Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Alijullah Hasan Jusuf

Perantau Aceh asal Sigli, Pidie, yang menembus Eropa dengan boarding pass bekas pada 1967, bekerja puluhan tahun di KBRI Paris, dan dikenal sebagai "Lurah Paris"; penulis memoar Penumpang Gelap (2015).

Acehnese émigré from Sigli, Pidie, who reached Europe on a discarded boarding pass in 1967, worked for decades at the Indonesian Embassy in Paris, known as the "Lurah Paris"; author of the memoir Penumpang Gelap (2015).

<p>Alijullah Hasan Jusuf adalah perantau Aceh asal Blang Paseh, Sigli, Kabupaten Pidie, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Paris dan dikenal di kalangan warga Indonesia di Prancis dengan julukan "Lurah Paris". Ia lahir sekitar tahun 1950–1951. Sejak remaja ia meninggalkan kampung, menempuh jalan darat dan laut hingga Jakarta, dan pada April 1967 hidup sendirian di ibu kota sebagai penjual koran, ikut dalam demonstrasi pelajar, bahkan sempat tidur di dalam peti rokok. Suara pesawat dari Bandar Udara Kemayoran setiap malam menumbuhkan mimpinya untuk pergi ke luar negeri.</p> <p>Tanpa uang dan tanpa dokumen perjalanan yang lazim, ia naik pesawat ke Eropa dengan bermodal boarding pass bekas dan sampai ke Belanda pada 1967, tetapi dipulangkan ke Jakarta. Sekitar setahun kemudian ia kembali mencoba dengan cara serupa dan berhasil tiba di Paris. Di sana ia melanjutkan pendidikan dan bekerja selama puluhan tahun sebagai staf lokal di Kedutaan Besar Republik Indonesia, hingga pensiun pada Maret 2013. Kebiasaannya membantu berbagai urusan warga dan tamu Indonesia di Paris melahirkan julukan "Lurah Paris".</p> <p>Kisah hidupnya ia tuliskan sejak 1974 dan baru terbit empat dekade kemudian sebagai seri memoar: <em>Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang</em> (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015; 312 hlm.; ISBN 978-979-709-978-7), disusul <em>Paris Je Reviendrai: Aku Kan Kembali</em> dan <em>Lurah Paris: 43 Tahun Berkelana di Paris</em>. Dalam kajian Aceh, riwayatnya merupakan contoh penting tradisi merantau orang Aceh dan diaspora Aceh di Eropa, sekaligus kesaksian tentang Jakarta akhir 1960-an dan diplomasi Indonesia di Prancis. Eksemplar bukunya tersimpan di <a href="https://pustaka.kba13academy.com/s/arsip/item/1773">Arsip dan Pustaka KBA13 Academy</a>.</p>

<p>Alijullah Hasan Jusuf is an Acehnese émigré from Blang Paseh, Sigli (Pidie), known among Indonesians in France as the "Lurah Paris" (village head of Paris). Born around 1950–1951, he left home as a teenager and by April 1967 was living alone in Jakarta, selling newspapers. Without money or regular travel documents, he flew to Europe on a discarded boarding pass, reached the Netherlands in 1967 and was sent back, then about a year later made it to Paris. There he studied and worked for decades as local staff at the Indonesian Embassy until retiring in March 2013. His memoir series begins with <em>Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang</em> (Penerbit Buku Kompas, 2015), a key testimony of Acehnese migration (merantau) and the Acehnese diaspora in Europe.</p>

Kutip entri ini:Cite this entry: “Alijullah Hasan Jusuf”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/alijullah-hasan-jusuf/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →