Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Rumoh Krueng dan makam Tun Sri Lanang di SamalangaRumoh Krueng and the tomb of Tun Sri Lanang in Samalanga

Rumoh Krueng adalah bekas kediaman resmi Ampon Chik Samalanga di Gampong Meunasah Lueng, Mukim Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, yang oleh balai pelestarian cagar budaya dikaitkan dengan Tun Sri Lanang. Di halamannya terdapat makam yang oleh keluarga disebut makam Jaku dan oleh masyarakat dikenal sebagai makam Tok Dad, dikelilingi makam para uleebalang keturunannya. Bersama Masjid Kuta Blang, situs ini menjadi bukti fisik kehadiran Tun Sri Lanang di Aceh.

Rumoh Krueng is the former official residence of the Ampon Chik of Samalanga in Gampong Meunasah Lueng, Mukim Kuta Blang, Bireuen regency, which the heritage conservation office associates with Tun Sri Lanang. In its grounds lies a tomb that the family calls makam Jaku and local people know as the tomb of Tok Dad, surrounded by the graves of the uleebalang descended from him. Together with the Kuta Blang mosque, the site is the physical evidence of Tun Sri Lanang's presence in Aceh.

Rumoh Krueng berdiri di tengah Gampong Meunasah Lueng, Mukim Kuta Blang, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Masyarakat menyebutnya istana lama atau bekas kediaman resmi Ampon Chik, kepala kenegerian Samalanga. Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, bangunan ini merupakan istana yang ditempati Tun Sri Lanang pada 1613–1659, dan makam di halamannya tercatat dalam daftar situs cagar budaya Aceh dengan nomor urut 66.

Bangunan ini adalah rumah panggung kayu beratap ijuk yang menghadap ke selatan, dengan denah persegi panjang berukuran 18 × 12,17 meter. Bentuknya memadukan rumah tradisional Aceh dan rumah Melayu: atapnya bertipe tampung lima, terdapat dua serambi, yaitu seuramoe keue (serambi depan) untuk tamu laki-laki dan seuramoe likoet (serambi belakang) untuk tamu perempuan, dan di bagian tengah terdapat kamar tidur yang dalam bahasa Aceh disebut juree. Warnanya didominasi putih dengan aksen hijau. Atap ijuk dan dinding kayunya tampak kontras dengan bangunan beratap seng dan berdinding semen di sekitarnya.

Makam Tun Sri Lanang terletak dalam kompleks Rumoh Krueng. Keluarga uleebalang Samalanga menyebutnya makam Jaku, dari "jaja ku", leluhur kami, dan sebelum revolusi sosial 1945 mengadakan tahlil untuknya setiap tahun; masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai makam Tok Dad. Menurut Cut Nyak Naimah, keturunan yang memelihara makam itu, di sekelilingnya terdapat tujuh makam Ampon Chik lain, antara lain Ampon Chik Ali Basyah, Pocut Meuligoe dan Teuku Chik Muda Panglima Perkasa. Bentuk nisannya mirip nisan Bendahara Seri Maharaja Tun Habib Abdul Majid (wafat 1697), keturunannya, di Kota Tinggi, Johor. Foto-foto M. Adli Abdullah tahun 1999 memperlihatkan makam sebelum diperbaiki, sedangkan pada 2015 pagarnya telah dipugar.

Lokasi makam ini lama diperdebatkan. Wan Abdul Wahid bin Wan Haji Hassan (2001) menulis bahwa Tun Sri Lanang wafat di Aceh dekat makam raja-raja di Banda Aceh, tetapi penelusuran M. Adli Abdullah di kompleks Kandang XII, makam Lamlagang yang diyakini sebagai makam keluarga raja Perak, dan Kandang Darussalam tempat Sultan Iskandar Thani dimakamkan tidak menemukan nisannya. Silsilah Lembaga Kebudayaan Atjeh tahun 1958 menyebut Lancok sebagai tempat makamnya, sedangkan sebagian tradisi lisan Samalanga menyebut ia sempat kembali ke Johor lalu pulang ke Aceh menjelang wafat. Penelitian lapangan tahun 2013–2015 menempatkan makam itu di kompleks Rumoh Krueng.

Lanskap sekitarnya memperkuat jejak Melayu di Samalanga. Sekitar dua ratus meter dari makam berdiri Masjid Kuta Blang, masjid kenegerian lama, dengan kubah bersegi yang menyerupai masjid-masjid kesultanan Melayu seperti Masjid Azizi di Tanjung Pura, serta lengkung pintu dan jendela berterali yang menurut arsitek Lazuardi menyerupai masjid Sultan Abu Bakar di Johor. Di Samalanga juga terdapat Kampung Bendahara, yang menurut Teuku Iskandar Bendahara adalah tempat pertama Tun Sri Lanang menetap setibanya di Aceh. Jauh lebih tua dari semua itu, arca Ma Sihe berukuran 3,60 × 1,10 meter di Blang Dalam, Kecamatan Bandar Dua (kini Pidie Jaya), menjadi saksi masa pra-Islam kawasan ini; arca itu kini rusak dan ditelungkupkan.

