Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) DarussalamKopelma Darussalam, the student town of Banda Aceh
Dibangun sejak akhir 1950-anBuilt from the late 1950s
Kopelma Darussalam di Banda Aceh dibangun atas prakarsa Gubernur Ali Hasjmy sebagai kawasan Universitas Syiah Kuala dan, sejak 1963, cabang Institut Agama Islam Negeri. Kawasan ini dibangun dengan gotong royong rakyat dan menjadi monumen paling dikenang dari kompromi yang mengakhiri Darul Islam. Namanya, yang berarti ‘negeri damai’, seolah merangkum makna politik itu.
Kopelma Darussalam in Banda Aceh was built at Governor Ali Hasjmy’s initiative as the campus of Syiah Kuala University and, from 1963, of the Acehnese branch of the State Islamic Institute. Raised with communal labour, it became the best-remembered monument of the compromise that ended Darul Islam. Its name, meaning ‘abode of peace’, seems to sum up that political meaning.
Dalam upaya mewujudkan keistimewaan Aceh, Ali Hasjmy menjalankan proyek-proyek pembangunan yang mencolok, dan kampus Darussalam adalah kebanggaannya yang terbesar. Dalam pidato peresmian, pamflet, dan terbitan ulang tahun awal 1960-an, ia menceritakan kembali jalan menuju status Daerah Istimewa. Dengan demikian, ia menuliskan sejarah bukan hanya di atas kertas, melainkan juga pada bentang alam melalui kampus dan monumen.
Birchok merekam kenangan seorang guru bahasa Inggris yang ia sebut Ibu Juanda. Ketika masih duduk di kelas lima sekolah dasar, ia ikut membersihkan lahan kampus bersama orang dewasa dan teman-temannya, makan bu leukat (nasi ketan bungkus), dan merasakan bahwa kampus itu milik rakyat. Ia menyebut Darussalam sebagai jantung hati rakyat Aceh. Ia juga mengingat bahwa kawasan itu condong ke Darul Islam: pada malam hari terdengar tembakan, bahkan monumen gotong royong pernah ditembaki, tetapi siang hari aman dan tak ada yang diganggu.
Kenangan itu membentuk jalan hidupnya. Ia menolak tawaran kerja bergaji besar di tempat lain dan selalu kembali ke Universitas Syiah Kuala, hingga ikut merintis sekolah dasar percobaan di kampus dengan cara gotong royong yang sama. Narasinya sangat selaras dengan bahasa terbitan peresmian kampus tahun 1961: Darussalam mengakhiri konflik, mendamaikan rakyat, dan menjanjikan masa depan.
Tidak semua orang Aceh sehangat itu. Seorang anggota Majelis Ulama bertanya apakah sebuah kampus sepadan dengan penderitaan pemberontakan, dan sebagian orang menilai proyek-proyek Hasjmy oportunistis. Namun kisah Darussalam memperlihatkan bagaimana narasi keistimewaan dapat tertanam pada tempat dan tubuh, sehingga dihayati sebagai pengalaman pribadi.
To give substance to Aceh’s specialness, Ali Hasjmy launched conspicuous public works, and the Darussalam campus was his proudest legacy. In inauguration speeches, pamphlets and anniversary publications of the early 1960s he retold the path to Special Area status. He thus wrote history not only on paper but on the landscape, through campuses and monuments.
Birchok recorded the memories of an English teacher he calls Ibu Juanda. As a fifth-grader she joined adults and classmates in clearing the land, ate bu leukat (wrapped sticky rice), and felt that the campus belonged to the people. She called Darussalam the beloved heart of the Acehnese people. She also recalled that the area leaned towards Darul Islam: shots rang out at night and the monument to the communal labour was once fired upon, yet by day it was safe and no one was harmed.
These memories shaped her life. She turned down well-paid work elsewhere and always returned to Syiah Kuala University, eventually helping to start an experimental primary school on campus through the same communal method. Her account closely echoes the language of the 1961 inauguration publications: Darussalam ended the conflict, reconciled the people and promised a future.
Not all Acehnese were so warm. A member of the Ulama Council asked whether a campus was worth the suffering of the rebellion, and some judged Hasjmy’s projects opportunistic. Yet the Darussalam story shows how the narrative of specialness could be inscribed on place and body, and lived as personal experience.
Gagasan kunciKey ideas
Sejarah pada bentang alamHistory on the landscape
Kampus dan monumen menjadi cara menuliskan narasi keistimewaan.Campus and monuments became a way to write the narrative of specialness.
Gotong royong sebagai ingatanCommunal labour as memory
Keterlibatan warga membangun kampus membuat narasi resmi terasa milik pribadi.Citizens’ part in building the campus made the official narrative feel personal.
Nama yang bermaknaA meaningful name
Darussalam, ‘negeri damai’, seakan merangkum berakhirnya Darul Islam.Darussalam, ‘abode of peace’, seems to sum up the end of Darul Islam.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana sebuah kampus dapat sekaligus menjadi tempat belajar dan monumen politik yang menyimpan ingatan konflik?How can a campus be both a place of learning and a political monument holding memories of conflict?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kopelma-darussalam/