Hubungan Samudera Pasai dan Melaka: perkawinan, dakwah dan dagangSamudera Pasai and Melaka: marriage, mission and trade
Samudera Pasai, kerajaan Islam di pesisir utara Aceh sejak abad ke-13, berperan besar dalam pengislaman dan kebangkitan Kesultanan Melaka pada abad ke-15. Ikatan perkawinan, otoritas keagamaan, sistem mata uang emas dan pembagian peran dagang membuat kedua negeri lebih saling melengkapi daripada bersaing, hingga keduanya jatuh ke tangan Portugis dan Pasai kemudian bergabung dengan Aceh Darussalam.
Samudera Pasai, an Islamic kingdom on the north coast of Aceh from the thirteenth century, played a major part in the Islamisation and rise of the Melaka sultanate in the fifteenth. Marriage ties, religious authority, a gold coinage and a division of commercial roles made the two states complementary rather than rivals, until both fell to the Portuguese and Pasai was then absorbed into Aceh Darussalam.
Hubungan Samudera Pasai dan Melaka adalah salah satu poros terpenting dalam sejarah awal Islam di Asia Tenggara. Pasai, yang didirikan Malik al-Salih di pesisir utara Aceh pada abad ke-13, telah dikenal para pedagang Arab dan Cina jauh sebelum Melaka didirikan oleh Parameswara sekitar tahun 1403. M. Adli Abdullah, dalam makalah untuk seminar sejarah Kesultanan Melayu Melaka di School of Humanities, Universiti Sains Malaysia, merumuskan hubungan itu dengan ungkapan bahwa membuka sejarah Melaka sama saja dengan membuka sejarah Samudera Pasai. Pasai menyumbang agama, jaringan kekerabatan istana dan model mata uang, sedangkan Melaka menyediakan armada dan pasar yang lebih besar di Selat Melaka.
Kedudukan Pasai yang lebih tua menjelaskan mengapa Melaka mencari ikatan dengannya. Hikayat Raja-raja Pasai membuka riwayatnya dengan klaim bahwa Pasai adalah negeri pertama di bawah angin yang membawa iman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengisahkan dua bersaudara, Raja Ahmad dan Raja Muhammad, yang hendak membuka negeri di Samarlanga, sebelum beralih pada kisah Meurah Silu yang kemudian bernama Malik al-Salih. Menurut T. Ibrahim Alfian, raja ini masuk Islam antara 669 dan 675 H (sekitar 1270–1275) dan wafat pada 696 H (1297), sedangkan putranya, Sultan Muhammad Malik al-Zahir, wafat pada 726 H (1326). Catatan Cina menyebut utusan dari Ma'abar singgah di Samutula (Samudera) pada 1282 dan utusan Fukien datang ke Lamuri dan Samudera pada 1284, sementara Ibn Battutah singgah sekitar lima belas hari pada 1345 dan melukiskan kota berpagar kayu dengan istana yang megah. Ketika Melaka berdiri, Pasai telah lebih dari satu abad menjadi bandar dan pusat dakwah yang dikenal di Samudra Hindia.
Pintu utama pengaruh Pasai adalah perkawinan. Menurut tradisi yang dikutip M. Adli Abdullah, raja Melaka memeluk Islam dan menikahi putri Sultan Zainal Abidin dari Samudera Pasai, dan perkawinan inilah yang menjadikan Melaka sebuah kerajaan Islam. Tomé Pires, yang menulis Suma Oriental di Melaka dan India pada 1512–1515, mencatat bahwa perkawinan Parameswara (dalam ejaannya Xaquem Darxa) dengan putri Pasai melahirkan Modafarxa, yaitu Muzaffar Syah, sultan ketiga Melaka yang wafat pada 1459. Pada masa Muzaffar Syah, Melaka meluaskan kekuasaannya ke Dinding, Selangor, Muar, Singapura, Bintan dan daerah lain di kedua tepi Selat Melaka. Sumber-sumber Melayu dan Portugis berbeda tentang raja Melaka mana yang pertama masuk Islam, tetapi semuanya menempatkan Pasai sebagai mitra perkawinan dan sumber legitimasi keislaman.
Pasai juga tampil sebagai rujukan keagamaan. Sulalatus Salatin, yang disusun Tun Sri Lanang, berulang kali mengisahkan sultan-sultan Melaka yang mengirimkan persoalan agama yang pelik kepada raja dan ulama Samudera Pasai; M. Adli Abdullah menunjuk cerita ke-7, 8, 9, 20, 22 dan 27 dalam karya itu. Bersamaan dengan itu terjadi perpindahan modal dan manusia. Ketika Bandar Melaka bangkit dan Pasai mulai mundur, para pedagang Muslim Arab dan India berpindah dari Pasai ke Melaka. Tomé Pires mencatat bahwa di Melaka terdapat banyak sekali saudagar dari berbagai bangsa, sementara Pasai sudah mulai kurang besar dibandingkan masa sebelumnya.
Bukti epigrafis memperlihatkan bahwa keterhubungan Pasai dengan Semenanjung bahkan mendahului Melaka. Nisan di Minye Tujoh, Matang Kuli, Aceh Utara, yang ditulis dalam bentuk syair, mencatat wafatnya seorang raja yang beriman pada hari Jumat, 14 Zulhijah 781 H, dan menurut pembacaan yang dikutip Adli Abdullah menyebut keturunan Barubasa yang berkuasa atas Kedah dan Pasai. Bahasa prasasti itu, yakni Melayu Kuno bercampur Sanskerta dan Arab, menunjukkan masa peralihan ketika aksara dan kosakata pra-Islam masih dipakai untuk mengabadikan tokoh Muslim. Pasai juga memelihara hubungan dengan Cina: utusannya kembali dikirim pada 1383, dan menurut catatan Cina beberapa pemberontakan di dalam negeri dapat diatasi berkat bantuan armada Cheng Ho yang berlayar ke selatan antara 1405 dan 1433. Pola mencari perlindungan Cina ini sejajar dengan strategi Melaka pada masa yang sama.
Hubungan dagang kedua negeri digambarkan lebih saling melengkapi daripada bersaing. Pasai tidak memiliki armada yang kuat dan bergantung pada Melaka, sedangkan Melaka membutuhkan pasokan bahan makanan dari Pasai. Uka Tjandrasasmita mencatat sebuah kisah tentang perdagangan dengan Jawa: ketika Melaka meminta raja Jawa membuka perdagangan langsung, raja Jawa menjawab bahwa ia telah lebih dahulu berdagang melalui Pasai dan meminta Melaka meminta izin Pasai agar Pasai tidak sakit hati. Sultan Pasai menyetujuinya dengan syarat Melaka tetap menjadi negeri Islam. Menurut T. Ibrahim Alfian, sistem mata uang emas yang menjadi alat tukar resmi Samudera Pasai juga diperkenalkan ke Melaka.
Ikatan dinasti itu masih bekerja pada masa Portugis. Pada 1512 seorang raja Pasai yang terusir oleh perebut takhta dari Aru mula-mula meminta bantuan Portugis di Melaka; ketika ditolak, ia mendatangi Sultan Mahmud, bekas raja Melaka yang sudah tersingkir. Sultan Mahmud menerimanya, menikahkannya dengan putrinya, lalu mengirim pasukan yang membawanya kembali ke Pasai dan menobatkannya lagi. Namun kedatangan Portugis mengakhiri peran kedua negeri sebagai pusat Islam dan penguasa jalur dagang Selat Melaka: Melaka diduduki Portugis pada 1511 dan Pasai pada 1521. Pada 1524 Pasai dikuasai Kerajaan Aceh Darussalam dan sejak itu menjadi bagiannya, sehingga hubungan religius, sosial-budaya dan politik Pasai dengan negeri-negeri Semenanjung beralih kepada Aceh.
Kronologi peralihan ini sendiri belum seragam dalam sumber. Makalah Adli Abdullah menyebut pendudukan Pasai oleh Aceh Darussalam terjadi pada 1524 atau 1526, dan menggambarkan hubungan Pasai dengan Semenanjung berlangsung dinamis dari abad ke-13 hingga ke-18, karena sesudah 1524 Pasai mewakili Aceh dalam hubungan religius, sosial-budaya dan politik dengan negeri-negeri Melayu. Pembacaan ini menempatkan Aceh Darussalam bukan sebagai pemutus, melainkan pewaris jaringan Pasai. Hal itu juga menjelaskan mengapa sumber-sumber Aceh kemudian, seperti salasilah dalam Mābaina al-Salāṭīn dan mata uang emas Aceh, memperlihatkan kesinambungan dengan tradisi Pasai.
Dalam historiografi, Samudera Pasai dan Melaka sering disebut dua permata peradaban Melayu, ungkapan yang dikaitkan dengan Syed Muhammad Naquib al-Attas (1972), sementara Leonard Y. Andaya (2008) menekankan bahwa kebudayaan Islam dan diaspora pendatang di pesisir Selat Melaka ikut membentuk identitas Melayu. M. Adli Abdullah menarik tiga kesimpulan. Pertama, Pasai meletakkan dasar peradaban Melayu-Islam di Nusantara, menggeser warisan Hindu Majapahit dan Buddha Sriwijaya, serta ikut menumbuhkan bahasa Melayu sebagai bahasa perantara kawasan. Kedua, sejarah kedua negeri perlu ditulis sebagai sejarah mentalitas atau sejarah total agar identitas Melayu tidak terkurung dalam batas negara-bangsa. Ketiga, catatan Melaka dalam sumber Pasai dan sebaliknya, termasuk batu nisan dan prasasti Pasai yang belum semuanya terbaca, masih jarang dipakai sebagai sumber primer.
Makalah tersebut disampaikan di hadapan khalayak Malaysia, dan karena itu sekaligus merupakan intervensi dalam politik identitas Melayu kontemporer. Penegasan bahwa membuka sejarah Melaka berarti membuka sejarah Pasai menantang kecenderungan historiografi nasional yang menempatkan Melaka sebagai titik nol peradaban Melayu, dan menempatkan Aceh di pusat, bukan di pinggiran, dunia Melayu. Bagi studi Aceh, persoalan yang masih terbuka antara lain perlunya membaca ulang batu-batu nisan Pasai sebagai sumber primer, membandingkan Hikayat Raja-raja Pasai dan Sulalatus Salatin secara sistematis untuk melihat bagaimana masing-masing teks menggambarkan pihak lain, serta menguji klaim-klaim tentang mata uang, perkawinan dan perpindahan pedagang dengan data arkeologi dan numismatik yang lebih luas.
The relationship between Samudera Pasai and Melaka is one of the most important axes in the early history of Islam in Southeast Asia. Pasai, founded by Malik al-Salih on the north coast of Aceh in the thirteenth century, was known to Arab and Chinese traders long before Melaka was founded by Parameswara around 1403. M. Adli Abdullah, in a paper for a seminar on the history of the Melaka sultanate at the School of Humanities, Universiti Sains Malaysia, summed up the relationship by saying that to open the history of Melaka is to open the history of Samudera Pasai. Pasai contributed religion, court kinship networks and a model of coinage, while Melaka provided a fleet and a larger market in the Straits of Melaka.
Pasai's greater antiquity explains why Melaka sought ties with it. The Hikayat Raja-raja Pasai opens with the claim that Pasai was the first land below the winds to bring faith in God and His Messenger, and tells of two brothers, Raja Ahmad and Raja Muhammad, who wished to found a settlement at Samarlanga, before turning to the story of Meurah Silu, later named Malik al-Salih. According to T. Ibrahim Alfian, this king embraced Islam between 669 and 675 AH (about 1270–1275) and died in 696 AH (1297), while his son, Sultan Muhammad Malik al-Zahir, died in 726 AH (1326). Chinese records mention an envoy from Ma'abar stopping at Samutula (Samudera) in 1282 and envoys from Fukien coming to Lamuri and Samudera in 1284, while Ibn Battutah stayed some fifteen days in 1345 and described a town enclosed by wooden walls with a splendid palace. By the time Melaka was founded, Pasai had for more than a century been a port and a centre of Islamic preaching known across the Indian Ocean.
The main channel of Pasai's influence was marriage. According to the tradition cited by M. Adli Abdullah, the ruler of Melaka embraced Islam and married a daughter of Sultan Zainal Abidin of Samudera Pasai, and it was this marriage that made Melaka an Islamic kingdom. Tomé Pires, who wrote the Suma Oriental in Melaka and India in 1512–1515, recorded that the marriage of Parameswara (in his spelling Xaquem Darxa) to a Pasai princess produced Modafarxa, that is Muzaffar Shah, the third sultan of Melaka, who died in 1459. Under Muzaffar Shah Melaka extended its power to Dinding, Selangor, Muar, Singapore, Bintan and other territories on both shores of the Straits. Malay and Portuguese sources disagree on which ruler of Melaka was the first to convert, but all of them present Pasai as the marriage partner and the source of Islamic legitimacy.
Pasai also appears as a religious authority. The Sulalatus Salatin, compiled by Tun Sri Lanang, repeatedly tells of Melaka sultans sending difficult religious questions to the ruler and ulama of Samudera Pasai; M. Adli Abdullah points to stories 7, 8, 9, 20, 22 and 27 of that work. At the same time capital and people moved. As the port of Melaka rose and Pasai began to decline, Arab and Indian Muslim merchants relocated from Pasai to Melaka. Tomé Pires noted that Melaka held a great number of merchants of many nations, while Pasai was already beginning to be less great than it had been.
Epigraphic evidence shows that Pasai's connections with the Peninsula even predated Melaka. The tombstone at Minye Tujoh, Matang Kuli, North Aceh, written in verse, records the death of a believing ruler on Friday, 14 Zulhijah 781 AH, and in the reading cited by Adli Abdullah mentions a descendant of Barubasa who ruled over Kedah and Pasai. The inscription's language, Old Malay mixed with Sanskrit and Arabic, points to a transitional period when pre-Islamic script and vocabulary were still used to commemorate Muslim figures. Pasai also maintained relations with China: its envoys were sent again in 1383, and according to Chinese records several internal rebellions were overcome with the help of Zheng He's fleet, which sailed south between 1405 and 1433. This pattern of seeking Chinese protection parallels Melaka's strategy in the same period.
The commercial relationship is described as complementary rather than competitive. Pasai had no strong fleet and depended on Melaka, while Melaka needed food supplies from Pasai. Uka Tjandrasasmita records an episode concerning trade with Java: when Melaka asked the king of Java to open direct trade, he replied that he already traded through Pasai and asked Melaka to seek Pasai's consent so that Pasai would not be offended. The sultan of Pasai agreed on condition that Melaka remained a Muslim state. According to T. Ibrahim Alfian, the gold coinage that served as the official currency of Samudera Pasai was also introduced to Melaka.
These dynastic ties still operated in the Portuguese period. In 1512 a king of Pasai who had been driven out by a usurper from Aru first sought help from the Portuguese at Melaka; when refused, he turned to Sultan Mahmud, the former ruler of Melaka, then already displaced. Sultan Mahmud received him, married him to his daughter and sent a force that took him back to Pasai and crowned him again. The arrival of the Portuguese nonetheless ended the role of both states as Islamic centres and masters of the Straits trade: Melaka was occupied by the Portuguese in 1511 and Pasai in 1521. In 1524 Pasai was taken by the kingdom of Aceh Darussalam and thereafter became part of it, so that Pasai's religious, socio-cultural and political ties with the Peninsular states passed to Aceh.
The chronology of this transition is itself not uniform in the sources. Adli Abdullah's paper dates Aceh Darussalam's occupation of Pasai to 1524 or 1526, and describes Pasai's relations with the Peninsula as dynamic from the thirteenth to the eighteenth century, because after 1524 Pasai represented Aceh in religious, socio-cultural and political relations with the Malay states. This reading presents Aceh Darussalam not as a breaker but as an heir of Pasai's network. It also explains why later Acehnese sources, such as the genealogy in the Mābaina al-Salāṭīn and Aceh's gold coinage, show continuity with Pasai tradition.
In historiography Samudera Pasai and Melaka are often called the two jewels of Malay civilisation, a phrase associated with Syed Muhammad Naquib al-Attas (1972), while Leonard Y. Andaya (2008) stresses that Islamic culture and the diaspora of newcomers on the shores of the Straits helped to shape Malay identity. M. Adli Abdullah draws three conclusions. First, Pasai laid the foundations of Malay-Islamic civilisation in the archipelago, displacing the Hindu legacy of Majapahit and the Buddhist legacy of Srivijaya, and helped Malay grow into the region's lingua franca. Second, the history of the two states should be written as a history of mentalities or total history, so that Malay identity is not confined within the boundaries of nation-states. Third, records of Melaka in Pasai sources and vice versa, including the Pasai tombstones and inscriptions that have not all been read, are still rarely used as primary sources.
The paper was delivered to a Malaysian audience and is therefore also an intervention in contemporary Malay identity politics. The assertion that opening the history of Melaka means opening the history of Pasai challenges the tendency of national historiography to treat Melaka as the zero point of Malay civilisation, and places Aceh at the centre rather than the periphery of the Malay world. For Aceh studies, open questions include the need to reread Pasai's tombstones as primary sources, to compare the Hikayat Raja-raja Pasai and the Sulalatus Salatin systematically to see how each text portrays the other, and to test claims about coinage, marriage and the movement of merchants against wider archaeological and numismatic data.
Gagasan kunciKey ideas
Perkawinan sebagai jalur IslamisasiMarriage as a path of Islamisation
Perkawinan raja Melaka dengan putri Pasai menjadikan Melaka kerajaan Islam dan melahirkan Sultan Muzaffar Syah.The marriage of Melaka's ruler to a Pasai princess made Melaka an Islamic kingdom and produced Sultan Muzaffar Shah.
Pasai sebagai rujukan agamaPasai as religious referee
Sulalatus Salatin mengisahkan sultan Melaka yang menanyakan persoalan agama yang pelik kepada Pasai.The Sulalatus Salatin tells of Melaka sultans referring difficult religious questions to Pasai.
Saling melengkapi, bukan bersaingComplementary, not rival
Pasai bergantung pada armada Melaka, sementara Melaka bergantung pada pangan dari Pasai.Pasai relied on Melaka's fleet, while Melaka relied on Pasai for food.
Warisan yang beralih ke AcehA legacy passed to Aceh
Setelah 1524, hubungan Pasai dengan negeri-negeri Semenanjung dilanjutkan oleh Aceh Darussalam.After 1524, Pasai's ties with the Peninsular states were carried on by Aceh Darussalam.
Pasai sebelum MelakaPasai before Melaka
Nisan Minye Tujoh dan catatan Cina menunjukkan Pasai telah terhubung dengan Semenanjung dan Cina sebelum Melaka berdiri.The Minye Tujoh tombstone and Chinese records show Pasai was linked to the Peninsula and China before Melaka existed.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Sejauh mana batu nisan dan prasasti Samudera Pasai yang belum terbaca dapat menguji atau mengoreksi gambaran hubungan Pasai–Melaka yang selama ini bertumpu pada Sulalatus Salatin dan Tomé Pires?To what extent could the unread tombstones and inscriptions of Samudera Pasai test or correct a picture of Pasai–Melaka relations that has rested largely on the Sulalatus Salatin and Tomé Pires?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Hubungan Samudera Pasai dan Melaka: perkawinan, dakwah dan dagang”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hubungan-samudera-pasai-dan-melaka/