Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Haus harta-kehormatan, fitnah, dan adu domba: tiga ‘penyakit’ sosialHunger for wealth and honour, slander and divide-and-rule: three social ‘ailments’

Diagnosis moral tentang tiga gejala yang dianggap merusak kehidupan bersama di Aceh kontemporer. Pertama, status sosial yang diukur oleh kekayaan materi maupun spiritual, yang mudah berubah menjadi haus harta dan gila hormat. Kedua, fitnah, yang digambarkan sebagai ‘makanan sehari-hari’ dan batu loncatan menuju kekuasaan. Ketiga, adu domba, yang lahir dari fitnah dan dikawal kekerasan. Teks yang sama menegaskan bahwa gejala ini juga ditemukan pada masyarakat lain, sehingga Aceh diperlakukan sebagai kasus, bukan perkecualian.

A moral diagnosis of three symptoms seen as corroding communal life in contemporary Aceh. First, social status measured by material or spiritual wealth, which easily turns into greed and a craving for honour. Second, slander (fitnah), portrayed as ‘daily food’ and a stepping-stone to power. Third, divide-and-rule (adu domba), born of slander and escorted by violence. The same text stresses that these symptoms occur in other societies too, so Aceh is treated as a case rather than an exception.

Diagnosis ini dimulai dari pengamatan bahwa masyarakat terbagi antara yang kaya dan yang sangat miskin, baik secara materi maupun spiritual, dan bahwa status sosial naik bersama kekayaan itu. Orang kaya materi dihormati karena hartanya, sekalipun cara memperolehnya masih perlu ditelaah; orang kaya spiritual dihormati dan disayangi karena karisma dan otoritasnya. Kedua jalur itu dapat menjauhkan orang dari tujuan hidup yang sebenarnya, yakni tenang, senang, dan bahagia. Pemilik harta sibuk menambah harta dan haus kemewahan, sedangkan pemilik karisma dapat jatuh menjadi gila hormat dan siang malam mengejar pengakuan. Teks ini menyebut keduanya ‘manusia sakit’.

Fitnah ditempatkan sebagai poros kedua. Dengan metafora makanan dan gula, fitnah digambarkan lezat, mengenyangkan pikiran dan emosi, sulit dimuntahkan, dan manis sesaat; setelah larut, yang tertinggal hanya bekas dan akibatnya. Pelakunya digambarkan merapatkan barisan dengan iblis, setan, dan jin. Fitnah juga dipandang sebagai sumbu pertama untuk naik menuju kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan; dalam daftar sifat negatif, fitnah disebut kebiasaan turun-temurun yang juga dijumpai pada manusia lain.

Adu domba adalah keluaran fitnah. Sejarah manusia digambarkan sebagai sejarah saling sikut yang diatur pihak lain. Ketidakberdayaan seseorang dalam soal harta, kuasa, dan kehormatan dijadikan peluru untuk menembus tubuh, akal, emosi, dan hati orang lain, dengan kekerasan dan ketidaktegaan sebagai pengawalnya. Teks ini menyatakan bahwa ketiga poros tersebut menjadi isu pokok untuk menurunkan ‘rumus’ pelemahan, sambil mengamati perilaku serupa di belahan bumi lain. Dibaca secara normatif, ketiganya adalah daftar penyakit yang perlu disembuhkan oleh masyarakat itu sendiri, dan warung kopi disebut sebagai salah satu ruang tempat isu beredar.

The diagnosis begins with the observation that society is split between the rich and the very poor, materially and spiritually, and that social status rises with such wealth. The materially rich are honoured for their property, even if how it was acquired deserves scrutiny; the spiritually rich are honoured and loved for their charisma and authority. Both paths can pull people away from life’s true aims—calm, contentment and happiness. Owners of wealth become absorbed in accumulating more and crave luxury, while holders of charisma may slide into craving honour and chasing recognition day and night. The text calls both ‘sick humans’.

Slander is the second axis. Through metaphors of food and sugar, fitnah is depicted as tasty, filling to mind and emotion, hard to vomit back, and briefly sweet; once dissolved, only its residue and consequences remain. Slanderers are pictured as closing ranks with Iblis, devils and jinn. Slander is also seen as the first fuse for rising toward wealth, power and honour; in the list of negative traits it is called an inherited habit that is likewise found among other peoples.

Divide-and-rule is the output of slander. Human history is pictured as a history of jostling orchestrated by others. A person’s helplessness in wealth, power and honour is turned into bullets that pierce others’ bodies, minds, emotions and hearts, escorted by violence and callousness. The text declares these three axes the core issues from which ‘formulas’ of weakening are derived, while watching similar behaviour elsewhere in the world. Read normatively, they are a list of ailments the society itself must heal, and the coffee shop is named as one space where rumours circulate.

Gagasan kunciKey ideas

Status yang menyakitkanStatus as sickness

Kekayaan materi dan karisma spiritual sama-sama dapat berubah menjadi candu pengakuan.Material wealth and spiritual charisma can both turn into an addiction to recognition.

Fitnah sebagai tangga kekuasaanSlander as a ladder to power

Fitnah dibaca sebagai mekanisme mobilitas sosial yang merusak.Slander is read as a destructive mechanism of social mobility.

Adu domba dan kekerasanDivide-and-rule and violence

Kelemahan orang lain dijadikan senjata, dan kekerasan menjadi pengawalnya.Others’ weaknesses become weapons, with violence as their escort.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Lembaga adat atau agama apa yang paling mampu menahan fitnah dan adu domba di tingkat gampong?Which customary or religious institutions are best placed to contain slander and divide-and-rule at village level?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Haus harta-kehormatan, fitnah, dan adu domba: tiga ‘penyakit’ sosial”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/tiga-penyakit-sosial-harta-fitnah-adu-domba/