Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Rawa Singkil dan Lae Tekhep: gambut, orangutan, dan sawitRawa Singkil and Lae Tekhep: peat, orangutans and oil palm

Suaka Margasatwa Rawa Singkil, hamparan rawa gambut lebih dari 80.000 hektare di Aceh Singkil, Subulussalam, dan Aceh Selatan, adalah bagian Kawasan Ekosistem Leuser dan salah satu benteng terakhir orangutan Sumatra. Gambutnya bekerja seperti spons raksasa yang menyerap air pada musim hujan dan melepaskannya perlahan pada musim kemarau. Lae Tekhep, yang dijuluki ‘Amazon kecil’, menjadi gerbang ekowisata ke kawasan ini. Namun drainase untuk kebun sawit ilegal, perambahan, dan kebakaran gambut telah menghilangkan ribuan hektare, menyebabkan amblesan tanah, banjir, dan apa yang dapat dibaca sebagai involusi ekologis bagi warga di tepinya.

The Rawa Singkil Wildlife Reserve, an expanse of more than 80,000 hectares of peat swamp in Aceh Singkil, Subulussalam and South Aceh, is part of the Leuser Ecosystem and one of the last strongholds of the Sumatran orangutan. Its peat works like a giant sponge, absorbing water in the rainy season and releasing it slowly in the dry season. Lae Tekhep, nicknamed the ‘little Amazon’, is the ecotourism gateway to the area. Yet drainage for illegal oil palm, encroachment and peat fires have destroyed thousands of hectares, causing land subsidence, floods and what can be read as an ecological involution for the people on its edges.

Rawa Singkil membentang di Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam, dan Kabupaten Aceh Selatan dengan luas lebih dari 80.000 hektare, sebagian sumber menyebut 82.000 hektare. Kawasan ini berstatus suaka margasatwa dan merupakan bagian Kawasan Ekosistem Leuser. Fungsi terpentingnya adalah hidrologis: gambut menyerap air pada musim hujan dan melepaskannya perlahan pada musim kemarau, sehingga mengurangi risiko banjir dan menjaga keseimbangan lingkungan. Karena itu rawa ini tidak hanya penting bagi satwa, tetapi juga bagi kampung-kampung di sepanjang Sungai Singkil.

Gerbang yang paling dikenal ke kawasan ini adalah Lae Tekhep, hutan hujan dan rawa gambut di hulu Sungai Singkil. Pengunjung menumpang perahu motor berkapasitas lima hingga lima belas orang dari Desa Teluk Rumbia atau Desa Rantau Gedang, dengan perjalanan sekitar lima belas hingga tiga puluh menit. Wisatawan menjulukinya ‘Amazon Indonesia’ karena airnya tenang berwarna cokelat teh akibat gambut, pepohonan rapat di kedua tepi, dan kabut tipis pada pagi hari. Namun identitasnya bukan tiruan Amazon, melainkan perpaduan alami antara sungai, hutan, dan manusia. Kemewahan yang ditawarkannya adalah keheningan: ketika mesin perahu dimatikan di tengah sungai, yang tersisa hanyalah hutan, air, dan waktu yang berjalan lambat.

Perhatian dunia pada Rawa Singkil terutama tertuju pada orangutan Sumatra, spesies yang terancam punah. Kawasan Trumon–Singkil disebut menampung populasi yang penting bagi kelangsungan spesies ini, dan di sini orangutan hidup bebas, membuat sarang di pohon, dan mencari makan sendiri, sehingga pengunjung adalah tamu di rumah mereka, bukan penonton pertunjukan. Satwa dilindungi lain yang tercatat meliputi harimau dan gajah Sumatra, beruang madu, buaya, siamang, rusa, rangkong, bangau tongtong, mentok rimba, dan berbagai burung langka. BirdLife International menetapkan kawasan Trumon–Singkil sebagai daerah penting bagi pelestarian burung. Warga Teluk Rumbia dan Rantau Gedang membaca musim dari tinggi muka air, mengenal ikan menurut waktunya, dan memahami kicau burung serta arah angin sebagai bagian identitas budaya.

