Peradaban maritim-kosmopolitanA maritime and cosmopolitan civilisation
Bandar, cukai, lada, jaringan Turki dan dunia Melayu membentuk kekuasaan sekaligus identitas Aceh.Ports, customs, pepper, Ottoman ties and the Malay world shaped both Aceh's power and its identity.
Kekuasaan dan identitas Aceh dibentuk oleh laut. Bandar Aceh Darussalam hidup dari lada, cukai dan kapal asing; sultan-sultannya bersekutu dengan Turki Utsmani dan bergulat dengan Portugis, Johor dan dunia Melayu. Kosmopolitanisme ini bukan tambahan, melainkan inti peradaban Aceh.
Entri Balai Furdah dan cukai pelabuhan memperlihatkan tata kelolanya, perdagangan lada dan etos saudagar memperlihatkan ekonominya, sedangkan alam peudeung, hubungan Pasai dan Melaka dan bangsawan Melayu di istana Aceh memperlihatkan jejaring politiknya.
Pertanyaan ujinya: mengapa laut (bandar, panglima laot) dan darat (gampong, mukim) melahirkan dua tata kelola yang berbeda, dan apa artinya bagi Aceh yang kini lebih banyak memandang ke daratan?
Aceh's power and identity were shaped by the sea. Bandar Aceh Darussalam lived on pepper, customs duties and foreign ships; its sultans allied with the Ottomans and contended with the Portuguese, Johor and the Malay world. This cosmopolitanism is not an addition but the core of Acehnese civilisation.
The entries on the Balai Furdah and port duties show its governance, the pepper trade and the merchant ethos its economy, while the alam peudeung, Pasai–Melaka relations and Malay nobles at the Acehnese court show its political networks.
The test question: why did the sea (the port, the panglima laot) and the land (gampong, mukim) produce two different forms of governance, and what does that mean for an Aceh that now looks mostly inland?
KonsepConcept (43)
- ‘Jalur paket teh’: rantai pasok metamfetamin Selat Melaka dan pesisir timur Aceh‘The Tea-Packet Road’: the Malacca Strait methamphetamine supply chain and Aceh's east coast
- Aceh dalam historiografi Melayu dan MalaysiaAceh in Malay and Malaysian historiography
- Aceh dan gagasan politik Malaysia: Mahathir, 1Malaysia dan gagasan 1-MelayuAceh and Malaysian political ideas: Mahathir, 1Malaysia and the idea of '1-Malay'
- Aceh dan pembentukan identitas MelayuAceh and the making of Malay identity
- Aceh–Penang: identitas melalui niaga, ibadah, dan perantauanAceh–Penang: identity through trade, worship and migration
- Alam peudeung: bendera Aceh dan jejak Turki UtsmaniAlam peudeung: the Acehnese flag and the Ottoman connection
- Andaian Aceh tanpa Islam: takdir sejarah dan takdir geografiAceh without Islam: a counterfactual of history and geography
- Antropologi kosmopolitan: ekspansi orang Aceh sebagai ekspansi kebudayaanCosmopolitan anthropology: Acehnese expansion as cultural expansion
- Budi dan budiman dalam alam pikir Melayu dan AcehBudi and the budiman in Malay and Acehnese thought
- Bukit, makam ulama, dan pusat kosmikHills, scholars' tombs and the cosmic centre
- Bustān al-Salāṭīn dan ‘belokan Islam’ dalam historiografi MelayuThe Bustān al-Salāṭīn and the ‘Islamic turn’ in Malay historiography
- Chinsow dan laut Aceh: dari reusam ke kesadaran geopolitikChinsow and Aceh's sea: from reusam to geopolitical awareness
- Cukai dan bea pelabuhan Bandar Aceh DarussalamCustoms duties and port dues of Bandar Aceh Darussalam
- Diplomasi, perdagangan, dan perang: sejarah Aceh abad ke-18 dan ke-19Diplomacy, trade and war: Acehnese history in the eighteenth and nineteenth centuries
- Falsafah Melayu dan AcehMalay and Acehnese philosophies of life
- Hikayat perang Aceh: dari Malem Dagang hingga Prang CumbokAcehnese war hikayat: from Malem Dagang to Prang Cumbok
- Hubungan Samudera Pasai dan Melaka: perkawinan, dakwah dan dagangSamudera Pasai and Melaka: marriage, mission and trade
- Islamisasi Pulau Ruja: dari hasrat religius ke spirit peradabanThe Islamisation of Pulau Ruja: from religious desire to civilisational spirit
- Jejaring Hadhrami: niaga, haji, dan percetakanHadhrami networks: commerce, pilgrimage and printing
- Kapitalisme sehari-hari di AcehEveryday capitalism in Aceh
- Keilmuan Aceh sebelum kedatangan IslamKnowledge in Aceh before the arrival of Islam
- Konsep adil dalam numismatik Dunia MelayuThe concept of justice in Malay-world numismatics
- Kopi arabika Gayo: reputasi dunia dan suara petaniGayo Arabica coffee: global reputation and the farmers’ voice
- Logika terbalik ‘what if not?’ dan cakrawala sejarah AcehThe 'what if not?' inversion and the horizons of Acehnese history
- Makam bukit sebagai benteng alam dan pos pantau maritimHilltop tombs as natural fortresses and maritime lookouts
- Membangun ilmu Politik Aceh: ranah, teori, dan bayang-bayang Politik MelayuBuilding an Acehnese political science: domains, theories and the shadow of Malay politics
- Meudagang, hareukat, baynah dan beureukat: etika ilmu dan harta dalam tradisi AcehMeudagang, hareukat, baynah and beureukat: the ethics of knowledge and wealth in Acehnese tradition
- P. Ramlee dan kosmopolitanisme Melayu: pembacaan makalah 2012P. Ramlee and Malay cosmopolitanism: the 2012 paper’s interpretation
- Panglima laot sebagai pejabat pelabuhan kesultanan: dari naib sahib al-bahr ke amirul bahriThe panglima laot as a sultanate port official: from naib sahib al-bahr to amirul bahri
- Pasar tikungan, simpang empat, dan Pasar InpresBend markets, crossroads markets and the Inpres market
- Peradaban yang tak bernegosiasi: Aceh di antara peradaban Jawa dan MelayuA civilisation that would not negotiate: Aceh between the Javanese and Malay civilisations
- Perantau Nusantara: karavan budaya dan perekat kepulauanPerantau of the archipelago: a cultural caravan and the glue of the islands
- Perdagangan dan perkapalan Melayu di Selat Melaka (abad ke-15–18)Malay trade and shipping in the Strait of Malacca (15th–18th centuries)
- Saudagar dan aneuk keude: etos dagang AcehSaudagar and aneuk keude: the Acehnese trading ethos
- Segitiga masjid–dayah–pasarThe mosque–dayah–market triangle
- Sejarah manusia Aceh: asal-usul, laut, dan dominasi religiA history of the Acehnese people: origins, sea and religion
- Tiga cermin sejarah Aceh: Islam, Melayu, dan IndonesiaThree mirrors of Acehnese history: Islam, the Malay world and Indonesia
- Tiga lanskap budaya: bukit–sawah–laut, bukit–sawah–kampong, hutan–sawah–kampongThree cultural landscapes: hill–paddy–sea, hill–paddy–village, forest–paddy–village
- Tiga lapisan lanskap tanah dalam sebuah presentasiThree land-and-livelihood layers in a presentation
- Tipologi jemaah haji AcehA typology of Acehnese pilgrims
- Toponimi kampung Aceh: cot, blang, gle, krueng, kutaAcehnese village toponymy: cot, blang, gle, krueng, kuta
- Toponimi kampung dan identitas arah mata anginVillage toponymy and compass-point identity
- Zona Muslim Asia Tenggara: Islam, konflik etno-religius, dan politik terorismeThe Southeast Asian Muslim Zone: Islam, ethno-religious conflict and the politics of terrorism
Data dan buktiData and evidence (66)
- ‘Kenapa Aceh bukan Melayu?’: polemik identitas 2009‘Why Aceh is not Malay’: the 2009 identity polemic
- ‘Muhammadiyah’ di Nagan Raya: pembaruan Islam di pantai barat-selatan‘Muhammadiyah’ in Nagan Raya: Islamic reform on the south-west coast
- Ali HasjmyAli Hasjmy
- Alijullah Hasan JusufAlijullah Hasan Jusuf
- Aneuk Jamee: penutur bahasa Padang di pantai barat-selatan AcehAneuk Jamee: Padang-speakers of Aceh’s south-west coast
- Aqidah al-Najin, Kitab Perukunan Melayu Besar, dan kitab majlis taklimAqidah al-Najin, Kitab Perukunan Melayu Besar and the texts of the majlis taklim
- Balai Furdah dan tata kelola pelabuhan Bandar Aceh DarussalamThe Balai Furdah and port administration of Bandar Aceh Darussalam
- Bangsawan Melayu di Kesultanan Aceh: Tuan Seberang, Datuk dan istana kosmopolitanMalay nobles in the Aceh Sultanate: Tuan Seberang, Datuk and a cosmopolitan court
- Bunker Jepang Anoe Itam dan lanskap berlapis Pulau WehThe Japanese bunkers of Anoe Itam and the layered landscape of Pulau Weh
- Dari kapal haji ke pesawat terbangFrom pilgrim ship to aeroplane
- Diaspora Aceh dalam pusaran konflikThe Acehnese diaspora in the vortex of conflict
- Embarkasi Haji Aceh: dari Sabang ke Bandara Sultan Iskandar MudaThe Aceh hajj embarkation: from Sabang to Sultan Iskandar Muda Airport
- Era orangkaya: elite dagang dan sultan-sultan lemah (1579–1589)The orangkaya era: merchant elites and weak sultans (1579–1589)
- Falsafah Melayu dan AcehMalay and Acehnese philosophies
- Fujiwara Kikan dan Aceh: operasi intelijen Jepang menjelang pendaratan 1942Fujiwara Kikan and Aceh: Japanese intelligence before the 1942 landings
- Ganja sebagai “perekat” Aceh dan JawaCannabis as the ‘glue’ between Aceh and Java
- Gelar raja adil pada mata uang Semenanjung MelayuThe just-ruler title on the coinage of the Malay Peninsula
- Hikayat Malem Dagang: epos ekspedisi Iskandar Muda ke SemenanjungThe Hikayat Malem Dagang: epic of Iskandar Muda's expedition to the Peninsula
- Identitas Melayu dalam Sejarah Aceh dan Pulau PinangMalay identity in the histories of Aceh and Penang
- Imigran Aceh di Semenanjung MalaysiaAcehnese migrants in Peninsular Malaysia
- Imigran Aceh di Tanah MelayuAcehnese migrants in the Malay Peninsula
- JeuramJeuram
- Komunitas nelayan Aceh: pawang, toke bangku dan raseuki rimuengAcehnese fishing communities: pawang, toke bangku and raseuki rimueng
- Konflik Patani: di antara Bangkok dan Kuala LumpurThe Patani conflict: between Bangkok and Kuala Lumpur
- Konstruksi identitas Melayu dalam sejarah Aceh dan Penang: peta sumberConstructing Malay identity in Aceh–Penang history: a source map
- Krueng Mane: kampung reformis dan perantauKrueng Mane: a reformist and migrant village
- Kuliner sagu Aceh Singkil: arsip rasa dari rawa, sungai, dan lautThe sago cuisine of Aceh Singkil: an archive of taste from swamp, river and sea
- Kutaraja (Banda Aceh)Kutaraja (Banda Aceh)
- Lagu ‘Aceh Pinang’ dan imajinasi perantauanThe song ‘Aceh Pinang’ and the imagination of migration
- Laksamana KeumalahayatiAdmiral Keumalahayati
- Lintas Batas Budaya Agama dan Kosmopolitanisme di AcehCulture religion and cosmopolitanism across boundaries
- Masa keemasan lada pantai barat dan saudagar SalemThe west-coast pepper boom and the Salem merchants
- Menjadi Melayu, Muslim, dan warga ThailandBeing Malay, Muslim and a Thai citizen
- Migrasi Arab di Malaya: peta sumber OthmanArab migration in Malaya: Othman’s source map
- Nagan Raya (Seunagan)Nagan Raya (Seunagan)
- Nisan syahbandar Kuala Batee (1824)The headstone of the syahbandar of Kuala Batee (1824)
- P. Ramlee (Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh)P. Ramlee (Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh)
- Panglima La’ôtPanglima Laot
- Panglima La’ôt Aceh (PLA)Panglima Laot Aceh (PLA)
- Panglima Laot: kajian sejarah dan etnografi 2017Panglima Laot: a 2017 historical and ethnographic study
- Pantang melaut pada hari JumatThe Friday ban on going to sea
- Pattani: nasionalisme dan kosmopolitanismePattani: nationalism and cosmopolitanism
- Penaklukan Batu Sawar (1613) dan pemindahan bangsawan Johor ke AcehThe conquest of Batu Sawar (1613) and the removal of the Johor nobility to Aceh
- Peunayong: pecinan tertua Banda Aceh dan kehidupan setelah senjaPeunayong: Banda Aceh’s oldest Chinatown and life after dusk
- Politik komunitas Aceh di Mekkah pada masa Perang AcehAcehnese politics in Mecca during the Aceh War
- Pulau Pinang sebagai ‘Jeddah Kedua’Penang as the ‘Second Jeddah’
- Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2010 tentang Penanggulangan BencanaAceh Qanun No. 5 of 2010 on Disaster Management
- Sabang dan perebutan jalur dunia: simpul hulu Selat Melaka dalam persaingan Indo-PasifikSabang and the contest over world routes: the upstream node of the Malacca Strait in Indo-Pacific rivalry
- Said Abu Bakar: guru agama Yan dan agen Fujiwara KikanSaid Abu Bakar: Yan religious teacher and Fujiwara Kikan agent
- Samudera PasaiSamudera Pasai
- Seyyed Hussain al-Aidid dan Lebuh AcehSeyyed Hussain al-Aidid and Acheen Street
- Siklon Tropis SenyarTropical Cyclone Senyar
- Singkil Lama: dari bandar ramai ke desa pesisirOld Singkil: from busy port to coastal village
- Solidaritas maritim Aceh dan pengungsi RohingyaAceh's maritime solidarity and the Rohingya refugees
- Studi tentang Panglima Laot di AcehStudying the Panglima Laot institution
- Sultan Alauddin Riayat Syah al-QahharSultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar
- Sultan Iskandar Muda dan arsitektur kekuasaan AcehSultan Iskandar Muda and the architecture of Acehnese power
- Sultan Muhammad bin Sultan Mahmud SyahSultan Muhammad ibn Sultan Mahmud Syah
- Sungai Singkil dan Lae Trep: nafkah, bahaya, dan kearifan sungaiThe Singkil River and Lae Trep: livelihood, danger and river wisdom
- The Tea-Packet Road: peta sumber laporan Selat MalakaThe Tea-Packet Road: a source map of the Strait report
- The Veranda of Mecca: Media, pertunjukan politik, dan cermin dunia MelayuThe Veranda of Mecca: Media, political performance and the Malay mirror
- Toke bangku dan ekonomi nelayanToke bangku and the fishers' economy
- Transisi dari Samudera Pasai ke Aceh DarussalamThe transition from Samudera Pasai to Aceh Darussalam
- Trilema Melayu Pattani: peta delapan bab dan epilogTrilema Melayu Pattani: eight chapters and an epilogue
- Tun Sri Lanang, uleebalang pertama SamalangaTun Sri Lanang, first uleebalang of Samalanga
- Universitas Teuku Umar (UTU), MeulabohUniversitas Teuku Umar (UTU), Meulaboh
MetodeMethod (2)
Medan ujiTest case (6)
- Aceh sebagai cermin Indonesia: dari nalar keamanan ke nalar geostrategisAceh as a mirror of Indonesia: from security reasoning to geostrategic reasoning
- Empat fase pemikiran Islam di Dunia MelayuFour phases of Islamic thought in the Malay World
- Formalisasi Panglima Laot dan legitimasi dari komunitasFormalising Panglima Laot and community legitimacy
- Modernisasi beradab di Dunia Melayu dan ‘becoming values’Civilised modernisation in the Malay World and ‘becoming values’
- Qaidah aminah dan ‘ladang jihad’ Asia TenggaraQaidah aminah and Southeast Asia as a ‘jihad field’
- Ulama perbatasan: Subulussalam dan Aceh TamiangBorderland ulama: Subulussalam and Aceh Tamiang