Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Banjir bandang dan longsor Aceh November 2025The November 2025 Aceh flash floods and landslides

Puncak 25–27 November 2025; kedaruratan dan pemulihan berlanjut hingga Agustus 2026Peak 25–27 November 2025; emergency and recovery continued into August 2026

Rangkaian banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang dipicu hujan ekstrem di sekitar Siklon Tropis Senyar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Menurut data BNPB per 25 Januari 2026, korban di tiga provinsi mencapai 1.201 meninggal dan 142 hilang, dengan 562 meninggal dan 29 hilang di Aceh. Peristiwa ini menjadi bencana paling mematikan di Indonesia dalam satu dekade dan menyentuh 18 dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Pemicunya langka, tetapi kerusakannya menimpa titik-titik kerentanan yang sudah lama dikenal.

A chain of floods, flash floods and landslides, driven by extreme rainfall around Tropical Cyclone Senyar, struck Aceh, North Sumatra and West Sumatra in late November 2025. BNPB data as of 25 January 2026 put the toll across the three provinces at 1,201 dead and 142 missing, of whom 562 dead and 29 missing were in Aceh. It was Indonesia's deadliest disaster in a decade and touched 18 of Aceh's 23 districts and cities. The trigger was rare, but the damage fell on long-recognised points of vulnerability.

Perkembangan angka korban meninggal di tiga provinsi dan di Aceh, 29 November 2025–25 Januari 2026.
Perkembangan angka korban meninggal di tiga provinsi dan di Aceh, 29 November 2025–25 Januari 2026.Reported deaths in three provinces and in Aceh, 29 November 2025–25 January 2026. Sumber: BNPB, Belajar dari Aceh (2026), diolah dari data BNPB, BPBA, dan lembaga terkait.

Bencana ini tidak bermula pada hari puncaknya. Sejak 19–20 November 2025 hujan sedang hingga lebat telah merendam tujuh kecamatan di Aceh Utara, dan analisis klimatologi BMKG untuk dasarian III November menunjukkan hampir separuh pos hujan di Aceh mencatat kategori sangat tinggi, sehingga tanah sudah jenuh sebelum puncak tiba. Pada malam 25 November tanggul Krueng Pase dan Krueng Peuto jebol di enam titik, sehari sebelum sistem atmosfer di Selat Malaka resmi berstatus siklon tropis. Pada 26 November curah hujan mencapai 411 milimeter dalam 24 jam di Kuala, Bireuen, menara transmisi 150 kV jalur Arun–Bireuen roboh, dan seluruh Aceh padam.

Skala keterdampakan paling jelas terbaca pada satuan pemerintahan terkecil: menurut Sekretariat Daerah Aceh, 3.310 dari 6.497 gampong terdampak pada awal Desember, dan angkanya kemudian naik menjadi 3.978 desa. Dasbor Posko Tanggap Darurat mencatat 2.584.067 jiwa terdampak, kira-kira separuh penduduk provinsi, sementara pengungsian memuncak pada 994.801 jiwa pada 8 Desember 2025 menurut OCHA.

Angka korban bergerak selama dua bulan, dari 47 jiwa di Aceh pada 29 November menjadi 562 pada 25 Januari 2026. Kenaikan itu terutama hasil verifikasi jenazah dan reklasifikasi status hilang, bukan korban baru. Perbedaan angka antarlembaga, misalnya 562 menurut BNPB dan 594 menurut pengkajian kebutuhan pascabencana Pemerintah Aceh, mencerminkan definisi dan tahap pendataan yang berbeda.

Secara analitis, peristiwa ini memperlihatkan ketegangan antara bahaya yang jarang dan kerentanan yang akrab: daerah aliran sungai yang kehilangan hutan, permukiman di bantaran, tanggul yang tidak terawat, dan peringatan yang berhenti pada kategori curah hujan. Karena itu bencana ini dibaca sekaligus sebagai bencana hidrometeorologi dan bencana ekologis.

The disaster did not begin on its peak day. From 19–20 November 2025 moderate-to-heavy rain had already inundated seven sub-districts of North Aceh, and BMKG's climatological analysis for the last ten days of November showed nearly half of Aceh's rain gauges in the 'very high' category, so the ground was saturated before the peak arrived. On the night of 25 November the levees of the Krueng Pase and Krueng Peuto failed at six points, a day before the system in the Strait of Malacca was officially classed as a tropical cyclone. On 26 November rainfall reached 411 millimetres in 24 hours at Kuala, Bireuen; a 150 kV transmission tower on the Arun–Bireuen line collapsed, and all of Aceh lost power.

The scale of impact is clearest at the level of the smallest administrative unit: according to the Aceh Regional Secretariat, 3,310 of 6,497 gampong were affected by early December, a figure that later rose to 3,978 villages. The emergency command dashboard recorded 2,584,067 people affected, roughly half the province, while displacement peaked at 994,801 people on 8 December 2025 according to OCHA.

Casualty figures moved for two months, from 47 deaths in Aceh on 29 November to 562 on 25 January 2026. The increase came mainly from body identification and the reclassification of missing persons, not from new deaths. Divergent figures between agencies, such as 562 deaths per BNPB and 594 in the provincial post-disaster needs assessment, reflect different definitions and stages of data collection.

Analytically, the event exposes a tension between a rare hazard and familiar vulnerabilities: watersheds stripped of forest, riverbank settlements, poorly maintained levees, and warnings that stopped at rainfall categories. It is therefore read both as a hydrometeorological disaster and as an ecological one.

Gagasan kunciKey ideas

Pemicu langka, kerentanan lamaA rare trigger, old vulnerabilities

Siklon yang terbentuk dekat ekuator adalah anomali, tetapi kehancuran terjadi di tempat yang kerentanannya telah terdokumentasi selama dua dekade.A cyclone forming near the equator was an anomaly, yet destruction concentrated where vulnerability had been documented for two decades.

Keserentakan sebagai pembedaSimultaneity as the difference

Banjir di Aceh bukan hal baru; kebaruan 2025 terletak pada terjadinya banjir hampir serentak di seluruh provinsi dengan arus yang sangat deras.Floods are not new in Aceh; what was new in 2025 was their near-simultaneous occurrence across the province with extraordinarily violent currents.

Angka yang bergerakMoving numbers

Data korban dan kerusakan terus direvisi; setiap angka perlu dibaca bersama tanggal batas dan lembaga penerbitnya.Casualty and damage figures were repeatedly revised; each number must be read with its cut-off date and issuing agency.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bila pemicunya langka tetapi kerentanannya sudah lama diketahui, di mana sebaiknya tanggung jawab atas besarnya korban diletakkan?If the trigger was rare but the vulnerabilities long known, where should responsibility for the scale of loss be placed?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Banjir bandang dan longsor Aceh November 2025”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/banjir-bandang-aceh-2025/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →