Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Minda dan fikir: bahasa sebagai cermin cara pandangMinda and fikir: language as a mirror of worldview

Kata minda, yang lazim di Malaysia, berasal dari bahasa Inggris mind, sedangkan pikiran berakar pada kata Arab fikr. Pilihan istilah Inggris untuk menggambarkan cara pandang Melayu ditafsirkan sebagai tanda kedekatan Dunia Melayu modern dengan bekas penjajahnya. Di sisi lain, tradisi Melayu mengenal pemikir sebagai ‘urafa atau hukama’. Perbandingan ini juga menyoroti cara berpikir orang Aceh yang tersimpan dalam hadih maja.

The word minda, common in Malaysia, derives from English mind, whereas pikiran (thought) is rooted in Arabic fikr. The choice of an English term to describe the Malay outlook is interpreted as a sign of the modern Malay world's closeness to its former coloniser. Malay tradition, by contrast, knew its thinkers as ‘urafa or hukama’. The comparison also illuminates Acehnese ways of thinking preserved in hadih maja.

Dalam bahasa Melayu, kata pikir berasal dari bahasa Arab fakara, yafkiru, fikrān. Kamus Idrīs al-Marbawī mencatat turunannya seperti fikr atau afkār (pikiran, perasaan), fikkīr (banyak berpikir), dan tafakkur (pertimbangan). Akar ini juga hadir dalam al-Qur’an dan dalam istilah ahl al-fikr, serta dalam kata Indonesia dan Melayu pakar. Sebaliknya, minda adalah serapan baru dari mind, kata Inggris yang mencakup bagian diri yang berpikir, mengingat, dan merasa, sekaligus makna lain seperti ‘keberatan’ atau ‘menjaga’.

Perbedaan rasa bahasa ini signifikan. Bahasa Inggris tidak memiliki padanan tepat untuk ahli fikir selain a group of thinkers, dan dari kata think tidak pernah lahir kata Melayu, sehingga tidak ada ‘thinka Melayu’ tetapi ada ‘minda Melayu’. Bahwa cara pandang Melayu justru diistilahkan dengan kata Inggris, bukan Melayu atau Arab, ditafsirkan sebagai tanda bahwa Dunia Melayu modern lebih dekat dengan Inggris, bekas penjajah Semenanjung, daripada dengan dunia Arab–Persia.

Pergeseran ini dikaitkan dengan masyarakat Malaysia yang majemuk. Tiga suku bangsa dominan, Melayu, Cina, dan India, masing-masing memiliki paradigma hidup, dan bahasa Inggris menjadi perekat terselubung. Akibatnya, Bahasa Malaysia bercampur dengan unsur Inggris, Cina, dan India, dan keasliannya dinilai mulai pudar. Dalam tradisi Melayu lama sendiri, seorang pemikir dikenal sebagai ‘urafa atau hukama’.

Untuk Aceh, kunci cara berpikir terletak pada hadih maja, yang hanya dapat dibantah dengan hadih maja atau teks setingkat. Namun cara seumikĕ, cara berpikir, para endatu belum banyak dikaji, antara lain karena karya intelektual Aceh klasik ditulis dalam bahasa Melayu.

In Malay, the word pikir comes from Arabic fakara, yafkiru, fikran. The dictionary of Idris al-Marbawi lists derivatives such as fikr or afkar (thought, feeling), fikkir (much given to thinking) and tafakkur (consideration). The root also appears in the Qur'an and in the phrase ahl al-fikr, and survives in the Indonesian and Malay word pakar (expert). Minda, by contrast, is a recent borrowing from English mind, a word covering the part of the self that thinks, remembers and feels, as well as senses such as ‘to object’ or ‘to look after’.

The difference in linguistic feel is significant. English has no exact equivalent for ahli fikir beyond ‘a group of thinkers’, and the verb think never yielded a Malay word, so there is no ‘thinka Melayu’ but there is ‘minda Melayu’. That the Malay outlook is named with an English word rather than a Malay or Arabic one is read as a sign that the modern Malay world is closer to Britain, the Peninsula's former coloniser, than to the Arab–Persian world.

This shift is linked to Malaysia's plural society. The three dominant groups, Malay, Chinese and Indian, each have their own paradigms, and English serves as a tacit unifier. As a result, Bahasa Malaysia mixes English, Chinese and Indian elements, and its authenticity is said to be fading. In older Malay tradition, a thinker was known as one of the ‘urafa or hukama’.

For Aceh, the key to thinking lies in hadih maja, which can be countered only by another hadih maja or a text of equal standing. Yet the seumike, the way of thinking, of the endatu has scarcely been studied, partly because Aceh's classical intellectual works were written in Malay.

Gagasan kunciKey ideas

Dua akar kata berpikirTwo roots of ‘thinking’

Pikir berakar Arab, minda berakar Inggris.Pikir has Arabic roots; minda has English roots.

Bahasa dan orientasi peradabanLanguage and civilisational orientation

Pilihan istilah mencerminkan kedekatan Melayu modern dengan Inggris.Word choice reflects modern Malay closeness to Britain.

Seumikĕ endatuThe seumike of the ancestors

Cara berpikir leluhur Aceh masih menunggu kajian.The ancestral Acehnese way of thinking still awaits study.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah sebuah masyarakat yang meminjam kata untuk ‘pikiran’ dari bahasa lain juga meminjam cara berpikirnya?When a society borrows its word for ‘mind’ from another language, does it also borrow that language's way of thinking?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Minda dan fikir: bahasa sebagai cermin cara pandang”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/minda-dan-fikir/