Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Konstruksi doktrinal: adat, keluarga, identitas, nilai, dan budayaDoctrinal construction: custom, family, identity, value and culture

Dalam peta studi Islam, sistem pengetahuan dalam pikiran manusia memuat konstruksi doktrinal yang mewujud dalam lima ranah: adat, keluarga, identitas, nilai, dan budaya. Di Aceh, kelimanya dirakit dari perpaduan Islam dan adat yang dirumuskan dalam ungkapan bahwa hukum dan adat seperti zat dengan sifat. Konstruksi ini menjelaskan mengapa menjadi Aceh dan menjadi Muslim dipahami sebagai satu hal, sekaligus mengapa perubahan di satu ranah, misalnya keluarga, cepat merambat ke ranah lain. Studi Aceh membaca kelimanya sebagai titik masuk untuk memahami dan mengubah cara pandang masyarakat.

In the map of Islamic studies, the knowledge system in the human mind contains a doctrinal construction expressed in five domains: customs, family, identity, values and cultures. In Aceh all five are assembled from the fusion of Islam and adat, captured in the saying that law and custom are like essence and attribute. This construction explains why becoming Acehnese and becoming Muslim are understood as one, and why change in one domain, such as the family, quickly spreads to others. Aceh studies reads the five as entry points for understanding and changing society's outlook.

Konstruksi doktrinal adalah proses merakit keyakinan dan ajaran menjadi pedoman hidup bersama. Ia berbeda dari doktrin dalam arti sempit karena tidak hanya berisi rumusan akidah atau hukum, tetapi juga cara rumusan itu diterjemahkan ke dalam kebiasaan, hubungan kekerabatan, rasa kebersamaan, ukuran baik-buruk, dan ekspresi budaya. Peta menempatkan konstruksi doktrinal di antara konsep dan analisis filosofis: ia lebih konkret daripada konsep, tetapi belum direfleksikan secara kritis.

Di Aceh, poros konstruksi doktrinal adalah hubungan agama dan adat. Hadih maja yang terkenal menyatakan bahwa hukum dan adat seperti zat dengan sifat, tidak dapat dipisahkan. Rumusan adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala, qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana membagi otoritas tanpa memisahkan sumbernya. Trilogi keislaman Syafi'i, Asy'ari, dan al-Ghazali menjadi tulang punggung doktrinnya. Teori kolonial yang memisahkan adat dari hukum Islam karenanya dibaca sebagai upaya membongkar konstruksi ini.

Adat Aceh mewujud dalam lembaga dan aturan: tuha peut di gampong, panglima laot di laut, keujruen blang di sawah, serta reusam yang diwariskan endatu. Keluarga Aceh terikat dalam jaringan wareh dan kawom, dengan pola menetap matrilokal di rumoh Aceh dan tradisi peunulang, harta yang diberikan kepada anak perempuan saat berumah tangga. Kedua ranah ini memperlihatkan bagaimana doktrin agama dan adat saling mengisi dalam pengaturan ruang, harta, dan hubungan gender.

Identitas ke-Aceh-an menyatukan keislaman dan keacehan, tercermin dalam julukan Serambi Mekkah dan dalam ungkapan bahwa menjadi Aceh berarti menjadi Muslim. Namun identitas ini berlapis dan diperebutkan: Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Singkil, dan diaspora Aceh memberi warna berbeda, dan perdebatan tentang Aceh dan Melayu belum selesai. Nilai Aceh dirumuskan dalam hadih maja, pertimbangan 'hana roh, hana get, han jeut', serta falsafah ingat, seimbang, dan syukur. Budaya Aceh, dari seudati dan saman hingga kenduri dan arsitektur rumoh Aceh, bertumpu pada Islam sebagai basis reproduksinya.

Karena kelima ranah ini saling terkait, perubahan di salah satunya merambat ke yang lain. Peta persoalan keluarga Aceh kontemporer, dari nikah siri dan perceraian hingga narkoba dan gawai, menunjukkan bahwa krisis keluarga segera menjadi krisis nilai dan identitas. Sebaliknya, kritik terhadap pembangunan budaya yang berhenti pada festival menunjukkan bahwa budaya yang tidak lagi menjadi sistem berpikir akan melemahkan nilai. Peta studi Islam menghubungkan konstruksi doktrinal secara langsung dengan konstruksi mental dalam struktur kehidupan; artinya, mengubah cara pandang masyarakat menuntut perhatian pada kelima ranah ini secara bersamaan.

Doctrinal construction is the process of assembling beliefs and teachings into a shared guide for life. It differs from doctrine in the narrow sense because it contains not only formulations of creed or law but also how they are translated into habits, kin relations, a sense of belonging, measures of good and bad, and cultural expression. The map places doctrinal construction between concepts and philosophical analysis: more concrete than concepts but not yet critically reflected upon.

In Aceh the axis of doctrinal construction is the relation between religion and adat. A famous hadih maja holds that law and custom are like essence and attribute, inseparable. The formula that adat belongs to Po Teumeureuhom, law to Syiah Kuala, qanun to Putroe Phang and reusam to the Laksamana divides authority without separating its source. The Islamic trilogy of Shafi'i, Ash'ari and al-Ghazali is the backbone of its doctrine. The colonial theory separating adat from Islamic law is therefore read as an attempt to dismantle this construction.

Acehnese custom takes shape in institutions and rules: the tuha peut in the village, the panglima laot at sea, the keujruen blang in the rice fields, and the reusam handed down by the ancestors. The Acehnese family is bound in networks of wareh and kawom, with matrilocal residence in the rumoh Aceh and the peunulang tradition of property given to daughters when they marry. These two domains show how religious doctrine and adat complement each other in ordering space, property and gender relations.

Acehnese identity fuses Islam and Acehneseness, reflected in the epithet Serambi Mekkah and in the saying that to be Acehnese is to be Muslim. Yet it is layered and contested: the Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Singkil and the Acehnese diaspora lend it different hues, and the debate on Aceh and Malayness is unresolved. Acehnese values are set out in hadih maja, the judgement 'hana roh, hana get, han jeut' and the philosophy of remembrance, balance and gratitude. Acehnese culture, from seudati and saman to feasts and rumoh Aceh architecture, rests on Islam as its basis of reproduction.

Because the five domains are linked, change in one spreads to the others. The map of contemporary family problems in Aceh, from unregistered marriage and divorce to drugs and smartphones, shows that a family crisis quickly becomes a crisis of values and identity. Conversely, the critique of cultural development that stops at festivals shows that culture which is no longer a system of thought weakens values. The map of Islamic studies links doctrinal construction directly to mental construction in the life structure; changing society's outlook therefore requires attention to all five domains at once.

Gagasan kunciKey ideas

Lima ranahFive domains

Adat, keluarga, identitas, nilai, dan budaya adalah wujud konstruksi doktrinal.Custom, family, identity, value and culture are the forms of doctrinal construction.

Zat dan sifatEssence and attribute

Agama dan adat di Aceh dipahami tidak terpisahkan.Religion and adat in Aceh are understood as inseparable.

Perubahan merambatChange spreads

Krisis di satu ranah cepat menjadi krisis di ranah lain.A crisis in one domain quickly becomes a crisis in others.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Jika keluarga adalah tempat pertama worldview ditanamkan, apa akibat krisis keluarga Aceh bagi identitas dan nilai generasi berikutnya?If the family is where a worldview is first planted, what does the crisis of the Acehnese family mean for the identity and values of the next generation?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Konstruksi doktrinal: adat, keluarga, identitas, nilai, dan budaya”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/konstruksi-doktrinal-adat-keluarga-identitas-nilai-budaya/