Tiga perekat orang Aceh dan jalan keluar dari memori kekerasanThree bonds of the Acehnese and a way out of the memory of violence
Secara sosiologis, kehidupan rakyat Aceh nyaris selalu berada dalam konflik dan kekerasan, sehingga bagi sebagian kelompok kekerasan menjadi watak dan budaya tasamuh sulit tumbuh. Jalan keluarnya adalah reformulasi identitas ke-Aceh-an yang berbasis kosmologi Aceh: perekat orang Aceh adalah Islam, perekat sistem kosmologinya adalah adat, dan perekat ideologinya adalah Islam. Gagasan ‘satu Aceh satu identitas’ perlu dikedepankan, ditopang sinergi sistem religi, kebudayaan, dan pengetahuan.
Sociologically, Acehnese life has almost always been marked by conflict and violence, so for some groups violence has become second nature and a culture of tolerance (tasamuh) struggles to grow. The way out is to reformulate Acehnese identity on the basis of Acehnese cosmology: what binds the Acehnese is Islam, what binds their cosmological system is adat, and what binds their ideology is Islam. The idea of ‘one Aceh, one identity’ should be advanced, supported by the synergy of religion, culture and knowledge.
Beberapa fenomena kekerasan komunal kini terjadi di antara orang Aceh karena perbedaan memahami Islam. Gejala ini memperlihatkan bahwa masyarakat tidak lagi hidup dengan satu pemahaman inti, tetapi juga belum siap berbeda pendapat, terlebih terhadap pandangan yang tidak seragam dengan mayoritas. Membangun tasamuh di antara sesama orang Aceh memerlukan waktu panjang karena kekerasan telah begitu mendarah daging.
Tradisi belajar ‘menjadi orang Aceh’ tidak pernah diajarkan di bangku sekolah, dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Untuk membangun memori kolektif tentang satu kesatuan budaya, pembelajaran jati diri ke-Aceh-an menjadi mutlak. Bangsa-bangsa besar pun pernah mengalami kekerasan, baik melawan musuh maupun perang saudara; untuk bangkit, para pemikirnya memilah peristiwa mana yang memberi spirit kemajuan dan mana yang cukup dikenang. Pemilahan ini dilakukan bersama oleh masyarakat dan pemerintah.
Tiga sistem perlu berjalan seiring. Sistem religi berkontribusi menyemai ideologi nirkekerasan; sistem kebudayaan membentuk cara berpikir masyarakat; sistem pengetahuan melahirkan otak terbaik dan paling kreatif. Kekerasan mungkin tetap terjadi, tetapi bila ketiga sistem ini terpadu, lambat laun ia akan surut, dan bentuk baru manusia Aceh dapat lahir. Gagasan ini menempatkan penyelesaian kekerasan bukan pada aparat semata, melainkan pada pendidikan identitas dan ingatan kolektif.
Several instances of communal violence now occur among Acehnese over differing understandings of Islam. This shows that society no longer lives with a single core understanding, yet is not prepared for disagreement, especially toward views that differ from the majority. Building tolerance among Acehnese will take a long time because violence has become so deeply ingrained.
Learning ‘to be Acehnese’ has never been taught in school, from kindergarten to university. To build a collective memory of one cultural entity, education in Acehnese identity is essential. Great nations have also known violence, against enemies and in civil war; to rise again, their thinkers sorted which events provide a spirit of progress and which should simply be remembered. This sorting is done collectively by society and government.
Three systems need to work together. The religious system contributes by sowing a non-violent ideology; the cultural system shapes how society thinks; the knowledge system produces the best and most creative minds. Violence may still occur, but if the three systems are integrated it will gradually recede and a new form of Acehnese personhood can emerge. The idea locates the remedy for violence not in the security apparatus alone but in education about identity and collective memory.
Gagasan kunciKey ideas
Tiga perekatThree bonds
Islam sebagai perekat orang dan ideologi, adat sebagai perekat kosmologi.Islam binds people and ideology; adat binds cosmology.
Memilah ingatanSorting memory
Bangkit dari kekerasan menuntut pemilahan kolektif antara peristiwa pemberi spirit dan peristiwa yang cukup dikenang.Rising from violence requires collectively sorting inspiring events from those merely to be remembered.
Tiga sistem terpaduThree integrated systems
Religi, kebudayaan, dan pengetahuan bersama-sama melahirkan manusia Aceh baru.Religion, culture and knowledge together shape a new Acehnese person.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Peristiwa sejarah mana yang layak dijadikan spirit kemajuan Aceh, dan mana yang cukup dikenang agar tidak terus mewariskan kekerasan?Which historical events should inspire Aceh's progress, and which should simply be remembered so they no longer pass on violence?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Tiga perekat orang Aceh dan jalan keluar dari memori kekerasan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/watak-kekerasan-dan-tiga-perekat-orang-aceh/