Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

BidangField 03

Filsafat AcehAcehnese Philosophy

Filsafat Aceh adalah cabang studi Aceh yang menelaah sistem gagasan orang Aceh: bagaimana mereka memahami diri sendiri, Tuhan, dan alam semesta, lalu bagaimana pemahaman itu mengendap menjadi standar berpikir, standar perilaku, keyakinan, dan tradisi. Definisi kerjanya bertumpu pada lima unsur, yaitu pemikiran, kesadaran, standar berpikir dan berperilaku, keyakinan, dan tradisi, yang semuanya bersumber dari khazanah Aceh sendiri. Disiplin ini lahir dari kegelisahan bahwa tradisi berpikir Aceh, meskipun telah mewarnai kehidupan intelektual dan spiritual Asia Tenggara selama berabad-abad, nyaris tidak pernah ditempatkan dalam sejarah filsafat dunia; paling jauh ia diperlakukan sebagai pengetahuan lokal atau bahan laboratorium sosial bagi teori dari luar. Dalam kerangka studi Aceh, filsafat berfungsi sebagai payung: semua bidang lain, dari sejarah hingga politik, pada akhirnya bermuara pada pertanyaan tentang spirit, nilai, dan kesadaran yang melatarinya. Cakupannya dirumuskan dalam empat cabang, yakni filsafat manusia, filsafat alam, filsafat ketuhanan, dan filsafat ilmu. Pertanyaan pokoknya antara lain: di mana orang Aceh menyimpan jawaban atas soal-soal hakiki kehidupan, konsep inti apa saja yang membentuk cara pandang mereka, bagaimana spirit dan etika Islam bekerja sebagai pengendali perilaku, serta bagaimana gagasan Aceh dapat berdialog dengan filsafat Barat dan non-Barat tanpa sekadar menyalin kategori keduanya.

Acehnese Philosophy is the branch of Aceh studies that examines the Acehnese system of ideas: how Acehnese people understand themselves, God and the cosmos, and how that understanding settles into standards of thought, standards of conduct, beliefs and traditions. Its working definition rests on five elements, namely thought, consciousness, standards of thinking and behaving, belief, and tradition, all drawn from Aceh's own heritage. The discipline arises from the concern that Acehnese thought, although it shaped the intellectual and spiritual life of Southeast Asia for centuries, has almost never been placed within the world history of philosophy; at most it is treated as local knowledge or as material for a social laboratory serving theories from elsewhere. Within the framework of Aceh studies, philosophy acts as an umbrella: every other field, from history to politics, ultimately leads back to questions about the spirit, values and consciousness behind it. Its scope is set out in four branches: philosophy of the human being, philosophy of nature, philosophy of the divine, and philosophy of knowledge. Its core questions include where Acehnese people store their answers to the fundamental questions of life, which key concepts shape their worldview, how the spirit and ethics of Islam work as a regulator of conduct, and how Acehnese ideas can enter into dialogue with Western and non-Western philosophy without merely copying the categories of either.

Lihat posisinya dalam peta filosofisSee its place in the philosophical map →

3.1 Tradisi pemikiran & para pemikir AcehAcehnese thinkers & intellectual tradition

Para pemikir Aceh, dari ulama-sufi abad ke-16 dan ke-17 hingga pembaru modern, serta posisi mereka dalam tradisi filsafat Islam dan sejarah filsafat dunia.Acehnese thinkers, from the sixteenth- and seventeenth-century Sufi scholars to modern reformers, and their place within the Islamic philosophical tradition and the world history of philosophy.

KonsepConcept Aceh, Hegel, dan Pencerahan: perbandingan spiritAceh, Hegel and the Enlightenment: a comparison of spirit Perbandingan ini menyandingkan kebangkitan intelektual Aceh abad ke-16–17 dengan Pencerahan Eropa dan konsep Geist Hegel. Di Barat, pencarian kesadaran diri melahirkan filsafat dan sains yang cenderung memisahkan agama; di Aceh,…This comparison sets Aceh's intellectual flowering of the sixteenth and seventeenth centuries beside the European Enlightenment and Hegel's notion of Geist. In the West the search for self-consciousness gave rise… KonsepConcept Cakupan dan pembelajaran Filsafat AcehThe scope and teaching of Acehnese philosophy Filsafat Aceh tidak dimaksudkan sebagai ilmu baru dengan sistem metafisika tersendiri, melainkan sebagai upaya menghimpun konsep-konsep yang telah menyatu dalam sejarah gagasan Aceh. Cakupannya dirumuskan dalam empat cabang: filsafat manusia,…Acehnese philosophy is not meant as a new science with its own metaphysical system but as an effort to gather concepts already woven into Aceh's history of ideas. Its scope… KonsepConcept Charles Taylor, Henry Corbin, dan al-Attas: tiga pintu filsafat bagi studi AcehCharles Taylor, Henry Corbin and al-Attas: three gateways to philosophy for Aceh studies Perintisan Filsafat Aceh menempuh jalur tiga pemikir yang dipakai sebagai jembatan pengetahuan antara Barat dan Timur. Charles Taylor membuka jalan ke Hegel dan tradisi Isaiah Berlin. Henry Corbin, orientalis Prancis…The founding of Acehnese philosophy follows the path of three thinkers used as a bridge of knowledge between West and East. Charles Taylor opens the way to Hegel and to… KonsepConcept Definisi kerja Filsafat Aceh: lima unsurA working definition of Acehnese philosophy: five elements Filsafat Aceh dirumuskan secara operasional sebagai bentuk pemikiran orang Aceh yang berakar pada kesadaran diri mereka, dibentuk oleh standar berpikir dan berperilaku, bersandar pada apa yang mereka yakini, dan bersumber…Acehnese philosophy is defined operationally as the thought produced by Acehnese people, rooted in their self-awareness, shaped by standards of thinking and conduct, grounded in what they believe, and drawn… KonsepConcept Filsafat, tasawuf, dan ulama-filosof: posisi Aceh dalam tradisi filsafat IslamPhilosophy, Sufism and scholar-philosophers: Aceh's place in the Islamic philosophical tradition Dalam Islam, filsafat kerap bersentuhan dengan dimensi spiritual sehingga sulit dibedakan dari tasawuf. Berbeda dari filsafat Barat modern yang cenderung menjauhkan manusia dari Tuhan, kedalaman filsafat seorang Muslim dipandang justru…In Islam, philosophy often touches the spiritual dimension and is hard to separate from Sufism. Unlike modern Western philosophy, which tends to lead people away from God, the depth of… KonsepConcept Gelar kehormatan para pemikir AcehHonorific titles of Acehnese thinkers Sejumlah tokoh Aceh menyandang gelar kehormatan yang diberikan para sarjana, bukan oleh pengakuan lokal: Hamzah Fansuri sebagai bapak sastra Melayu modern, Nuruddin ar-Raniry sebagai bapak mujaddid dan bapak perbandingan agama,…Several Acehnese figures carry honorific titles conferred by scholars rather than by local acclaim: Hamzah Fansuri as father of modern Malay literature, Nuruddin ar-Raniri as father of renewal and of… KonsepConcept Hamzah Fansuri dan Hegel: membaca ‘spirit’ lintas tradisiHamzah Fansuri and Hegel: reading ‘spirit’ across traditions Usulan perbandingan antara Hamzah Fansuri dan G.W.F. Hegel (1770–1831) sebagai dua pemikir yang sama-sama berbicara tentang spirit. Hamzah biasanya dibaca bersama Ibn ‘Arabi, sedangkan Hegel bersama Kant. Perbandingan ini menyoroti…A proposed comparison between Hamzah Fansuri and G.W.F. Hegel (1770–1831) as two thinkers who both wrote about spirit. Hamzah is usually read alongside Ibn ‘Arabi, Hegel alongside Kant. The comparison… KonsepConcept Keterputusan metafisika dan lahirnya pengetahuan di luar istanaMetaphysical rupture and the rise of knowledge outside the palace Tesis bahwa pemikiran metafisis Aceh tidak memiliki kesinambungan karena doktrin sufi tercerabut dari istana setelah era Hamzah Fansuri, lalu krisis internal, kolonialisme, dan perang memindahkan produksi pengetahuan ke luar istana.…A thesis that Acehnese metaphysical thought lacks continuity because Sufi doctrine was uprooted from the palace after Hamzah Fansuri's era, and internal crisis, colonialism and war then moved the production… KonsepConcept Krisis spirit intelektual Aceh dan sarjana otodidak abad ke-20The crisis of Aceh's intellectual spirit and its self-made 20th-century scholars Analisis ini menelusuri pergeseran orientasi pendidikan Aceh: dari mempertemukan makrokosmos dan mikrokosmos menjadi terpaku pada kesalehan individual. Pergeseran itu dikaitkan dengan tersingkirnya Hamzah Fansuri, kolonialisme, dan penyerapan ke dalam kosmologi…This analysis traces a shift in the orientation of Acehnese education: from joining macrocosm and microcosm to a narrow focus on individual piety. The shift is tied to the sidelining… KonsepConcept Spirit sebagai fondasi studi Islam di Indonesia: dari Hamzah Fansuri dan HegelSpirit as a foundation for Islamic studies in Indonesia: from Hamzah Fansuri and Hegel Usulan untuk mencari ‘spirit’ studi Islam di Indonesia dengan menelusuri pemikiran Hamzah Fansuri dan G.W.F. Hegel (1770–1831). Keduanya tak pernah bertemu dan berangkat dari ranah berbeda, tasawuf dan filsafat, tetapi…A proposal to seek the ‘spirit’ of Islamic studies in Indonesia by tracing the thought of Hamzah Fansuri and G.W.F. Hegel (1770–1831). The two never met and came from different… TokohFigure Syeikh Hamzah FansuriShaykh Hamzah Fansuri Hamzah Fansuri adalah sufi, penyair, dan pemikir metafisika terbesar Aceh pada awal masa puncak Kesultanan Aceh Darussalam. Ia memperkenalkan wahdat al-wujūd dan teori insān kamil ke Aceh dan dari sana…Hamzah Fansuri was Aceh's greatest Sufi poet and metaphysician, active as the Sultanate of Aceh Darussalam entered its golden age. He brought the doctrines of the unity of being (waḥdat… TokohFigure Syeikh Nuruddin ar-RaniryShaykh Nuruddin al-Raniri Nuruddin ar-Raniry adalah ulama yang tiba di Aceh pada 1637 dan dikenal sebagai penentang ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri dan pengikutnya. Pengetahuan umum di Aceh sering menganggapnya menolak seluruh gagasan wahdat…Nuruddin al-Raniri was a scholar who reached Aceh in 1637 and is remembered as the opponent of the wujūdiyya teaching of Hamzah Fansuri and his followers. Popular knowledge in Aceh… KonsepConcept Tasawuf falsafi, Neoplatonisme, dan pengetahuan simbolikPhilosophical Sufism, Neoplatonism and symbolic knowledge Tasawuf falsafi adalah corak tasawuf yang memasukkan pandangan filosofis dan mengungkapkannya dengan istilah serta simbol khusus yang sulit dipahami orang banyak. Hamzah Fansuri dipandang sebagai penyambung pemikiran Ibn ‘Arabi di…Philosophical Sufism is a strand of Sufism that absorbs philosophical views and expresses them in special terms and symbols hard for most people to grasp. Hamzah Fansuri is regarded as… KonsepConcept Tiga jalur spirit: Hegel–Taylor, Fansuri–al-Attas, Ibn Arabi–CorbinThree paths of spirit: Hegel–Taylor, Fansuri–al-Attas, Ibn Arabi–Corbin Bab ketiga mengatur pembahasan melalui tiga pasangan pemikir. Susunan ini menjadi peta perbandingan tentang spirit, metafisika, dan pengetahuan.Chapter three organises its discussion around three pairings, forming a comparative map of spirit, metaphysics and knowledge. KonsepConcept Warisan Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-RaniryThe legacy of Hamzah Fansuri and Nuruddin ar-Raniri Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniry adalah dua ulama besar dalam sejarah intelektual Aceh yang pandangannya saling berseberangan. Meski berlawanan, keduanya meninggalkan warisan dinamika intelektual yang sangat berharga. Kejayaan Aceh di…Hamzah Fansuri and Nuruddin ar-Raniri are two great scholars in Aceh's intellectual history whose views stood in opposition. Despite their disagreement, both left a highly valuable legacy of intellectual dynamism.…

