Pulau Pinang sebagai ‘Jeddah Kedua’Penang as the ‘Second Jeddah’
Akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20Late 17th to mid-20th centuries
Pulau Pinang adalah gerbang utama orang Aceh menuju dunia luar: pelabuhan dagang, tempat lobi politik, dan titik transit haji. Kehadiran orang Aceh di pulau ini disebut telah ada sejak 1696, jauh sebelum Francis Light membukanya pada 1786. Kawasan Lebuh Aceh dikenal sebagai ‘Jeddah Kedua’ hingga pertengahan abad ke-20 karena perannya melayani jemaah haji. Selama Perang Aceh, Pinang juga menjadi basis jaringan perlawanan dan diplomasi.
Penang was the Acehnese gateway to the wider world: a trading port, a place for political lobbying and a transit point for the hajj. Acehnese presence on the island is said to date back to 1696, long before Francis Light opened it in 1786. The Lebuh Aceh (Acheen Street) quarter was known as the ‘Second Jeddah’ until the mid-twentieth century for its role in serving pilgrims. During the Aceh War Penang also became a base for networks of resistance and diplomacy.
Menurut laporan yang dikutip dari Clodd, Light menjumpai orang Melayu di kawasan Dato’ Keramat, dan sebuah hibah diberikan kepada Maharaja Setia yang mengaku keturunan Dato’ Keramat, yang telah menetap di sana lebih dari sembilan puluh tahun. Dato’ Keramat diidentifikasi sebagai Haji Keramat, pedagang asal Aceh; nama asli tokoh ini belum terlacak. Bersamanya disebut pula pedagang Aceh lain, Haji Bayan. Permukiman pedagang Aceh berada di Teluk Jelutong, mencakup Kampung Rauna dan Kebun Lama, sementara Kampung Pantai Aceh, tempat perahu Aceh merapat, kini hampir seluruhnya dihuni warga Tionghoa. Museum Pulau Pinang juga mencatat permukiman Aceh awal abad ke-19 yang dipimpin guru agama Haji Kassim, kini dikenal sebagai Kampung Makam.
Kedekatan geografis dengan Lhokseumawe, Idi, Simpang Ulim, dan Tamiang menjadikan perdagangan Aceh–Pinang ramai, terutama lada. Sebelum Pinang berkembang, Aceh sendiri adalah tempat transit ke Jeddah; setelahnya, arus berbalik. Pada 1881, jemaah Aceh di Pinang dilayani oleh Nyak Amin dari Aceh Besar sebagai syeikh haji.
Perang Aceh menjadikan Pinang medan perebutan. Pada Juni 1873, Belanda memblokade sekitar 270 orang Aceh yang pulang dari Mekkah agar tidak sampai ke tanah air; mereka justru membangun jaringan perlawanan di Pinang. Kesadaran akan peran koloni ini mendorong gagasan Belanda membangun pelabuhan Ulee Lheue. Pertempuran di Sungai Idi pada Mei–Juli 1890 memutus jalur haji Idi–Pinang. Penggalangan dukungan juga berlangsung melalui Komisi Delapan. Hubungan ini bertahan meski Aceh kemudian menjadi bagian Indonesia dan Pinang menjadi negeri tanpa sultan di Malaysia.
Museum Pulau Pinang menarik garis tegas antara orang Melayu dan orang Aceh dalam penyajian suku bangsa penghuni pulau, sambil menyatakan bahwa kini kebanyakan orang Aceh telah terserap ke dalam masyarakat Melayu. Generasi muda Malaysia dinilai kurang menyadari kehadiran Aceh dalam sejarah nasional mereka.
Selama menunggu kapal di Pinang, jemaah Aceh membentuk komunitas sementara: menyewa rumah, membuka warung, bahkan sebagian menikah dengan penduduk setempat. Di surau-surau kecil mereka bertukar kabar tentang kapal, doa keselamatan, dan kisah orang yang gagal berangkat, sehingga Pinang menjadi ‘kampung sementara’ tempat orang Aceh mengenal kosmopolitanisme dunia Melayu.
According to a report attributed to Clodd, Light found Malays at Dato’ Keramat, and a grant was made to one Maharaja Setia who claimed descent from Dato’ Keramat, settled there for more than ninety years. Dato’ Keramat is identified as Haji Keramat, a trader from Aceh whose real name remains untraced. Another Acehnese trader, Haji Bayan, is also named. The Acehnese traders’ quarter lay at Teluk Jelutong, taking in Kampung Rauna and Kebun Lama, while Kampung Pantai Aceh, where Acehnese boats once landed, is now almost entirely Chinese. The Penang Museum also records an early nineteenth-century Acehnese settlement led by a religious teacher, Haji Kassim, now known as Kampung Makam.
Proximity to Lhokseumawe, Idi, Simpang Ulim and Tamiang made Aceh–Penang trade brisk, especially in pepper. Before Penang grew, Aceh itself had been the transit point for Jeddah; afterwards the flow reversed. In 1881 Acehnese pilgrims in Penang were served by Nyak Amin of Aceh Besar as pilgrim broker (syeikh haji).
The Aceh War turned Penang into contested ground. In June 1873 the Dutch blockaded some 270 Acehnese returning from Mecca to stop them reaching home; instead they built a resistance network in Penang. Awareness of this colony fed the Dutch plan to build the port of Ulee Lheue. Fighting on the Idi River in May–July 1890 cut the Idi–Penang hajj route. Support was also mobilised through the Eight Commission. The bond endured even after Aceh became part of Indonesia and Penang a sultan-less state of Malaysia.
The Penang Museum draws a sharp line between Malays and Acehnese in its display of the island's peoples, while stating that most Acehnese have now been fully absorbed into Malay society. Young Malaysians are said to be largely unaware of Aceh's place in their national history.
While waiting for ships in Penang, Acehnese pilgrims formed temporary communities: renting houses, opening stalls and in some cases marrying locals. In small prayer houses they exchanged news of ships, prayers for safe passage and tales of those who failed to depart, making Penang a 'temporary village' where the Acehnese encountered the cosmopolitanism of the Malay world.
Gagasan kunciKey ideas
Gerbang gandaA double gateway
Pinang melayani perdagangan sekaligus ibadah haji orang Aceh.Penang served both Acehnese trade and pilgrimage.
Diaspora sebelum kolonialDiaspora before colonialism
Orang Aceh hadir di Pinang sebelum Inggris datang.Acehnese were in Penang before the British arrived.
Basis perlawananBase of resistance
Blokade Belanda justru melahirkan jaringan perjuangan di Pinang.Dutch blockades produced a resistance network in Penang.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Mengapa sebuah pelabuhan asing dapat menjadi bagian dari geografi sakral dan politik sebuah bangsa?How can a foreign port become part of a people’s sacred and political geography?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Pulau Pinang sebagai ‘Jeddah Kedua’”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/pulau-pinang-jeddah-kedua/