Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Kopi arabika Gayo: reputasi dunia dan suara petaniGayo Arabica coffee: global reputation and the farmers’ voice

Kopi arabika dari dataran tinggi Gayo, terutama Aceh Tengah, termasyhur di pasar dunia dan telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis. Namun reputasi itu belum sepenuhnya menjadi kesejahteraan petani, yang masih bergantung pada tanaman hortikultura, menghadapi kesenjangan harga ekspor dan lokal, satuan takar tem yang rawan gharar, jalan rusak pada musim panen, keterbatasan alat dan modal, perubahan iklim, serta hama penggerek buah kopi. Kopi Gayo juga hidup sebagai simbol budaya, dari warung kopi Banda Aceh hingga kafe modern, sehingga ketimpangan rantai nilainya menjadi persoalan keadilan.

Arabica coffee from the Gayo highlands, especially Central Aceh, is famous on the world market and holds a Geographical Indication certificate. Yet that reputation has not fully translated into farmers’ welfare: they still depend on horticultural crops and face a gap between export and local prices, a tem measuring unit prone to gharar, damaged roads in the harvest season, a lack of equipment and capital, climate change and the coffee berry borer. Gayo coffee also lives as a cultural symbol, from Banda Aceh’s coffee stalls to modern cafés, so the inequality of its value chain is a question of justice.

Dataran Tinggi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, bersama wilayah dataran tinggi di sekitarnya, merupakan salah satu sentra kopi arabika bermutu tinggi di Indonesia. Reputasinya diperkuat sertifikat Indikasi Geografis yang menegaskan kekhasan rasa yang terkait dengan tempat asalnya, dan di kalangan petani kopi menjadi kebanggaan sekaligus penanda identitas. Beredar pula klaim bahwa sebagian besar pasokan biji mentah untuk jaringan kedai kopi global tertentu berasal dari Gayo; klaim semacam ini sering diulang tanpa sumber yang jelas dan perlu diperlakukan hati-hati. Bagi orang Gayo, kopi bukan hanya komoditas, melainkan juga jalan hidup, termasuk jalan menuju Tanah Suci sebagaimana tercermin dalam ungkapan berangkat haji dari kebun kopi.

Paradoks utamanya terletak pada jarak antara reputasi dan kesejahteraan. Banyak petani belum menjadikan kopi sebagai sumber pendapatan utama dan masih menopang rumah tangga dengan cabai, tomat, dan sayuran lain. Harga biji hijau di tingkat lokal berada di kisaran Rp140.000 per kilogram, sementara harga kopi merah gelondong berfluktuasi sekitar Rp200.000 per kaleng, bergantung pada jarak, mutu, dan nilai tukar dolar. Kenaikan harga ekspor tidak selalu mengalir ke petani, dan keterbatasan informasi harga membuka ruang bagi pengepul untuk menekan harga. Ungkapan petani bahwa harga kopi turun, yang kerap terdengar justru saat mereka membawa panen turun gunung, merangkum ketimpangan posisi tawar itu.

Sistem takar menambah ketidakpastian. Volume kopi diukur dengan satuan tem, yang disebut setara sepuluh bambu. Satuan ini khas, tetapi rawan gharar, yakni ketidakjelasan dalam transaksi yang dalam fikih muamalah dipandang merusak keadilan jual beli, misalnya ketika tumpukan kopi dalam takaran sengaja ditinggikan. Persoalan ini memperlihatkan bahwa keadilan dalam rantai nilai kopi tidak hanya soal harga, tetapi juga soal alat ukur dan kepercayaan antara petani dan pembeli.

Musim panen yang jatuh pada September hingga Desember bertepatan dengan curah hujan tinggi. Petani kecil yang kebunnya jauh dari jalan layak menghadapi jalur ekstrem, licin, dan berbahaya. Hujan yang terus-menerus membuat penjemuran tidak menentu sehingga mutu turun dan pembeli memperoleh alasan untuk memotong harga. Karena kebutuhan rumah tangga mendesak, petani tidak dapat menunda penjualan dan harus memilih antara harga rendah dari pengepul atau risiko mengangkut hasil melalui jalan rusak. Kerentanan ini memuncak dalam bencana akhir November 2025, ketika ribuan hektare kebun kopi di Aceh Tengah rusak dan ekspor tertunda karena akses ke pelabuhan terputus.

