Ekonomi dayah dan ketergantungan pada negaraThe dayah economy and dependence on the state
Akhir abad ke-20 hingga kiniLate 20th century to the present
Dahulu dayah hidup tanpa SPP: santri hanya menyumbang ‘uang lampu’, tinggal di bilik beratap rumbia, dan menutup kebutuhan dengan kiriman orang tua atau bekerja di sawah teungku dan masyarakat. Kini bilik diganti gedung beton bertingkat, listrik harus dibayar, harga kitab melambung, dan teungku makin sering diundang ke pendopo dan rapat. Akibatnya, banyak dayah berlomba memohon bantuan pemerintah dan tumbuh rasa ketergantungan pada negara.
In the past dayah ran without tuition: santri contributed only ‘lamp money’, lived in thatched cubicles and met their needs through remittances from parents or by working the fields of the teungku and villagers. Today the cubicles have become multi-storey concrete buildings, electricity must be paid for, book prices have soared, and teungku are ever more often invited to official residences and meetings. Many dayah now compete for government aid, and a sense of dependence on the state has grown.
Sistem lama menjadikan dayah menyatu dengan ekonomi gampong. Santri yang disebut ureung meudagang mengabdikan diri kepada masyarakat untuk memperoleh imbalan sepantasnya, sementara sedekah dan zakat diserahkan kepada teungku dayah untuk disalurkan kepada yang berhak. Kelangsungan dayah sangat bergantung pada kemampuan pimpinannya mengartikulasikan diri kepada elite; semakin terkenal pimpinan dayah, semakin mudah dayah itu bertahan.
Modernisasi fisik mengubah perhitungan ini. Biaya listrik, bangunan, dan kitab mendorong dayah memohon bantuan ke Badan Dayah di Banda Aceh. Dalam pertemuan di Banda Aceh dan Aceh Tamiang, ulama dayah mengusulkan agar mereka bersatu dan memiliki mekanisme sehingga diperlakukan seperti guru sekolah, yakni memperoleh tunjangan dan bantuan operasional. Mereka mengeluhkan bahwa hanya ulama yang dekat dengan kekuasaan yang kerap memperoleh bantuan.
Paling memprihatinkan adalah nasib dayah di daerah perbatasan, yang merasa tidak lagi diperhatikan pemerintah provinsi dan bertanya kepada siapa mereka harus mengadu. Analisis ini menyimpulkan bahwa ulama berusaha mempertahankan tiga hal sekaligus: kekuatan diri, kekuatan finansial dayah, dan afiliasi dengan kelompok yang menopang keduanya. Jaringan alumni dan saling memperkenalkan di lingkaran kekuasaan menjadi modal penting. Jika pada Orde Baru penguasa mendatangi ulama, kini justru dayah yang mendatangi penguasa.
The old system made the dayah part of the village economy. Santri, called ureung meudagang, served the community for modest rewards, while alms and zakat were handed to dayah teungku for distribution to those entitled. A dayah's survival depended heavily on its leader's ability to engage elites; the more renowned the leader, the easier it was for the dayah to endure.
Physical modernisation changed the calculation. Electricity, building and book costs pushed dayah to apply for aid from the Dayah Agency in Banda Aceh. In meetings in Banda Aceh and Aceh Tamiang, dayah ulama proposed uniting and creating a mechanism so they would be treated like schoolteachers, receiving allowances and operational support. They complained that only ulama close to power regularly received assistance.
Most worrying was the plight of dayah in border areas, which felt neglected by the provincial government and asked to whom they should turn. The analysis concludes that ulama try to maintain three things at once: their own standing, the dayah's finances and affiliation with groups that sustain both. Alumni networks and mutual introductions in power circles become vital assets. Whereas under the New Order rulers came to the ulama, now the dayah go to the rulers.
Gagasan kunciKey ideas
Dari gampong ke negaraFrom village to state
Sumber hidup dayah bergeser dari ekonomi moral gampong ke anggaran pemerintah.Dayah livelihoods shifted from the village moral economy to government budgets.
Arah kunjungan berbalikThe direction of visits reversed
Pada Orde Baru penguasa mendatangi ulama; kini dayah mendatangi penguasa.Under the New Order rulers visited ulama; now dayah visit rulers.
Dayah perbatasanBorder dayah
Ketimpangan bantuan paling terasa di wilayah pinggiran provinsi.Unequal aid is felt most at the provincial margins.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana dayah dapat menerima dukungan negara tanpa kehilangan kemandirian yang dahulu menjadi sumber wibawanya?How can dayah accept state support without losing the independence that once underpinned their authority?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Ekonomi dayah dan ketergantungan pada negara”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ekonomi-dayah-dan-ketergantungan-pada-negara/