Balai Furdah dan tata kelola pelabuhan Bandar Aceh DarussalamThe Balai Furdah and port administration of Bandar Aceh Darussalam
Bagian keempat Mābaina al-Salāṭīn, Dastur Adat Hasil Negeri dan Segala Kapal Niaga, merekam lembaga pabean Kesultanan Aceh yang berpusat di Balai Furdah. Teks ini memuat dekret yang mewajibkan semua kapal berdagang hanya di Bandar Aceh, susunan pejabat pelabuhan, prosedur kedatangan dan keberangkatan kapal, penerimaan utusan, serta aturan harta nakhoda yang wafat.
The fourth part of the Mābaina al-Salāṭīn, the Dastur Adat Hasil Negeri dan Segala Kapal Niaga, records the customs institution of the Aceh Sultanate centred on the Balai Furdah. It contains the decree requiring all ships to trade only at Bandar Aceh, the roster of port officials, procedures for the arrival and departure of ships, the reception of envoys, and rules on the estates of ship captains who died in port.
Bagian keempat Mābaina al-Salāṭīn, yang dalam penomoran naskah membentang dari pasal 116a sampai 176b, dibuka dengan dekret bertarikh 14 Rabiulawal 1045 H. Sultan Iskandar Muda menetapkan bahwa kapal Inggris, Prancis, Belanda, Portugis, Denmark, Keling, Arab, Benggala, Pegu dan kapal lain, termasuk sulub dan kundra, tidak boleh berniaga di negeri lain kecuali di Bandar Aceh Darussalam; pelanggarnya akan teukeuse dan didenda. Dekret ini merumuskan kebijakan bandar tunggal yang menjadi tulang punggung kemakmuran Aceh di Selat Melaka. Dekret lain, bertarikh 1050 H, mengatur hasil negeri Pase dan Samalanga: Bentara Blang Mangat, misalnya, menyerahkan empat ratus emas dan empat ratus kempit beras setiap tahun, sedangkan hulubalang Samalanga membayar dalam gunca padi. Tarikh 1050 H ini lebih muda daripada tahun wafat Iskandar Muda menurut salasilah dalam kitab yang sama, sehingga nama sultan di sini tampaknya dipakai sebagai sumber legitimasi adat.
Balai Furdah adalah pusat pabean dan perbendaharaan pelabuhan. Ketuanya ialah Orang Kaya Seri Maharaja Lela, panglima bandar, didampingi penghulu kawal dan Penghulu Kerukun Raja Sati Muda. Ada empat syahbandar dengan bidang masing-masing: Syahbandar Muktabar Khan, yang menurut teks berasal dari "anak-anakan Gujarat" bernama Nakhoda Muktabar Khan dan diangkat pada masa Sultanah Safiatuddin dengan jabatan yang digabung dengan penghulu kawal; Syahbandar Saiful Muluk yang membawahi dacing; Syahbandar Seri Rama Sati yang membawahi jung; dan Syahbandar Mu'izzul Muluk yang membawahi perdagangan kuda. Di bawah mereka bekerja Seri Perba Khan, empat belas nazir dan dalal, enam kerukun furdah, tujuh bujang furdah, wakil furdah, penghulu kunci, penghulu dacing, penghulu furdah, dua bendahari, para tandil, penghulu kelasi bergelar Sab Khan, keujruen kuala di kedua tepi sungai, sagi bandar dan sagi kawal. Empat puluh tiga orang di antaranya berhak atas pembagian ka'idah.
Dastur pelabuhan ini juga memuat riwayat penyusunannya sendiri, sesuatu yang jarang dimiliki naskah perundangan Melayu. Pada hari Senin, 6 Rabiulawal 1120 H, Sultan Jamalul Alam Badrul Munir bertitah kepada Orang Kaya Seri Maharaja Lela, panglima bandar, dan Penghulu Kerukun Raja Sati Muda agar seluruh catatan 'usyur dan adat hasil bandar yang tertera dalam daftar Balai Furdah, berikut majelis raja-raja dan hulubalang yang tersurat dalam tarakata balai besar, disalin ulang. Penyalinnya ialah Orang Kaya Maharaja Lela Melayu, yang mengambil bahan dari tarakata balai besar dan dari daftar para kerukun sejak zaman Iskandar Muda hingga zaman Jamalul Alam. Teks lalu mencatat bahwa penyalin itu sendiri kemudian naik takhta sebagai Sultan Alaiddin Ahmad Syah, dan bahwa pada 14 Ramadan 1165 H, di bawah Sultan Alaiddin Juhan Syah, tarakata itu kembali diperintahkan untuk disalin. Dengan demikian dastur Balai Furdah bukan satu dekret tunggal, melainkan arsip kumulatif yang dirawat oleh birokrasi pelabuhan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya.
