Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Krueng Mane: kampung reformis dan perantauKrueng Mane: a reformist and migrant village

Madrasah al-Huda pada masa Hasbi; kelompok Sunnah sejak sebelum 1980-anMadrasah al-Huda in Hasbi's time; Sunnah group since before the 1980s

Krueng Mane adalah gugus desa di pesisir Aceh Utara, di tepi jalan Medan–Banda Aceh, sekitar 20 km di barat Lhokseumawe. Kampung ini dikenal sebagai basis ‘kelompok Sunnah’ yang dekat dengan Muhammadiyah dan pernah menjadi tempat Hasbi Ash-Shiddieqy mendirikan Madrasah al-Huda. Ketatnya rujukan pada al-Qur’an dan Sunnah berjalan bersama kepatuhan yang sangat kuat pada adat. Kampung ini juga menjadi contoh percampuran Aceh–Jawa melalui perantauan.

Krueng Mane is a cluster of villages on the North Aceh coast, beside the Medan–Banda Aceh road, about 20 km west of Lhokseumawe. It is known as a base of the 'Sunnah group', close to Muhammadiyah, and was where Hasbi Ash-Shiddieqy founded Madrasah al-Huda. Strict reliance on the Qur'an and Sunnah coexists with very strong adherence to adat. The village also exemplifies Aceh–Java mixing through migration.

Secara geografis Krueng Mane dibatasi sungai yang mengalir ke Selat Melaka di barat, sawah dan perbukitan di selatan, serta laut di utara. Dalam sejarah pembaruan Islam di Aceh, Hasbi Ash-Shiddieqy menutup sekolahnya di Lhokseumawe lalu pindah ke sini dan, dengan bantuan Teuku Ubit, kerabat uleebalang Krueng Mane, mendirikan Madrasah al-Huda. Sejak itu kampung ini dikenal sebagai tempat tumbuhnya ulama reformis yang kurang disukai kalangan tradisional.

Jamaah masjidnya, yang menyebut diri ‘kelompok Sunnah’, tidak membaca basmalah ketika membaca al-Fatihah dalam shalat, shalat tarawih delapan rakaat dengan witir tiga, serta tidak menyelenggarakan kenduri hari ketujuh, tahlilan, dan talqin. Guru mereka disapa Kyai atau ustaz, bukan Teungku Chik atau Abu, dan sejak 1980-an mereka rutin mengundang penceramah sepaham, antara lain dari Aceh Tengah. Pengurus masjid aktif dalam organisasi Muhammadiyah, bahkan menghadiri muktamarnya di Jawa. Upaya pihak lain untuk ‘mengambil alih’ masjid ini selalu gagal.

Paradoks yang menarik adalah sikap terhadap adat. Kenduri maulid dan nujuhan jarang diadakan, tetapi kenduri blang diikuti petani dengan semangat dan kenduri anak yatim lazim dilakukan; anggota kelompok Sunnah bahkan duduk sebagai tuha peut. Ritual yang dianggap tak berakar pada Nabi disebut bid‘ah, tetapi adat sehari-hari tidak diukur dengan Sunnah. Di sinilah tampak pemisahan antara penafsiran agama dan penafsiran budaya. Bersamaan dengan itu, perantauan massal ke Jawa membuat kampung ini dipenuhi keluarga campuran Aceh–Jawa, dan dialek warganya pun dinilai agak ke-Betawi-an.

Geographically Krueng Mane is bounded by a river flowing into the Strait of Malacca on the west, rice fields and hills on the south, and the sea on the north. In the history of Islamic reform in Aceh, Hasbi Ash-Shiddieqy closed his school in Lhokseumawe, moved here and, with the help of Teuku Ubit, a relative of the Krueng Mane uleebalang, founded Madrasah al-Huda. Since then the village has been known as a breeding ground of reformist scholars little liked by traditionalists.

Its mosque congregation, calling itself the 'Sunnah group', omits the basmala when reciting the Fatiha in prayer, prays eight rak'a of tarawih with three of witr, and holds no seventh-day feast, tahlilan or talqin. Its teachers are addressed as Kyai or ustaz rather than Teungku Chik or Abu, and since the 1980s it has regularly invited like-minded preachers, including one from Central Aceh. Mosque officials are active in Muhammadiyah and even attend its congresses in Java. Attempts by others to 'take over' the mosque have always failed.

The striking paradox is the attitude to adat. Maulid and seventh-day feasts are rarely held, yet farmers join the rice-field feast eagerly and feasts for orphans are common; Sunnah members even sit as tuha peut. Rituals seen as lacking a basis in the Prophet's practice are called bid'a, but everyday custom is not measured against the Sunnah. Here one sees a separation between the interpretation of religion and the interpretation of culture. At the same time, mass migration to Java has filled the village with mixed Acehnese–Javanese families, and local speech is even said to sound somewhat Betawi.

Gagasan kunciKey ideas

Reformisme berakar lokalLocally rooted reformism

Nilai Muhammadiyah dari Yogyakarta melekat pada komunitas pesisir Aceh.Muhammadiyah values from Yogyakarta took root in a coastal Acehnese community.

Agama ketat, adat ketatStrict religion, strict adat

Penolakan bid‘ah ritual berjalan bersama kepatuhan pada adat kenduri dan tuha peut.Rejection of ritual bid'a coexists with adherence to feast custom and the tuha peut.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa komunitas yang ketat menolak bid‘ah ritual justru sangat patuh pada adat kampung?Why is a community so strict against ritual bid'a so faithful to village adat?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Krueng Mane: kampung reformis dan perantau”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/krueng-mane/