Aceh dan pembentukan identitas MelayuAceh and the making of Malay identity
Abad ke-14 hingga abad ke-2014th to 20th centuries
Tesis ini berpendapat bahwa Aceh bukan Melayu, tetapi berperan besar dalam membentuk identitas Melayu. Peran itu berlangsung dalam beberapa fase: Pasai mengislamkan Melaka, Aceh Darussalam mempertahankan Semenanjung dari Portugis, ulama Aceh mengisi tradisi ilmu Melayu, lalu orang Aceh di Pinang meneguhkan ke-Melayu-an lewat perdagangan dan seni. Bahasa Aceh sendiri berakar pada rumpun Cham, sedangkan bahasa Melayu (Jawi) berfungsi sebagai bahasa ilmu dan penghubung. Hubungan ini juga diwarnai ketegangan dan stereotip timbal balik.
This thesis holds that Aceh is not Malay yet played a major role in shaping Malay identity. That role unfolded in phases: Pasai Islamised Melaka, Aceh Darussalam defended the Peninsula against the Portuguese, Acehnese scholars filled the Malay intellectual tradition, and Acehnese in Penang consolidated Malayness through trade and the arts. The Acehnese language itself belongs to the Chamic family, while Malay (Jawi) served as the language of learning and wider communication. The relationship was also marked by tension and mutual stereotypes.
Menurut Andaya, istilah Malayu semula merujuk pada komunitas di Sumatra bagian tenggara, sejalan dengan kisah Bukit Seguntang di Palembang dalam Sulālat al-Salāṭīn dan keberadaan sungai Melayu di Jambi. Parameswara, pendiri Melaka sekitar 1400, menikahi Puteri Ratna Keumala dari lingkungan Pasai–Peureulak dan berganti nama menjadi Megat Iskandar Syah; A. Hasjmy menyebutnya perkawinan politik. Fase inilah yang menjadikan Melayu identik dengan Islam. Fase kedua dimulai setelah jatuhnya Melaka ke tangan Portugis pada 1511: Aceh menyerang Johor berkali-kali antara 1564 dan 1623, dan di bawah Sultan Iskandar Muda menguasai Pahang, Kedah, dan Perak, sebagaimana dikenang dalam Hikayat Malem Dagang. Fase ketiga, pada abad ke-17, berlangsung melalui ilmu: Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniry, Syamsuddin as-Sumatrani, dan Abdurrauf as-Singkili menghasilkan karya yang masih dibaca di Semenanjung.
Secara bahasa, Thurgood menempatkan bahasa Aceh dalam rumpun Cham yang tersebar di Vietnam, Kamboja, dan Hainan, bagian dari keluarga Austronesia. Selain bahasa Aceh, terdapat bahasa Gayo, Alas, Kluet, Simeulue, dan lainnya, sedangkan bahasa Jawi menjadi bahasa penghubung; A. Hasjmy menyebut Dayah Cot Kala sebagai pusat awal pengembangan bahasa Melayu di Aceh. Andaya mencatat bahwa ketika Johor menggantikan Aceh sebagai pemimpin alam Melayu pada akhir abad ke-17, Aceh mulai menegaskan identitas tersendiri melalui teks berbahasa Aceh.
Relasi ini tidak selalu harmonis. Ribuan tawanan Melayu dari Melaka dan Johor dibawa ke Aceh dan dikenal sebagai Bangsa Lamiet, meskipun sebagian, seperti Tun Seri Lanang, menjadi pembesar. Orang Aceh pun lama memandang orang Melayu mudah bekerja sama dengan penjajah, sementara Anthony Milner mencatat bahwa Aceh tidak pernah mengidentifikasi diri sebagai Melayu.
Penemuan makam Tun Sri Lanang, pengarang Sulālat al-Salāṭīn, di Samalanga dirayakan di Malaysia sebagai penguat identitas Melayu; sebaliknya Bustān al-Salāṭīn karya ar-Raniry, yang memuat peristiwa di Aceh, lazim dimasukkan ke dalam sejarah Melayu, bukan sejarah Aceh.
Pada abad ke-17 bahasa istana Aceh adalah Melayu-Pasai. Sistem gagasan Aceh yang menyebar lewat laut dipandang memperkuat identitas Melayu di Semenanjung dan ikut mengislamkan struktur kekuasaan beberapa kerajaan Melayu.
According to Andaya, the term Malayu first referred to communities in south-eastern Sumatra, consistent with the Bukit Seguntang story set in Palembang in the Sulalat al-Salatin and the Melayu river in Jambi. Parameswara, founder of Melaka around 1400, married Puteri Ratna Keumala from the Pasai–Peureulak milieu and took the name Megat Iskandar Syah, a union A. Hasjmy called a political marriage. This phase made Malayness synonymous with Islam. The second phase began after Melaka fell to the Portuguese in 1511: Aceh attacked Johor repeatedly between 1564 and 1623 and, under Sultan Iskandar Muda, took Pahang, Kedah and Perak, as remembered in the Hikayat Malem Dagang. The third phase, in the seventeenth century, worked through learning: Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Shamsuddin al-Sumatrani and ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili produced works still read on the Peninsula.
Linguistically, Thurgood places Acehnese in the Chamic group found in Vietnam, Cambodia and Hainan, within the Austronesian family. Alongside Acehnese are Gayo, Alas, Kluet, Simeulue and other languages, with Jawi Malay serving as the link language; A. Hasjmy describes Dayah Cot Kala as an early centre of Malay in Aceh. Andaya observes that when Johor displaced Aceh as leader of the Malay world in the late seventeenth century, Aceh began asserting a distinct identity through texts in Acehnese.
The relationship was not always harmonious. Thousands of Malay captives from Melaka and Johor were taken to Aceh and known as Bangsa Lamiet, though some, like Tun Seri Lanang, rose to high office. Acehnese long regarded Malays as too ready to collaborate with colonisers, while Anthony Milner notes that Aceh never identified itself as Malay.
The identification of the grave of Tun Sri Lanang, author of the Sulalat al-Salatin, in Samalanga was celebrated in Malaysia as reinforcing Malay identity; conversely, ar-Raniry's Bustan al-Salatin, which records events in Aceh, is usually filed under Malay rather than Acehnese history.
In the 17th century the Acehnese court language was Pasai Malay. Aceh's system of ideas, carried by sea, is seen as strengthening Malay identity on the Peninsula and helping Islamise the power structures of several Malay kingdoms.
Gagasan kunciKey ideas
Bukan Melayu, tetapi pembentuk MelayuNot Malay, yet a maker of Malayness
Aceh berperan mengislamkan, membela, dan mengisi identitas Melayu tanpa menjadi Melayu.Aceh Islamised, defended and enriched Malay identity without becoming Malay.
Dua bahasa, dua fungsiTwo languages, two functions
Bahasa Aceh untuk keseharian, Jawi untuk ilmu dan hubungan luar.Acehnese for daily life, Jawi for scholarship and external ties.
Paradoks kebangsaanThe national paradox
Aceh kini berbagi bingkai dengan Jawa dalam Indonesia; Melayu berbagi dengan Cina dan India dalam Malaysia.Aceh now shares a frame with Java in Indonesia; Malays share theirs with Chinese and Indians in Malaysia.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Dapatkah sebuah masyarakat menjadi pembentuk utama suatu identitas tanpa pernah mengidentifikasi diri dengannya?Can a society be a principal maker of an identity without ever identifying with it?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Aceh dan pembentukan identitas Melayu”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aceh-dan-identitas-melayu/