Prosedur pelabuhan dirinci langkah demi langkah. Setibanya, nakhoda menerima cap di Balai Furdah dengan membayar lapik cap. Pada setiap kapal Islam, megat meminta daftar muatan dan kunci kapal, lalu membawanya ke dalam Kota Daruddunia; untuk membongkar, nakhoda harus memohon kunci kepada penghulu kawal dengan membawa hadiah dan meminta izin bongkar kepada panglima bandar serta penghulu kawal. Dua bujang Dalam berjaga bergantian di kapal, sementara sagi bandar dan sagi kawal mondar-mandir dengan sampan. Kapal "orang putih" dikecualikan dari penyerahan kunci, daftar dan penjagaan. Sesudah jual beli selesai, nakhoda dan saudagar datang ke Balai Furdah untuk menghitung 'usyur dan adat, lalu mengambil surat kejelasan (jati) dengan rakam Penghulu Kerukun sebelum membayar tafahus berlayar.
Rincian pungutan memperlihatkan bahwa tarif ditetapkan menurut asal kapal. Lapik cap untuk kapal Gujarat, Keling, Benggala dan kapal orang putih ditetapkan sepuluh tahil dirham, sedangkan kapal, sulub atau kundra dari Diwal, Malabar, Timur, Pigo, Nasiri, Kedah, Perak dan Melaka membayar lima tahil. Hak cap megat dan para bujang Dalam dibagi lagi kepada penghulu ruang, orang ngadap, pembawa ujung, pembawa pedang dan pembawa cap, dan sisanya menjadi bagian megat; pada kapal Gujarat pembayaran itu disertai bawang merah dan bawang putih yang dibagi kepada panglima bandar, penghulu kawal, syahbandar dan nazir. Bersama lapik cap, kapal Gujarat menyerahkan kain banta beruji putih, kapal Benggala kain khas, kapal Keling dan kapal orang putih kain tulis merah, dan kapal Malabar atau Diwal kain tulis merah ditambah emas dan peda. Permohonan kunci, rakam, izin memuat dan izin berlayar masing-masing disertai kain, sehingga untuk satu kapal jumlah kain yang diserahkan, termasuk lapik cap, mencapai dua puluh delapan helai.
Kewenangan juga dibagi menurut jenis kapal. Kundra dari Malabar atau Diwal dan sulub bernakhoda Islam berada di bawah penghulu kawal; jung dari timur atau barat di bawah penghulu jung bergelar Seri Muda Indera; perahu balik di bawah penghulu balik dengan pungutan "tebusan kepala dayung" empat emas per orang; dan perahu Deli di bawah Panglima Deli, Orang Kaya Raja Lela Makota. Teks juga mengenal hak panglima bandar membeli sebagian muatan manusia yang disebut tebusan dengan harga di bawah harga pasar, petunjuk bahwa perdagangan orang termasuk dalam lalu lintas pelabuhan.
Penerimaan utusan diatur sebagai bagian dari tata pabean. Utusan pembawa surat untuk sultan duduk di Balai Furdah di atas syahbandar dan Raja Sati Muda. Surat itu diarak di atas gajah dengan pembawa yang bertingkat menurut martabat pengirim, diiringi genderang dan payung unggul-unggul, dengan biaya pengiringan yang dirinci hingga tujuh belas tahil tiga emas. Sultan menganugerahkan persalinan kepada nakhoda besar, qabadman dan kerani: nakhoda Muslim menerima pakaian dagang, sedangkan nakhoda orang putih atau bangsa lain menerima pakaian Aceh. Kapal Eropa yang masuk wajib mempersembahkan sekayu kain sakhalat dan satu pipa obat bedil, dan selama tinggal di gedung mereka diberi daging, minyak dan beras oleh syahbandar.
Beberapa aturan memperlihatkan perubahan melalui perundingan. Semula harta nakhoda atau saudagar yang wafat di Bandar Aceh diinventarisasi dan dipungut sepersepuluh, tetapi setelah wafatnya Nakhoda Biramjai dari Benggala, Sultan Jamalul Alam Badrul Munir menggantinya dengan pungutan tetap sebesar delapan puluh tiga tahil dua belas emas yang dibagi kepada para pejabat. Pada masa Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamalullail, kapitan kompeni Denmark yang bergelar Orang Kaya Putih dianugerahi tanah untuk sebuah gedung, dan pada 1118 H Kapitan Isblur dari Talangkumba, kemungkinan Tranquebar di pesisir Koromandel, memperoleh cap yang membebaskan seratus bendala setiap tahun.
Sistem pungutan berlapis ini sekaligus merupakan sistem penggajian. Karena para petugas pelabuhan tidak menerima gaji dari raja, sebagaimana dicatat Beaulieu, penghasilan mereka bergantung pada bagian dari setiap cap, kunci, rakam dan tafahus. Daftar pembagian dalam dastur menyebut satu per satu bagian kerukun furdah, bujang furdah, wakil furdah, penghulu kunci, penghulu furdah, bendahari, penghulu kelasi dan sagi kawal, bahkan sampai satuan emas. Balai Furdah karenanya bekerja sebagai mesin redistribusi: pendapatan dari perdagangan internasional langsung mengalir kepada puluhan pejabat dan keluarga mereka, sehingga loyalitas birokrasi pelabuhan terikat pada kelancaran arus kapal. Ketergantungan ini juga menjelaskan mengapa setiap perubahan tarif harus dirundingkan dan dicatat, sebab menyentuh penghidupan banyak pihak sekaligus.
Dastur memperlihatkan Bandar Aceh sebagai pelabuhan yang tertata secara birokratis, multibangsa dan terus diperbarui. Setiap perubahan dicatat dalam tarakata dan daftar Balai Furdah setelah "berittifaq" para Hulubalang Blang Dalam, jamaah furdah dan saudagar, sehingga hukum pelabuhan Aceh lahir dari perpaduan titah sultan dan kesepakatan para pihak yang berkepentingan.
Bagian yang sama menegaskan bahwa Balai Furdah tidak berdiri terpisah dari tatanan kehulubalangan di daratan. Dastur menyusun taraf hulubalang di Bandar Aceh Darussalam menurut kedudukan di kanan dan kiri genderang, dan menetapkan batas kawal para pemegang wilayah seperti Hakim Samakurok dan Bentara Blang Mangat dengan penanda gunung, sungai dan rawa. Pelabuhan, istana dan nanggroe dengan demikian disatukan oleh satu bahasa administrasi: tarakata, cap, daftar dan bagian. Bagi studi Aceh, dastur ini menyediakan salah satu dokumen paling rinci tentang ekonomi politik sebuah pelabuhan Muslim di Samudra Hindia, tetapi masih menyisakan pertanyaan terbuka, antara lain nilai riil satuan tahil, emas dan dirham dalam berbagai periode, serta sejauh mana tarif yang tertulis benar-benar dipungut pada masa ketika kuasa sultan atas pantai barat dan pantai timur mulai melemah.
Jabatan panglima bandar yang memimpin Balai Furdah dapat ditelusuri pemegangnya. Augustin de Beaulieu (1620–1621) mencatat bahwa para petugas di bawah panglima bandar Orang Kaya Seri Maharaja Lela tidak digaji raja, tetapi setiap tahun mempersembahkan sehelai baju agar dipertahankan dalam jabatan. Menurut Takeshi Ito, jabatan ini selama lebih dari dua puluh tahun dipegang seorang orang kaya asal Melayu yang mula-mula bergelar Seri Maharaja Lela dan sejak 1644 bergelar Seri Paduka Tuan, yang oleh M. Adli Abdullah diidentifikasi sebagai Tun Sri Lanang. Daftar "adat bawab panglima bandar" dalam Mābaina al-Salāṭīn, yang mencantumkan komoditas seperti apiun, lada, ganja, sutera, kemenyan, sarang burung, air mawar serta bendala dari Gujarat, Benggala dan Keling, disusun pada masa ini, dan pasal tentang "adat kain akan panglima bandar" menetapkan enam helai kain dari setiap kapal, berupa kain candi sutera lima hasta dari kapal Gujarat dan kain tulis merah dari kapal lain. Ito mencatat pengaruh Undang-undang Laut Melaka atas aturan laut dalam Adat Aceh, meskipun aturan Aceh lebih berfokus pada perdagangan internasional, dan Mahayuddin Haji Yahya, sebagaimana dikutip Jelani Harun (2010), menyebut undang-undang pelabuhan Kedah yang ditulis pada 1650 bersumber dari Aceh.
The fourth part of the Mābaina al-Salāṭīn, which in the manuscript numbering runs from section 116a to 176b, opens with a decree dated 14 Rabiulawal 1045 AH. Sultan Iskandar Muda ruled that English, French, Dutch, Portuguese, Danish, Keling, Arab, Bengali, Pegu and other ships, including sulub and kundra, might trade in no other land but at Bandar Aceh Darussalam; offenders were to be seized (teukeuse) and fined. The decree formulates the single-port policy that underpinned Aceh's prosperity in the Straits of Melaka. Another decree, dated 1050 AH, regulates the revenues of Pase and Samalanga: the Bentara Blang Mangat, for example, delivered four hundred mas of gold and four hundred kempit of rice each year, while the hulubalang of Samalanga paid in gunca of paddy. The date 1050 AH is later than the year of Iskandar Muda's death according to the genealogy in the same book, so the sultan's name here appears to serve as a source of legitimacy for the custom.
The Balai Furdah was the centre of customs and port finance. It was headed by Orang Kaya Seri Maharaja Lela, the panglima bandar, assisted by the penghulu kawal and the Penghulu Kerukun Raja Sati Muda. There were four syahbandar, each with a portfolio: Syahbandar Muktabar Khan, who according to the text came from "the protégés of Gujarat", a ship captain named Nakhoda Muktabar Khan appointed under Sultanah Safiatuddin with an office merged with that of penghulu kawal; Syahbandar Saiful Muluk, in charge of the scales; Syahbandar Seri Rama Sati, in charge of junks; and Syahbandar Mu'izzul Muluk, in charge of the horse trade. Below them worked the Seri Perba Khan, fourteen nazir and brokers (dalal), six kerukun of the furdah, seven bujang of the furdah, the wakil furdah, the keeper of keys, the keeper of the scales, the penghulu furdah, two treasurers, various tandil, the head of sailors titled Sab Khan, the keujruen of the river mouth on both banks, the sagi bandar and the sagi kawal. Forty-three of them were entitled to a share of the ka'idah.
This port dastur also records the history of its own compilation, something rarely found in Malay legal texts. On Monday, 6 Rabiulawal 1120 AH, Sultan Jamalul Alam Badrul Munir ordered Orang Kaya Seri Maharaja Lela, the panglima bandar, and Penghulu Kerukun Raja Sati Muda to have all records of the 'usyur and customary dues of the port entered in the registers of the Balai Furdah, together with the assemblies of kings and hulubalang written in the tarakata of the great hall, copied anew. The copyist was Orang Kaya Maharaja Lela Melayu, who drew on the tarakata of the great hall and the registers of the kerukun from the time of Iskandar Muda to that of Jamalul Alam. The text then notes that this copyist himself later ascended the throne as Sultan Alaiddin Ahmad Syah, and that on 14 Ramadan 1165 AH, under Sultan Alaiddin Juhan Syah, the tarakata was once again ordered to be copied. The Balai Furdah dastur is thus not a single decree but a cumulative archive maintained by the port bureaucracy from one reign to the next.
Port procedure is described step by step. On arrival the captain received a seal (cap) at the Balai Furdah on payment of the lapik cap. On every Muslim ship a megat demanded the cargo manifest and the ship's keys and took them into Kota Daruddunia; to unload, the captain had to ask the penghulu kawal for the keys, bringing a gift, and request permission to discharge from the panglima bandar and the penghulu kawal. Two bujang Dalam took turns guarding the ship, while the sagi bandar and sagi kawal went to and fro by sampan. Ships of "white men" were exempt from surrendering keys and manifest and from guarding. When trading was finished, captain and merchants came to the Balai Furdah to settle 'usyur and dues, and then obtained a clearance certificate (jati) bearing the mark (rakam) of the Penghulu Kerukun before paying the departure inspection fee (tafahus berlayar).
The detailed schedule of dues shows that rates were set according to a ship's origin. The lapik cap for ships from Gujarat, Kling, Bengal and the ships of white men was fixed at ten tahil of dirham, while ships, sulub or kundra from Diwal, Malabar, the East, Pigo, Nasiri, Kedah, Perak and Melaka paid five tahil. The cap fee of the megat and the bujang Dalam was further divided among the penghulu ruang, the orang ngadap, the bearers of the ujung, the sword and the seal, with the remainder going to the megat; for Gujarati ships the payment came with shallots and garlic shared among the panglima bandar, the penghulu kawal, the syahbandar and the nazir. Along with the lapik cap, Gujarati ships handed over banta beruji putih cloth, Bengali ships kain khas, Kling ships and white men's ships red printed cloth, and ships from Malabar or Diwal red printed cloth plus gold and a blade. Requests for the keys, the record, permission to load and permission to sail each required cloth, so that for a single ship the total cloth surrendered, including the lapik cap, reached twenty-eight pieces.
Jurisdiction was also divided by type of vessel. Kundra from Malabar or Diwal and sulub with Muslim captains came under the penghulu kawal; junks from east or west under the penghulu jung titled Seri Muda Indera; balik vessels under the penghulu balik, with a levy called "tebusan kepala dayung" of four mas per person; and Deli boats under the Panglima Deli, Orang Kaya Raja Lela Makota. The text also records the right of the panglima bandar to buy part of the human cargo called tebusan below the market price, an indication that trade in people formed part of port traffic.
The reception of envoys was regulated as part of customs procedure. An envoy carrying a letter for the sultan sat in the Balai Furdah above the syahbandar and the Raja Sati Muda. The letter was carried in procession on an elephant by bearers graded according to the sender's rank, accompanied by drums and processional umbrellas, with escort fees itemised to a total of seventeen tahil three mas. The sultan bestowed robes of honour on the chief captain, the qabadman and the clerk: a Muslim captain received merchant's dress, while a captain of the white men or another nation received Acehnese dress. European ships entering port had to present a length of sakhalat broadcloth and a pipe of gunpowder, and while lodging in their warehouse they were supplied with meat, oil and rice by the syahbandar.
Several rules show change through negotiation. Originally the estate of a captain or merchant who died in Bandar Aceh was inventoried and taxed at one tenth, but after the death of Nakhoda Biramjai from Bengal, Sultan Jamalul Alam Badrul Munir replaced this with a fixed levy of eighty-three tahil twelve mas divided among the officials. Under Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamalullail the captain of the Danish company, titled Orang Kaya Putih, was granted land for a warehouse, and in 1118 AH Kapitan Isblur from Talangkumba, probably Tranquebar on the Coromandel coast, received a seal exempting one hundred bales each year.
This layered system of dues was at the same time a system of remuneration. Since port officials received no salary from the king, as Beaulieu noted, their income depended on a share of every seal, key, record and tafahus. The distribution lists in the dastur name one by one the shares of the kerukun furdah, the bujang furdah, the wakil furdah, the penghulu kunci, the penghulu furdah, the treasurers, the penghulu kelasi and the sagi kawal, down to units of emas. The Balai Furdah therefore worked as a machine of redistribution: income from international trade flowed directly to dozens of officials and their households, so that the loyalty of the port bureaucracy was bound to the smooth flow of shipping. This dependence also explains why every change in rates had to be negotiated and recorded, since it touched the livelihoods of many parties at once.
The Dastur presents Bandar Aceh as a port that was bureaucratically ordered, multinational and continually revised. Each change was recorded in the tarakata and the Balai Furdah register after the "agreement" (berittifaq) of the Hulubalang Blang Dalam, the furdah officials and the merchants, so that Acehnese port law emerged from a combination of royal decree and the consent of interested parties.
The same section makes clear that the Balai Furdah did not stand apart from the order of the hulubalang on land. The dastur ranks the hulubalang of Bandar Aceh Darussalam by their position to the right and left of the great drum, and fixes the boundaries of the guard districts of territorial chiefs such as Hakim Samakurok and Bentara Blang Mangat by mountains, rivers and swamps. Port, palace and nanggroe were thus united by a single administrative language: tarakata, seal, register and share. For Aceh studies the dastur offers one of the most detailed documents on the political economy of a Muslim port in the Indian Ocean, yet it leaves open questions, among them the real value of the tahil, emas and dirham in different periods, and how far the written rates were actually collected at a time when the sultan's hold over the west and east coasts was weakening.
The holders of the office of panglima bandar, head of the Balai Furdah, can be traced. Augustin de Beaulieu (1620–1621) noted that the officers serving under the panglima bandar Orang Kaya Seri Maharaja Lela received no salary from the king but each year presented a garment in order to be kept in office. According to Takeshi Ito, the office was held for more than twenty years by an orang kaya of Malay origin who was first titled Seri Maharaja Lela and from 1644 Seri Paduka Tuan, and whom M. Adli Abdullah identifies as Tun Sri Lanang. The list of "adat bawab panglima bandar" in the Mābaina al-Salāṭīn, which includes commodities such as opium, pepper, cannabis, silk, benzoin, birds' nests, rosewater and bales from Gujarat, Bengal and the Keling coast, was drawn up in this period, and the article on the "cloth due to the panglima bandar" sets six pieces of cloth from each ship, silk candi cloth five cubits long from Gujarati ships and red painted cloth from others. Ito notes the influence of the Melaka Maritime Laws on the sea regulations of the Adat Aceh, although the Acehnese rules focus more on international trade, and Mahayuddin Haji Yahya, as cited by Jelani Harun (2010), states that the port law of Kedah written in 1650 drew on Aceh.
Gagasan kunciKey ideas
Bandar tunggalA single staple port
Dekret 1045 H mewajibkan semua kapal asing berdagang hanya di Bandar Aceh Darussalam.The decree of 1045 AH required all foreign ships to trade only at Bandar Aceh Darussalam.
Birokrasi berlapisA layered bureaucracy
Panglima bandar, empat syahbandar dan puluhan pejabat membagi tugas menurut jenis kapal dan barang.The panglima bandar, four syahbandar and dozens of officials divided duties by type of ship and goods.
Perlakuan berbeda menurut bangsaDifferential treatment by nation
Kapal Islam menyerahkan kunci dan daftar, kapal Eropa dikecualikan tetapi membayar tarif lain.Muslim ships surrendered keys and manifests; European ships were exempt but paid other rates.
Hukum hasil kesepakatanLaw by agreement
Perubahan adat pelabuhan dicatat setelah kesepakatan hulubalang, jamaah furdah dan saudagar.Changes in port custom were recorded after agreement among hulubalang, furdah officials and merchants.
Pungutan sebagai gajiDues as salaries
Pejabat pelabuhan hidup dari bagian setiap cap, kunci dan rakam, sehingga loyalitas mereka terikat pada arus kapal.Port officials lived on shares of every seal, key and record, binding their loyalty to the flow of ships.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana dekret bandar tunggal 1045 H dilaksanakan terhadap pelabuhan-pelabuhan lada di pantai barat dan timur Sumatra, dan seberapa efektif ia di hadapan VOC dan Inggris?How was the single-port decree of 1045 AH enforced against the pepper ports of Sumatra's west and east coasts, and how effective was it against the VOC and the English?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Balai Furdah dan tata kelola pelabuhan Bandar Aceh Darussalam”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/balai-furdah-dan-tata-kelola-pelabuhan-aceh/