Paradigma reintegrasi ilmu (Azyumardi Azra) dan basis wahdat al-wujudThe reintegration of sciences (Azyumardi Azra) and its wahdat al-wujud basis
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Paradigma reintegrasi ilmu-ilmu digagas Azyumardi Azra dan menjadi acuan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia memandang ilmu sebagai satu kesatuan dengan hierarki setara, yang dari perspektif Islam sama-sama berpahala bila dituntut. Secara metodologis, Mulyadhi Kartanegara mendasarkannya pada konsep wahdat al-wujud Mulla Sadra, yang menuntut tiga metode terpadu: tajribi, burhani, dan ‘irfani. Akar metafisis ini, menurut telaah tandingannya, juga menjadi pijakan Islamisasi ilmu al-Attas yang bertolak dari Hamzah Fansuri.
The reintegration of the sciences was devised by Azyumardi Azra and became the reference for UIN Syarif Hidayatullah in Jakarta. It regards the sciences as a single whole of equal rank, all equally meritorious in Islamic terms when pursued. Methodologically, Mulyadhi Kartanegara grounds it in Mulla Sadra's concept of wahdat al-wujud, which calls for three integrated methods: experimental (tajribi), demonstrative (burhani) and ‘irfani. This metaphysical root, a comparative reading argues, also underlies al-Attas's Islamization of knowledge, which starts from Hamzah Fansuri.
Azra berangkat dari dampak negatif dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Sudah waktunya, katanya, lembaga-lembaga Islam melakukan ‘reintegrasi ilmu-ilmu’, yaitu memandang semua ilmu sebagai satu kesatuan yang setara hierarkinya. Di tempat lain Azra mengakui bahwa Islam mengajarkan integralisme keilmuan pada tingkat konsep, tetapi dalam praktik sering terjadi disharmoni dan dikotomi yang bahkan menjangkau tingkat epistemologis, antara wahyu dan akal.
Penjabaran metodologisnya datang dari Mulyadhi Kartanegara. Sains modern membatasi objeknya pada benda fisik sehingga metode utamanya observasi indrawi. Menurut wahdat al-wujud Mulla Sadra, objek ilmu tidak terbatas pada yang indrawi, sehingga filosof Muslim mengembangkan metode demonstratif (burhani) untuk menangkap objek nonfisik seperti jiwa, Tuhan, malaikat, dan konsep universal. Pemikir seperti Ibn Khaldun dan Mulla Sadra menambahkan metode ketiga, ‘irfani atau ilmu hudhuri (pengetahuan melalui kehadiran). Ketiga metode sebagai kesatuan organik memungkinkan manusia menangkap seluruh tingkat wujud, dari yang material, imajinal, hingga spiritual.
Dalam telaah perbandingan, ditunjukkan bahwa pada tingkat imajinasi kreatif, interkoneksi pada dasarnya serupa dengan integrasi, dan wahdat al-wujud menjadi sandaran keduanya. Lebih jauh, landasan yang sama ternyata telah dipakai al-Attas, yang memulai Islamisasi ilmu dari kajian semantik atas konsep-konsep inti Hamzah Fansuri tentang kehendak, Tuhan, wujud, eksistensi, diri, waktu, dan alam semesta, mirip upaya Toshihiko Izutsu. Al-Attas menyebut Hamzah sebagai wakil intelektual terbesar dunia Melayu abad ke-15 hingga ke-17.
Kesimpulan yang ditarik adalah bahwa interkoneksi, integrasi, dan Islamisasi merupakan tiga filsafat ilmu yang saling melengkapi, dan akar historisnya di Nusantara terletak di Aceh, sementara di Jawa kerangka lokalnya adalah Kejawen.
Azra starts from the harmful effects of the dichotomy between religious and general sciences. It is time, he argues, for Islamic institutions to undertake a ‘reintegration of the sciences’, regarding all knowledge as one whole of equal rank. Elsewhere he concedes that Islam teaches the integralism of knowledge at the conceptual level, but in practice disharmony and dichotomy often arise, reaching even the epistemological level between revelation and reason.
The methodological elaboration comes from Mulyadhi Kartanegara. Modern science restricts its objects to physical things, so its main method is sensory observation. On Mulla Sadra's wahdat al-wujud, objects of knowledge are not limited to the sensible, so Muslim philosophers developed demonstrative (burhani) method to grasp non-physical objects such as the soul, God, angels and universal concepts. Thinkers such as Ibn Khaldun and Mulla Sadra added a third, ‘irfani method, or knowledge by presence (‘ilm hudhuri). Together, as an organic unity, the three allow humans to grasp every level of being, from the material and imaginal to the purely spiritual.
In comparative reading, interconnection is shown to be essentially similar to integration at the level of creative imagination, with wahdat al-wujud underpinning both. The same ground, moreover, had been used by al-Attas, who began the Islamization of knowledge with a semantic study of Hamzah Fansuri's core concepts of will, God, being, existence, self, time and the universe, an approach resembling Toshihiko Izutsu's. Al-Attas called Hamzah the greatest intellectual representative of the Malay world from the fifteenth to the seventeenth centuries.
The conclusion drawn is that interconnection, integration and Islamization are three complementary philosophies of knowledge whose historical roots in the archipelago lie in Aceh, whereas in Java the local framework is Kejawen.
Gagasan kunciKey ideas
Satu kesatuan ilmuThe unity of knowledge
Semua ilmu setara hierarkinya dan sama-sama berpahala.All sciences are of equal rank and equally meritorious.
Tiga metode terpaduThree integrated methods
Tajribi, burhani, dan ‘irfani untuk menangkap seluruh tingkat wujud.Experimental, demonstrative and ‘irfani methods to grasp every level of being.
Akar yang samaA shared root
Wahdat al-wujud menyatukan integrasi, interkoneksi, dan Islamisasi, dengan Hamzah Fansuri di pangkalnya.Wahdat al-wujud links integration, interconnection and Islamization, with Hamzah Fansuri at the source.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Mungkinkah metode ‘irfani diajarkan dan diuji di universitas modern tanpa kehilangan watak spiritualnya?Can the ‘irfani method be taught and assessed in a modern university without losing its spiritual character?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Paradigma reintegrasi ilmu (Azyumardi Azra) dan basis wahdat al-wujud”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/paradigma-reintegrasi-ilmu/