3.2 Epistemologi: ‘irfani, kearifan lokal & integrasi ilmuEpistemology: ‘irfani knowledge, local wisdom & the integration of knowledge

Cara mengetahui dan membangun ilmu: epistemologi ‘irfani, kearifan lokal, filsafat perbandingan, serta upaya mengintegrasikan pengetahuan Aceh dengan ilmu dari luar.Ways of knowing and of building knowledge: ‘irfani epistemology, local wisdom, comparative philosophy, and efforts to integrate Acehnese knowledge with learning from elsewhere.

NaskahText Acehnologi — Cara Berpikir Orang AcehAcehnologi — Acehnese ways of thinking Panduan membaca bagian “Cara Berpikir Orang Aceh” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.Source-reading guide to Acehnese ways of thinking in the Acehnologi manuscript. NaskahText Acehnologi — Falsafah Melayu dan AcehAcehnologi — Malay and Acehnese philosophies Panduan membaca bagian “Falsafah Melayu dan Aceh” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.Source-reading guide to Malay and Acehnese philosophies in the Acehnologi manuscript. NaskahText Acehnologi — Islamisasi Ilmu Pengetahuan di AcehAcehnologi — Islamisation of knowledge in Aceh Panduan membaca bagian “Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Aceh” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.Source-reading guide to Islamisation of knowledge in Aceh in the Acehnologi manuscript. NaskahText Acehnologi — Jejak Spirit AcehAcehnologi — Tracing the Acehnese spirit Panduan membaca bagian “Jejak Spirit Aceh” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.Source-reading guide to Tracing the Acehnese spirit in the Acehnologi manuscript. NaskahText Acehnologi — Kearifan Lokal dalam Perspektif Epistemologi IrfaniAcehnologi — Local wisdom and irfani epistemology Panduan membaca bagian “Kearifan Lokal dalam Perspektif Epistemologi Irfani” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.Source-reading guide to Local wisdom and irfani epistemology in the Acehnologi manuscript. NaskahText Darussalam dan era Global-AI: epilog pemikiran KBADarussalam and the Global-AI era: KBA’s epilogue Epilog membahas risiko dominasi makna digital dan kebutuhan menempatkan adab serta nilai dalam penggunaan teknologi.The epilogue examines digital domination of meaning and the place of ethics in technology. NaskahText Darussalam sebagai visi kosmologis lintas kawasanDarussalam as a cross-regional cosmological vision Darussalam ditafsirkan sebagai hubungan kedamaian, keadilan, syariat, dan kehidupan batin.Darussalam is interpreted through peace, justice, law and inward life. KonsepConcept Empat hambatan membangun Filsafat AcehFour obstacles to building an Acehnese philosophy Upaya merumuskan Filsafat Aceh berhadapan dengan empat hambatan: belum adanya bidang keilmuan yang kokoh, ketiadaan tokoh Aceh yang dikenal luas di kalangan peminat filsafat, kosakata filsafat yang lahir dari tradisi…Attempts to formulate an Acehnese philosophy face four obstacles: the lack of an established field of study, the absence of any Acehnese figure widely known among students of philosophy, a… KonsepConcept Empat jalan menemukan Filsafat AcehFour paths to discovering Acehnese philosophy Untuk menemukan Filsafat Aceh, diusulkan empat jalan penelusuran. Pertama, membaca ulang tradisi berpikir orang Aceh dari masa lampau hingga kini dan mencari spirit di balik produk kebudayaannya. Kedua, menelaah perjumpaan…Four lines of inquiry are proposed for discovering Acehnese philosophy. The first rereads the Acehnese tradition of thought from the past to the present and seeks the spirit behind its… KonsepConcept Epistemologi ‘irfânî dalam kajian sosial‘Irfani epistemology in social inquiry Epistemologi ‘irfânî menelaah pengetahuan yang bersumber dari pengalaman batin, baik dari akal maupun hati. Dalam kajian sosial, ia diarahkan untuk memahami alam pikiran lahir dan batin para pemegang otoritas lokal,…‘Irfani epistemology examines knowledge that springs from inner experience, whether of the intellect or of the heart. In social inquiry, it is directed at understanding the outer and inner thought-world… KonsepConcept Filsafat perbandingan sebagai jalan menuju Filsafat AcehComparative philosophy as a path to Acehnese philosophy Filsafat perbandingan diajukan sebagai strategi utama untuk menemukan Filsafat Aceh tanpa sekadar memakai ‘kacamata Barat’. Paul Masson-Oursel berpendapat bahwa filsafat sejati adalah filsafat perbandingan, karena setiap masyarakat berpikir dari tradisi…Comparative philosophy is proposed as the main strategy for discovering Acehnese philosophy without simply wearing ‘Western spectacles’. Paul Masson-Oursel argued that true philosophy is comparative philosophy, since every society thinks… KonsepConcept Islam rasional dan reintegrasi ilmu di IAINRational Islam and the integration of knowledge at IAIN Sejak 1970-an, studi Islam di Indonesia diarahkan ke Barat, dengan Harun Nasution sebagai arsitek model Islam rasional di IAIN. Pendekatannya bertumpu pada rasionalitas, membuka posisi ilmu kalam, dan mengembangkan studi…From the 1970s, Islamic studies in Indonesia were oriented towards the West, with Harun Nasution as the architect of the rational-Islam model at IAIN. His approach rested on rationality, opened… KonsepConcept Islamisasi ilmu di Aceh: peluang dan hambatanIslamising knowledge in Aceh: prospects and obstacles Islamisasi ilmu dipandang sebenarnya telah dimulai di Aceh melalui warisan Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniry, tetapi kini tertinggal dan masih sebatas wacana. Pendidikan tinggi di Aceh dinilai terlalu berorientasi pada…The Islamisation of knowledge is seen as having in fact begun in Aceh through the legacy of Hamzah Fansuri and Nuruddin ar-Raniri, but it now lags behind and remains mere… KonsepConcept Islamisasi Ilmu PengetahuanIslamisation of Knowledge Islamisasi Ilmu Pengetahuan (IIP) adalah gerakan intelektual untuk menyatukan kembali ilmu modern dengan landasan tauhid, sehingga dikotomi ilmu agama dan ilmu umum dihapus. Diskusinya muncul di Asia Tenggara pada 1970-an…The Islamisation of Knowledge is an intellectual movement seeking to reunite modern knowledge with the foundation of tawhid, abolishing the split between religious and secular sciences. Discussion of it emerged… KonsepConcept Kearifan lokal dan orang bijakLocal wisdom and the wise Kearifan lokal sering dibicarakan di Aceh sebagai gagasan pribumi yang menyangkut identitas, agama, dan politik, tetapi jarang ditelaah dasar filosofisnya. Dalam perspektif ‘irfânî, kearifan lokal dipahami sebagai produk para orang…Local wisdom is often discussed in Aceh as an indigenous idea bearing on identity, religion and politics, yet its philosophical basis is rarely examined. From an ‘irfani perspective, local wisdom… KonsepConcept Kenal dan tahu: dua tingkat pengetahuan tentang AllahKenal and tahu: two grades of knowing God Hamzah Fansuri membedakan ‘kenal’ dari ‘tahu’ akan Allah dan menempatkan kenal pada kedudukan lebih tinggi. Orang yang tahu Allah tergolong khāṣṣ, sedangkan orang yang kenal Allah tergolong khāṣṣ al-khāṣṣ. Pembedaan…Hamzah Fansuri distinguished kenal (intimate acquaintance) from tahu (knowing about) God and placed kenal higher. Those who know about God are 'the elect', while those acquainted with God are 'the… KonsepConcept Kenal diri, kenal alam, kenal TuhanKnowing self, knowing nature, knowing God Kenal diri, kenal alam, dan kenal Tuhan adalah tiga perangkat pengetahuan yang menopang perjalanan manusia sebagai hamba, khalifah, dan sahabat Allah. Manusia tidak punya pilihan selain mengenali dirinya terlebih dahulu,…Knowing self, knowing nature and knowing God are the three instruments of knowledge that sustain the human journey as servant, vicegerent and friend of God. Humans have no choice but… KonsepConcept Konsep, kekuasaan, internasionalisasi, hegemoni: ilmu sebagai kuasaConcept, power, internationalisation, hegemony: knowledge as power Kerangka ini menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan berubah dari perenungan yang mendekatkan manusia kepada Tuhan menjadi alat kuasa global. Prosesnya bergerak melalui empat tahap: konsep, kekuasaan, internasionalisasi, dan hegemoni. Konsep yang…This framework explains how knowledge shifted from contemplation that draws humans closer to God into an instrument of global power. The process moves through four stages: concept, power, internationalisation and… NaskahText Kosmologi Asia Tenggara: peta buku KBA 2025Southeast Asian Cosmologies: a source map of KBA’s 2025 book Buku menempatkan konsep Asia Tenggara sebagai sumber pembentukan teori melalui relasi, kosmologi, dan pemikiran dekolonial.The book treats Southeast Asian concepts as theoretical resources through relationality, cosmology and decolonial thought. NaskahText Metafisika Islam Nusantara: peta bacaan KBA 2016The metaphysics of Islam Nusantara: KBA’s 2016 reading map Buku membandingkan Taylor, al-Attas, dan Corbin untuk menelusuri fondasi metafisika dan cara membangun kajian Islam Nusantara. Ia menawarkan sumber bagi lapisan filosofis Acehnologi.The book compares Taylor, al-Attas and Corbin in investigating metaphysical foundations and approaches to Islam Nusantara, supplying a source for Acehnologi’s philosophical layer. KonsepConcept Model pembelajaran nūr: cahaya, akal, dan qalamThe nūr model of learning: light, intellect and pen Dari penjelasan Hamzah Fansuri tentang spirit, sebagaimana diuraikan Syed Muhammad Naquib al-Attas, studi Aceh menurunkan sebuah model epistemologis. Ilmu Ilahi disebut spirit karena hidup, cahaya karena memvisualkan sesuatu, akal karena…From Hamzah Fansuri's account of spirit, as set out by Syed Muhammad Naquib al-Attas, Aceh studies derives an epistemological model. Divine Knowledge is called spirit because it is living, light… KonsepConcept Paradigma integrasi-interkoneksi (M. Amin Abdullah)The integration-interconnection paradigm (M. Amin Abdullah) Paradigma integrasi-interkoneksi digagas M. Amin Abdullah dan dijalankan di UIN Sunan Kalijaga sebagai pola hubungan antara ilmu keagamaan dan non-keagamaan. Asumsinya, tidak ada bangunan ilmu yang dapat berdiri sendiri; klaim…The integration-interconnection paradigm was devised by M. Amin Abdullah and adopted at UIN Sunan Kalijaga as a model of relations between religious and non-religious sciences. Its premise is that no… KonsepConcept Paradigma reintegrasi ilmu (Azyumardi Azra) dan basis wahdat al-wujudThe reintegration of sciences (Azyumardi Azra) and its wahdat al-wujud basis Paradigma reintegrasi ilmu-ilmu digagas Azyumardi Azra dan menjadi acuan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia memandang ilmu sebagai satu kesatuan dengan hierarki setara, yang dari perspektif Islam sama-sama berpahala bila dituntut.…The reintegration of the sciences was devised by Azyumardi Azra and became the reference for UIN Syarif Hidayatullah in Jakarta. It regards the sciences as a single whole of equal… TokohFigure Syed Muhammad Naquib al-Attas Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah pemikir Malaysia yang menjadi tokoh sentral Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Asia Tenggara. Ia mengembangkan ISTAC sebagai pusat kajian pemikiran dan peradaban Islam. Kajiannya tentang Hamzah…Syed Muhammad Naquib al-Attas is a Malaysian thinker and a central figure of the Islamisation of Knowledge in Southeast Asia. He developed ISTAC as a centre for the study of… KonsepConcept Tiga epistemologi: bayânî, burhânî, ‘irfânîThree epistemologies: bayani, burhani, ‘irfani Kerangka ini membedakan tiga jalan memperoleh dasar pengetahuan. Epistemologi burhânî bertumpu pada realitas alam, sosial, dan kemanusiaan; bayânî bertumpu pada teks atau wahyu; sedangkan ‘irfânî bersumber dari pengalaman langsung yang…This framework distinguishes three routes to the foundations of knowledge. Burhani epistemology rests on the realities of nature, society and the humanities; bayani rests on texts or revelation; and ‘irfani… KonsepConcept Tiga posisi pengetahuan haji: orang kampung, jemaah, dan mukiminThree positions of hajj knowledge: villagers, pilgrims and residents Pengetahuan tentang Tanah Suci berubah menurut jarak pengalaman. Artikel membandingkan cerita yang dibayangkan, perjumpaan singkat saat haji, dan pengalaman tinggal yang lebih panjang.Knowledge of the Holy Land varies with experience. The article compares imagined accounts, brief pilgrimage encounters and longer-term residence.

3.3 Cara berpikir & falsafah tuturWays of thinking & proverbial philosophy

Konsep-konsep inti dalam bahasa dan tutur Aceh, seperti hikmah, timang, dan turi droe, yang menyimpan falsafah hidup sehari-hari.Key concepts in Acehnese language and speech, such as hikmah, timang and turi droe, that carry an everyday philosophy of life.

KonsepConcept Budi dan budiman dalam alam pikir Melayu dan AcehBudi and the budiman in Malay and Acehnese thought Budi adalah konsep kunci alam pikir Melayu yang hadir dalam banyak ungkapan, dari budi bahasa hingga budi pekerti. Budiman, orang yang berbudi, dipadankan dengan manusia bijak dan dapat disandingkan dengan…Budi is a key concept of Malay thought, present in many expressions from budi bahasa (courtesy of speech) to budi pekerti (moral character). The budiman, the person of budi, is… KonsepConcept Droe keu droe: dari diri sendiri ke diri sendiriDroe keu droe: from the self to the self Prinsip epistemik yang diusulkan sebagai arah baru studi Aceh: pengetahuan tentang Aceh harus dibangun dari sejarah pemikiran masyarakat Aceh sendiri dan kembali kepada pemahaman diri orang Aceh. Prinsip ini memuat…An epistemic principle proposed as a new direction for Aceh studies: knowledge about Aceh should be built from the history of Acehnese thought itself and lead back to Acehnese self-understanding.… KonsepConcept Euleume endatu, zameun, haba, dan nanggroe: kosakata dasar falsafah AcehEuleume endatu, zameun, haba and nanggroe: the basic vocabulary of Acehnese philosophy Untuk mencari di mana orang Aceh menyimpan jawaban atas pertanyaan tentang diri, Tuhan, dan alam, sejumlah kata sehari-hari dibaca sebagai kosakata filosofis. Hasil penalaran masa lalu disebut euleume endatu, yaitu…To locate where Acehnese people keep their answers to questions about the self, God and nature, a set of everyday words is read as philosophical vocabulary. The fruits of past… KonsepConcept Falsafah Melayu dan AcehMalay and Acehnese philosophies of life Kajian ini membandingkan falsafah hidup dua masyarakat yang bertaut dalam budaya, bahasa, sejarah, dan Islam, tanpa menyamakan keduanya. Bahasa Aceh berakar pada rumpun Cham, tetapi tradisi intelektual Aceh klasik ditulis…This study compares the philosophies of life of two societies bound by culture, language, history and Islam, without equating them. Acehnese belongs to the Chamic language group, yet Aceh's classical… KonsepConcept Falsafah sua (suloh): obor ilmu yang tak dibawa pulangThe philosophy of sua (suloh): a torch of learning never brought home Sua adalah obor dari ikatan daun kelapa kering yang dipakai orang kampung Aceh untuk berjalan malam, lalu dipadamkan dan ditinggalkan setelah sampai tujuan. Benda sederhana ini dijadikan metafora bagi peran…A sua is a torch of bundled dry coconut leaves that Acehnese villagers carried on night journeys and then extinguished and left behind on arrival. This humble object becomes a… KonsepConcept Galak, meu chen, dan hikmah: ‘cinta kebijaksanaan’ dalam tutur AcehGalak, meu chen and hikmah: ‘love of wisdom’ in Acehnese speech Jika filsafat berarti cinta kebijaksanaan, bahasa Aceh menyediakan padanannya: cinta disebut galak, sedangkan kebijaksanaan disebut hikmah. Orang Aceh meyakini bahwa segala kejadian di dunia mengandung hikmah (mandum na hikmah). Galak…If philosophy means love of wisdom, the Acehnese language offers its own counterparts: love is galak, and wisdom is hikmah. Acehnese people hold that every event in the world contains… KonsepConcept Haba carong, haba bangai, dan haba cet langetHaba carong, haba bangai and haba cet langet Dalam bahasa Aceh, haba berarti kabar, pembicaraan, atau wacana. Tutur sehari-hari membedakan haba carong (wacana yang berisi, dari orang berilmu), haba bangai (omongan ‘bodoh’ yang tak berisi), dan haba cet…In Acehnese, haba means news, talk or discourse. Everyday speech distinguishes haba carong (substantive talk from the learned), haba bangai (‘foolish’, empty talk) and haba cet langet (sky-high dreams that… KonsepConcept Minda dan fikir: bahasa sebagai cermin cara pandangMinda and fikir: language as a mirror of worldview Kata minda, yang lazim di Malaysia, berasal dari bahasa Inggris mind, sedangkan pikiran berakar pada kata Arab fikr. Pilihan istilah Inggris untuk menggambarkan cara pandang Melayu ditafsirkan sebagai tanda kedekatan…The word minda, common in Malaysia, derives from English mind, whereas pikiran (thought) is rooted in Arabic fikr. The choice of an English term to describe the Malay outlook is… KonsepConcept Seumike: cara berpikir orang AcehSeumike: the Acehnese way of thinking Seumike (atau pike) adalah istilah Aceh untuk berpikir, berakar dari kata Arab f-k-r; ungkapan cara seumike merujuk pada cara memperoleh dan menimbang pengetahuan. Kajian tentang seumike membaca falsafah ke-Aceh-an melalui…Seumike (or pike) is the Acehnese term for thinking, rooted in the Arabic f-k-r; the phrase cara seumike refers to how knowledge is acquired and weighed. The study of seumike… KonsepConcept Spirit ke-Aceh-an: poros istana dan poros ulamaThe Acehnese spirit: the palace axis and the ulama axis Spirit ke-Aceh-an dipahami sebagai daya batin yang menyinergikan nilai perjuangan dan kebudayaan, bertumpu pada dua poros: istana (sultan) dan ulama (dayah). Spirit ini terlihat ketika Hikayat Prang Sabi membakar perlawanan…The Acehnese spirit is understood as an inner force that fuses the values of struggle and culture, resting on two axes: the palace (sultan) and the ulama (dayah). It was… KonsepConcept Tamsil rimbunan bambu: wujud frikatifisasi ilmuThe bamboo grove: an image of knowledge fricativization Rimbunan bambu dipilih sebagai tamsil utama paradigma frikatifisasi ilmu. Bambu berbunyi ketika angin berhembus, tetapi tidak goyah atau tumbang karena akarnya kuat; ia saling melindungi, menumbuhkan rebung yang tak jauh…The bamboo grove is the paradigm's central image. Bamboo sounds when the wind blows yet does not sway or fall because its roots are strong; the stems shelter one another,… KonsepConcept Turi droe: mengenal diri sebagai syarat kebudayaanTuri droe: self-knowledge as the precondition of culture Turi droe (kenali diri) dipandang sebagai prasyarat bagi orang Aceh untuk menjadi pencipta kebudayaan. Kerangkanya bertumpu pada tiga konsep: ‘saya’ (lon), keberadaan (na), dan tindakan. Pengenalan diri dikaitkan dengan pendalaman…Turi droe ('know yourself') is regarded as the precondition for Acehnese people to become creators of culture. The framework rests on three concepts: the 'I' (lon), being (na) and action.…

3.4 Watak & kritik diri manusia AcehAcehnese character & self-critique

Telaah reflektif atas watak, etika, dan identitas orang Aceh, termasuk kritik diri terhadap kelemahan dan perasaan istimewa yang menyertainya.Reflective study of Acehnese character, ethics and identity, including self-critique of its weaknesses and of the sense of exceptionalism that accompanies it.

KonsepConcept Bangai: kebodohan dan etos menuntut ilmuBangai: ignorance and the ethos of learning Bangai adalah kata Aceh untuk ‘bodoh’, lazim dalam canda tetapi peka bila diarahkan kepada kaum. Ketakutan anak menjadi aneuk bangai mendorong orang tua mengirim anak mengaji, bersekolah, dan meudagang ke…Bangai is the Acehnese word for 'stupid', common in banter but sensitive when aimed at a whole kin group. Fear of a child becoming an aneuk bangai drives parents to… KonsepConcept Bangsa teuleubeh dan absennya Aceh dalam falsafah keindonesiaanBangsa teuleubeh and Aceh's absence from the philosophy of Indonesian nationhood Identitas menjadi salah satu kunci memahami Filsafat Aceh. Orang Aceh kerap memandang diri sebagai bangsa teuleubeh, bangsa yang istimewa, tetapi rasa superior itu terikat pada posisi inferior dalam identitas keindonesiaan.…Identity is one of the keys to understanding Acehnese philosophy. Acehnese people often see themselves as a bangsa teuleubeh, an exceptional people, yet that sense of superiority is bound up… KonsepConcept Cet langet: ‘mengecat langit’Cet langet: ‘painting the sky’ Cet langet, harfiah ‘mengecat langit’, adalah ungkapan Aceh untuk berangan-angan tentang hal yang tampaknya mustahil. Dalam karakterologi reflektif ini, ia dibaca secara ambivalen: angan-angan kosong sekaligus sumber ideologi, semangat, dan…Cet langet, literally ‘painting the sky’, is an Acehnese expression for dreaming of things that seem impossible. In this reflective characterology it is read ambivalently: idle fantasy, yet also a… KonsepConcept Dari berkenalan ke menguasai: genealogi penaklukanFrom encounter to domination: a genealogy of conquest Renungan filosofis yang menjadi pembuka karakterologi reflektif tentang manusia Aceh. Ia menelusuri bagaimana keinginan manusia untuk mengenal negeri lain berubah menjadi keinginan menguasai, yang dalam bahasa modern disebut kolonialisme. Dari…A philosophical meditation that opens a reflective characterology of the Acehnese. It traces how the human wish to know other lands turned into a wish to rule them, which modern… TradisiTradition Duek sidroe: menyendiri, mengenal diri, dan menjaga negeriDuek sidroe: solitude, self-knowledge and guarding the land Dalam karakterologi reflektif tentang manusia Aceh, ‘suka menyendiri’ ditempatkan sebagai salah satu sifat positif. Tradisi duek sidroe (duduk sendiri) dipahami sebagai upaya mengenal diri dan menghubungkan jiwa dengan alam semesta…In a reflective characterology of the Acehnese, the ‘love of solitude’ is counted among the positive traits. The practice of duek sidroe (sitting alone) is understood as a way of… KonsepConcept Etika Aceh dan nilai spiritualAcehnese ethics and spiritual values Mengikuti T’ang Chun-I, nilai spiritual adalah nilai yang diciptakan oleh spirit, dihadirkan bagi spirit, dan disadari sebagai milik spirit itu sendiri. Dari kerangka ini, Filsafat Aceh diarahkan untuk menggali spirit…Following T’ang Chun-I, a spiritual value is one created by the spirit, presented to the spirit, and recognised as belonging to the spirit itself. From this framework, Acehnese philosophy is… KonsepConcept Etos kerja, ‘tidak mau miskin’, dan ingatan kemakmuranWork ethic, ‘refusing poverty’ and the memory of prosperity Etos kerja keras dan tekad untuk tidak hidup miskin dibaca sebagai kekuatan yang belum terarah. Teks ini mengamati bahwa orang Aceh cenderung berhasil, terutama sebagai pedagang, ketika bersaing di luar…A hard-working ethos and a resolve not to live in poverty are read as strengths not yet well directed. The text observes that Acehnese tend to succeed, especially as traders,… KonsepConcept Etos perang dan makna damai yang berlapisThe war ethos and the many meanings of peace Dua sifat yang dalam esai reflektif ini disebut ‘positif’ tetapi sekaligus rawan: keberanian berperang dan kesediaan berdamai. Keberanian ditelusuri pada ingatan panjang perlawanan, rasa sebagai keturunan yang tak pernah diperbudak,…Two traits that this reflective essay calls ‘positive’ yet vulnerable: readiness for war and willingness to make peace. Courage is traced to a long memory of resistance, a self-image as… KonsepConcept Haus harta-kehormatan, fitnah, dan adu domba: tiga ‘penyakit’ sosialHunger for wealth and honour, slander and divide-and-rule: three social ‘ailments’ Diagnosis moral tentang tiga gejala yang dianggap merusak kehidupan bersama di Aceh kontemporer. Pertama, status sosial yang diukur oleh kekayaan materi maupun spiritual, yang mudah berubah menjadi haus harta dan…A moral diagnosis of three symptoms seen as corroding communal life in contemporary Aceh. First, social status measured by material or spiritual wealth, which easily turns into greed and a… KonsepConcept Keramaian, warung kopi, dan rumah sebagai panggung statusCrowds, the coffee shop and the house as a stage of status Dua kecenderungan yang tampak bertolak belakang dibaca berdampingan: kegemaran pada keramaian dan kegemaran berdiam di rumah. Keramaian tampak pada hari pekan mingguan, arak-arakan pengantin, kenduri kematian, upacara sawah dan laut,…Two seemingly opposite tendencies are read side by side: a love of crowds and a love of staying home. Crowds appear in the weekly market day, wedding processions, funeral feasts,… KonsepConcept Masa depan manusia Aceh: dari diagnosis ke arah perbaikanThe future of the Acehnese: from diagnosis to repair Karakterologi reflektif tentang manusia Aceh merencanakan bagian ‘Masa Depan Aceh’ dan kesimpulan, tetapi keduanya tidak berisi uraian. Meski begitu, esai ini menyatakan sejak awal bahwa tujuannya adalah ‘mengawali sejarah manusia…The reflective characterology of the Acehnese plans a section on ‘The Future of Aceh’ and a conclusion, but both are left without content. Even so, the essay states from the… KonsepConcept Memahami manusia Aceh: karakterologi reflektif dari dalamUnderstanding the Acehnese: a reflective characterology from within Renungan dari sudut pandang orang dalam yang berusaha membaca watak manusia Aceh, disusun sebagai satire moral dan bukan sebagai temuan empiris. Kerangkanya sengaja dibalik: watak manusia Aceh ditelaah seolah-olah sebagai…An insider’s meditation on the character of the Acehnese, written as moral satire rather than empirical finding. Its frame is deliberately inverted: Acehnese character is examined as if it were… KonsepConcept Muge, meukat ubat, dan ‘tipu Aceh’: etos usaha dan penyimpangannyaMuge, meukat ubat and ‘Aceh trickery’: the work ethic and its distortions Dua sosok ekonomi rakyat Aceh dipakai untuk membaca watak kolektif: muge eungkot, penjaja ikan yang berangkat subuh dari tempat pelelangan ke kampung-kampung, dan tukang meukat ubat, penjual obat keliling yang…Two figures of Acehnese popular economy are used to read collective character: the muge eungkot, the fish hawker who leaves the auction at dawn for the villages, and the meukat… TradisiTradition Setia kawan, keterbukaan, dan pemuliaan tamuLoyal friendship, openness and honouring guests Dalam karakterologi reflektif ini, kesetiakawanan dan keramahan terhadap tamu ditempatkan sebagai kekuatan utama orang Aceh. Persahabatan dibayangkan sebagai ikatan yang hanya dapat diputus oleh pengkhianatan, sedangkan tamu dijamu seperti raja…In this reflective characterology, loyalty in friendship and hospitality toward guests are placed among the chief strengths of the Acehnese. Friendship is imagined as a bond that only betrayal can… KonsepConcept Tahap-tahap kehancuran: kepungan luar dan perang ideStages of decline: external encirclement and the war of ideas Bagian dari karakterologi reflektif tentang manusia Aceh yang bertanya bagaimana bumi dan manusia Aceh ‘dihancurkan’. Tesisnya, kehancuran itu telah berlangsung lama, seiring kepungan dari luar dan berubahnya struktur kehidupan. Tahap…A section of the reflective characterology of the Acehnese that asks how the land and people of Aceh are ‘destroyed’. Its thesis is that the decline began long ago, alongside… KonsepConcept Teungeutlogi, ngeutlogi, peungeutlogi: trilogi melenakan, membodohi, dan menipuTeungeutlogi, ngeutlogi, peungeutlogi: the trilogy of lulling, fooling and deceiving Tiga istilah bentukan dari kata Aceh teungeut (tidur), ngeut (bodoh), dan peungeut (tipu) yang dipakai sebagai kerangka untuk membaca bagaimana sebuah masyarakat dilemahkan. Teungeutlogi menunjuk pada seni meninabobokan, ngeutlogi pada…Three coined terms built from the Acehnese words teungeut (sleep), ngeut (foolish) and peungeut (deceit), used as a frame for reading how a society is weakened. Teungeutlogi denotes the art… KonsepConcept Tiga perekat orang Aceh dan jalan keluar dari memori kekerasanThree bonds of the Acehnese and a way out of the memory of violence Secara sosiologis, kehidupan rakyat Aceh nyaris selalu berada dalam konflik dan kekerasan, sehingga bagi sebagian kelompok kekerasan menjadi watak dan budaya tasamuh sulit tumbuh. Jalan keluarnya adalah reformulasi identitas ke-Aceh-an…Sociologically, Acehnese life has almost always been marked by conflict and violence, so for some groups violence has become second nature and a culture of tolerance (tasamuh) struggles to grow.…