Situs ini kini menjadi bagian dari ingatan bersama Aceh dan Malaysia. Pemerintah Indonesia sejak 8 Desember 2011 menetapkan bekas kenegerian Samalanga, yang kini terbagi antara Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya, sebagai kawasan wisata sejarah Melayu Nusantara, sementara di Johor setiap Juni diadakan pengisahan sejarah Tun Sri Lanang. Keturunannya di Johor, Pahang dan Terengganu disebut telah lama mencari makam leluhur mereka.

Rumoh Krueng stands in the middle of Gampong Meunasah Lueng, Mukim Kuta Blang, Samalanga subdistrict, Bireuen regency. Local people call it the old palace, the former official residence of the Ampon Chik, head of the kenegerian of Samalanga. According to the Aceh Cultural Heritage Conservation Office, the building is the palace occupied by Tun Sri Lanang in 1613–1659, and the tomb in its grounds is listed as number 66 in the register of cultural heritage sites in Aceh.

The building is a raised wooden house with a palm-fibre (ijuk) roof facing south, on a rectangular plan measuring 18 × 12.17 metres. Its form combines the traditional Acehnese house with the Malay house: the roof is of the tampung lima type, there are two verandas, the seuramoe keue (front veranda) for male guests and the seuramoe likoet (rear veranda) for female guests, and in the centre lies the sleeping chamber called juree in Acehnese. White predominates, with green accents. Its fibre roof and timber walls contrast with the surrounding buildings of corrugated iron and cement.

The tomb of Tun Sri Lanang lies within the Rumoh Krueng compound. The uleebalang family of Samalanga called it makam Jaku, from "jaja ku", our ancestor, and before the social revolution of 1945 held an annual tahlil for him; local people know it rather as the tomb of Tok Dad. According to Cut Nyak Naimah, the descendant who tends it, it is surrounded by seven other Ampon Chik graves, among them those of Ampon Chik Ali Basyah, Pocut Meuligoe and Teuku Chik Muda Panglima Perkasa. Its headstone resembles that of his descendant, the Bendahara Seri Maharaja Tun Habib Abdul Majid (d. 1697), at Kota Tinggi in Johor. Photographs taken by M. Adli Abdullah in 1999 show the tomb before restoration, while by 2015 its enclosure had been rebuilt.

The location of the tomb was long disputed. Wan Abdul Wahid bin Wan Haji Hassan (2001) wrote that Tun Sri Lanang died in Aceh near the royal tombs of Banda Aceh, but M. Adli Abdullah's survey of the Kandang XII complex, the Lamlagang graves believed to belong to the Perak royal family, and Kandang Darussalam, where Sultan Iskandar Thani is buried, found no headstone of his. The 1958 genealogy of the Lembaga Kebudayaan Atjeh names Lancok as his burial place, while some Samalanga oral traditions say he returned to Johor for a time and came back to Aceh shortly before his death. Fieldwork in 2013–2015 placed the tomb in the Rumoh Krueng compound.

The surrounding landscape reinforces the Malay imprint on Samalanga. Some two hundred metres from the tomb stands the Kuta Blang mosque, the old district mosque, whose faceted dome resembles those of Malay sultanate mosques such as the Azizi mosque at Tanjung Pura, and whose arched, grilled doors and windows, according to the architect Lazuardi, resemble the Sultan Abu Bakar mosque in Johor. Samalanga also has a Kampung Bendahara, which according to Teuku Iskandar Bendahara was the first place Tun Sri Lanang settled on arriving in Aceh. Far older than all of these, the Ma Sihe statue, measuring 3.60 × 1.10 metres, at Blang Dalam in Bandar Dua subdistrict (now Pidie Jaya), bears witness to the area's pre-Islamic past; it is now damaged and has been turned face down.

The site has become part of a memory shared by Aceh and Malaysia. Since 8 December 2011 the Indonesian government has designated the former kenegerian of Samalanga, now divided between Bireuen and Pidie Jaya regencies, as a heritage tourism area of Malay history in the archipelago, while in Johor a recital of Tun Sri Lanang's story is held every June. His descendants in Johor, Pahang and Terengganu are said to have long searched for their ancestor's grave.

Gagasan kunciKey ideas

Istana kayu berlanggam Aceh-MelayuA timber palace in Aceh-Malay style

Rumoh Krueng memadukan tata ruang rumah Aceh dengan unsur rumah Melayu.Rumoh Krueng combines the spatial order of the Acehnese house with elements of the Malay house.

Makam sebagai bukti sejarahThe tomb as historical evidence

Keberadaan makam dan makam keturunannya mendukung pendapat bahwa Tun Sri Lanang wafat di Samalanga.The tomb and the graves of his descendants support the view that Tun Sri Lanang died in Samalanga.

Lanskap Melayu di AcehA Malay landscape in Aceh

Masjid Kuta Blang dan Kampung Bendahara memperlihatkan jejak Melayu dalam ruang Samalanga.The Kuta Blang mosque and Kampung Bendahara show a Malay imprint on Samalanga's landscape.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Dapatkah kajian epigrafi dan tipologi nisan memastikan pertanggalan makam Tun Sri Lanang dan hubungannya dengan nisan para bendahara di Kota Tinggi?Could epigraphic and typological study of the headstones establish the date of Tun Sri Lanang's tomb and its relationship to the headstones of the bendahara at Kota Tinggi?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Rumoh Krueng dan makam Tun Sri Lanang di Samalanga”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/rumoh-krueng-dan-makam-tun-sri-lanang/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →