Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Pasar tikungan, simpang empat, dan Pasar InpresBend markets, crossroads markets and the Inpres market

Pola tradisional; Pasar Inpres sejak Orde BaruTraditional pattern; Inpres markets from the New Order

Pasar tradisional Aceh di jalur pesisir lazim berdiri di tikungan jalan dan berbentuk huruf L, berdampingan dengan masjid atau meunasah dan sekolah. Bentuk ini memberi ruang pertemuan bagi ureung tunong dan ureung baroh, sedangkan di pedalaman pasar dibangun di simpang empat dekat sawah. Pasar Inpres masa Orde Baru dan pasar yang dibangun ‘bukan orang Aceh’ memutus pola ini. Perbedaan bentuk pasar dibaca sebagai perubahan keseimbangan antara hareukat dan ibadah.

Traditional Acehnese markets along the coastal road typically stand at road bends in an L shape, alongside a mosque or meunasah and a school. The form gives upland and lowland people a place to meet, while in the interior markets are built at crossroads near the rice fields. New Order Inpres markets and markets built by 'non-Acehnese' broke this pattern. The difference in market form is read as a change in the balance between earning a living and worship.

Perjalanan dari Banda Aceh ke Medan memperlihatkan deretan pasar seperti Seulimum, Padang Tiji, Ulè Glé, Jeunieb, Peudada, Krueng Mane, Bungkaih, dan Panton Labu yang berada di tikungan jalan dan selalu disertai ‘segitiga emas’: pasar, masjid atau meunasah, dan sekolah, sementara dayah ditempatkan lebih jauh dari keramaian. Bentuk L membuka jalan penghubung ke kawasan pedesaan, sehingga petani dari hulu dapat menjual hasil bumi secara mingguan dan membeli keperluan sehari-hari. Di tingkat ureung tunong, pasar didirikan di simpang empat dekat sawah dengan unsur segitiga yang sama.

Pola ini berubah pada masa Orde Baru. Pasar Inpres, dibangun berdasarkan instruksi presiden di dekat pusat kabupaten, lebih banyak melayani pegawai bergaji, berdampingan dengan istilah SD Inpres dan masjid bergaya Jawa yang dikenal sebagai ‘Masjid Pak Harto’ atau ‘Masjid Pancasila’. Pasar Batuphat di Aceh Utara, yang dipaksakan berdiri di samping kompleks perumahan PT Arun, tidak memiliki masjid kampung maupun sekolah sendiri dan tumbuh sesak tanpa pola. Pasar Saree yang mayoritas pedagangnya orang Jawa berdiri di pinggir jalan seperti pasar di Jawa dan kadang mengganggu pengguna jalan.

Mengikuti tahapan perubahan pasar menurut Irwan Abdullah, yakni masuknya pasar ke masyarakat petani, integrasi ke tatanan nasional, dan ekspansi pasar ke dalam penataan sistem sosial, dua tahap pertama dinilai telah terjadi di Aceh. Bagi orang Aceh tradisional, keseimbangan antara hareukat (mencari rezeki) dan ibadah tidak pernah terputus, dan bentuk L maupun simpang empat menyiratkan keseimbangan dunia dan akhirat. Hilangnya salah satu unsur segitiga pada pasar baru menjadi petunjuk bahwa logika ruang Aceh telah digantikan logika administrasi.

A journey from Banda Aceh to Medan reveals a string of markets, Seulimum, Padang Tiji, Ulè Glé, Jeunieb, Peudada, Krueng Mane, Bungkaih and Panton Labu, sited at road bends and always accompanied by a 'golden triangle' of market, mosque or meunasah, and school, while the dayah is placed further from the bustle. The L shape opens a link road to the countryside, so that upland farmers can sell their produce weekly and buy daily necessities. Among the ureung tunong, markets are built at crossroads near the rice fields with the same triangle.

The pattern changed under the New Order. Inpres markets, built by presidential instruction near district capitals, served mainly salaried civil servants, alongside Inpres primary schools and Javanese-style mosques known as 'Pak Harto mosques' or 'Pancasila mosques'. The Batuphat market in North Aceh, forced in beside the PT Arun housing estate, had neither a village mosque nor its own school and grew congested and unplanned. The Saree market, whose traders are mostly Javanese, lines the roadside like markets in Java and sometimes obstructs traffic.

Following Irwan Abdullah's stages of market change, namely the entry of the market into peasant society, integration into a national order, and the market's expansion into the ordering of social life, the first two are judged to have occurred in Aceh. For traditional Acehnese the balance between hareukat (earning a living) and worship was never broken, and both the L form and the crossroads imply a balance between this world and the hereafter. The absence of one element of the triangle in new markets signals that Acehnese spatial logic has been replaced by administrative logic.

Gagasan kunciKey ideas

Bentuk L sebagai ruang temuThe L form as a meeting space

Tikungan pasar menghubungkan jalan raya dengan desa-desa hulu.The market bend links the main road to upland villages.

Segitiga yang terpotongA truncated triangle

Pasar yang dibangun dari luar kehilangan masjid atau sekolahnya.Markets built from outside lose their mosque or school.

Dari petani ke pegawaiFrom farmers to civil servants

Pasar Inpres menggeser pelaku utama pasar ke kelompok bergaji.Inpres markets shifted the main market actors to salaried groups.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bisakah pasar modern di Aceh dirancang ulang dengan mengembalikan logika segitiga emas?Could modern markets in Aceh be redesigned by restoring the logic of the golden triangle?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Pasar tikungan, simpang empat, dan Pasar Inpres”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/pasar-tikungan-dan-pasar-inpres/