Status perlindungan tidak menghentikan tekanan. Kebakaran di Trumon pada 28 Juli 2025 menghanguskan 703 hektare, dan menurut Yayasan HAkA dipicu pembangunan drainase di areal konsesi sebuah perusahaan yang mengarah ke gambut, mengancam merambat ke suaka margasatwa. Di dalam Rawa Singkil sendiri, 1.324 hektare hilang antara Juni 2019 dan Juni 2023 akibat konversi menjadi kebun sawit ilegal. Pemantauan TheTreeMap untuk 2016–2024 mencatat 2.577 hektare perambahan dan 652 hektare kebun sawit ilegal yang sebagian besar sudah siap panen. Zona rawan kebakaran membentang dari Trumon di utara, Kuala Baru di barat, Longkip–Rundeng di timur, hingga Singkohor–Suro Makmur di selatan, dengan potensi hingga sekitar 3.000 hektare.

Akibat ekologisnya berlapis. Pengeringan gambut melepaskan karbon dalam jumlah besar, disebut antara 8,77 hingga 44,99 ton karbon per hektare per tahun, dan meningkatkan risiko kebakaran. Tanah ambles sekitar 3,5 sentimeter per tahun, memicu banjir pasang, lahan tak produktif, menurunnya ikan endemik, Sungai Singkil yang makin keruh dan dangkal, serta satwa liar yang masuk permukiman. Rumah-rumah di Desa Kilangan dan sekitarnya dilaporkan amblas, sebuah gejala yang dalam bahasa setempat disebut lesek. Desa Ujung Bawang, yang relatif jauh dari sungai, kini kebanjiran karena drainase perusahaan tidak memiliki saluran akhir, sehingga air menggenang dan rawa tidak lagi mampu menyerapnya. Pada akhir 2025 sejumlah desa tergenang, transportasi terganggu, pasar lumpuh, dan ternak mati.

Dua kerangka klasik membantu membaca perubahan ini. Robert Elson dalam The End of the Peasantry in Southeast Asia (1997) menggambarkan peralihan dari petani subsisten ke petani yang terintegrasi pasar. Di Singkil, pangan lokal seperti umbi, pisang, dan sagu digantikan sawit yang harganya ditentukan pasar global, dan sungai bergeser dari ruang hidup dan ruang ritual menjadi sumber daya lahan yang dimodifikasi untuk perkebunan. Clifford Geertz dalam Agricultural Involution (1963) menjelaskan bagaimana tekanan luar memaksa komunitas mengintensifkan kerja tanpa hasil yang lebih baik. Warga Ujung Bawang, Solok, Anjo-anjo, Rundeng, dan kampung lain di tepi rawa harus bekerja lebih keras, bergotong royong lebih banyak, dan menyusun strategi bertahan, sementara ruang hidupnya menyempit dan kesejahteraannya tidak naik. Ketergantungan pada uang tunai dan sawit memisahkan petani dari tanah, sungai, dan rawa, dan membuat Singkil rentan terhadap bencana, konflik agraria, dan krisis sosial.

Jalan tengah yang diusulkan adalah ekowisata: warga memperoleh penghasilan tanpa merusak hutan, perahu lokal mengangkut wisatawan, dan anak muda menjadi pemandu, karena konservasi bergantung pada orang yang hidup paling dekat dengan kawasan. Hutan rawa gambut yang rusak parah memerlukan puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih. Kemajuan tidak harus berarti mengubah hutan menjadi beton atau kebun; kadang ia berarti menjaga yang tersisa. Menyebut bencana sebagai ujian Tuhan sambil mengabaikan sebab-sebab buatan manusia dinilai justru tidak menghormati Tuhan, sebab bencana yang dibuat manusia menuntut tindakan manusia.

Rawa Singkil stretches across Aceh Singkil Regency, the city of Subulussalam and South Aceh Regency, covering more than 80,000 hectares, with some sources giving 82,000. The area has wildlife reserve status and is part of the Leuser Ecosystem. Its most important function is hydrological: the peat absorbs water in the rainy season and releases it slowly in the dry season, reducing flood risk and keeping the environment in balance. The swamp therefore matters not only for wildlife but also for the villages along the Singkil River.

The best-known gateway to the area is Lae Tekhep, a rainforest and peat swamp up the Singkil River. Visitors take a motorboat carrying five to fifteen people from Teluk Rumbia or Rantau Gedang villages, a trip of about fifteen to thirty minutes. Tourists call it the ‘Amazon of Indonesia’ because of its calm, tea-brown peat water, dense trees on both banks and thin morning mist. Yet its identity is not a copy of the Amazon but a natural blend of river, forest and people. The luxury it offers is silence: when the boat’s engine is cut in mid-river, only forest, water and slow time remain.

World attention to Rawa Singkil centres above all on the Sumatran orangutan, a species threatened with extinction. The Trumon–Singkil area is said to hold a population important for the species’ survival, and here orangutans live freely, build nests in the trees and forage for themselves, so visitors are guests in their home rather than an audience at a show. Other protected animals recorded include the Sumatran tiger and elephant, sun bear, crocodile, siamang, deer, hornbills, lesser adjutant storks, white-winged duck and various rare birds. BirdLife International has designated the Trumon–Singkil area as important for bird conservation. Residents of Teluk Rumbia and Rantau Gedang read the seasons from water levels, know fish by their times and understand birdsong and wind direction as part of their cultural identity.

Protected status has not stopped the pressure. A fire in Trumon on 28 July 2025 burned 703 hectares and, according to Yayasan HAkA, was triggered by drainage construction in a company concession running towards the peat, threatening to spread into the wildlife reserve. Within Rawa Singkil itself, 1,324 hectares were lost between June 2019 and June 2023 to conversion into illegal oil palm plantations. TheTreeMap monitoring for 2016–2024 recorded 2,577 hectares of encroachment and 652 hectares of illegal oil palm, most of it already productive. Fire-prone zones stretch from Trumon in the north, Kuala Baru in the west and Longkip–Rundeng in the east to Singkohor–Suro Makmur in the south, with a potential of up to about 3,000 hectares.

The ecological consequences are layered. Drying peat releases large amounts of carbon, put at between 8.77 and 44.99 tonnes per hectare per year, and raises the risk of fire. The land subsides by about 3.5 centimetres a year, bringing tidal flooding, unproductive land, declining endemic fish, a murkier and shallower Singkil River and wildlife entering settlements. Houses in Kilangan village and nearby are reported to be sinking, a phenomenon called lesek in the local language. Ujung Bawang village, relatively far from the river, now floods because company drainage has no final outlet, so water pools and the swamp can no longer absorb it. In late 2025 several villages were submerged, transport was disrupted, markets stopped and livestock died.

Two classic frameworks help read this change. Robert Elson, in The End of the Peasantry in Southeast Asia (1997), describes the shift from subsistence peasants to market-integrated farmers. In Singkil, local foods such as tubers, bananas and sago are being replaced by oil palm, whose price is set by global markets, and the river is shifting from a living and ritual space to a land resource modified for plantations. Clifford Geertz, in Agricultural Involution (1963), explains how outside pressure forces communities to intensify their labour without better returns. Residents of Ujung Bawang, Solok, Anjo-anjo, Rundeng and other swamp-edge villages must work harder, cooperate more and devise survival strategies while their living space shrinks and their welfare does not rise. Dependence on cash and oil palm separates farmers from land, river and swamp, and makes Singkil vulnerable to disaster, agrarian conflict and social crisis.

The proposed middle way is ecotourism: residents earn income without damaging the forest, local boats carry tourists and young people work as guides, because conservation depends on those who live closest to the area. Badly damaged peat swamp forest takes decades or even centuries to recover. Progress need not mean turning forest into concrete or plantations; sometimes it means guarding what remains. Calling disasters a test from God while ignoring their human causes is judged to be, in fact, disrespectful to God, because man-made disasters demand human action.

Gagasan kunciKey ideas

Gambut sebagai sponsPeat as sponge

Rawa menyerap air saat hujan dan melepaskannya saat kemarau, meredam banjir.The swamp absorbs water in the rains and releases it in the dry season, damping floods.

Dari peasant ke farmerFrom peasant to farmer

Pangan subsisten digantikan sawit yang terikat harga global (Elson).Subsistence food gives way to oil palm tied to global prices (Elson).

Involusi ekologisEcological involution

Warga bekerja makin keras di ruang hidup yang makin sempit tanpa kesejahteraan naik (Geertz).Residents work ever harder in shrinking living space without rising welfare (Geertz).

Ekowisata sebagai jalan tengahEcotourism as a middle way

Perahu dan pemandu lokal memberi nafkah tanpa menebang hutan.Local boats and guides provide income without felling forest.

Bencana buatan manusiaMan-made disaster

Fatalisme religius tidak boleh menutupi sebab manusia.Religious fatalism must not hide human causes.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Siapa yang menanggung biaya ketika rawa gambut dikeringkan untuk sawit: perusahaan yang menanam, atau kampung yang perlahan tenggelam?Who bears the cost when peat swamps are drained for oil palm: the companies that plant, or the villages that slowly sink?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Rawa Singkil dan Lae Tekhep: gambut, orangutan, dan sawit”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/rawa-singkil/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →