BidangField 03
Filsafat AcehAcehnese Philosophy
Filsafat Aceh adalah cabang studi Aceh yang menelaah sistem gagasan orang Aceh: bagaimana mereka memahami diri sendiri, Tuhan, dan alam semesta, lalu bagaimana pemahaman itu mengendap menjadi standar berpikir, standar perilaku, keyakinan, dan tradisi. Definisi kerjanya bertumpu pada lima unsur, yaitu pemikiran, kesadaran, standar berpikir dan berperilaku, keyakinan, dan tradisi, yang semuanya bersumber dari khazanah Aceh sendiri. Disiplin ini lahir dari kegelisahan bahwa tradisi berpikir Aceh, meskipun telah mewarnai kehidupan intelektual dan spiritual Asia Tenggara selama berabad-abad, nyaris tidak pernah ditempatkan dalam sejarah filsafat dunia; paling jauh ia diperlakukan sebagai pengetahuan lokal atau bahan laboratorium sosial bagi teori dari luar. Dalam kerangka studi Aceh, filsafat berfungsi sebagai payung: semua bidang lain, dari sejarah hingga politik, pada akhirnya bermuara pada pertanyaan tentang spirit, nilai, dan kesadaran yang melatarinya. Cakupannya dirumuskan dalam empat cabang, yakni filsafat manusia, filsafat alam, filsafat ketuhanan, dan filsafat ilmu. Pertanyaan pokoknya antara lain: di mana orang Aceh menyimpan jawaban atas soal-soal hakiki kehidupan, konsep inti apa saja yang membentuk cara pandang mereka, bagaimana spirit dan etika Islam bekerja sebagai pengendali perilaku, serta bagaimana gagasan Aceh dapat berdialog dengan filsafat Barat dan non-Barat tanpa sekadar menyalin kategori keduanya.
Acehnese Philosophy is the branch of Aceh studies that examines the Acehnese system of ideas: how Acehnese people understand themselves, God and the cosmos, and how that understanding settles into standards of thought, standards of conduct, beliefs and traditions. Its working definition rests on five elements, namely thought, consciousness, standards of thinking and behaving, belief, and tradition, all drawn from Aceh's own heritage. The discipline arises from the concern that Acehnese thought, although it shaped the intellectual and spiritual life of Southeast Asia for centuries, has almost never been placed within the world history of philosophy; at most it is treated as local knowledge or as material for a social laboratory serving theories from elsewhere. Within the framework of Aceh studies, philosophy acts as an umbrella: every other field, from history to politics, ultimately leads back to questions about the spirit, values and consciousness behind it. Its scope is set out in four branches: philosophy of the human being, philosophy of nature, philosophy of the divine, and philosophy of knowledge. Its core questions include where Acehnese people store their answers to the fundamental questions of life, which key concepts shape their worldview, how the spirit and ethics of Islam work as a regulator of conduct, and how Acehnese ideas can enter into dialogue with Western and non-Western philosophy without merely copying the categories of either.
Lihat posisinya dalam peta filosofisSee its place in the philosophical map →
3.1 Tradisi pemikiran & para pemikir AcehAcehnese thinkers & intellectual tradition
Para pemikir Aceh, dari ulama-sufi abad ke-16 dan ke-17 hingga pembaru modern, serta posisi mereka dalam tradisi filsafat Islam dan sejarah filsafat dunia.Acehnese thinkers, from the sixteenth- and seventeenth-century Sufi scholars to modern reformers, and their place within the Islamic philosophical tradition and the world history of philosophy.
3.2 Epistemologi: ‘irfani, kearifan lokal & integrasi ilmuEpistemology: ‘irfani knowledge, local wisdom & the integration of knowledge
Cara mengetahui dan membangun ilmu: epistemologi ‘irfani, kearifan lokal, filsafat perbandingan, serta upaya mengintegrasikan pengetahuan Aceh dengan ilmu dari luar.Ways of knowing and of building knowledge: ‘irfani epistemology, local wisdom, comparative philosophy, and efforts to integrate Acehnese knowledge with learning from elsewhere.
KonsepConcept Kenal diri, kenal alam, kenal TuhanKnowing self, knowing nature, knowing God
Kenal diri, kenal alam, dan kenal Tuhan adalah tiga perangkat pengetahuan yang menopang perjalanan manusia sebagai hamba, khalifah, dan sahabat Allah. Manusia tidak punya pilihan selain mengenali dirinya terlebih dahulu,…Knowing self, knowing nature and knowing God are the three instruments of knowledge that sustain the human journey as servant, vicegerent and friend of God. Humans have no choice but…
KonsepConcept Konsep, kekuasaan, internasionalisasi, hegemoni: ilmu sebagai kuasaConcept, power, internationalisation, hegemony: knowledge as power
Kerangka ini menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan berubah dari perenungan yang mendekatkan manusia kepada Tuhan menjadi alat kuasa global. Prosesnya bergerak melalui empat tahap: konsep, kekuasaan, internasionalisasi, dan hegemoni. Konsep yang…This framework explains how knowledge shifted from contemplation that draws humans closer to God into an instrument of global power. The process moves through four stages: concept, power, internationalisation and…
NaskahText Kosmologi Asia Tenggara: peta buku KBA 2025Southeast Asian Cosmologies: a source map of KBA’s 2025 book
Buku menempatkan konsep Asia Tenggara sebagai sumber pembentukan teori melalui relasi, kosmologi, dan pemikiran dekolonial.The book treats Southeast Asian concepts as theoretical resources through relationality, cosmology and decolonial thought.
NaskahText Metafisika Islam Nusantara: peta bacaan KBA 2016The metaphysics of Islam Nusantara: KBA’s 2016 reading map
Buku membandingkan Taylor, al-Attas, dan Corbin untuk menelusuri fondasi metafisika dan cara membangun kajian Islam Nusantara. Ia menawarkan sumber bagi lapisan filosofis Acehnologi.The book compares Taylor, al-Attas and Corbin in investigating metaphysical foundations and approaches to Islam Nusantara, supplying a source for Acehnologi’s philosophical layer.
KonsepConcept Model pembelajaran nūr: cahaya, akal, dan qalamThe nūr model of learning: light, intellect and pen
Dari penjelasan Hamzah Fansuri tentang spirit, sebagaimana diuraikan Syed Muhammad Naquib al-Attas, studi Aceh menurunkan sebuah model epistemologis. Ilmu Ilahi disebut spirit karena hidup, cahaya karena memvisualkan sesuatu, akal karena…From Hamzah Fansuri's account of spirit, as set out by Syed Muhammad Naquib al-Attas, Aceh studies derives an epistemological model. Divine Knowledge is called spirit because it is living, light…
KonsepConcept Paradigma integrasi-interkoneksi (M. Amin Abdullah)The integration-interconnection paradigm (M. Amin Abdullah)
Paradigma integrasi-interkoneksi digagas M. Amin Abdullah dan dijalankan di UIN Sunan Kalijaga sebagai pola hubungan antara ilmu keagamaan dan non-keagamaan. Asumsinya, tidak ada bangunan ilmu yang dapat berdiri sendiri; klaim…The integration-interconnection paradigm was devised by M. Amin Abdullah and adopted at UIN Sunan Kalijaga as a model of relations between religious and non-religious sciences. Its premise is that no…
KonsepConcept Paradigma reintegrasi ilmu (Azyumardi Azra) dan basis wahdat al-wujudThe reintegration of sciences (Azyumardi Azra) and its wahdat al-wujud basis
Paradigma reintegrasi ilmu-ilmu digagas Azyumardi Azra dan menjadi acuan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia memandang ilmu sebagai satu kesatuan dengan hierarki setara, yang dari perspektif Islam sama-sama berpahala bila dituntut.…The reintegration of the sciences was devised by Azyumardi Azra and became the reference for UIN Syarif Hidayatullah in Jakarta. It regards the sciences as a single whole of equal…
TokohFigure Syed Muhammad Naquib al-Attas
Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah pemikir Malaysia yang menjadi tokoh sentral Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Asia Tenggara. Ia mengembangkan ISTAC sebagai pusat kajian pemikiran dan peradaban Islam. Kajiannya tentang Hamzah…Syed Muhammad Naquib al-Attas is a Malaysian thinker and a central figure of the Islamisation of Knowledge in Southeast Asia. He developed ISTAC as a centre for the study of…
KonsepConcept Tiga epistemologi: bayânî, burhânî, ‘irfânîThree epistemologies: bayani, burhani, ‘irfani
Kerangka ini membedakan tiga jalan memperoleh dasar pengetahuan. Epistemologi burhânî bertumpu pada realitas alam, sosial, dan kemanusiaan; bayânî bertumpu pada teks atau wahyu; sedangkan ‘irfânî bersumber dari pengalaman langsung yang…This framework distinguishes three routes to the foundations of knowledge. Burhani epistemology rests on the realities of nature, society and the humanities; bayani rests on texts or revelation; and ‘irfani…
KonsepConcept Tiga posisi pengetahuan haji: orang kampung, jemaah, dan mukiminThree positions of hajj knowledge: villagers, pilgrims and residents
Pengetahuan tentang Tanah Suci berubah menurut jarak pengalaman. Artikel membandingkan cerita yang dibayangkan, perjumpaan singkat saat haji, dan pengalaman tinggal yang lebih panjang.Knowledge of the Holy Land varies with experience. The article compares imagined accounts, brief pilgrimage encounters and longer-term residence.
3.3 Cara berpikir & falsafah tuturWays of thinking & proverbial philosophy
Konsep-konsep inti dalam bahasa dan tutur Aceh, seperti hikmah, timang, dan turi droe, yang menyimpan falsafah hidup sehari-hari.Key concepts in Acehnese language and speech, such as hikmah, timang and turi droe, that carry an everyday philosophy of life.
3.4 Watak & kritik diri manusia AcehAcehnese character & self-critique
Telaah reflektif atas watak, etika, dan identitas orang Aceh, termasuk kritik diri terhadap kelemahan dan perasaan istimewa yang menyertainya.Reflective study of Acehnese character, ethics and identity, including self-critique of its weaknesses and of the sense of exceptionalism that accompanies it.