Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Aceh–Penang: identitas melalui niaga, ibadah, dan perantauanAceh–Penang: identity through trade, worship and migration

Pembacaan sumber; bukan gambaran seragam semua masyarakatA source-based interpretation, not a uniform description of all communities

Penang dibaca sebagai simpul jejaring orang Aceh yang menghubungkan perdagangan, permukiman, masjid, perjalanan haji, dan hubungan dunia luar.

Penang is read as a node connecting Acehnese trade, settlement, mosques, pilgrimage and wider-world relations.

Kampung Pantai Aceh di Pulau Pinang, menurut keterangan draft
Kampung Pantai Aceh di Pulau Pinang, menurut keterangan draftKampung Pantai Aceh in Penang as captioned in the draft Koleksi KBA, 2012
Masjid Aceh di Pulau Pinang; draft menyebut Jalan Langkawi, sedangkan papan foto menyebut Masjid Aceh Kebun Lama
Masjid Aceh di Pulau Pinang; draft menyebut Jalan Langkawi, sedangkan papan foto menyebut Masjid Aceh Kebun LamaAcehnese mosque in Penang the manuscript says Jalan Langkawi while the photographed sign says Masjid Aceh Kebun Lama Koleksi KBA, 2012. Perbedaan nama lokasi dipertahankan sebagai catatan identifikasi

Makalah mempertanyakan cerita pendirian Penang yang hanya berpusat pada Francis Light. Ia mengangkat kehadiran komunitas lebih awal, jejak tempat seperti Pantai Aceh, dan peran pedagang serta tokoh agama. Pengelompokan masjid dan kegiatan ekonomi menjadi petunjuk hubungan kehidupan material dengan ibadah.

Dengan menempatkan sejarah rakyat di samping sejarah istana, penulis memperlihatkan bahwa melemahnya kerajaan tidak selalu mengakhiri mobilitas masyarakatnya. Kajian jejaring memerlukan pembandingan arsip, ingatan warga, dan jejak tempat. Sebutan Penang sebagai Jeddah Kedua dihubungkan dengan fungsi transit haji dalam sumber, bukan klaim bahwa seluruh perjalanan haji Aceh selalu melewati Penang.

Rujukan utama: Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman, Ruzman Bin Md Noor, dan Mohd Yakub @ Zulkifli Bin Mohd Yusoff. 2012. “Kontruksi Identitas Melayu dalam Sejarah Aceh dan Penang.” 6th International Conference Indonesia-Malaysia, Universitas Airlangga, Surabaya, 10–12 July 2012, hlm. 1–35. Ejaan judul mengikuti naskah. Hlm. 2–3, 11–17, 20–21.

The paper questions a founding narrative centred exclusively on Francis Light. It highlights earlier communities, place traces such as Pantai Aceh, and the roles of merchants and religious figures. The proximity of mosques and economic activity suggests relations between material life and worship.

Placing people’s histories beside court history shows that weakened royal power need not end community mobility. Network research requires comparison of archives, oral accounts and place traces. Penang’s “Second Jeddah” designation relates to pilgrimage transit in the source, not a claim that every Acehnese pilgrimage always passed through it.

Primary reference: Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman, Ruzman Bin Md Noor, dan Mohd Yakub @ Zulkifli Bin Mohd Yusoff. 2012. “Kontruksi Identitas Melayu dalam Sejarah Aceh dan Penang.” 6th International Conference Indonesia-Malaysia, Universitas Airlangga, Surabaya, 10–12 July 2012, hlm. 1–35. Ejaan judul mengikuti naskah. Hlm. 2–3, 11–17, 20–21.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana masjid, pasar, dan jalur perjalanan mempertahankan hubungan lintas Selat Melaka?How do mosques, markets and travel routes sustain connections across the Strait of Melaka?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Aceh–Penang: identitas melalui niaga, ibadah, dan perantauan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aceh-penang-identitas-dan-jejaring/