Bangsawan Melayu di Kesultanan Aceh: Tuan Seberang, Datuk dan istana kosmopolitanMalay nobles in the Aceh Sultanate: Tuan Seberang, Datuk and a cosmopolitan court
Sejak abad ke-16 bangsawan dari Melaka, Perak, Johor dan Pahang hadir di istana Aceh, sebagai pengungsi, menantu raja atau orang yang dipindahkan setelah penaklukan. Sebagian dari mereka menjadi sultan, permaisuri, orang kaya dan uleebalang, dan meninggalkan jejak dalam gelar, adat keluarga diraja dan ingatan lisan. M. Adli Abdullah menyebut proses ini sebagai "melayunisasi Aceh".
From the sixteenth century onwards nobles from Melaka, Perak, Johor and Pahang were present at the Acehnese court, as refugees, royal sons-in-law or people removed after conquest. Some became sultans, consorts, orang kaya and uleebalang, leaving traces in titles, royal family custom and oral memory. M. Adli Abdullah calls this process the "Malayisation of Aceh".
Kehadiran bangsawan Melayu di Aceh dimulai segera setelah Melaka jatuh pada 1511. Menurut tradisi yang dicatat M. Junus Djamil (1957), putra Sultan Mansur Syah bernama Alauddin mengungsi ke Aceh dan diterima sebagai tamu terhormat, lalu dinikahkan dengan putri Sultan Ali Mughayat Syah sebelum kembali mendirikan kesultanan Johor sekitar 1528. Sultan Salahuddin (1530–1539) melanjutkan politik perkawinan ini: adik perempuan Alauddin dinikahkan dengan seorang pembesar Aceh bergelar Raja Lingga XIII, yang kemudian diutus membantu Johor melawan Portugis, bermarkas di kepulauan Riau, dan namanya diabadikan pada Pulau Lingga tempat ia dimakamkan.
Gelombang berikutnya datang melalui penaklukan. Setelah Aceh menyerang Perak pada dasawarsa 1570-an, keluarga raja Perak dibawa ke Aceh. Putranya, Raja Alauddin atau Raja Mansur, dinikahkan dengan putri Sultan Husin bernama Raja Puteri Ghana dan kemudian naik takhta sebagai Sultan Alauddin Mansur Syah, penguasa yang dikenal saleh dan disenangi banyak kalangan. Penaklukan Batu Sawar pada 1613 membawa Sultan Alauddin Riayat Syah III, Raja Abdullah dan Bendahara Tun Sri Lanang, sedangkan penaklukan Pahang pada 1618 membawa Sultan Ahmad, Putri Kamaliah dan Raja Husein. Raja Husein dinikahkan dengan putri Iskandar Muda, Safiatuddin, dan memerintah sebagai Sultan Iskandar Thani (1636–1641). Putri Kamaliah menjadi permaisuri Iskandar Muda dengan sebutan Putroe Phang; Hikayat Malem Dagang menggambarkan kedatangannya sebagai peristiwa yang "mengguncangkan alam dunia", dan hadih maja "Qanun bak Putroe Phang" menisbatkan kepadanya aturan-aturan keluarga diraja.
Kedatangan para bangsawan ini terjadi pada masa ketika Aceh, menurut Takeshi Ito, mencapai puncak kekuasaannya pada abad ke-17 dan menjadi salah satu kekuatan paling disegani di kepulauan Melayu-Indonesia, dengan Bandar Aceh Darussalam sebagai emporium terpenting di kedua sisi Selat Melaka. Dalam konteks itu, membawa keluarga raja yang ditaklukkan ke ibu kota bukan semata tindakan menghukum, melainkan cara menyerap modal politik, keahlian administrasi dan jaringan kekerabatan kerajaan-kerajaan Semenanjung ke dalam istana Aceh. Para tawanan diberi kedudukan, dinikahkan dengan keluarga sultan, dan sebagian bahkan naik takhta. Pengaruhnya juga terasa di negeri asal: setelah Tun Sri Lanang dibawa ke Aceh, kekuasaan di Johor disebut beralih kepada keluarga laksamana dan tidak lagi dipegang keluarga bendahara hingga akhir abad ke-17.
Kehadiran para pendatang ini melahirkan kosakata kehormatan tersendiri. Menurut G.L. Tichelman, gelar Tuan Seberang menunjuk pembesar asal Semenanjung yang dibawa ke Aceh; pembesar asli Aceh dikenal dengan sebutan lain, seperti Panglima Polem, Panglima Mesjid Raya, Panglima Setia Nanta, Ja Pakeh, Panglima Pidie, Ja Puntong, Panglima Pasai atau Datok Makudom Sakti. Kebiasaan menyebut orang menurut tempat asalnya, seperti Teungku Chik di Tiro atau Teungku Chik Awe Geutah, membuat "seberang" menjadi penanda orang Semenanjung. Gelar Datuk pun, menurut M. Adli Abdullah, menjadi sebutan bagi orang keturunan Melayu di Aceh sejak abad ke-17, sejajar dengan Syeikh bagi orang Arab, Keurani bagi orang India dan Toke bagi orang Cina; para Datuk yang memerintah wilayah Singkil, seperti Datuk Murad, Datuk Bambon, Datuk Ruhum dan Datuk Soumik, diakui hingga kedatangan Belanda. Negeri yang mayoritas penduduknya Melayu, seperti Samalanga yang banyak dihuni orang asal Batu Sawar, dipimpin oleh orang Melayu sendiri.
Bahasa ikut menyerap para pendatang. Dalam sarakata Samalanga, Bendahara disebut Datok Bahra, sesuai kecenderungan dialek Melayu Aceh memendekkan kata Melayu, seperti air menjadi i, nyiur menjadi u, pasir menjadi pasi dan bahtera menjadi batra. Bentuk ini sekaligus menandai pembesar yang bukan anak negeri.
Kedudukan para pendatang tidak selalu aman. Setelah Iskandar Thani wafat pada 1641, muncul penolakan terhadap pembesar asing. Nuruddin ar-Raniri tersisih ketika ulama asal Minangkabau, Saiful Rijal, kembali dari Mekkah, dan meninggalkan Aceh pada 1644. Tun Sri Lanang meminta kepastian kedudukannya, dan Sultanah Safiatuddin menjawab dengan menyalin ulang sarakata Samalanga serta mengangkatnya sebagai Panglima Bandar. Pemecahan jabatan laksamana menjadi Panglima Dalam dan Panglima Bandar pada masa itu dibaca sebagai tarik-menarik antara orang asli Aceh dan pendatang.
Ingatan Aceh tentang Melayu tidak tunggal. Hikayat Malem Dagang menyimpan bait-bait yang mengutuk Sultan Johor Alauddin Riayat Syah III, yang dalam ingatan Aceh dikenal sebagai Raja Si Ujud, sebagai pengkhianat yang harus dibunuh dan tidak lagi dianggap saudara, di dunia maupun di akhirat. Pengkhianatan Johor dipahami sangat melukai hati Iskandar Muda, dan dari kisah inilah sebagian sentimen anti-Melayu di kalangan orang Aceh ditelusuri. Pada saat yang sama, hikayat yang sama mengabadikan kedatangan Putri Kamaliah dari Pahang, yang dalam tradisi disebut istri ketiga Iskandar Muda, sebagai peristiwa yang mengguncangkan dunia. Satu teks sastra dengan demikian menampung penghormatan dan permusuhan sekaligus, sesuai dengan kenyataan politik ketika kerajaan-kerajaan Melayu silih berganti menjadi sekutu, saingan dan taklukan Aceh.
Bagi M. Adli Abdullah, rangkaian ini membentuk "melayunisasi Aceh", yakni pengaruh orang Melayu dalam adat diraja, gelar dan budaya Aceh. Ia menunjuk adat pewarisan rumah kepada anak perempuan bungsu di Aceh Besar, Pidie dan Aceh Utara, yang sejajar dengan adat di Linggi, serta kubah bersegi bergaya Melayu pada Masjid Kuta Blang di Samalanga. Hadih maja "Aceh Meulayu Datu Sirungkoom" menyatakan Aceh dan Melayu sebagai satu rumpun. Namun ingatan Aceh juga menyimpan sisi sebaliknya, seperti kutukan terhadap sultan Johor sebagai Si Ujud dalam Hikayat Malem Dagang, sehingga hubungan Aceh dan Melayu tampil sebagai pertautan yang sekaligus akrab dan tegang.
Jejak kebendaan pengaruh Melayu paling jelas terlihat di Samalanga. Masjid Kuta Blang, yang terletak sekitar dua ratus meter dari makam Tun Sri Lanang, memiliki kubah bersegi yang menyerupai masjid-masjid peninggalan kesultanan Melayu, seperti Masjid Azizi di Tanjung Pura dan masjid di Stabat, bekas wilayah kesultanan Melayu di Sumatra Timur. Lengkung kosen pintu dan jendelanya, dengan jerjak pengaman yang jarang dijumpai pada masjid lain di Aceh, disebut menyerupai masjid-masjid Sultan Abu Bakar di Johor; seorang arsitek yang diwawancarai pada 2015 menilai rancangannya sebagai produk desain masjid Melayu. Bukti arsitektural ini memperkuat gambaran Samalanga sebagai kenegerian yang dihuni dan dipimpin orang asal Batu Sawar, tetapi penanggalan bangunan dan tahap-tahap renovasinya masih perlu diteliti lebih jauh.
Hadih maja yang dikutip untuk menegaskan kekerabatan itu berbunyi lengkap: Aceh Meulayu Datu Sirungkoom, asai awai phon di nanggroe Dewa, aleuh nibaknyan Hindi dengan Rom, datang meuron-ron u pulau Ruja. Ungkapan ini dibaca sebagai pernyataan bahwa Aceh dan Melayu adalah satu rumpun, berasal dari negeri yang jauh, lalu bersentuhan dengan India dan Rum, sebelum datang berduyun-duyun ke gugusan pulau Nusantara. Dari sudut pandang ini, penerimaan Tun Sri Lanang dan bangsawan Semenanjung lainnya dapat dipahami karena mereka dianggap bagian dari bangsa sendiri, bukan orang asing sepenuhnya. Namun tafsir semacam ini juga mencerminkan kepentingan masa kini untuk membangun narasi persaudaraan Aceh dan Malaysia, sehingga perlu dibedakan antara makna hadih maja dalam konteks aslinya dan penggunaannya dalam wacana kontemporer.
Bagi studi Aceh, topik ini membuka beberapa persoalan penelitian. Daftar sultan Aceh asal Semenanjung sendiri tidak seragam dalam sumber-sumber: selain Iskandar Thani, sebagian kajian mencatat penguasa asal Perak dengan nama Sultan Ahmad Syah bin Sultan Mansur Syah (1577–1585), sementara tradisi lain menyebut Sultan Alauddin Mansur Syah. Selain itu, perlu ditelusuri sejauh mana gelar, upacara dan aturan istana dalam Mābaina al-Salāṭīn mencerminkan sumbangan para pembesar Melayu, serta bagaimana keturunan mereka di Samalanga, Singkil dan wilayah lain menyatu ke dalam masyarakat Aceh. Topik ini sekaligus menjadi jembatan antara historiografi Aceh dan historiografi Melayu, yang selama ini sering ditulis terpisah.
The presence of Malay nobles in Aceh began soon after the fall of Melaka in 1511. According to a tradition recorded by M. Junus Djamil (1957), a son of Sultan Mansur Syah named Alauddin took refuge in Aceh and was received as an honoured guest, then married a daughter of Sultan Ali Mughayat Syah before returning to found the Johor sultanate around 1528. Sultan Salahuddin (1530–1539) continued this marriage policy: Alauddin's sister was married to an Acehnese grandee titled Raja Lingga XIII, who was later sent to help Johor against the Portuguese, made his base in the Riau islands, and gave his name to the island of Lingga, where he was buried.
The next wave came through conquest. After Aceh attacked Perak in the 1570s, the Perak royal family was brought to Aceh. The king's son, Raja Alauddin or Raja Mansur, was married to Sultan Husin's daughter Raja Puteri Ghana and later ascended the throne as Sultan Alauddin Mansur Syah, a ruler remembered as pious and widely liked. The conquest of Batu Sawar in 1613 brought Sultan Alauddin Riayat Syah III, Raja Abdullah and the Bendahara Tun Sri Lanang, and the conquest of Pahang in 1618 brought Sultan Ahmad, Putri Kamaliah and Raja Husein. Raja Husein was married to Iskandar Muda's daughter Safiatuddin and reigned as Sultan Iskandar Thani (1636–1641). Putri Kamaliah became a consort of Iskandar Muda under the name Putroe Phang; the Hikayat Malem Dagang describes her arrival as an event that "shook the whole world", and the hadih maja "Qanun bak Putroe Phang" credits her with the rules of the royal family.
These nobles arrived at a time when Aceh, according to Takeshi Ito, reached the peak of its power in the seventeenth century and was one of the most formidable powers in the Malay-Indonesian archipelago, with Bandar Aceh Darussalam the most important emporium on both sides of the Straits of Melaka. In that context, bringing the families of conquered rulers to the capital was not merely punitive but a way of absorbing the political capital, administrative expertise and kinship networks of the peninsular kingdoms into the Acehnese court. The captives were given positions, married into the sultan's family, and some even ascended the throne. The effect was also felt in their homelands: after Tun Sri Lanang was taken to Aceh, power in Johor is said to have passed to the family of the laksamana and was no longer held by the bendahara's family until the end of the seventeenth century.
The presence of these newcomers produced a distinctive vocabulary of honour. According to G.L. Tichelman, the title Tuan Seberang designated grandees from the Peninsula who had been brought to Aceh; native Acehnese grandees bore other styles, such as Panglima Polem, Panglima Mesjid Raya, Panglima Setia Nanta, Ja Pakeh, Panglima Pidie, Ja Puntong, Panglima Pasai or Datok Makudom Sakti. The custom of referring to people by their place of origin, as in Teungku Chik di Tiro or Teungku Chik Awe Geutah, made "seberang" (across the water) a marker of peninsular origin. The title Datuk too, according to M. Adli Abdullah, became from the seventeenth century the designation for people of Malay descent in Aceh, parallel to Syeikh for Arabs, Keurani for Indians and Toke for Chinese; the Datuks who governed the Singkil area, such as Datuk Murad, Datuk Bambon, Datuk Ruhum and Datuk Soumik, were recognised until the arrival of the Dutch. Districts whose population was mainly Malay, such as Samalanga, much of whose population came from Batu Sawar, were led by Malays themselves.
Language also absorbed the newcomers. In the Samalanga sarakata the Bendahara is called Datok Bahra, in keeping with the tendency of Acehnese Malay to shorten Malay words, as air becomes i, nyiur becomes u, pasir becomes pasi and bahtera becomes batra. The form at the same time marked a grandee who was not a native son.
The newcomers' position was not always secure. After Iskandar Thani died in 1641, opposition to foreign grandees emerged. Nuruddin ar-Raniri was sidelined when the Minangkabau scholar Saiful Rijal returned from Mecca, and left Aceh in 1644. Tun Sri Lanang sought assurance about his own position, and Sultana Safiatuddin responded by having the Samalanga sarakata recopied and appointing him Panglima Bandar. The division of the laksamana's office into a Panglima Dalam and a Panglima Bandar at that time is read as a tug of war between native Acehnese and newcomers.
Acehnese memory of the Malays is not uniform. The Hikayat Malem Dagang preserves verses that curse the Johor ruler Alauddin Riayat Syah III, remembered in Aceh as Raja Si Ujud, as a traitor who must be killed and no longer regarded as a brother, in this world or the next. Johor's betrayal is understood to have deeply wounded Iskandar Muda, and some anti-Malay sentiment among the Acehnese is traced to this story. At the same time, the same hikayat immortalises the arrival of Putri Kamaliah from Pahang, in tradition Iskandar Muda's third wife, as an event that shook the world. A single literary text thus holds both honour and hostility, in keeping with a political reality in which the Malay kingdoms were by turns allies, rivals and vassals of Aceh.
For M. Adli Abdullah this sequence amounts to a "Malayisation of Aceh", the influence of Malays on royal custom, titles and Acehnese culture. He points to the custom of passing the house to the youngest daughter in Aceh Besar, Pidie and Aceh Utara, which parallels custom in Linggi, and to the Malay-style faceted dome of the Kuta Blang mosque in Samalanga. The hadih maja "Aceh Meulayu Datu Sirungkoom" declares Aceh and the Malays to be of one stock. Yet Acehnese memory also preserves the opposite side, such as the cursing of the Johor sultan as Si Ujud in the Hikayat Malem Dagang, so that the Aceh–Malay relationship appears as a bond at once intimate and tense.
The material traces of Malay influence are clearest in Samalanga. The Kuta Blang mosque, some two hundred metres from the tomb of Tun Sri Lanang, has a faceted dome resembling those of mosques built by Malay sultanates, such as the Azizi mosque in Tanjung Pura and the mosque at Stabat, former territory of a Malay sultanate in East Sumatra. The arches of its door and window frames, with security grilles rarely found on other mosques in Aceh, are said to resemble the mosques of Sultan Abu Bakar in Johor; an architect interviewed in 2015 judged its design to be a product of Malay mosque architecture. This architectural evidence reinforces the picture of Samalanga as a kenegerian settled and led by people from Batu Sawar, but the dating of the building and its phases of renovation still need further research.
The hadih maja cited to affirm this kinship reads in full: Aceh Meulayu Datu Sirungkoom, asai awai phon di nanggroe Dewa, aleuh nibaknyan Hindi dengan Rom, datang meuron-ron u pulau Ruja. It is read as a statement that Aceh and the Malays are one stock, originating in a distant land, then touched by India and Rum, before coming in throngs to the island chain of the archipelago. From this perspective the acceptance of Tun Sri Lanang and other peninsular nobles can be understood because they were regarded as part of one's own people rather than wholly foreign. Yet such interpretations also reflect present-day interests in building a narrative of kinship between Aceh and Malaysia, so that the meaning of the hadih maja in its original context should be distinguished from its use in contemporary discourse.
For Aceh studies this topic opens several research problems. The list of Acehnese sultans of peninsular origin is itself not uniform across the sources: besides Iskandar Thani, some studies record a ruler from Perak under the name Sultan Ahmad Syah bin Sultan Mansur Syah (1577–1585), while other traditions name Sultan Alauddin Mansur Syah. It also remains to be traced how far the titles, ceremonies and court rules in the Mābaina al-Salāṭīn reflect the contribution of Malay dignitaries, and how their descendants in Samalanga, Singkil and elsewhere were absorbed into Acehnese society. The topic is at the same time a bridge between Acehnese and Malay historiography, which have often been written separately.
Gagasan kunciKey ideas
Tiga jalan masukThree routes of entry
Bangsawan Melayu datang ke Aceh sebagai pengungsi, menantu raja dan orang yang dipindahkan setelah penaklukan.Malay nobles came to Aceh as refugees, royal sons-in-law and people removed after conquest.
Gelar sebagai penanda asalTitles as markers of origin
Tuan Seberang dan Datuk menandai asal Semenanjung dalam struktur kehormatan Aceh.Tuan Seberang and Datuk marked peninsular origin within the Acehnese honour system.
Puncak dan reaksiPeak and backlash
Dua sultan dan satu permaisuri berpengaruh berasal dari Semenanjung, tetapi setelah 1641 muncul penolakan terhadap pembesar asing.Two sultans and an influential consort came from the Peninsula, but after 1641 a reaction against foreign grandees set in.
Melayunisasi AcehMalayisation of Aceh
Pengaruh Melayu tampak dalam adat diraja, bahasa, arsitektur dan hadih maja.Malay influence is visible in royal custom, language, architecture and hadih maja.
Menyerap modal politikAbsorbing political capital
Membawa keluarga raja taklukan ke ibu kota menjadi cara memasukkan keahlian dan jaringan Semenanjung ke istana Aceh.Bringing conquered royal families to the capital was a way of drawing peninsular expertise and networks into the Acehnese court.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana keturunan bangsawan Melayu di Aceh, seperti dinasti Samalanga, menegosiasikan identitas Melayu dan Aceh mereka dari abad ke-17 hingga abad ke-20?How did the descendants of Malay nobles in Aceh, such as the Samalanga dynasty, negotiate their Malay and Acehnese identities from the seventeenth to the twentieth century?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Bangsawan Melayu di Kesultanan Aceh: Tuan Seberang, Datuk dan istana kosmopolitan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/bangsawan-melayu-di-kesultanan-aceh/