Keterbatasan sarana produksi dan modal memperlemah posisi tawar. Banyak petani tidak memiliki pulper untuk mengupas kulit buah atau huller untuk melepaskan kulit tanduk, sehingga nilai tambah pengolahan berpindah ke pihak lain. Akses ke bank dan pembiayaan formal rendah, dan celah ini diisi rentenir serta koperasi ilegal dengan bunga tinggi yang diterima petani dengan berat hati karena tidak ada pilihan lain. Rantai sebab ini saling mengunci: tanpa alat dan modal, petani menjual dalam bentuk mentah dan pada waktu yang tidak menguntungkan.

Perubahan iklim menambah lapisan tekanan. Data stasiun meteorologi yang dikutip menunjukkan kenaikan suhu sekitar 0,3 derajat Celsius, dan data BPS Aceh Tengah mencatat curah hujan tahunan turun dari 5.558,8 milimeter pada 2015 menjadi 2.310,38 milimeter pada 2023. Lahan pada ketinggian yang dahulu ideal bagi arabika dinilai tidak lagi sepenuhnya cocok, dan petani menjawabnya dengan memperluas kebun, termasuk ke hutan lindung. Takengon terasa makin panas. Di sini muncul konflik antara konservasi hutan dan perluasan kebun yang dalam jangka panjang mengancam ekosistem yang justru menopang kopi itu sendiri, sehingga penegakan hukum terhadap pembalakan liar dan pembakaran lahan serta penyuluhan menjadi kebutuhan mendesak.

Ancaman lain datang dari hama penggerek buah kopi, Hypothenemus hampei, yang menyerang buah merah sehingga menguning dan mudah gugur. Petani beradaptasi dengan tanam pagar untuk memaksimalkan lahan serta membuat pupuk dan pestisida alami secara mandiri, sebuah kemandirian yang dapat dibaca sebagai kekuatan moral komunitas tani. Laporan rantai nilai kopi Gayo dari World Agroforestry Centre pada 2019 menjadi salah satu rujukan bagi pembacaan ini. Kesimpulannya, karena kopi Gayo telah mengangkat nama Aceh dan Indonesia di pasar dunia, kesejahteraan petaninya semestinya menjadi prioritas: nilai kopi harus menjadi kemakmuran bagi mereka yang menanamnya.

Di hilir, kopi Gayo menjadi bahan baku budaya kota. Ia mengisi gelas di warung kopi Banda Aceh bersama kopi saring dan kopi hitam pekat, dan sejak reputasinya mendunia, kafe-kafe modern menjadikannya cara memperkenalkan kopi Aceh kepada generasi baru melalui menu berbahasa Inggris. Jarak antara cangkir latte di kota dan petani yang menakar kopi dengan tem di kebun memperlihatkan dengan jelas bagaimana nilai simbolik dan nilai ekonomi kopi tersebar secara tidak merata.

The Gayo Highlands in Central Aceh Regency, together with the surrounding highland areas, are one of Indonesia’s centres of high-quality Arabica coffee. Its reputation is reinforced by a Geographical Indication certificate affirming a distinctive flavour tied to its place of origin, and among coffee farmers it is both a source of pride and a marker of identity. Claims also circulate that most of the green-bean supply for a certain global coffee chain comes from Gayo; such claims are often repeated without clear sources and should be treated with caution. For the Gayo people, coffee is not just a commodity but a way of life, including a path to the Holy Land, as reflected in the saying ‘going on hajj from the coffee garden’.

The central paradox lies in the distance between reputation and welfare. Many farmers have not made coffee their main source of income and still support their households with chillies, tomatoes and other vegetables. Local green-bean prices are around Rp140,000 per kilogram, while red cherry prices fluctuate around Rp200,000 per can, depending on distance, quality and the dollar exchange rate. Rises in export prices do not always reach farmers, and limited price information allows collectors to push prices down. The farmers’ remark that coffee prices have fallen, heard precisely when they bring their harvest down the mountain, sums up this imbalance of bargaining power.

The measuring system adds uncertainty. Coffee volume is measured in tem, said to equal ten bambu. The unit is distinctive but prone to gharar, the ambiguity in a transaction that Islamic commercial law regards as undermining fair exchange, for instance when coffee is deliberately heaped higher in the measure. The problem shows that justice in the coffee value chain is not only a matter of price but also of measuring tools and trust between farmer and buyer.

The harvest season, from September to December, coincides with heavy rainfall. Smallholders whose gardens lie far from passable roads face extreme, slippery and dangerous tracks. Persistent rain makes drying unreliable, so quality drops and buyers gain a reason to cut prices. Because household needs are pressing, farmers cannot delay sales and must choose between a collector’s low price and the risk of hauling their harvest over damaged roads. This vulnerability peaked in the disaster of late November 2025, when thousands of hectares of coffee gardens in Central Aceh were damaged and exports were delayed because access to the ports was cut.

Limited production equipment and capital weaken bargaining power. Many farmers lack a pulper to remove the fruit skin or a huller to remove the parchment, so the value added by processing passes to others. Access to banks and formal finance is low, and the gap is filled by moneylenders and illegal cooperatives charging high interest, which farmers accept reluctantly for want of alternatives. This chain of causes locks itself in: without equipment and capital, farmers sell their coffee raw and at unfavourable times.

Climate change adds another layer of pressure. Meteorological station data cited show a temperature rise of about 0.3 degrees Celsius, and BPS data for Central Aceh record annual rainfall falling from 5,558.8 millimetres in 2015 to 2,310.38 millimetres in 2023. Land at altitudes once ideal for Arabica is considered no longer fully suitable, and farmers respond by expanding their gardens, including into protected forest. Takengon feels increasingly hot. Here a conflict emerges between forest conservation and garden expansion that in the long run threatens the very ecosystem that sustains coffee, making law enforcement against illegal logging and land burning, as well as extension work, urgent needs.

Another threat comes from the coffee berry borer, Hypothenemus hampei, which attacks ripe red cherries so that they turn yellow and drop easily. Farmers adapt through hedgerow planting to make the most of their land and by making natural fertilisers and pesticides themselves, a self-reliance that can be read as the moral strength of the farming community. The 2019 Gayo coffee value chain report by the World Agroforestry Centre is one reference for this reading. The conclusion is that because Gayo coffee has raised the name of Aceh and Indonesia on the world market, its farmers’ welfare should be a priority: the value of coffee must become prosperity for those who grow it.

Downstream, Gayo coffee is raw material for urban culture. It fills glasses in Banda Aceh’s coffee stalls alongside filtered coffee and thick black coffee, and since its reputation went global, modern cafés have used it to introduce Acehnese coffee to a new generation through English-language menus. The distance between a latte in the city and a farmer measuring coffee by the tem in the garden shows clearly how the symbolic and economic value of coffee is unevenly distributed.

Gagasan kunciKey ideas

Reputasi tanpa kesejahteraanReputation without welfare

Pengakuan dunia dan Indikasi Geografis belum otomatis menaikkan pendapatan petani.Global recognition and a Geographical Indication have not automatically raised farmers’ incomes.

Tem dan ghararTem and gharar

Satuan takar tradisional yang rawan ketidakjelasan menjadikan keadilan transaksi soal alat ukur.A traditional measure prone to ambiguity makes fair exchange a matter of measuring tools.

Rantai sebab yang mengunciA self-locking chain of causes

Jalan rusak, hujan saat panen, tanpa pulper dan huller, serta rentenir saling memperlemah petani.Damaged roads, rain at harvest, no pulper or huller and moneylenders reinforce one another against farmers.

Iklim dan hutanClimate and forest

Suhu naik dan hujan berubah mendorong ekspansi kebun ke hutan lindung.Rising temperatures and changing rainfall push gardens into protected forest.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana menjadikan reputasi global kopi Gayo sebagai kesejahteraan petani tanpa mengorbankan hutan yang menopangnya?How can the global reputation of Gayo coffee become farmers’ welfare without sacrificing the forest that sustains it?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Kopi arabika Gayo: reputasi dunia dan suara petani”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kopi-arabika-gayo/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →