Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Hikayat Raja Pasai dan kesusastraan PasaiHikayat Raja Pasai and the literature of Pasai

Kisah akhir abad ke-13 hingga abad ke-14Narrates the late 13th to 14th century

Hikayat Raja Pasai mengisahkan Samudera Pasai, tempat Islam mula-mula bertapak di Kepulauan Melayu, dari akhir abad ke-13 hingga tiga perempat abad ke-14. Menurut Russell Jones, hikayat ini bercampur mitos setempat tetapi berdasarkan fakta sejarah, misalnya tokoh Malik al-Salih yang semula bernama Merah Silu. Kesusastraan Pasai dipandang sebagai fondasi kesusastraan Melayu-Islam yang kemudian berlanjut ke Melaka dan Aceh Darussalam. Kisahnya juga bergema dalam Sulalat al-Salatin karya Tun Sri Lanang, dengan nuansa yang lebih Melayu.

Hikayat Raja Pasai recounts Samudera Pasai, where Islam first took root in the Malay Archipelago, from the late thirteenth century to the third quarter of the fourteenth. According to Russell Jones, the text mixes local myth with historical fact, such as the figure of Malik al-Salih, originally named Merah Silu. Pasai literature is seen as the foundation of Malay-Islamic literature that later continued in Melaka and Aceh Darussalam. Its story also echoes in Tun Sri Lanang's Sulalat al-Salatin, with a more Malay colouring.

Teuku Iskandar menyebut adanya kesusastraan Pasai pada kurun 1250–1524 M. Pasai, menurutnya, adalah kerajaan Melayu pertama yang memeluk Islam; Islam membawa perubahan besar dalam kebudayaan Melayu, Pasai menjadi pusat pengembangan dan pengkajian agama, ulama memegang peran penting dalam sastra, dan bahasa Melayu tampil sebagai bahasa dakwah serta bahasa sastra Islam. Ia juga menegaskan bahwa kesusastraan Aceh merupakan kelanjutan kesusastraan Pasai dan Melaka: setelah Melaka jatuh ke tangan Portugis dan Pasai ditaklukkan, pusat kebudayaan Melayu berpindah ke Bandar Aceh Darussalam.

Pandangan A. Teeuw sejalan: ‘kesadaran diri’ sastra Melayu, yakni konsepsi tentang fungsi dan arti sastra dalam kebudayaan Melayu-Islam, baru muncul ketika Aceh menjadi pusat politik dan kebudayaan Melayu sejak pertengahan abad ke-16. Dengan demikian, Hikayat Raja Pasai berdiri di hulu tradisi yang kelak mencapai kematangannya di Aceh.

Nilai Hikayat Raja Pasai bagi studi Aceh berlapis. Ia adalah sumber sejarah lokal yang dapat diuji dengan bukti lain, cermin cara sebuah kerajaan menarasikan islamisasinya, dan titik silang dengan tradisi lain: dari Sulalat al-Salatin hingga kisah-kisah Majapahit. Sekaligus, ia menunjukkan paradoks yang sering dikeluhkan, yaitu bahwa karya yang lahir di tanah Aceh justru lebih sering dikaji sebagai bagian dari sejarah sastra Melayu.

Teuku Iskandar identifies a literature of Pasai spanning 1250–1524 CE. Pasai, in his view, was the first Malay kingdom to embrace Islam; Islam brought major change to Malay culture, Pasai became a centre for developing and studying religion, ulama played a key role in literature, and Malay emerged as the language of preaching and of Islamic letters. He also holds that Acehnese literature continued that of Pasai and Melaka: after Melaka fell to the Portuguese and Pasai was conquered, the centre of Malay culture moved to Bandar Aceh Darussalam.

A. Teeuw's view runs parallel: the ‘self-awareness’ of Malay literature — a conception of literature's function and meaning within Malay-Islamic culture — emerged only when Aceh became the political and cultural centre of the Malay world from the mid-sixteenth century. Hikayat Raja Pasai thus stands at the head of a tradition that later matured in Aceh.

The text's value for Aceh studies is layered. It is a local historical source that can be tested against other evidence, a mirror of how a kingdom narrated its own Islamisation, and a point of intersection with other traditions, from the Sulalat al-Salatin to the tales of Majapahit. At the same time it illustrates a frequently lamented paradox: works born on Acehnese soil are more often studied as part of the history of Malay literature.

Gagasan kunciKey ideas

Mitos dan faktaMyth and fact

Unsur legenda bercampur dengan tokoh dan peristiwa yang dapat diverifikasi.Legendary elements mingle with verifiable figures and events.

Hulu sastra Melayu-IslamSource of Malay-Islamic letters

Pasai mendahului Melaka dan Aceh dalam rantai pusat sastra.Pasai precedes Melaka and Aceh in the chain of literary centres.

Sastra sebagai sumber sejarahLiterature as historical source

Hikayat dapat dipakai merekonstruksi sejarah lintas kerajaan.Hikayat can be used to reconstruct history across kingdoms.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana memperlakukan hikayat kerajaan sebagai sumber sejarah tanpa menelan mitosnya mentah-mentah atau membuangnya sama sekali?How should a royal chronicle be treated as a historical source without swallowing its myths whole or discarding them entirely?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Hikayat Raja Pasai dan kesusastraan Pasai”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hikayat-raja-pasai/