Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

‘Distingsi’ dan ‘menyinari’: peralihan IAIN menjadi UIN Ar-Raniry (2013)‘Distinction’ and ‘illumination’: the conversion of IAIN into UIN Ar-Raniry (2013)

September–Oktober 2013September–October 2013

Pada 1 Oktober 2013 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani perubahan IAIN Ar-Raniry menjadi UIN Ar-Raniry, bertepatan dengan peringatan 50 tahun kampus itu. Peralihan ini memunculkan pertanyaan paling krusial: paradigma keilmuan apa yang akan dianut. Dua kata dari rangkaian acara akademik saat itu menjadi kunci, yakni ‘distingsi’ yang mengemuka dalam diskusi dengan Azyumardi Azra dan ‘menyinari’ yang diucapkan Azwar Abubakar. Paradigma frikatifisasi ilmu dirumuskan sebagai jawaban atas kebutuhan itu.

On 1 October 2013 President Susilo Bambang Yudhoyono signed the conversion of IAIN Ar-Raniry into UIN Ar-Raniry, coinciding with the institution's fiftieth anniversary. The change raised the most pressing question: what paradigm of knowledge it would adopt. Two words from the academic events of that season became key: ‘distinction’, which surfaced in discussion with Azyumardi Azra, and ‘illuminate’, spoken by Azwar Abubakar. The fricativization paradigm was formulated in response.

Rangkaian akademik menjelang dan sesudah peralihan status menunjukkan pencarian paradigma yang serius. Pada 25 September 2013 Fakultas Ushuluddin menggelar seminar internasional tentang revitalisasi ilmu ushuluddin menghadapi tantangan global, dengan M. Amin Abdullah dan Zakaria Stapa sebagai pemateri utama. Pada 30 September 2013 seminar peringatan 50 tahun IAIN Ar-Raniry menghadirkan Azyumardi Azra untuk membahas jalan menuju UIN. Pada 21 Oktober 2013 Azwar Abubakar, saat itu Menteri PAN, menyampaikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-50.

Dari diskusi dengan Azra mengemuka kata ‘distingsi’, sedangkan Azwar Abubakar menyebut UIN Ar-Raniry harus ‘menyinari’. Kedua kata dibaca sebagai masukan untuk merumuskan kembali tradisi akademik kampus. Gagasan bahwa ilmu adalah sinar yang menerangi peradaban dikaitkan dengan pembahasan tentang wahdatul wujud.

Argumen yang dibangun adalah bahwa ‘distingsi’ dan ‘menyinari’ pernah dipraktikkan para ilmuwan Aceh. Arsitek IAIN Sunan Kalijaga disebut pernah disemai pemikir dari Aceh seperti Hasbi ash-Shiddieqy dan putranya Nourouzzaman Ash-Shiddieqy, dan di Jakarta nama Peunoh Daly disegani. Lebih jauh lagi, ar-Raniry dikenal dalam fikih, tasawuf, dan perbandingan agama; al-Singkili dalam fikih, tasawuf, dan tafsir; Hamzah Fansuri sebagai perintis sastra Melayu sekaligus tokoh tasawuf dan filsafat.

Dari situ muncul serangkaian pertanyaan: dari mana distingsi dimulai, bagaimana menyusun tata ilmu, ke mana arah masa depan ilmu, dan bagaimana mencetak kader yang menyamai pemikir Aceh masa lalu setelah puluhan tahun konflik. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi latar langsung lahirnya paradigma frikatifisasi ilmu.

The academic events around the change of status show a serious search for a paradigm. On 25 September 2013 the Faculty of Ushuluddin held an international seminar on revitalising the theological sciences in the face of global challenges, with M. Amin Abdullah and Zakaria Stapa as keynote speakers. On 30 September 2013 a seminar marking IAIN Ar-Raniry's fiftieth anniversary brought Azyumardi Azra to discuss the path to university status. On 21 October 2013 Azwar Abubakar, then Minister for Administrative Reform, delivered the scholarly oration at the fiftieth Dies Natalis.

From the discussion with Azra came the word ‘distinction’, while Azwar Abubakar said UIN Ar-Raniry must ‘illuminate’. Both words were read as inputs for redefining the institution's academic tradition. The idea that knowledge is a light illuminating civilisation was linked with reflection on wahdat al-wujud.

The argument built on them is that ‘distinction’ and ‘illumination’ had already been practised by Aceh's scholars. The architects of IAIN Sunan Kalijaga were said to have been nurtured by thinkers from Aceh such as Hasbi ash-Shiddieqy and his son Nourouzzaman Ash-Shiddieqy, and in Jakarta Peunoh Daly was highly regarded. Further back, al-Raniri was known for fiqh, Sufism and comparative religion; al-Singkili for fiqh, Sufism and Qur'anic exegesis; and Hamzah Fansuri as a pioneer of Malay literature and a figure of Sufism and philosophy.

A series of questions followed: where distinction should begin, how to order the sciences, where knowledge should head, and how to train scholars equal to Aceh's past thinkers after decades of conflict. These questions form the immediate background to the fricativization paradigm.

Gagasan kunciKey ideas

Status baru, paradigma baruNew status, new paradigm

Peralihan kelembagaan menuntut perumusan filsafat ilmu yang khas.Institutional change demanded a distinctive philosophy of knowledge.

Dua kata kunciTwo keywords

‘Distingsi’ dan ‘menyinari’ dijadikan arah tradisi akademik.‘Distinction’ and ‘illuminate’ became directions for the academic tradition.

Distingsi dari sejarahDistinction from history

Kekhasan dicari pada tradisi ilmu ulama dan sarjana Aceh.Distinctiveness is sought in the tradition of Aceh's ulama and scholars.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang membuat sebuah universitas Islam di Aceh sungguh ‘berbeda’, bukan sekadar meniru model UIN lain?What would make an Islamic university in Aceh genuinely ‘distinct’, rather than a copy of other UIN models?

Kutip entri ini:Cite this entry: “‘Distingsi’ dan ‘menyinari’: peralihan IAIN menjadi UIN Ar-Raniry (2013)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/distingsi-dan-menyinari-uin-ar-raniry/