ketiadaan pengetahuan.The repetition of 2006, 2022 and 2025 shows the problem lies in action, not lack of knowledge.
Risiko yang tak terbaca indeksRisk the index missed
Kelas risiko sedang dalam indeks nasional berbanding terbalik dengan riwayat bencana aktual.A medium-risk rating in the national index contrasts sharply with the actual disaster record.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Mengapa wilayah yang dilanda banjir katastrofik tiga kali dalam dua dekade masih berkembang tanpa otoritas pengelola DAS yang utuh?Why does a district hit by catastrophic floods three times in two decades still lack a single basin authority?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Aceh Tamiang: episentrum banjir bandang”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aceh-tamiang-episentrum-banjir-bandang/